IY - DUA

Oke. Cassie bisa melakukannya. Tak ada masalah.

Ini hanya masalah membiarkan jiwa murninya mengambil kendali, mencapai pencerahan, dan menjadi sosok putih bersinar cemerlang. Mudah sekali.

Cassie yang tadinya hanya dipaksa oleh Claire, adik dari sepupunya Brandon dan istrinya, Elena mengikuti pelatihan yoga justru malah berbalik menjadi dia yang melakukannya dengan penuh konsentrasi. Kejadian tadi pagi dengan ibunya, Monica Swan dan kemarin dengan sang tunangan benar- benar menjadi awal yang buruk untuk paginya yang cerah.

"Siddhasana," ujar guru yoganya, Chandra. Dia adalah si pria tinggi, kurus, dan mengenakan celana yoga lebar berwarna putih. Dia berbicara dengan nada lembut dan sabar. "Bersihkan pikiran kalian dari segala pengaruh luar."

Cassie melakukan semua yang dikatakan Chandra dengan patuh.

Oke. Bersihkan pikiran. Konsentrasi.

"Konsentrasi pada pernapasan," ujar Chandra.

Sekali lagi Cassie mengikuti apa yang dikatakan oleh Chandra.

Betul, ya. Bernapas.

Tarik napas... keluarkan. Tarik napas... keluarkan... tarik-

Semua yang dilakukan oleh Cassie terhenti karena mendengar suara cekikikan disampingnya. Dia membuka matanya dan langsung mendapati dua pasang mata yang sedang melihat kearahnya dengan senyum jenaka.

Cassie berusaha untuk tidak mengubrisnya lalu kembali melakukan pernapasan.

"Bagus sekali, Cassandra," ujar Chandra. "Kau memiliki jiwa yang indah."

Mendadak tubuh Cassie diselimuti percik- percik kegembiraan. Dia memiliki jiwa yang indah! Sudah dia duga!

"Jiwamu tidak duniawi," tambahnya lagi dan Cassie benar- benar tersihir akan kata- kata lembut itu.

"Kau sudah menemukan jalan hidupmu."

Terdengar suara dengus aneh disampingnya lagi, menoleh dan mendapati Claire dan Elena sedang melirik dirinya dan Chandra dengan geli.

"Ini pembicaraan pribadi antara aku dan guruku, tahu." ujar Cassie kesal yang semakin membuat Claire terkikik.

Akhirnya setelah satu jam melakukan pelatihan yoga akhirnya baik Cassie, Claire maupun Elena sama- sama keluar dari ruangan itu.

"Sepertinya kau lebih membutuhkan yoga dibandingkan Claire maupun aku." Komentar Elena yang semakin membuat Claire terkekeh.

"Kau benar. Sepertinya aku lebih membutuhkan yoga kali ini," Cassie menganggukkan kepalanya pelan. "Ini membuat jiwaku menjadi murni." Tambahnya yang langsung membuat baik Elena maupun Claire semakin tertawa.

Setelah puas tertawa yang sama sekali tidak digubris oleh Cassie, keduanya berbalik untuk menatap gadis itu.

"Ada kejadian menarik apa pagi ini?" Tanya Elena setelah diam beberapa saat, menetralisir perutnya akibat banyak tertawa.

"Bisakah kita turun ke bawah dulu? Ke kafe? Rasanya cacing- cacing di perutku menabuh genderang perang minta di isi didalam sana." Tanya Cassie yang serta merta diangguki oleh kedua wanita itu.

Elena dan Claire memilih untuk menikmati seporsi sandwitch tuna dengan tambahan mayonaise diatasnya sementara Cassie dengan tambahan daging asap dan seporsi salad buah didepannya.

"Kau seperti tidak pernah makan selama berhari- hari." Komentar Claire ketika melihat banyaknya yang dipesan sepupunya itu untuk hidangan brunch.

"Jiwaku membutuhkan hidangan yang jauh lebih banyak daripada sekedar karbohidrat, protein dan vitamin." Jawab Cassie yang membuat Elena dan Claire saling bertukar pandang.

"Apa ada yang terjadi selama di pesta kemarin?" Tanya Elena. Kemarin dia memang tidak sempat memenuhi undangan yang diadakan di hall terbesar di kota New York ini. Mendadak Shane, anak paling bungsu setelah si kembar Leo dan Leah, menjadi rewel. Sementara Claire beralasan kalau percuma saja dia datang kesana jika tidak memiliki pasangan. Semenjak kejadian Luke tempo dulu, yang hampir melenyapkan nyawa Elena. Claire jauh lebih selektif dalam mencari pasangan.

"Kau tidak akan percaya," ujar Cassie seraya menusuk daging asapnya dengan sadis lalu memasukkannya kedalam mulutnya. Sekarang jiwa murninya telah raib seiring dengan tercabik- cabiknya daging asap. "Jerry membuatku kesal dan langsung kuacungkan tinjuku kearahnya, yang tanpa kuduga ibuku justru melihatnya dan sebagai hasilnya aku justru diberi petuah yang sangat panjang dan diminta untuk minta maaf pada pria itu." Jelas Cassie panjang lebar.

Tidak ada yang bersuara diantara mereka hingga kembali terdengar suara Claire berucap.

"Aku beruntung setidaknya hanya Brandon yang dijodohkan kala itu, aku tidak perlu repot- repot harus menahan gejolak dan hasrat jika tidak menyukai calon suamiku."

Disampingnya Elena melihat dengan pandangan tidak setuju. "Tidak juga. Aku buktinya. Aku dan Brandon bahkan bisa saling mencintai padahal kami dijodohkan," lalu kalimatnya berhenti dan mengernyit. "well, yang awalnya adalah Julia." Tambahnya getir.

Bukan rahasia umum jika yang awalnya dijodohkan dengan Brandon adalah Julia yang kakak angkat dari Elena. Dan karena Julia waktu itu lebih memilih untuk pergi dan memberikan tanggung jawab untuk menggantikan dirinya untuk sementara maka Elena yang terpaksa harus dikorbankan. Tapi siapa sangka, seiring berjalannya waktu. Baik Brandon maupun Elena saling mencintai dan hampir saja Elena meninggal ketika melahirkan si kembar yang kemudian dinamakan Leo dan Leah.

"Itu karena kau memiliki jiwa yang murni, Elena." Kata Claire menirukan nada suara lembut Chandra tadi, membuat suasana kembali mencair.

"Jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Elena kemudian.

Cassie mengendikkan bahunya, tidak peduli. "Tidak ada. Mungkin aku hanya melakukan ritual yang seperti biasa." Jawabnya.

"Ritual yang seperti biasa?" Kali ini Claire yang bertanya.

"Ya. Tarik napas... hembuskan... tarik napas lagi... hembuskan..." jawabnya seraya menirukan gerakan yoganya tadi.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah bibi menyuruhmu meminta maaf padanya?"

Serta merta Cassie memberi Claire wajah horor. "Apa aku sudah gila? Dan melihat kepalanya semakin membesar karena permintaan maafku? No way! Sekalian saja memintaku menyanyikan lagunya Dr. Slump dan Arale Chan. Orang itu... orang itu... punya kepala besar." Ujarnya sembari menyanyikan lagu anime anak- anak dulu.

"Aku juga sama sekali tidak sudi menerima permintaan maaf darimu."

Cassie terdiam, mematung menyadari suara lain yang sudah jelas bukan berasal dari Elena maupun Claire dan berbalik ketika mendapati Jerry memicingkan matanya kearahnya sementara Brandon disamping Jerry sedang berusaha menahan tawanya melihat kelakuan sepupunya yang satu ini.

Cassie mengangkat sebelah tangannya dan melambai seraya tersenyum kecut.

"Oh, hai Jerry. Apa kabar? Ha... ha.. kurasa aku harus pergi. Selamat tinggal!" Lalu tanpa mengatakan apa- apa lagi, Cassie langsung berlari meninggalkan kafe tadi. Menulikan telinganya sendiri dari teriakan dan kekehan dari orang- orang dibelakangnya.

"Sial! Kenapa dia bisa ada disini?!" Rutuk Cassie seraya merogoh kedalam tasnya, mencari kunci ketika sebuah suara menghentikan dirinya.

"Bukankah seharusnya aku membalas perbuatanmu yang kemarin?"

Oh, sial!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS