LOVE MISSION - 20
Kimberly melangkah gontai hendak memasuki apartemennya. Dia tidak pernah menyangka kalau akan melihat Jayce hari ini. Semenjak dia melihat pertengkaran antara Jayce dan Rhea tempo hari membuat dia merasakan perasaan bersalah yang teramat sangat. Dia juga merasa sangat sedih tapi tidak mengerti kenapa dia merasa sedih dan pada akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada sophie.
Dan sebagai hasilnya Sophie melarang Kimberly untuk menemui Jayce apapun alasannya dan jika Kimberly tidak sengaja melihatnya maka yang harus dilakukannya adalah menghindar secepat mungkin dan itulah yang dilakukannya tadi.
Menghindari Jayce...
"Aku merindukannya" Kimberly berkata lirih.
"Kau seharusnya bilang kalau kau merindukanku"
Kimberly memekik kaget dan semakin terperangah ketika mengetahui siapa yang baru saja mengucapkan kalimat ini.
Selama beberapa saat Kimberly terdiam di tempatnya. Lidahnya terasa kelu dan matanya membelalak tak percaya mendapati Jayce sedang berdiri di depannya dengan senyum yang terpampang jelas di bibirnya.
"Karena aku juga merindukanmu. Sangat" katanya penuh penekanan di akhir kata.
"Jayce!" Sontak Kimberly melompat ke dalam pelukan pria itu dan dibalas oleh Jayce dengan kekehan.
"Ah, aku menyesal tidak melakukan ini sejak awal" ujar Jayce seraya mengecup puncak kepala Kimberly.
"Bagaimana kau bisa kesini?" Tanya Kimberly setelah melepaskan pelukannya dan menatap Jayce yang saat ini sedang merapikan rambut di kening Kimberly dengan lembut.
"Aku mengikutimu, tentu saja" jawabnya.
"Mengikutiku?"
"Ya. Aku nyaris tidak bisa menemukanmu beberapa hari ini dan ketika pada akhirnya aku bisa melihatmu, kau justru berlari seperti orang yang baru saja melihat hantu"
"Ah, aku seharusnya tidak bertemu denganmu" Kimberly melepaskan dirinya dari Jayce tapi langsung tertahan dengan tangan Jayce berada di pinggangnya.
Sebelah kening Jayce terangkat separuh sementara tatapannya tetap mengarah pada Kimberly, bingung, "ada yang ingin kau katakan denganku?"
Kimberly menggeleng menjawab pertanyaan Jayce. Memang apa yang harus dikatakannya. Dia bahkan bingung kenapa Jayce harus mengikutinya.
"Kau yakin?" Tanya Jayce sekali lagi.
"Ya"
"Termasuk masalah tempo hari? Dengan Rhea?" Pancing Jayce.
Kimberly menghembuskan napasnya pelan dan balas menatap Jayce.
"Sejujurnya aku merasa bersalah padamu". Katanya.
"Bersalah? Kenapa kau harus merasa bersalah?" Tanya Jayce, sekali lagi menatap Kimberly yang kali ini kembali menghembuskan napasnya panjang- panjang. "Baiklah. Mungkin akan lebih baik kalau kita membicarakan ini di dalam. Apa kau tidak mau membawaku masuk ke dalam apartemenmu?"
Sejenak Kimberly terdiam lalu kemudian mengangguk seraya membuka pintunya agar lebih lebar.
Sesampainya Jayce di dalam. Pria itu langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dari apa yang dikatakan oleh London dulu. Kimberly tinggal seorang diri. Kedua orang tua Kimberly telah meninggal bertahun- tahun yang lalu hingga tak sengaja bertemu dengan Sophie yang langsung merekrutnya untuk menjadi model.
"Duduklah dulu, Jayce. Aku akan membuatkanmu jus. Oh kuharap jusnya masih ada. Aku jarang menginap di sini" kata Kimberly yang langsung membuat Jayce menahan Kimberly untuk pergi.
"Jika kau jarang kemari jadi dimana kau selama ini?" Tanya Jayce dengan kening yang berkerut.
"Di tempat Sophie." Jawab Kimberly
"Dan Sophie?" Jayce berharap apa yang dipikirkannya saat ini tidaklah benar.
"Di tempat Hans".
"Jadi hanya kalian berdua?"
"Maksudmu Ray? Ya. Sophie menyuruh Ray untuk menemaniku selama dia tidak ada"
Sial. Jayce merutuk dalam hati.
"Apa yang kalian lakukan selama disana? Apa dia memelukmu?"
"Ya. Ray bahkan berbaik hati untuk berbagi tempat tid..."
Kalimat Kimberly terputus di udara seiring Jayce yang mencium bibirnya.
Kedua mata Kimberly mengerjap tidak percaya. Dia di cium oleh Jayce!
Jayce menciumnya!
"Whoa...!" Kedua mata Kimberly membulat sempurna ketika Jayce melepaskan pagutan di bibirnya. "Akhirnya kau... menciumku". Kimberly tidak menampik kalau jantungnya berdetak lebih kencang dan menginginkan Jayce melakukannya lagi.
