LOVE MISSION - 11
Jayce mendesah putus asa ketika melihat penampilan Kimberly kali ini. Tidak ada yang aneh dengan diri gadis itu, malah mungkin selalu terlihat sempurna di setiap kesempatan tapi itulah yang menjadi topik keputusasaan Jayce.
Gadis ini terlalu mencolok bahkan dengan pakaian yang menurutnya biasa saja. Di kencan kedua mereka kali ini, Jayce memutuskan untuk mengajak Kimberly ke kebun binatang. Mengenai alasannya, Jayce sendiri masih bingung. Bukankah kemarin sudah cukup tapi melihat betapa sedihnya ekpresi gadis itu terutama pada topik permen kapasnya itu, Jayce menjadi kepikiran.
Siang itu Jayce berencana mengajak Kimberly untuk bertemu dengannya di kebun binatang karena sebelumnya Jayce masih harus mengurusi beberapa hal di kampus. Jayce datang lebih awal kemudian disusul oleh mobil Porsche kuning disampingnya menampilkan Sophie dengan senyum yang menurut Jayce sangat mengerikan. Tak lama kemudian gadis yang sudah ditunggunya keluar dari mobil Porsche itu dan tertegun. Gadis itu memakai rok mini sebatas paha dan kaos ketat yang hanya sebatas perut. So hot di cuaca yang terbilang sangat panas. Kimberly memakai topi kuning lengkap dengan kacamatanya yang semakin entah bagaimana Jayce harus menjelaskannya.
"Aku akan menjemputmu besok. Pastikan kau sudah siap." Ucap Sophie yang dibalas anggukan dari gadis itu. Setelah melambaikan tangannya, Kimberly berbalik dan mendapati Jayce sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengertinya.
"Ada apa? Maaf. Tadi ada yang harus kuselesaikan dengan Sophie. Apa kau menunggu lama?" Tanya Kimberly membuka pembicaraan karena sepertinya Jayce masih bertekad tidak akan bersuara sebelum dirinya yang memulai.
"Baju apa yang sedang kau kenakan sekarang?"
Kimberly mengerjap. Tidak mengerti. Kenapa rasanya Jayce marah dengannya?
"Jawab aku, Kimberly Moss."
"Eh?" Sejenak Kimberly menundukkan wajahnya, melihat pakaian yang digunakannya. "Kaos dan rok mini, kurasa. Apa ada yang salah?"
"Apa kau bermaksud menggoda para pengunjung beserta hewan- hewannya disini?"
"Eh?"
Jayce menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. "Seingatku disebelah sana ada kaos yang diperjual belikan sebagai merchandise tempat ini. Kita kesana." Dan tanpa menunggu lagi, dia meraih tangan Kimberly dan membawanya pergi. Untung saja boots yang digunakannya hanya setinggi 3 centi jadi tidak menyulitkannya untuk berjalan mengikuti pergerakan Jayce yang sepertinya akan terbang.
Sesampainya di tempat itu, Jayce langsung berjalan menuju kaos yang berjejer, masih dengan menyeret Kimberly disampingnya dan mengernyit ketika dia memposisikan kaos itu didepan tubuh Kimberly.
"Ganti pakaianmu dengan yang ini." Perintahnya.
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Ganti saja. Ini lebih bagus kau pakai dibandingkan dengan pakaian yang kau pakai sekarang."
Kimberly yang mendengar kata bagus dari Jayce segera tersenyum, hanya senyum kecil, yang bahkan bisa dibilang bukan senyum karena terlalu kecil bahkan cenderung irit tapi cukup membuat Jayce tertegun sama seperti ketika di Central Park kemarin sebelum beberapa orang berhasil mencuri foto dirinya dan gadis itu.
Digelengkannya kepalanya kekiri dan kekanan sambil menunggu Kimberly mengganti pakaiannya. Dia sedang melihat aksesoris- aksesoris lainnya ketika seseorang menepuk pundaknya.
"Kurasa aku juga menyukainya. Ini sangat cocok dengan rok yang gunakan." Ucap Kimberly sambil memperlihatkan hasilnya dihadapan Jayce.
Deg.
Sial, apa ini?. Ucap Jayce dalam hatinya.
Kaos itu mungkin terlihat biasa tapi entah kenapa ketika digunakan oleh gadis ini, semuanya terlihat sangat pas. Kaos berwarna putih yang tertulis Let's find your animals itu Kimberly masukkan sebagian hingga memperlihatkan motif dari rok mininya sementara dibagian belakang dia biarkan berantakan.
"Jayce?"
"Ayo kita pergi." Setelah membayar kaos yang digunakan oleh Kimberly sekaligus meminta bungkusan kecil untuk menyimpan kaos yang tadi digunakan Kimberly pertama kali, Jayce bersiap akan keluar ketika tangan Kimberly menahannya. "Apa?"
"Kau tidak membelinya juga?"
Sekilas dia melirik kaos yang digunakan Kimberly lalu ke pakaian yang digunakannya.
"Kalau yang ingin kau tanyakan tentang pakaianku. Pakaianku baik- baik saja dan aku juga memakai kaos." Jayce memperlihatkan kaos dibalik jaket abu- abunya.
