IY - SEBELAS

"Apa yang kau lakukan? Minggir!" Cassie berusaha memberontak dari bawah tubuh Jerry tapi semakin ia memberontak, pria itu semakin menekan kedua tangannya yang diletakkan diatas kepalanya.

"Kau tahu?" Jerry mengatakannya dengan suara lambat yang dibuat- buat. "Semua yang kau lakukan ini percuma."

"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Sekuat tenaga Cassie mencoba untuk tidak memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan semakin cepat ketika Jerry telah berada diatasnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

"Jawaban." Jawab Jerry sembari menatap lekat wajah Cassie yang terlihat polos tanpa sapuan make up.

Cantik.

Cassie mendengus, meskipun agak risih dengan tatapan Jerry padanya saat ini.

"Kalau yang kau maksud adalah tato di sekitar pinggulku maka tidak ada yang perlu kujawab," jawabnya. "Karena aku melakukannya karena ingin dan ini semua tidak ada hubungannya denganmu jadi sekarang, minggir!"

Cium... tidak... cium... tidak. Arghhh sial!

"Memang aku tidak ada hubungannya dengan apa yang kau lakukan dan bukan berarti aku tidak menyetujuinya, hanya saja terakhir kali aku melihat seluruh tubuhmu, aku tidak menemukan satupun tato disana."

"Sidhasana," suara Chandra kembali membawa Cassie ke dunia nyata.

Dia tidak habis pikir kenapa tunangannya itu mengungkit kejadian malam itu lagi. Apa dia memperhatikan semuanya? Tapi mereka berdua mabuk oh ralat, Cassie tidak sepenuhnya mabuk saat itu. Dia masih bisa mengingat dengan jelas ketika Jerry menyentuhnya tapi....

Kau terlihat sangat seksi dengan tato itu.

Oh! Cassie bisa merasakan kedua pipinya yang mendadak panas karena pembicaraan mereka di kamarnya tadi pagi.

Tapi bukan berarti aku menginginkan tato baru di tubuhmu lagi.

Kembali Cassie mendengus. Hah! Siapa dia bisa mengaturku?!

Dia tunanganmu, bodoh!

Dan juga orang yang kau sukai.

Tanpa sadar Cassie mengerang jengkel hingga membuat semua orang yang berada di tempat yoga menoleh padanya termasuk Claire, tapi berbeda dengan orang- orang yang menatapnya heran, Claire justru memberinya senyum penuh arti.

"Oh, tentu saja! Claire lah orang yang mendapatinya dalam posisi paling awkward tadi." Ketus Cassie dalam hatinya.

"Bersihkan pikiran kalian, konsentrasi." Chandra mulai memperingatkan sambil melihat ke sekelilingnya dan berhenti pada Cassie di depannya.

Cassie berusaha untuk berkonsentrasi pada ucapan Chandra dan bukit- bukit yang terhampar di depannnya. Dalam hati ia mengakui kalau ia menyukai tempat yoga ini. Semuanya terasa dan terlihat alami, meskipun hanya buatan.

"Konsentrasi," sekali lagi Chandra mengingatkan.

Oh iya, betul. Konsentrasi dan bernapas.

Mudah sekali. Tarik napas... keluarkan. Tarik napas... keluarkan. Tarik-

Kau tahu Cassandra? Kurasa aku tidak akan pernah memutuskan pertunangan ini.

"Cassandra." Suara Chandra mengangetkannya. Pria itu telah berdiri dihadapannya, menatapnya dengan pandangan yang khas. Lembut dan penuh kebijaksanaan seakan bisa membaca isi otaknya. "Tetaplah atur pernapasanmu seperti tadi," ujarnya. "Tak lama lagi kau akan bisa berjalan diatas bara api panas." Sambil tersenyum Chandra melambai kearah lubang yang terletak tidak jauh dari dirinya, membuat tawa gugup terdengar dari orang- orang di sekitarnya.

Hari ini Chandra dan beberapa murid yoga terbaik akan mendemonstrasikan berjalan diatas bara api. Rupanya kalau orang sudah mencapai puncak kebahagian, dia tidak akan merasakan bara api di kakinya. Sama sekali tidak bisa merasakan sakit!

Benarkah?!

