LOVE MISSION - 23
"Kimberly? Siapa dia?"
"Grandmere! Apa yang grandmere lakukan disini?" Seru Jayce tampak sangat terkejut.
"Oh! Begitukah ekspresimu melihat grandmere-mu datang?"
"Bukan begitu, grandmere" Jayce berkata lemah, "tapi tidak seharusnya pemilik dari perusahaan ini datang ketempat ini"
"Dan tidak seharusnya pewaris sah dari perusahaan ini bekerja ditempat seperti ini" balas Barbara tidak kalah. Disamping Jayce, London berusaha untuk tidak tertawa apalagi sahabatnya itu diam- diam memutar matanya, jengah atas semua kalimat yang terus saja berulang.
"Apa yang dilakukan Rhea disini, grandmere?" Tanya Jayce bingung, yang langsung mendapatkan pukulan dilengannya dari Barbara.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau tidak mengatakan kalau Rhea telah kembali kemari"
Sejenak Jayce memandangi Rhea yang balas memandangnya sambil tersenyum ketika Jayce hanya mengendikkan bahunya, cuek.
"Apa masalahnya? Toh, Rhea sudah menemui grandmere." Jayce menjawab ketika sekali lagi dia merasakan pukulan dilengannya. "Astaga grandmere! Tidak bisakah grandmere mengendurkan tenaga kuda grandmere sendiri?"
"Kalau begitu berhentilah bermain- main dan lakukan tugasmu!" Hardik Barbara
"Aku melakukan tugasku, grandmere. Apa grandmere tidak lihat? Aku sedang bekerja dan grandmere mengangguku"
"Dasar! Bukan itu yang grandmere maksud!" Ujar Barbara hendak melayangkan pukulannya lagi ketika Jayce menghentikan aksi brutal Barbara atau kalau tidak, dia akan memiliki memar di sekujur tubuhnya.
"Dan ngomong- ngomong siapa Kimberly?" Baik London maupun Rhea sama- sama menatap penuh arti Jayce.
Jangan sampai orang lain tahu kalau kalian sudah menikah. Itu akan membawa dampak yang besar pada karir Kimberly.
Itu adalah kalimat yang diberikan Sophie ketika Jayce mengantar Kimberly kembali ke apartemennya.
"Hanya seseorang yang kukenal" jawab Jayce acuh.
Kedua mata Barbara memicing curiga, "kalau begitu bawa seseorang yang kau kenal itu untuk menghabiskan waktu diakhir pekan nanti"
London tersentak kaget mendengar kalimat Barbara sementara disisi lain, gantian Jayce yang memandang Barbara penuh curiga.
"Kenapa?"
"Karena ini kali pertama kau membawa seseorang yang kau kenal untuk diperkenalkan padaku"
"Apa ada yang kau rencanakan padaku?"
Pletak... kali ini Barbara melayangkan pukulannya ke kepala Jayce, membuat Jayce meringgis kesakitan.
"Apa lepas dari jabatan ketua senat memberimu banyak waktu luang. Berhentilah bertanya terus- menerus dan bawa Kimberly- seseorang yang kau kenal - itu akhir pekan nanti." Ucap Barbara.
Dengan terpaksa Jayce menghembuskan napas berat ketika tidak lama kemudian, Barbara memutuskan untuk pergi sementara Rhea tinggal.
"Kau mau mengajak Kimberly?" Tanya Rhea dengan nada tidak suka.
"Kau sudah mendengar apa yang tadi dikatakan grandmere. Aku akan membawanya"
Rhea tidak ingin berdebat dengan Jayce lagi jadi dia memutuskan untuk diam seraya berpikir apa yang harus dilakukannya kelak.
***
"Kau... mengajakku ke rumah nenekmu akhir pekan ini?" Tanya Kimberly tidak percaya.
Saat ini mereka berdua sedang menikmati matahari terbenam di pantai. Masih banyak orang yang berlalu lalang disekitar mereka hingga Jayce memutuskan agar bisa menikmatinya di dalam mobil saja. Toh, kaca mobilnya sudah di desain agar orang- orang tidak bisa melihat aktivitas di dalam sementara orang yang berada didalam bisa dengan mudah melihat aktivitas dari luar.
"Ya. Apa kau memiliki jadwal hari itu?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ya. Di siang hari. Apa acaranya malam?"
"Ya. Hanya acara biasa. Hanya aku dan orang- orang terdekat saja"
Kimberly terdiam selama beberapa saat hingga kemudian dia tersenyum.
"Jadi aku salah satu dari orang dekat itu?" Tanya Kimberly tanpa melepas senyum di bibirnya.
Serta merta Jayce mengulurkan tangannya untuk memegang sebelah pipi Kimberly dan memajukan wajahnya untuk mencium bibir gadis itu.
Oh! Betapa dia sangat merindukan gadis didepannya ini.
"Tentu saja. Bukankah kau sudah menjadi istriku" kata Jayce setelah melepaskan bibirnya dari bibir Kimberly
"Tapi aku tidak melihat seorang nenek ketika aku datang ke rumahmu." Kimberly mengernyitkan dahinya bingung. Dia sangat yakin kalau tidak melihat seorang nenek berkeliaran di rumah Jayce tempo hari. Hanya ada London dan jelas London bukan seorang nenek, bukan?
"Kami tidak tinggal serumah. Grandmere- aku memanggilnya dengan sebutan itu. Dia tinggal ditempat yang sedikit jauh dari hiruk pikuk"
"Pedesaan?"
"Tidak juga. Hanya tempat dimana bangunan jarang ada. Intinya grandmere menyukai suasana yang alami"
Oh. "Alami memang bagus." Tambah Kimberly pelan hingga lantas membuat Jayce tergelak.
"Sepertinya kau tidak terlalu memikirkan hal itu." Tentu saja Jayce merujuk pada sikap yang ditunjukkan Kimberly. Jika gadis- gadis lain, mereka akan mulai menanyakan apa yang harus dilakukan setibanya disana. Pakaian apa yang harus dipakai atau makanan apa yang disukai oleh grandmere -nya tapi Kimberly sama sekali tidak mengatakan hal itu dari tadi.
"Apa kau tidak gugup?" Jayce berusaha memancing Kimberly. Siapa tahu gadis itu hanya berusaha menyembunyikannya.
"Gugup?"
"Ya"
"Kenapa?"
"Karena ingin bertemu grandmereku, mungkin" Jayce tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Kimberly barusan.
Kimberly terdiam, berpikir hingga tiba- tiba kedua matanya membelalak.
"Grandmere-mu bukan manusia?!" Pekik Kimberly horor.
Butuh 30 detik penuh bagi Jayce untuk mencerna semuanya ketika di langsung tertawa terbahak- bahak.
"Astaga..." seru Jayce memegang perutnya. "Tentu... " Jayce berusaha meredakan tawanya tapi tidak bisa dan terus tertawa. "Tentu saja grandmere-ku manusia" ucap Jayce kemudian.
"Aku tahu. Aku hanya ingin melihatmu tertawa" ucapan Kimberly yang tiba- tiba seketika membuat Jayce terdiam. "Akhir- akhir ini, kau selalu terlihat tegang. Apa Sophie memberimu kesulitan?"
Jayce tertegun. Tidak menyangka kalau Kimberly akan memperhatikan dirinya sedetail ini.
"Aku suka melihatmu yang tertawa, Jayce"
***
Comments
Post a Comment