MASK- SPECIAL US (END)
"Thanks, Lea. Aku tidak tahu apa jadinya jika kau tidak bersedia menggantikanku malam ini."
Lea tersenyum menimpali. "Aku juga merasa bosan terus- terusan tinggal di rumah," lalu kemudian dia mengernyit. "Ngomong- ngomong kenapa kemari? Bukannya kau bilang kalau kau ada urusan mendadak?"
Orang yang ditanyai itu hanya tersenyum membalasnya. "Aku juga ingin melihat penampilanmu. Apa kau keberatan?" Tanyanya pura- pura tersinggung.
"Oh yang benar saja, Case. Permainan gitarmu bahkan jauh lebih baik dariku atau jangan- jangan ini hanya taktikmu agar aku menggantikan dirimu." Kali ini gantian Lea yang pura- pura tersinggung. Tidak lama kemudian terdengar suara gelak tawa diantara keduanya.
"Aku benar- benar memiliki sesuatu di luar, Lea."
"Jangan khawatir. Aku hanya bercanda tadi."
"Aku juga." Lalu keduanya kembali tertawa, menertawakan kekonyolan mereka masing- masing. "Bagaimana kabar malaikat kecil didalam sana?" Tanyanya seraya mengusap perut Lea yang belum terlihat dengan lembut.
"Dia baik- baik saja. Kehamilanku baru akan menginjak usia dua bulan dan Jullian seperti melihatku akan melahirkan saat ini juga. Dia bahkan jauh lebih protective ketimbang aku hamil Audrey dulu." Keluh Lea.
Bagi Lea, gadis muda yang tidak lama dia kenal dan memperkenalkan namanya sebagai Case ini sangat menyenangkan. Umur mereka memang terpaut jauh. Tiga tahun tapi kebersamaan yang mereka tampilkan seperti sudah saling mengenal selama bertahun- tahun. Sangat akrab. Sama halnya dengan Case. Baginya Lea tipe seorang kakak, saudara, sahabat dan juga teman diwaktu yang bersamaan.
Keduanya bertemu secara tidak sengaja ketika Lea sedang menemani Audrey berbelanja untuk mengisi kamar Audrey sendiri. Saat ini Audrey genap berusia dua tahun dan seperti telah mengetahui kalau sebentar lagi dia akan mempunyai adik, sikap Audrey sangat manja pada Lea. Audrey bahkan selalu menolak kemanapun jika ibunya itu tidak ikut bersamanya. Beruntung Jullian punya seribu satu macam untuk membujuk putri kecilnya itu untuk mau melepaskan Lea malam ini.
Case terkikik, geli. "Kurasa Jullian hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
"Memang kejadian apa yang akan terjadi padaku? Memang sikapnya selama ini sangat berlebihan."
Lagi- lagi Case terkekeh. "Oh iya, bagaimana kalau kau membawa Audrey untuk bermain bersama dua orang sepupu kecilku akhir pekan nanti? Kurasa Brandon dan Elena tidak akan keberatan."
"Maksudmu si kembar Leo dan Leah? Pasti akan menyenangkan kalau mereka bisa bermain bersama. Leah terlihat sangat cantik ketika kami bertemu dulu dan dia juga figur seorang kakak yang baik. Kuharap Audrey bisa seperti itu pada adiknya kelak."
"Aku setuju." Ucap Case lalu kemudian melihat kearah jam di tangannya. "Maafkan aku, Lea. Sepertinya aku harus kembali. Aku hanya mengatakan kepada mereka kalau aku pergi berbelanja dan sudah nyaris tujuh puluh lima menit tiga puluh detik aku berbelanja. Kuharap mereka tidak lantas melaporkan berita kehilanganku di kantor polisi." Ucap Case yang langsung membuat Lea tertawa terbahak- bahak.
"Baiklah. Sampai jumpa lagi."
"Ya. Sampaikan salamku pada si kecil Audrey."
"Tentu, Case."
Lalu gadis itu pergi dengan terburu- buru setelah merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci mobil beserta ponselnya yang mulai berkedap- kedip, tanda seseorang baru saja menghubunginya. Tepat disaat yang bersamaan, seseorang juga baru saja memeluk Lea dari belakang.
"Hai sayang." Sapa Jullian seraya mengecup puncak kepala Lea, lembut. "Aku daritadi mencarimu di depan dan ternyata kau ada dibelakang sini. Apa yang kau lakukan?"
Lea tersenyum lalu berbalik kemudia memeluk pinggang Jullian, sengaja mendonggakkan kepalanya dan mengecup bibir pria itu dengan pelan.
"Hai Juga sayang. Maaf, setelah memainkan dua buah lagu. Aku menemui seseorang disini. Apa kau menunggu lama?"
Jullian justru menyunggingkan senyumnya. "Aku bahkan rela menunggu selama apapun asal bisa mendapatkan ciuman darimu lagi." Jawab Jullian, membuat Lea tertawa tapi juga kembali mencium bibir prianya.
"Aku mencintaimu, Jullian." Ucap Lea pelan.
"Aku juga..."
"Mommy!" Seru Audrey seraya meronta hendak melepaskan diri dari dekapan Jerry.
"Kau membawanya?!" Seru Lea tidak percaya pada suaminya lalu berbalik hendak meraih Audrey dan memeluknya.
Baik Jullian maupun Jerry sama- sama menampilkan cengiran di bibir mereka.
"Dia menolak untuk pergi tidur sebelum bertemu denganmu." Jawab Jullian seraya menusuk- nusuk pipi Audrey dengan jari telunjuknya dan langsung mendapatkan pelototan dari Lea karena sekarang Audrey justru bergerak- gerak tidak nyaman dalam dekapan Lea.
"Aku mendengar kalau kau akan tampil malam ini jadi aku hanya sekedar numpang lewat." Sahut Jerry yang ditimpali dengusan tidak senang dari Jullian.
"Aku masih tidak mengerti. Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain membuntuti istri orang, Culton?" Tanya Jullian sengit.
Jerry mendelik padanya. "Sejujurnya Anderson, orang yang kau sebut istri itu adalah sahabatku jadi sebagai seorang sahabat yang baik, aku memberikan dukungan padanya." Balas Jerry tidak kalah sengitnya.
"Bahkan jika kau...."
"Sudah.... sudah...." potong Lea cepat, dia masih tidak mengerti apa alasan dibalik kebencian mereka berdua. Mereka selalu saja seperti kucing dan anjing jika bertemu dan Lea hampir kehabisan akal jika menyangkut hubungan mereka berdua. "Jerry, besok Jullian akan membuat ayunan untuk Audrey. Bisakah kau datang dan membantunya?"
"Aku tidak butuh bantuan." Timpal Jullian menatap istrinya tidak percaya.
"Aku juga tidak sudi membantumu." Balas Jerry juga.
Sejenak Lea menghela napasnya pelan lalu menatap wajah Jullian. "Aku tahu kau tidak memerlukan bantuan tapi akan lebih baik jika kita melakukannya secara bersama- sama? Itu akan membuat pekerjaan kita semua menjadi lebih ringan dan juga Jerry tidak memiliki pekerjaan lain yang bisa dilakukan."
"Aku punya banyak pekerjaan." Sahut Jerry. Kali ini memberi Lea tatapan tersinggung, membuat Jullian menyunggingkan senyum sinisnya tapi sekejap juga langsung di siku oleh Lea, membuatnya meringgis, berbalik membuat Jerry memberikan senyum penuh ejekan.
"Intinya kalian berdua harus bersama- sama membuat ayunan itu besok!" Putus Lea lalu berjalan meninggalkan kedua pria itu yang sekarang sama- sama saling bertukar pandang.
*
Lea baru saja menidurkan Audrey di tempat tidurnya dan kembali ke kamarnya dan Jullian ketika tubuhnya direngkuh dari belakang.
"Kau masih marah?" Tanya Jullian dibelakangnya.
Selama satu menit penuh, Lea mengambil napas lalu menghembuskannya dengan pelan dan berbalik untuk melihat suaminya.
"Aku tidak tahu apa masalah kalian? Tidak bisakah kalian menjadi teman?"
Jullian hanya tersenyum menimpali lalu tunduk untuk mengecup perut Lea.
"Aku tidak bisa menceritakan hal itu padamu, sayang." Jawabnya setelah mencium setiap inci perut Lea lalu berdiri untuk mengecup bibir Lea dengan pelan dan konstan. "Tapi aku menyetujui kalimatnya tadi yang mengatakan kalau dia sahabatmu." Lanjutnya setelah melepas ciumannya.
Kedua kening Lea sama- sama saling bertaut, bingung.
"Oh iya, apa kau kenal baik dengan gadis yang kau ajak bicara sebelum aku datang tadi?" Tanya Jullian tiba- tiba, membuat kernyitan di dahi Lea semakin dalam.
"Maksudmu Case?"
"Case?"
"Dia gadis yang kuajak bicara tadi." Jawab Lea. "Apa kau mengenalnya?" Kali ini Lea memicingkan matanya curiga sementara dalam benaknya mulai berpikir sesuatu yang tidak- tidak mengenai Jullian dan gadis itu.
Jullian mengendikkan bahunya, terkesan tidak peduli tapi semakin membuat Lea merasa jengkel. Apa Jullian mengenalnya? Apa mereka memiliki hubungan?"
"Mungkin aku hanya salah mengenali seseorang." Jawab Jullian acuh.
Fix. Sekarang Lea mulai terbakar cemburu. Apa sebegitu pentingnyakah wanita lain hingga harus membuat Jullian salah mengenali orang?
Lea menyentakkan tangan Jullian agar bisa lepas dari tubuhnya, membuat pria itu kaget dengan perubahan mendadak istrinya.
"Mau kemana?" Tanya Jullian heran ketika melihat Lea justru berjalan kearah lain.
"Mandi."
"Aku akan menyusul."
"Tidak perlu." Bentak Lea disusul dengan suara pintu yang dibanding dari dalam. Kedua mata Jullian mengerjap kaget melihat kelakuan Lea barusan dan baru akan melangkah ketika pintu kamar kembali terbuka, menampilkan Lea dalam balutan handuk yang menutupi tubuh telanjangnya.
"Apa aku sudah tidak cantik dan seksi lagi dihadapanmu, Jullian Anderson?!" Sergah Lea menatap tajam Jullian. "Apa aku yang sementara akan melahirkan dua anak untukmu tidak membuatmu tertarik lagi padaku sampai- sampai kau harus menyebut wanita lain didepanku?"
Jullian terperangah. Tidak tahu harus menjawab apa. Dia cukup terkejut mendapati sikap Lea yang seperti lalu mendadak pemahaman terlintas dikepalanya, membuatnya tersenyum tapi justru membuat Lea semakin memicingkan kedua matanya.
"Apa aku baru saja mendengar pernyataan cemburu darimu?"
Kedua mata Lea semakin memicing dan bibirnya juga semakin tipis tapi tangan yang didekapkan di dadanya membuat Jullian hampir saja kelepasan mengeluarkan tawanya.
"Apa aku tidak berhak cemburu pada suamiku sendiri?"
Oh. Rasanya Jullian ingin menarik tubuh nyaris telanjang itu dan membawanya ke tempat tidur.
"Aku punya cerita. Kau mau mendengarkannya?" Tanya Jullian mencoba mengulur waktu. Hanya satu. Satu yang perlu dia pastikan sejak lama.
"Kuharap ceritanya bagus." Dengus Lea tapi tidak membuat Jullian berhenti untuk tidak menyunggingkan senyumnya. Sangat menarik membuat istrinya itu marah.
"Waktu aku berumur lima belas tahun, tanpa sengaja aku bertemu seorang malaikat yang sedang menangis."
"Oh, kuharap bukan karena sayapnya yang patah atau dia ditendang dari surga."
Jullian terkekeh mendengar nada sinis Lea barusan.
"Tidak. Sayapnya tidak patah. Dia juga tidak ditendang dari surga. Dia malaikat yang sempurna. Sangat sempurna."
"Oh. Apa kau jatuh cinta dengannya?"
"Ya. Dia cinta pertamaku."
Rasanya Lea ingin melempar Jullian dengan sesuatu saat ini juga.
"Well," Lea berusaha berdiplomatis. "Semua orang punya cinta pertama. Jadi apa kau menemukannya?"
Jullian mengangguk, membuat Lea melotot.
"Dia berbeda tapi justru tidak menutupi kecantikannya ketika dia kecil."
"Kau menemuinya?"
"Aku selalu bertemu dengannya."
"Kau masih mencintainya?"
"Sejujurnya aku selalu memikirkannya."
Baiklah. Sekarang Lea memikirkan yang mana akan menjadi prioritasnya lebih dulu. Apakah dia akan menjadikan Jullian sebagai sansak tinju malam ini atau meminta bantuan Jerry karena suaminya sendiri telah berani memikirkan wanita lain sementara ada dirinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jullian.
"Menghancurkan dirimu dan juga cinta pertamamu itu." Jawab Lea pelan dan dingin semakin membuat Jullian tertawa. "Kau pasti sangat mencintainya hingga berani menceritakan hal ini padaku."
"Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang dan ya. Aku sangat mencintainya." Lalu Jullian kembali tertawa, "ternyata sangat menyenangkan melihatmu cemburu."
"Dimana dia?" Tanya Lea mengindahkan kalimat Jullian yang terakhir.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Melihat apa dia lebih cantik, seksi dan menawan dariku atau tidak."
Jullian tergelak mendengar jawaban Lea barusan.
"Sulit memutuskannya tapi satu hal yang baru saja kusadari adalah dia memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Mungkin karena itulah aku mencintainya."
Lama Lea terdiam, berusaha mencerna maksud dari kalimat Jullian barusan hingga tak menyadari kalau Jullian sudah berdiri dihadapannya seraya menyentuh ujung rambutnya yang lepas dari jepitan.
"Katakan Lea, apa warna rambut merahmu ini asli?" Tanya Jullian tiba- tiba.
"Tentu saja." Jawab Lea tersinggung tapi juga bingung dengan arah pembicaraan yang mendadak berubah.
"Tapi kenapa waktu kau kecil, aku justru melihatmu bukan dengan warna merah."
"Tentu saja tidak." Lea menjawab langsung, tanpa sama sekali menyadari maksud pertanyaan Jullian. "Aku sering mendapatkan masalah karena rambut ini. Anak- anak di tempat tinggalku dulu sering mengolok- olokku karena tidak memiliki rambut pirang, coklat atau hitam. Ugh! Kau harus melihat almarhumah nenekku, dia yang mewarisi warna merah ini padaku meskipun tidak semerah ini. Intinya adalah aku tidak menyukai warna rambut ini. Itulah sebabnya aku tidak menginginkan Audrey mewarisi ini dari... eh?" Kata- kata Lea seketika berhenti setelah melihat senyum sumringah Jullian padanya.
"Apa kau menyadarinya, sayang? Kau jauh lebih lepas dalam mengungkapkan perasaanmu ketika sedang marah."
"A- aku tidak mengerti apa yang baru saja kau katakan."
"Bukankah sudah saatnya kau melepaskan topengmu, sayang. Kau sudah memakai topeng di pertemuan pertama kita, kau menutupi rambut indahmu dengan rambut palsu hingga aku tidak menyadarinya kemudian kau memakai topeng lagi ketika kita bertemu dan menikah dan sekarang, kau masih tetap tidak ingin melepas topengmu dan melupakanku?"
"Jullian apa yang...." ditatapnya mata Jullian dan tersentak. "Jullian kau...?"
"Tidak sopan menatap orang lain seperti itu." Ucap Jullian menirukan nada suara Lea dulu.
Lea menatap Jullian dengan mata yang berair sementara kedua tangannya berada di bibirnya yang setengah terbuka. Dia tidak pernah menyangka kalau anak laki- laki yang dulu selalu dia rindukan itu selama ini telah bersamanya.
Jullian mengulurkan tangannya untuk mengusap tetes air mata yang turun dari mata Lea.
"Kata ayahku, anak perempuan akan terlihat jelek kalau menangis." Lagi- lagi Jullian mengatakan kalimat yang sampai saat ini Lea simpan di sudut terdalam hatinya.
Jullian tidak pernah tahu, karena kalimat itulah sehingga Lea bisa menghadapi semuanya. Keluarga Smith, teman- temannya dulu dan semua penghinaan yang diterimanya.
Lea tidak ingin menangis karena dia menyakini jika dia menangis maka dia akan terlihat jelek dan jika dia terlihat jelek maka anak laki- laki itu tidak akan bisa mengenalinya.
"Aku sudah menepati janjiku untuk melindungimu." Lanjut Jullian, "tapi sebelum itu aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih sayang karena telah bersabar dan menjadi kuat ketika aku tidak bersamamu." Lea mulai terisak, "maaf karena terlambat menyadarinya, maaf karena terlambat untuk melindungimu seperti yang dulu kujanjikan dan maaf karena kau harus mengalami semuanya dan terlambat untuk menemukanmu. Aku sungguh minta maaf."
"Jullian..." suara Lea mulai terisak tak terkendali karena mendengar pengakuan yang tak pernah disangkanya.
Lalu tiba- tiba Jullian membawa Lea ke tempat tidur dan mendudukkannya disana setelah itu dia menekuk sebelah lututnya sementara sebelah tangannya merogoh kantongnya, mengeluarkan sesuatu dari sana, yang langsung membuat Lea terdiam dengan mata yang semakin berkaca- kaca.
"Azalea Rosianna. Aku tahu ini sudah terlambat bagiku untuk mengatakan hal ini. Terima kasih... terima kasih atas segala yang kau lakukan selama ini. Terima kasih karena telah memberiku malaikat kecil bernama Audrey Jean Anderson dan malaikat lagi didalam rahinmu saat ini. Aku berjanji akan melindungi, menyayangi dan akan semakin mencintaimu sepanjang hidupku." Jullian mengambil napas panjang selama beberapa detik. "Apa kau bersedia menjadi pendamping seumur hidupku dan melahirkan anak- anakku kelak?"
Lea terdiam untuk beberapa saat hingga terdengar suara tawa serak akibat tangis darinya.
"Apa aku baru saja mendengar kau melamarku, Jullian?" Tanya Lea disela kekehnya.
Untuk sesaat Jullian terdiam hingga mendengus.
"Kau merusak suasana, sayang. Tidak tahukah kau berapa lama aku harus melatih kalimatku? Aku bahkan yakin Jerry sedang tertawa terbahak- bahak di tempat lain." Lea semakin tertawa mendengar penuturan Jullian barusan.
"Karena yang kau lakukan saat ini konyol. Astaga Jullian! Hahahaha aku sudah menjadi milikmu sejak lama. Aku juga sedang mengandung anak keduamu saat ini tapi dari semua hal konyol yang kau lakukan, kau melamarku ketika aku hanya mengenakan handuk? Astaga Jullian!"
"Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan berganti pakaian secepat itu dan aku juga tidak pernah menyangka kalau kau hanya mengenakan handuk. Itu semua diluar dari rencanaku."
Lalu tanpa Jullian duga, Lea meraih tubuhnya. "Terima kasih, Jullian karena telah mencintaiku selama ini tapi ngomong- ngomong bagaimana kau bisa mengenaliku?"
"Ibumu. Aku pernah tidak sengaja bertemu ibumu ketika kau membawanya memeriksa dan bertemu lagi sebelum kejadian Caroline itu dan disitulah aku menyadari dirimu tapi dulu aku masih penasaran dengan warna rambutmu."
"Jadi itukah sebabnya kau menanyakan hal itu?"
Jullian mengangguk. "Ya. Dan kau mengatakannya bahkan tanpa menyadarinya sama sekali."
"Ya. Itu karena aku marah padamu."
"Karena aku mengungkit cinta pertamaku padahal itu dirimu?"
Keduanya lalu tertawa. "Aku pasti konyol tadi."
Jullian menggelengkan kepalanya. "Aku justru lebih memilih kata menggairahkan dibandingkan kata konyol milikmu. Kau nyaris membuatku kehilangan kendali tadi ketika melihatmu hanya keluar dengan mengenakan handuk."
"Aku bahkan berpikir untuk tidak mengenakan apapun tadi."
Jullian semakin terbahak. "Dan apa yang membuatku mengurungkannya?"
"Kau. Kau mungkin bisa menahannya tapi aku justru yang tidak mempercayai diriku sendiri. Alih- alih kau yang menginginkanku, mungkin justru aku yang akan menerkammu." Jawab Lea membuat Julllian tertawa.
"Oh, kau tidak tahu apa yang baru saja kau katakan."
"Kalau begitu, buktikan. Dan kita akan lihat siapa yang paling menginginkan diantara kita."
"Apa itu semacam tantangan, Mrs. Anderson?"
"Bagaimana kalau aku menyebutnya sebagai Usaha Menggoda Cinta Pertamaku Sekaligus Yang Menjadi Suamiku?"
Jullian tersentak mendengar pengakuan yang baru saja keluar dari bibir Lea ketika kembali Lea memotongnya.
"Bukan kau saja yang bisa berbuat curang dan menjadikan laki- laki yang menghiburmu sebagai cinta pertama, Mr. Anderson. Aku pun juga begitu."
Jullian terlalu bahagia mengetahui hal itu dan segera membawa bibir Lea ke bibirnya dan menciumnya dengan rakus. Beberapa menit kemudian mereka berdua telah bermandi keringat diatas tempat tidur mereka, melupakan kalung bintang yang tidak sempat Jullian pakaikan di leher Lea dan saat ini berada dilantai.
"Aku mencintaimu, Azalea."
"Aku juga mencintaimu, Jullian." Lalu keduanya kembali melanjutkan malam panas mereka.
E N D

Julian hati-hati astaga..! 😲 Lea baru dua bulan itu 🙈
ReplyDeleteJulian hati-hati astaga..! 😲 Lea baru dua bulan itu 🙈
ReplyDelete