"Bersihkan pikiran kalian," atas instruksi Chandra, Cassie beserta yang lainnya mulai beralih pada posisi Halasana."

Mata Cassie berkeliling melihat sekitarnya ketika mendadak ia merasakan ada yang tidak beres saat matanya melihat hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yoga dan sekitarnya.

Sosok itu menghilang di balik kaca yang hanya bisa dilihat dari dalam dan tanpa sadar ia sudah berlari dengan kaki telanjang secepat yang ia bisa, mencari sosok tadi. Paru- parunya panas. Kakinya pedih tapi ia tidak ingin berhenti, membuatnya terengah- engah tapi sosok itu sudah tidak ada dan justru digantikan oleh tatapan aneh dari orang- orang.

Tak bisa dipercaya. Apa itu dia? Tapi bagaimana mungkin?

Dia tertegun selama beberapa saat sambil mengatur kembali napasnya, memeriksa segala penjuru hingga sudut tapi sosok itu sudah tidak ada.

Akhirnya dengan kecewa, Cassie kembali ke tempat ia tadi berada dan mengernyit bingung ketika semua orang justru berteriak- teriak dan melambai padanya. Eh, ada apa?

"Kau melakukannya!" Seru seorang wanita berambut seperti perpaduan ungu dan merah muda padanya.

"Melakukan apa?"

"Kau tadi berlari di atas bara api! Kau melakukannya, Case!"

Hah? Apa?

Cassie menunduk dan tertegun... tak bisa mempercayainya. Kakinya kotor tertutup jelaga abu- abu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, mengamati bara api itu dan disana tampak jejak kaki menyeberanginya.

Ya tuhan. Ya tuhan! Cassie berteriak senang, tidak menyangka. Ia berhasil!

"Tapi... tapi aku sama sekali tidak menyadarinya!" Ujarnya kembali bingung. "Aku bahkan tidak merasakan kakiku yang terbakar."

"Bagaimana kau melakukannya?" Tuntut wanita berambut perpaduan ungu dan merah muda itu. "Apa yang kau pikirkan?"

"Saya bisa menjawab," Chandra maju sambil tersenyum. "Cassandra telah mencapai puncak tertinggi kepuasan karma ini. Dia tadi memusatkan pikirannya pada satu tujuan, satu bayangan murni dan itu membantunya mencapai keadaan supernatural.

Semua orang terbelalak dan menatap Cassie seperti ia baru saja menumbuhkan belalai dari lubang hidungnya.

"Sebetulnya bukan hal yang besar," Cassie berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi dan berusaha bersikap merendah. "Kau tahu, semacam pencerahan rohani."

"Bisakah kau melukiskannya?" Si wanita berambut ungu dan merah muda bertanya penuh semangat.

"Apakah warnanya putih?" Tanya orang lain.

"Bukan putih juga..." kata Cassie.

"Apakah kuning dan abu- abu?" Celutuk Claire dari arah belakang, membuatnya curiga tapi Claire justru memberinya tatapan polos.

"Aku tidak ingat," Cassie menjawab kesal. "Warna tidak penting."

"Apakah rasanya seperti..." Claire seolah berpikir keras. "Seperti ada rantai yang menarikmu?"

"Itu perumpamaan yang bagus, Claire." Ujar Chandra senang.

"Kurasa..." aku menyahut menimpali. "Kurasa kalian harus lebih menghargai hal- hal rohani agar bisa mengerti."

"Oh begitu." Claire mengangguk serius.

"Claire, kau pasti bangga," Chandra tersenyum pada Claire. "Bukankah ini hal paling menakjubkan yang terjadi pada sepupumu?"

Tidak ada yang bersuara. Sejenak Claire melayangkan pandangannya pada Cassie kemudian kearah bara api lalu pada orang- orang di sekelilingnya kembali kearah Chandra yang masih tersenyum.

"Chandra," ujarnya pelan- pelan. "Percayalah padaku. Cassie memiliki banyak hal. Ini bukanlah apa- apa."

Cassie beralih menatap wajah Claire yang balas menatapnya. Apakah Claire juga melihat apa yang tadi dilihatnya? Orang yang sudah lama tidak ditemuinya?

Dan orang itu adalah....

Mantan pacarnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS