SHADOW - DUA DELAPAN

Tidak ada yang berbicara diantara mereka bahkan Emma yang melihat dirinya ditunjuk pun seketika ingin pingsan saat itu juga.

"E-E-Ethan." Emma mulai terisak memanggil kakaknya.

Ethan yang rupanya melihat cela segera mengambil alih pistol dari tangan Alex. Sempat ada perlawanan dari pria itu tapi dengan berhasil dipatahkan oleh Ethan dan sekarang berbalik menyodorkan pistolnya kearah Alex.

"Apa kau tidak sadar? Kau sudah kalah jumlah." Ejeknya tertawa sembari menyela darah dari bibirnya hasil perkelahiannya dengan Ethan barusan.

"Benarkah? Kalau begitu, mari kita buat menjadi seimbang." Ucapnya menembak sebelah lengan Alex. Ian dan Nick juga serta merta merebut pistol dari tangan Scorps dan Spider sementara Wolf dan Ty masih menahan Ana serta Emma dan menekankan pistolnya di pelipis para wanita itu.

"Apa kau pikir dengan kau melakukan perlawanan seperti ini akan membuatmu selamat, heh?"

"Setidaknya kami melakukan sesuatu dan tidak hanya bergantung padamu."

Alex tertawa.

"Bodoh. Kenapa kau tidak langsung membunuhku."

Ethan balas tertawa. "Karena sepertinya kau yang lebih banyak tahu disini." Jawabnya membuat kening Alex terangkat satu. "Apa yang kalian inginkan dari adikku? Kenapa kalian hanya menargetkan dirinya?"

"Apa aku sudah bilang kalau percuma kau melakukan ini semua?"

Dor!

Alex meringgis kesakitan ketika merasakan timah panas itu menembus kulitnya.

"Jawab pertanyaanku. Kenapa kalian menargetkan adikku dalam misi kalian?" Ethan menekan luka bekas tembakan Alex dengan sebelah tangannya.

"Apa kau pikir aku akan semudah itu mengatakannya?" Alex tertawa mencibir. Dia bisa melihat dari sorot mata Ethan kalau pria itu tidak berniat untuk membunuhnya. Tidak untuk saat ini.

"Kau ingin aku membuktikannya?"

"Buktikanlah kalau kau mampu, Blackstone. Aku masih berada disini."

"Oh, baiklah kalau itu yang kau inginkan." Ethan mundur dari tempatnya dan akan menarik pelatuknya ketika mendadak Ara berdiri diantara dirinya dan Alex.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ethan dingin. Dia masih sulit mempercayai bahwa wanita yang selama ini dicintainya dan masih dicintainya hingga saat ini bisa dengan gampangnya membicarakan kematian adiknya didepan mata kepalanya sendiri.

"Kau tidak boleh membunuhnya." Jawab Ara seraya membentangkan tangannya untuk melindungi Alex.

Ethan yang melihat hal itu semakin merasakan perasaan sakit hati yang teramat sangat didalam hatinya.

"E-Ethan." Emma semakin tidak kuat dengan tekanan yang saat ini dirasakannya. Jari- jari kakinya mulai terasa kesemutan karena tidak bergerak sama sekali. Dalam pandangannya, Ty seakan sudah tidak sabar ingin meledakkan kepalanya saat ini juga. "E-Ethan..."

"Pikirkan tentang nasib adikmu, Ethan Blackstone." Ejek Alex tersenyum.

"Sialan!" Ethan merutuk tapi tidak mengendurkan pertahanannya.

"Menyerahlah dan kami akan membawa kalian ke alam yang damai."

"Apa kau pikir aku akan menyerah semudah itu?"

Alex semakin tertawa. "Ty, lakukan!" Perintahnya langsung.

Ty mengangguk dan bersiap- siap akan menekan pelatuknya ke kepala Emma ketika Ian dengan cepat mengarahkan pistolnya kearah Ty dan menembaknya. Emma berteriak kencang mengira peluru itu mengenainya dan semakin berteriak ketika justru mendapati pria yang hampir menembaknya tadi telah terkapar diatas tanah dan tewas.

"Kau membuat segalanya menjadi rumit, Blackstones." Alex mendecakkan lidahnya dengan dramatis sementara matanya melirik Ty yang sudah tak bernyawa lagi. "Tidak akan ada yang berubah. Organisasi pasti akan menyuruh pembunuh lain untuk membunuhnya." Ucap Alex dingin. Semakin membuat darah Ethan yang tadinya sudah mendidih semakin mendidih.

"Kalau begitu tidak ada jalan lain selain menghabismu."

"Ethan, jangan." Pinta Ara.

"Minggir! Atau aku juga akan membunuhmu."

Ara tersentak di tempatnya. Dia tidak pernah mengira kalau Ethan- pria yang dicintainya akan mengatakan hal itu padanya. Dan tatapan itu, tatapan yang diberikan oleh Ethan saat ini bukanlah tatapan seperti yang biasa ia berikan padanya melainkan tatapan penuh kebencian dan juga jijik yang diberikan kepadanya.

"Baiklah," ujar Ara setelah menutup matanya sejenak. "Tembak kami kalau begitu, Ethan."

"Apa? Apa dia begitu penting hingga kau juga ingin mati bersamanya?"

"Ya." Dia menjawab berusaha menyembunyikan perasaannya. Kenapa sekarang ini terasa sakit untuknya? Harusnya ia sudah bisa melalui segala macam rasa sakit, tapi sekarang? Kenapa malah terasa semakin menyakitkan? Batin Ara berteriak.

"Baik. Itu akan memudahkan segalanya." Ethan membalas. Merasa sangat kecewa dengan ucapan yang dilontarkan Ara padanya. Apa yang sudah dilakukan pria itu, yang tidak bisa dilakukannya? Apa yang membuatnya menjadi istimewa? Otak Ethan berpikir keras ketika ia mulai berhasil pada satu kesimpulan. Kesimpulan yang menyatakan bahwa selama ini Ara hanya memanfaatkannya.

Perasaan marah, kecewa dan sakit hati mulai berkumpul menjadi satu di hati Ethan hingga seperti bola besar. Alex bahkan sudah membunuh Key, rekan satu timnya hanya karena Alex merasa pria itu sangat berisik tapi Ethan bisa mengambil kesimpulan, bukan itu yang menjadi alasan utamanya melainkan karena Key sudah menyela dirinya yang saat itu berbicara dengan Ara.

Disisi lain, Ara mulai merasa pasrah dengan apa yang sedang terjadi. Dia tidak peduli dengan Alex yang berusaha menghalanginya. Dia tidak ingin menghindar dan mungkin akan lebih baik jika dia juga mati. Bukankah sejak dulu ia sudah menginginkan kematiannya? Jadi untuk apa ia menghindar sekarang? Inilah yang diinginkannya dan mungkin dengan melakukan hal ini, dia juga bisa kembali bertemu dengan ayahnya.

Ayahnya.

Tanpa diduga, Ara langsung membuka matanya. Ayahnya tidak pernah berenang atau berada disekitar kolam renang pada jam malam. Roy Hunt lebih sering menghabiskan waktunya berada di ruang kerjanya sambil membaca buku dan merupakan hal yang mustahil jika kemudian kebiasaan ayahnya berubah dalam satu malam.

Mungkinkah?

Ia berbalik agar bisa berhadapan dengan Alex ketika menyadari, malam sebelum ia pergi meninggalkan apartemen Alex. Ia sempat mendengar suara pria itu yang menerima telepon.

Apakah itu adalah sebuah misi yang diberikan pada Alex?

Tanpa mengatakan apa- apa, mendadak Ara merebut pistol dari tangan Ethan. Ethan bahkan terlambat dua detik sebelum menyadari kalau pistol yang tadinya berada didalam genggamannya telah berpindah tempat karena begitu cepatnya gerakan tangan Ara.

"Kau!"

Hal selanjutnya yang terjadi adalah moncong dari pistol itu telah menempel tepat di kening Alex.

"Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Ara sedingin es, bahkan atmosfer disekitarnya pun seakan ikut membeku.

Sementara Alex, dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ara tapi ia bisa merasakan kemarahan yang dikeluarkan oleh gadis yang berdiri dihadapannya ini.

"Apa yang sudah kau lakukan, A?"

"Wah wah wah. Ini pertama kalinya aku melihat S mengarahkan senjatanya ke pasangan seumur hidupnya." Mendadak semua orang berpaling pada si pendatang baru termasuk Ara dan juga Alex. "Bagaimana kabarmu, S?" Tanya orang itu. Orang yang memaksanya kembali bergabung. Satu- satunya orang yang tahu dengan siapa ia berhubungan selama ini.

"Ketua." Ara mengucapkannya jauh lebih dingin dari yang tadi.

Sekarang ia mengerti.

Ini adalah perangkap yang diciptakan oleh Organisasi untuk melenyapkan baik dirinya dan juga... Alex.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS