BTY - DELAPAN
Udara menjadi semakin dingin layaknya berada didalam mesin pendingin- terasa beku. Pakaiannya basah dan tipis disertai beberapa robekan disebelah sisi.
Sekujur tubuhnya sakit, bahkan saat bernapas.
Air matanya mulai mengembang memburamkan matanya. Ia mengerjap lebih sering agar bisa mengusir air mata saat mulai menyusuri jalanan yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu dimana.
Pinggangnya terasa nyeri, menusuk- nusuk tubuhnya terlebih lagi yang berada di depan tanpa henti. Retak tulang di kaki kanannya ketika terhempas tadi menjalarkan rasa ngilu yang sangat teramat.
Namun, membiasakan dengan rasa sakit itu, merasakan dan mengabaikannya. Hanya butuh kemauan dan tekad. Dan dia sudah menyakinkan dirinya jika ia telah memilikinya kedua hal itu. Begitu kuat, begitu berlimpah lagipula untuk itulah ia melakukannya.
Dia bisa melakukannya. Harus bisa.
Lanjutkan! Terus langkahkan kakimu. Tempuh jarak itu selangkah demi selangkah! Dia mengucapkannya dengan penuh semangat sementara penglihatannya mulai berkunang- kunang.
Berapa jauh lagi dia harus melangkah?
Oh Tuhan, semoga tidak jauh lagi. Jantungnya mulai berdetak semakin kencang, memompa darahnya menahan rasa dingin.
Tersulut tekad dan perasaan takut gagal serta kematian, ia lantas mencoba untuk lari.
Lalu, ia mendengar desiran dibalik kegelapan, membuatnya tersentak. Hal selanjutnya yang ia rasakan adalah tubuhnya mulai terguling- guling menuruni bebatuan yang kasar. Semuanya membuat rongga pernapasannya terasa sesak. Ia tidak bisa menghindar dan ketika rasa sakit yang luar biasa mulai meledak di tempurung kepalanya, kegelapan mulai mengambil alih.
.
.
.
Dengan tubuh lemah, Anna bangkit dari tempat tidurnya- setengah berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan seluruh isi perutnya ke dalam toilet tepat ketika ia menundukkan wajahnya.
Peluh membasahi wajah dan belakangnya tapi meskipun begitu ia merasa sangat kedinginan. Ini sudah hari kedua dan demamnya tak juga kunjung turun bahkan semakin hari tubuhnya terlihat semakin lemah. Ia bahkan merasa jika kepalanya sudah siap meledak kapanpun juga.
"Anna... oh astaga!" Betrice muncul dari luar dan terkejut ketika melihat tubuh Anna yang berada lemah berada diatas lantai kamar mandi. Anna terdengar kesulitan menarik napas dan hal itu semakin membuat Betrice semakin khawatir.
"Maafkan aku, Betrice." Ujar Anna lemah setelah Betrice membantunya tidur diatas tempat tidurnya lagi.
"Jangan konyol, Anna. Ini bukan salahmu."
Anna hanya bisa tersenyum lemah mendengar amarah yang terkandung dalam suara Betrice. Setelah kejadian di pub tempo hari, entah bagaimana ia mulai terserang demam. Dia tidak mungkin menceritakan kejadian yang menimpanya itu pada Betrice ataupun Patricia. Hal itu akan membuat mereka semakin khawatir dan Anna tidak mau mereka merasa cemas.
"Kita harus ke rumah sakit, Ann. Kau lemah, bahkan kau kesulitan untuk makan selama dua hari ini."
Anna kembali menggeleng seperti yang sudah dua hari ini dia lakukan. Rumah sakit hanya akan mengatakan kalau ia hanya kelelahan, menyuruhnya menginap selama beberapa hari disana sementara masih banyak kebutuhan mereka yang lebih penting dari itu.
"Apa Patricia sudah berangkat ke sekolah?"
Betrice mengangguk. "Ya," dia menjawab seraya mengompres kepala Anna dengan air hangat. "Tadinya dia menolak untuk pergi tapi kukatakan padanya kalau kau akan marah jika menyia- nyiakan sekolahnya."
Anna menghembuskan napas lalu tersenyum pelan. "Terima kasih, Betrice. Setidaknya kami merasa beruntung karena memilikimu diantara kami."
Tidak ada jawaban. Sebenarnya Betrice tahu kenapa Anna bersikeras untuk tidak dibawa ke rumah sakit.
Rumah sakit memberinya trauma. Betrice mengenal kedua orang tua Anna dan Patricia. Pasangan yang sangat baik hati dan saling mencintai satu sama lain. Kecelakaan itu merenggut semuanya. Meskipun Anna sudah berusaha membanting tulang ketika orang tuanya di rawat tapi hal itu sama sekali tidak membawa perubahan untuk mereka, justru semakin bertambah parah. Biaya rumah sakit yang setiap hari semakin bertambah dan keadaan orang tuanya yang semakin buruk membuatnya putus asa. Belakangan ia tahu kalau rumah sakit tidak menfasilitasi semua yang dibutuhkan oleh orang tuanya karena terlalu seringnya Anna menunggak pembayaran. Hal itu membuatnya marah pada pihak rumah sakit, menuduh mereka menelantarkan pasien tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Semua barang berharga mereka telah Anna jual demi pengobatan kedua orang tuanya. Puncaknya adalah ketika dia mencoba bernegosiasi ulang dengan orang yang bisa meminjamkan uang. Utangnya sudah terlalu banyak hingga Anna selalu dikejar oleh penagih utang.
Di suatu sore- di tengah hujan yang lebat. Anna akhirnya berhasil menyakinkan orang yang bisa meminjamkan uang kepadanya tapi sebagai timbal baliknya Anna harus membayar dengan tubuhnya dan juga harus bekerja pada orang itu kelak.
Tidak ada pilihan lain. Jadi ia berjanji untuk melakukan pembayaran di rumah sakit dulu dan melihat keadaan orang tuanya lalu setelah tiga hari, dia akan kembali menemui orang itu.
Tapi, bahkan ketika ia baru saja akan melangkah memasuki ruangan dimana orang tuanya di tempatkan. Takdir mulai merenggut pengharapan yang dimilikinya. Patricia menangis sambil memanggil nama kedua orang tuanya,tuanyaDilihatnya disamping Patricia- Betrice mencoba menenangkan Patricia tapi matanya juga mengeluarkan air mata dan saat itulah Anna menyadari kalau semua usahanya sia- sia. Dia terlambat dan semua ini salahnya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Kedua orang tuanya menghembuskan napas secara bersamaan seakan menyiratkan bahwa mereka sangat kecewa dengan apa yang sebelumnya diputuskan oleh Anna dan memutuskan untuk meninggalkan dirinya sebagai hukuman.
Betrice yang mengurus semua pemakaman kedua orang tua Anna dan Patricia. Patricia masih menangis karena kepergian orang tuanya, lagipula Anna bisa mengerti perasaan itu. Dia pun masih merasakannya tapi Patricia masih kecil, dia masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, berbeda dengannya yang sudah dewasa dan bisa memutuskan segala hal seorang diri.
Kemudian dia teringat dengan perjanjian yang harus dilakukannya, melihat Patricia yang menolak untuk berpisah dengannya dan tangisannya membuat Anna membuat keputusan yang lain. Dia harus pergi, kabur dari orang itu dengan membawa Patricia bersamanya. Lagipula masih ada uang sisa dari pembayaran untuk rumah sakit di tangannya. Setelah berkali- kali berpindah tempat akhirnya London menjadi tempat persinggahan terakhirnya dan Anna merasa tidak ada yang mengejarnya selama berada di London. Setidaknya tidak untuk saat ini.
.
.
.
Tenggorokan Anna rasanya perih dan tercekat. Erangan halus tanpa sadar keluar dari bibirnya tatkala matanya harus menyesuaikan dengan lampu dan atap diatasnya beserta dinding berwarna putih di sekelilingnya.
Dia mengerjap dan langsung tersentak bangun, hingga rasa pusing di kepalanya seketika menghentaknya jauh dari yang barusan ia lakukan.
Tidak perlu bertanya dimana dirinya berada saat ini, yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa berada disini. Di ruangan yang jauh lebih besar dari yang dulu kedua orang tuanya tempati.
Pandangannya kemudian beralih. Tidak ada seorangpun yang berada di ruangan tempatnya saat ini selain dirinya sendiri. Televisi besar yang menempel di dinding dan soda beludru yang Anna bisa bayangkan akan terasa halus jika ia menyentuhnya dan tentu saja sangat mahal. Matanya kemudian tertumpuk pada pintu kecil yang Anna bisa pastikan kalau itu adalah toilet. Secara keseluruhan tempat ini sangat luas dan terlihat mewah. Tidak perlu menjadi jenius dan memastikan dirinya jika saat ini ia berada di sebuah kamar dengan fasilitas yang Anna yakini sebagai kamar VVIP dengan pemandangan sore yang sangat indah. Betrice tidak mungkin sanggup membayar biaya disini dan sudah jelas dia pun tidak mungkin sanggup jadi siapa yang melakukannya?
Tapi yang jadi pertanyaan awalnya adalah bagaimana dia bisa berada di tempat ini?
Mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Anna menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu menarik selang infus yang berada di tangan kirinya secepat yang ia perlukan dan meringgis ketika merasakan jarum itu keluar dari nadinya.
Sementara mencoba bernapas melalui hidung, Anna mencoba mengenyahkan rasa pusing itu lagi dan berdiri dengan kedua kakinya. Lantai itu terasa dingin dibawah kakinya. Setelah menarik sandal yang berada di bawah tempat tidur dan mengenakannya, Anna mulai melangkahkan kakinya dengan tertatih- tatih sambil memegangi dinding- dinding kamar rumah sakit itu. Dia harus menemui Betrice atau Patricia atau siapapun yang bisa ditanyainya. Bagaimana bisa mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit setelah sebelumnya dengan tegas dia menolak semua yang dikatakan oleh mereka?
Ia baru akan menyentuh gagang pintu yang menghubungkan kamarnya dengan pintu diluar ketika secara bersamaan pintu itu juga terbuka.
"Jerry?"
Jerry terdiam tampak sangat terkejut saat melihat wajah itu lagi ketika matanya menangkap sesuatu yang mengalir dari sebelah tangannya.
"Sial!" Dia mengumpat marah. Hal selanjutnya yang terjadi dia mengangkat wanitanya, membuat Anna terkesiap kaget hingga mau tidak mau terpaksa ia mengalungkan lengannya di sekeliling leher Jerry.
"Apa yang....?"
"Diamlah, Ann." Potong Jerry terlihat sangat marah dan Anna terpaksa harus mengatup bibirnya rapat karena itu.
***

Dimana aku bisa baca fated to love you... Yang di watty udah keburu di dlt huhu
ReplyDeleteKamu belum nemuin fated to love you disini? Kayaknya aku sudah posting semua deh kecuali Mask dan Rental Girlfriend. Fated to love you muncul sebelum cerita Fight klo ngak salah.
Delete