"Bukan itu. Apa kau tidak mau membeli kaos yang sama denganku?"
"Buat apa? Pakaianku baik- baik saja."
Kimberly terdiam, menundukkan kepalanya.
"Baiklah. Tunggu disini." Jayce berjalan kembali masuk ke dalam dan tak lama kemudian muncul dengan kaos yang serupa lengkap dengan bungkusan yang juga serupa dengan yang dipegang oleh Kimberly.
Kimberly merasa udara tiba- tiba tersedot keluar dari rongga tubuhnya. Jayce luar biasa tampan dengan kaos yang melekat di tubuhnya.
"Apa lagi? Ayo pergi." Ucap Jayce menyadarkan kembali Kimberly yang sempat melamun.
"Eh ayo." Balas Kimberly dan tanpa menunggu lagi, ia langsung menautkan tangannya ke tangan Jayce yang sedikit kaget.
Sebenarnya dia juga tadi merasa seperti Kimberly sedang menatapnya intens. Itulah sebabnya dia langsung memutuskan kontak mata pertama kali.
Mereka berkeliling mengitari kebun binatang yang mereka datangi. Semakin kedalam, kedua mata Kimberly semakin membesar yang mau tidak mau membuat Jayce tertawa geli.
"Apa kau yakin itu panda sungguhan dan bukannya boneka?" Kimberly menunjuk seekor panda yang sedang asyik mengunyah bambu diatas bebatuan.
"Kalau kau mau, kau bisa membuktikannya." Kata Jayce yang langsung disesalinya kemudian. Dia sudah tahu jawaban apa yang akan terlontar dari bibir gadis itu.
"Baiklah. Akan kucoba."
Tuh kan.
"Tidak usah." Tahan Jayce sebelum Kimberly benar- benar melompati pagar untuk membuktikan rasa penasarannya.
"Kenapa?"
"Dia sedang makan. Apa kau mau ditusuk bambu oleh panda itu karena telah menggangunya beristirahat?"
Sejenak Kimberly terdiam. Meresapi kalimat Jayce.
"Dan dia panda sungguhan." Lanjut Jayce menyakinkan Kimberly.
"Ya. Dia memang panda sungguhan." Kimberly mengikuti ucapan Jayce barusan dan mau tidak mau Jayce merasa gemas dengan sosok gadis didepannya ini. Diulurkannya tangannya hingga berada diatas kepala Kimberly lalu menepuk- nepuknya pelan. "Makanya dengarkan apa yang kukatakan. Nanti setelah dari sini aku akan membelikanmu boneka panda."
Sontak kedua mata Kimberly membesar dan Jayce entah bagaimana seperti melihat kilau di kedua mata Kimberly.
"Kau senang?" Jayce berusaha meyakinkan kalau dugaannya tidak salah.
"Tentu saja."
"Kalau begitu berikan aku senyum terbaikmu."
Jayce mengira Kimberly akan langsung terdiam ketika tiba- tiba Kimberly tersenyum. Senyum yang lebar hingga matanya juga terlihat tersenyum dan itu langsung membuat Jayce menahan napas.
"Terima kasih Jayce. Kau memang baik." Ucap Kimberly tanpa menyadari kalau sejak tadi Jayce hanya diam menatapnya. "Ayo kita cari binatang lain." Ajak Kimberly hendak melangkahkan kakinya ketika tangannya ditahan oleh Jayce dan mengernyit heran. "Ada ap...?" Belum sempat ia menyelasaikan ucapannya mendadak tubuhnya ditarik kearah sebaliknya dan berbalik.
"Ray?"
"Apa yang kau lakukan disini?" Ray terlihat tidak senang ketika menyadari kalau Kimberly lah yang baru saja dilihatnya.
"Melihat binatang. Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
"Menemani teman memeriksa hewan."
"Eh? Bukannya kau dokter manusia bukan hewan ya?" Kimberly terlihat bingung.
"Itu temanku bukan aku." Jawab Ray mau tidak mau membuatnya terkekeh lalu matanya tertuju pada Jayce yang masih diam. "Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu."
"Eh tapi.. temanmu?"
"Nanti akan kuhubungi. Ada sesuatu yang juga ingin kukatakan padamu."
Sejenak Kimberly terdiam lalu berpaling pada Jayce. "Sampai nanti, Jayce." Ucapnya seraya melepaskan pegangan Jayce dari lengannya dan pergi.
Ray tidak bisa menghubungi temannya itu sehingga baik Ray maupun Kimberly terpaksa harus kembali masuk ke bagian paling dalam kebun binatang itu untuk mencari temannya Ray. Selama perjalanan, Kimberly merasa tidak nyaman. Pikirannya terus saja tertuju pada Jayce yang hanya diam ketika dia pergi. Kimberly baru saja merogoh kantongnya untuk mengambil Iphone-nya ketika Ray membalikkan badannya dan langsung memeluknya.
"Ray, apa yang....?"
"Aku akan membantumu."
"Eh?"
Ray melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Kimberly dalam. "Aku akan membantumu melakukan misimu itu."
Kimberly terdiam meresapi kalimat Ray barusan dan berkata dengan nada tegas.
"Kalau begitu cium aku."
***
Comments
Post a Comment