"Aku tidak suka mendengar kau menyebut nama pria lain di depanku dan semakin tidak suka mendengar kalau seseorang menyentuhmu".
"Jayce?"
"Aku dan Rhea tidak ada hubungan apa- apa. Aku memang pernah menyukainya tapi perasaan itu beralih kepadamu"
"Jayce?"
"Aku rasa aku menyukaimu. Tidak. Lebih tepatnya aku mencintaimu. Aku mencintai sang model cantik yang berdiri dihadapanku saat ini"
Sejenak Kimberly terdiam mencerna kalimat Jayce barusan dan menyunggingkan senyumnya semakin lebar. Jayce mengatakan dia menyukainya? Tubuhnya mendadak terasa hangat dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena itu.
"Kurasa misi konyol yang kau jalankan itu membawaku untuk mencintaimu yang sebenarnya"
"Jayce..."
"Jadi apa jawabanmu? Apa kau juga mencintaiku?"
Hening.
Dia menyukai Jayce karena tiap kali dia bersama Jayce seperti ada perasaan aneh yang selalu menggelayut di benaknya. Dia menyukai Jayce yang menyentuhnya, dia menyukai Jayce yang tersenyum padanya, dia menyukai cara Jayce menyebut namanya. Pokoknya dia menyukai semua yang ada pada diri Jayce terutama pada bagian ciuman yang baru saja diberikan oleh Jayce jadi, apakah itu bisa disebut cinta?
Apakah dia mencintai, Jayce?
"Aku merasa ada kupu- kupu dalam perutku" Kimberly memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Apa? Kupu- kupu?"
Untuk sesaat Kimberly menggeleng. Dia benci kupu- kupu. Apapun yang ada dalam perutnya lebih dari sekedar kupu- kupu. Perutnya bergejolak dengan cara yang aneh sekaligus menyenangkan.
"Apa kau tidak apa- apa?" Jayce terlihat sangat khawatir apalagi ketika melihat Kimberly menggigit bibir bawahnya kuat- kuat. "Kimmy, apa kau baik- baik saja?" Jayce terpaksa menangkupkan kedua tangannya agar bisa menyentuh wajah Kimberly seutuhnya. "Katakan sesuatu"
"Apa yang harus kukatakan?" Cicit Kimberly tapi justru membuat Jayce tertawa lega.
"Terima kasih, Tuhan. Ku pikir kau tidur sambil membuka matamu" kelakar Jayce membuat Kimberly mendelikkan matanya.
Lalu kedua mata Kimberly menatap ke dalam mata Jayce dan yang bisa dilihatnya adalah keteduhan di dalamnya.
"Jayce?"
"Ya. Katakan saja, sayang. Apa yang kau inginkan?"
"Bisakah kau menciumku lagi?" Tanyanya sangat pelan tapi terdengar penuh tekad.
Jayce terdiam.
Untuk beberapa saat dia mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah Kimberly pelan dan hati- hati seakan Kimberly terbuat dari kaca lagipula Jayce tidak ingin terburu- buru.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Jayce menatap Kimberly tepat ke matanya
Kimberly menganggukkan kepalanya. "Ya"
"Seberapa suka?"
"Sangat suka hingga tidak ingin kau pergi dariku" hening sejenak. "Bisakah kau menciumku lagi?"
Detik selanjutnya, Kimberly telah mengalungkan kedua lengannya di leher Jayce dan mencium sudut bibir Jayce pelan- pelan menuju tepat ke bibir Jayce. Kimberly merasakan perasaan menggigil di tubuhnya tapi dia tahu itu bukanlah karena suhu ruangan di apartemennya tapi lebih kepada berpikir betapa dia menyukai cara Jayce menciumnya.
Pelan tapi pasti, tapi Kimberly tidak yakin akan menghentikan kegiatan yang dilakukannya ketika mendadak Jayce merengkuh tubuhnya agar lebih dekat ke tubuhnya dan membalas ciuman dari Kimberly.
Awalnya ciuman mereka hanya berkisar lembut bahkan sangat lembut ketika kemudian berubah menjadi sangat menuntut. Hal selanjutnya, mereka sudah berada diatas sofa dengan Jayce yang berada diatasnya. Masih dengan pakaian lengkap. Jayce sadar kalau dia tidak akan melakukan apapun itu sebelum mendapatkan persetujuan dari gadisnya.
Ditelusurinya seluruh wajah Kimberly dengan jari-jarinya, tanpa melepaskan pandangannya pada sosok yang berada dibawahnya. Jayce memperhatikan seluruh bentuk wajah Kimberly mulai dari mata, hidung dan terakhir menyisakan bibirnya yang telah berubah menjadi lebih padat.
Pelan- pelan Jayce mengecup kening Kimberly kemudian beralih ke kedua mata lalu hidung kemudian bibir. Khusus untuk bibir, dia sengaja berlama- lama disana. Kimberly bahkan tidak berniat melepaskan tangannya dari tubuh Jayce. Dia ingin Jayce melakukan ini setiap saat ketika kembali dia mendengar suara Jayce yang entah mengapa ditelinganya berubah menjadi parau.
"Menikahlah denganku, Kimberly Moss"
***
Comments
Post a Comment