BTY - LIMA BELAS
"Sialan kau, Jeremiah Culton."
"Claire?" Jerry mengernyit sementara Anna didepannya hanya menatap dan memberinya pandangan bertanya- tanya.
"Ya. Ini aku. Kau kaget? Brengsek kau! Kenapa kau tidak memberitahuku? Dan kenapa pula hanya aku yang tidak tahu disini?!"
"Claire, dengar dulu. Situasinya tidak seperti..."
"Aku tidak peduli dengan situasi brengsekmu itu, Culton!" Potong Claire marah. "Dia sepupuku-"
"Dan juga istriku."
"Cih, tapi tetap saja dia adalah keluargaku. Kau tidak bisa mengklaim dirinya begitu saja sebagai milikmu sementara ada orang lain juga yang berhak atas dirinya."
Untuk sesaat Jerry menutup matanya dan menghela napas.
"Apa ada masalah? Siapa yang menelponmu?"
"Apa itu dia? Apa itu suara Cassie?" Mendadak suara Claire melonjak kegirangan. "Oh. Aku harus menemuinya. Oh bukan! Aku akan segera kesana."
"Tunggu, tunggu, tunggu-" Jerry tersentak. "Dimana kau?"
"Memang dimana kau pikir aku berada." Jawab Claire dan Jerry yakin ia mendengar suara deru mobil yang sebelumnya tidak disadarinya. Sial! "Lima menit lagi aku sampai." Klik.
"Apa ada masalah?" Anna bertanya ulang karena dilihatnya Jerry hanya terdiam menatapnya. "Siapa yang menelpon?" Ucapnya pelan.
Dihembuskannya napasnya pelan sementara matanya tidak pernah lepas dari memperhatikan Anna menyusun tangkai- tangkai bunga lavender. Selama beberapa hari ini Anna selalu terlihat sibuk hingga nyaris tidak bisa meluangkan waktu bersamanya. Wanita itu bahkan jarang bisa mengangkat atau menjawab panggilan telponnya dan hanya dialihkan ke pesan suara. Dan ada- entahlah. Jerry juga tidak tahu tapi Anna sepertinya berusaha menghindarinya dan dia tidak mau hal itu terjadi. Tidak setelah apa yang terjadi diantara mereka. Wanita itu miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya.
"Tidak ada masalah." Jerry menjawab.
Selama beberapa detik tidak ada balasan hingga mau tidak mau Jerry beranjak dari tempatnya dan menghapus jejak diantara mereka- memeluk Anna dari belakang.
"Kau sepertinya sangat sibuk belakangan ini." Ujar Jerry seraya menciumi rambut belakang Anna.
"A-apa yang kau lakukan?" Anna mencoba melepaskan diri tapi semakin ia meronta, semakin Jerry mendekapnya erat. "Jerry, para pelanggan yang masuk akan melihat kita." Anna berkata sambil berbisik.
"Aku tidak peduli." Balas Jerry ikut berbisik tapi ada senyum yang terukir dibibirnya melihat Anna menggelepar bagai ikan. "Kau menghindariku dan aku merindukanmu. Sangat. Apa kau pikir aku akan melepaskanmu semudah itu?"
"Aku bekerja, Jerr."
"Kau tidak perlu bekerja."
Sekejap Anna berhenti meronta dan sambil menghela napas panjang, ia berbalik agar bisa langsung berhadapan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya itu.
Ditelitinya wajah pria itu. Alis, mata, hidung. Semuanya tampak sangat pas di wajah itu. Ia terakhir menyisakan bibir Jerry untuk dilihat terakhir kali. Bibir itu tidak hitam, tidak juga merah tapi sekali lagi sangat pas dan rasa bibir itu... Anna tahu bagaimana rasanya. Bayangan ketika mereka berada di rumah sakit tempo hari masih menyisakan kenangan tentang itu dan secara otomatis membuat jantungnya berdetak tidak karuan dan mendadak udara menjadi lebih terasa panas daripada yang pernah dirasakannya.
Hanya satu yang pasti dia ketahui.
Dia sangat mencintai pria dihadapannya ini.
Tapi... Entah kenapa, disaat yang bersamaan seperti ada perasaan sakit yang juga ikut dirasakannya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apakah mereka pernah berpisah?
Apakah Jerry tidak mencintainya?
Bagaimana mereka bisa menikah jika hanya dialah yang mencintai pria itu?
"Cassandra?"
Lagi- lagi Jerry memanggilnya dengan sebutan itu. Seakan jika pria itu memanggilnya seperti itu akan membuatnya ingat akan segalanya tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia tidak ingat dan tidak tahu bahkan bisa dikatakan jika dia tidak yakin. Asumsinya- hanya itu yang bisa dipikirkannya saat ini. Jerry dan semua orang disekeliling Jerry hanya belum bisa menerima keadaan dan menganggapnya sebagai wanita pianis itu.
Cassandra Swan.
"Cassandra?"
"Anna. Panggil aku, Anna."
Tidak ada balasan, hingga Anna sepertinya akan terhisap ke dalam mata yang sedang memandanginya itu- membuatnya gusar sekaligus jengkel.
Mereka salah. Aku bukan orang itu.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Maaf?"
"Kau-," diangkatnya sebelah tangannya dan menyentuh kening wanita didepannya, mengusap area diatas alis Anna dengan lembut. "-bagian ini,"dia menyentuhnya seakan seperti mencoba menghilangkan sebuah noda. "-terlihat lebih dalam jika kau memikirkan sesuatu yang tidak ingin kau yakini."
Apa?
"Dan kau mulai meragukan apa yang baru saja kukatakan." Seringai Jerry mulai terkembang dan hendak akan membalas ketika secara mendadak ia mendengar suara nyaring dan selanjutnya tubuhnya seakan ditubruk oleh sesuatu.
"Oh, aku merindukanmu, Case."
Anna mengerjap, kaget sekaligus bingung. Sementara Jerry entah bagaimana telah berada beberapa langkah darinya dan menatap dirinya- bukan orang yang baru saja datang dan saat ini memeluknya dengan erat dengan pandangan yang bisa Anna defenisikan sebagai perasaan jengkel.
"Tidak... Bisa... Napas..." Senggal Anna karena semakin eratnya tubuhnya dipeluk.
"Oh maaf," dan saat itulah Anna melihatnya. Sosok itu mempesona dengan caranya sendiri meskipun ada sedikit kesan garang yang terbingkai sangat jelas di wajah itu dan tatapan matanya yang jika dilihat sekelebat seperti sinis. Entah sejak kapan Anna mulai mendikte seseorang dari bentuk wajah tapi satu hal yang pasti dan juga bisa ia tangkap. Wanita baru ini juga menganggapnya seperti yang baik Lea, Elena ataupun Jerry anggap.
"Oh Tuhan! Kau benar- benar disini." Wanita itu mulai mengeluarkan air dari kedua matanya, membuat otak Anna seketika berhenti- tidak tahu harus bersikap bagaimana hingga Jerry datang dan memberi wanita itu sapu tangannya. "Aku masih tidak ingin memaafkanmu, Jerr." Sergahnya sembari dengan kasar mengambil sapu tangan yang disodorkan oleh Jerry dan menyeka air matanya.
Jerry mengangkat bahunya. "Tidak ada yang bisa kukatakan, Claire. Situasinya tidak mendukung."
"Aku tidak peduli situasimu, Jeremiah Culton. Aku sudah membantumu mengurus Institutemu dan kau membalasku dengan ini? Pantas saja kau tidak berniat kembalo ke New York. Kau bersamanya dan tidak seorangpun yang kau beritahu."
Jerry mengernyit. "Apa Elena tidak memberitahumu?"
"Memberitahu apa?" Sergah Claire. "Tidak ada yang memberitahuku tentang apapun hingga aku mendengar Leah dan Leo mengatakan kalau Elena ke London agar bisa menangkap basah kalian."
Mendadak Jerry mengerang. "Kalau begitu tidak seorangpun yang tahu kau berada disini? Bahkan Brandon?"
"Brandon tidak ada hubungannya dengan ini." Bentak Claire marah. "Cassie sepupuku dan juga sahabat yang kumiliki, aku tidak butuh..."
"Um, maaf-" Anna memutuskan untuk mengambil alih pembicaraan karena dilihatnya Jerry semakin marah.
"Maaf?" Claire nyaris tersedak karena geli. "Apa kau hilang ingatan atau semacamnya, Case? Sejak kapan kau menjadi sesopan ini padaku?"
"Oh Tuhan!" Sekali lagi Anna melihat Jerry mengerang. "Akan kuhubungi, Brandon dan Elena." Katanya sembari merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya.
Claire mendengus sebagai balasan lalu kembali melihat Anna.
"Kau kelihatan berbeda tapi tetap sama." Lalu Claire meraih tangan Anna dan memperhatikan kuku- kukunya dan terlonjak. "Kau pasti bercanda." Anna ingin bertanya ada apa ketika Claire melanjutkan. "Sudah berapa lama kau tidak melakukan perawatan kuku? Oh sial. Kau tampak tidak terurus, Case. Kita perlu melakukan perawatan di salon beberapa hari ini."
Mendadak Anna mengerjap. Perawatan kuku? Salon? Dan apa katanya tadi? Beberapa hari? Apa dia berniat menginap di salon? Dan dari semua ini, siapa dia?
"Ada apa dengan ekspresi itu? Kau tidak mungkin kaget hanya karena kita akan memanjakan diri sendirikan?"
Anna terdiam. Bahkan jika ia ingin berbicara, dia juga tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
"Kau ini kenapa sih, Case? Apa kau marah? Seharusnya aku yang marah padamu. Kau tidak memberitahuku apa- apa dan asyik bersenang- senang dengan suami bajinganmu itu."
"Oke. Stop." Jerry datang dan berdiri disamping Anna. "Brandon mengatakan kau harus menghubunginya sekarang." Ucap Jerry pada Claire.
"Nanti saja. Masih banyak yang ingin kuceritakan pada Cassie."
"Claire," Jerry menimpali. "Brandon akan menceritakan semuanya padamu."
Sejenak Claire mengernyit. "Kalian tidak berniat kabur dariku kan?" Tanyanya sembari menatap mereka berdua terutama Anna dengan pandangan menyelidik hingga tanpa sadar Anna terkekeh.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanyanya disela tawanya.
"Karena aku tahu Jerry bisa melakukannya dan kau terlalu mencintainya hingga kadang kau tidak tahu apa yang kau lakukan." Jawab Claire langsung.
Deg.
"Dimana kau tinggal?" Claire kembali bersuara. "Ah, pasti bersama Jerry. Kalian kan sudah menikah tapi kali ini tidak akan kubiarkan. Kau harus tinggal denganku dan tidak akan kulepaskan lagi."
"Tidak!"
Mendadak Patricia muncul dengan baju seragam sekolahnya serta wajah yang memerah menahan air mata.
"Patri...cia?"
"Kau tidak boleh membawanya!" Teriak Patricia dan langsung meraih sebelah tangan Anna, menyentaknya kearahnya. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak boleh mengambil kakakku!" Teriakan Patricia masih berlanjut diiringi isak air mata.
"Patricia? Hey, ada apa?"
Anna kebingungan dan semakin bingung ketika mendadak Patricia mendekapnya dengan erat. Untuk kedua kalinya dalam satu waktu, tulang Anna rasanya ingin remuk dan kesulitan menghirup udara karena kuatnya dekapan yang diterimanya.
"Kau jangan pergi, Ann." Isak tangis Patricia semakin menjadi- jadi. "Kau tidak boleh pergi. Kau sudah berjanji."
"Aku tidak kemana- mana. Aku disini." Balasnya tapi matanya menatap Jerry dan Claire yang kebingungan.
"Tidak akan kubiarkan seseorang mengambilmu, Anna. Tidak akan."
***

Comments
Post a Comment