LOVE MISSION - 33

Kimberly termenung di balkon salah satu kamar hotel yang ditempatinya sementara kedua matanya tanpa henti memandangi orang- orang yang berlalu lalang di jalan raya, dekat dengan hotel yang ditempatinya. Sudah lebih dari seminggu ini ia berada di Milan, menjalani pemotretan dan juga Fashion Show yang akan berlangsung dua hari lagi.

Sampai saat ini pun, Ray sama sekali tidak ingin berbicara maupun mengangkat telpon dari Kimberly dan justru mengalihkannya ke pesan suara. Sementara itu, Jayce jauh lebih sibuk daripada yang biasanya. Jayce memang menceritakan mengenai dirinya yang sebenarnya dan alasan kenapa dari awal dia tidak mengatakan apa- apa tapi Jayce juga berjanji kalau dia akan berusaha agar Barbara mau menerima keputusannya.

Sejenak Kimberly menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Entah mengapa dia merasa sangat lelah akhir- akhir ini. Lagi- lagi dia menghela napas, sudah tiga hari ini Jayce tidak menghubunginya. London mengatakan kalau saat ini Jayce sedang sangat sibuk tapi dia juga meminta agar Kimberly tidak terlalu khawatir dan memintanya hanya fokus dengan pemotretan dan Fashion Shownya. Sebenarnya... semenjak mendengar kalimat Jayce di kafe tempo hari yang mengatakan kalau dia masih tidak ingin mempublikasikan hubungan mereka. Ada sisi terdalam, hanya sebagian kecil dari dalam dirinya yang menginginkan mereka mempublikasikan mengenai pernikahan mereka. Ia menginginkan Jayce mengandeng tangannya di depan banyak orang, makam es krim atau sekedar jalan- jalan di taman hiburan.

Dulu dia memang tidak memikirkan hal ini dan langsung mengiyakan ketika Jayce memintanya untuk menikah tapi sekarang dengan adanya Rhea dan Barbara, belum lagi masalahnya dengan Ray. Dia mulai tidak yakin dengan keputusannya yang dulu. Apa dia terlalu cepat memutuskan?

Sophie tidak mengatakan apa- apa ketika Kimberly menceritakan semuanya. Jelas sekali kalau wanita itu tampak bingung tapi cukup marah ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Barbara padanya.

Malam ini hingga esok, ia tidak memiliki jadwal. Sophie juga tadi keluar dengan terburu- buru dan hanya meninggalkan selembar kertas yang menginformasikan kalau dia sedang sibuk mengurusi sesuatu. Kenapa semua orang tampak sangat sibuk? Dia butuh seseorang dan seseorang itu berada jauh di...

Seketika senyum Kimberly tersungging jelas di bibirnya. Jika Jayce tidak bisa menemuinya, kenapa bukan dia saja yang menemuinya?

Dengan senyum yang masih tercetak dibibirnya. Kimberly dengan cepat mengepak bajunya dan memasukkan kedalam ransel. Dia mengganti pakaiannya dengan kaos dan rok mini yang tidak terlalu mengundang perhatian paparazzi lalu keluar dari kamarnya, tidak lupa dia meninggalkan sebuah pesan yang mengatakan dia pergi menemui Jayce dan akan kembali keesokan harinya. Lagipula ini bukan kali pertama ia melakukannya, dia pernah melakukannya ketika menjalani pemotretan di jepang dulu. Setelah mengenakan topi dan kacamata untuk menutupi identitasnya, Kimberly menyampirkan ranselnya di pundak dan berjalan meninggalkan hotel tempatnya menginap.

.
.
.

"Aku ingin masuk, Jayce"

Entah kenaapa akhir- akhir ini kelakuan Rhea semakin hari semakin menjadi- jadi. Dia selalu ingin ditemani kemanapun dia pergi dan kali ini ia kembali merenggek agar diperbolehkan untuk masuk ke rumahnya yang tentu saja selalu ditolak oleh Jayce.

"Memang apa yang kau ingin lakukan disana, Rhea? Ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat."

"Tidak mau. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu." Kembali Rhea mendekap tubuh Jayce tapi dengan sigap, pria itu menahan tubuhnya.

"Ini sudah malam. Apa kau tidak lelah?"

Sesaat Rhea memberenggut. "Aku memang lelah jadi bagaimana kalau aku menginap di rumahmu? Bukankah banyak kamar disana?"

"Memang banyak tapi London sedang tidak menginap di rumahku jadi tidak bisa."

"Kenapa? Aku kan tidak ingin memperkosamu."

Sejenak Jayce menjitak kepala Rhea keras, membuat wanita itu mengaduh. "Memang tidak. Sudahlah. Pulang sana. Aku akan menjemputmu dan kita bisa berangkat ke kantor bersama- sama."

Rhea tersenyum. "Baiklah. Aku akan membuatkan sarapan untuk kita berdua."

"Ide bagus." Jayce ikut tersenyum menimpali.

"Baiklah, Jayce. Selamat malam." Ujar Rhea seraya mengecup bibir pria itu sekilas.

"Rhea!"

"Jayce?"

Baik Jayce maupun Rhea sontak berpaling kearah sumber suara. Tadinya mereka tidak terlalu jelas melihat karena gelapnya malam tapi ketika sosok itu melangkah mendekati lampu jalan, barulah Jayce sadar dan tanpa sadar terkesiap.

"Kimberly?" Jayce melepaskan tangan Rhea dari pundaknya dan berjalan menghampiri Kimberly yang tampak syok. "Sayang? Apa yang..."

"Kalian... berciuman?"

"Apa?"

"Aku..." sesaat Kimberly menelan ludahnya. "Aku melihat dia menciummu." Ulangnya.

"Sayang," Jayce meraih tangan gadisnya untuk menenangkan ketika alisnya bertaut merasakan tangan Kimberly yang terasa dingin. Sejak kapan Kimberly berdiri disini? Dan mengernyit ketika menyadari pakaian dikenakan oleh gadisnya, terutama pada rok mini. "Apa kau tidak membawa jaket?" Tanyanya seraya membuka jas yang dipakainya dan menyampirkannya di sekeliling pinggang Kimberly setelah sebelumnya mengambil alih ransel gadis itu dan memakainya. "Seharusnya kau memilih celana panjang jika ingin kabur lagi." Cetusnya seraya memperbaiki kacamata yang digunakan oleh gadis itu.

"Kau tahu?" Kedua mata Kimberly membelalak karena terkejut tapi cukup membuat Jayce terkekeh melihat gadis yang sudah sangat di rindukannya selama ini. Kalau bukan karena permintaan Barbara yang ingin meningkatkan penjualan dan membuka cabang baru di Belanda. Sudah pasti ia akan berangkat menuju Milan, menemui sang istri dan mungkin mereka bisa sekalian berbulan madu. Jayce sudah mempersiapkan negara mana saja yang akan ditujunya jika kelak berbulan madu dengan Kimberly jika pekerjaannya disini sudah selesai.

"Ini bukan pertama kalinya, bukan?" Balasnya. "Aku merindukanmu, Mrs. Caldwell." Katanya seraya mengecup puncak hidung Kimberly dengan gemas tapi gadis itu sama sekali tidak merespon. Justru kedua alisnya bertaut. "Ada apa?" Tanya Jayce merasa heran.

Untuk sesaat Kimberly menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti. Tadi aku melihat dia," dia menunjuk Rhea yang berada dibelakang Jayce, sedang menatap tajam mereka berdua. Jayce tidak pernah bersikap semanis itu padanya- "menciummu dan sekarang kau menciumku," jeda sesaat lalu sambil mengernyit, Kimberly kembali bertanya. "Apa ini yang namanya menangkap suami yang berselingkuh dengan wanita lain?"

"Apa?" Jayce tampak sangat terkejut dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan oleh gadisnya dan kemudian tertawa. "Aku selalu menyukai melihatmu yang cemburu. Sangat menggemaskan." Lalu tiba- tiba Jayce meraih pinggang Kimberly agar mendekat dengan tubuhnya. Ia sangat merindukan tubuh dan aroma yang tercium dari tubuh gadisnya. Bukan, bukan parfum yang seperti selalu digunakan oleh Rhea tapi ini seperti aroma cologne bayi bercampur rempah- rempah yang sangat memabukkan. Benar kata London, tiap kali Kimberly berada didekatnya- ia sulit untuk fokus pada hal lain. Hanya ada sosok gadisnya dalam pikirannya. "Aku mengerti darimana pikiran itu berasal tapi jauh dari dalam diriku, aku selalu menginginkan kau yang menciumku."

"Benarkah?"

"Bukankah kita selalu melakukannya?" Goda Jayce gemas.

Hening.

"Apa kau masih cemburu?"

Kimberly mengangguk. "Ya"

"Apa yang harus kulakukan agar kau tidak cemburu lagi?"

Kimberly membulatkan kedua matanya. "Kau mau?"

Jayce tersenyum, seraya mengecup bibir itu dan sedikit berlama- lama disana. Dia tahu kalau Kimberly sedang tidak memikirkan dirinya sepenuhnya. Itulah sebabnya sehingga ia tidak ingin memaksakan lidahnya masuk kedalam mulut Kimberly, sekalipun dia sudah tidak tahan ingin merasakan hal itu lagi. "Kau istriku. Sudah jelas kau memiliki hak sepenuhnya atas diriku. Aku begitu mencintaimu, Mrs. Caldwell. Aku tidak mungkin akan menolak sekalipun kau memintaku terjun dari tebing."

Seketika raut wajah Kimberly berubah ngeri. "Aku tidak mungkin memintamu melakukan itu."

Jayce terkekeh. "Aku tahu. Jadi?"

Kimberly terdiam. Dia ragu apakah ini tidak terdengar egois untuk Jayce nanti?

"Katakan saja, sayang?"

"Apa kau bisa tidak terlalu akrab dengan Rhea lagi?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS