BTY - ENAM



"Apa ini pekerjaan yang kau maksud?"
"Jerry? Apa yang..."
"Jawab aku, Annabelle!" Bentak Jerry seketika seraya mencengkram erat lengan Anna, membuat wanita itu meringgis kesakitan.
"Jerry, lepaskan!" Anna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
"Jawab aku! Apa ini yang kau lakukan?"
"Brengsek, Jerry!" Anna terpaksa menyentak lengannya hingga terlepas dari genggaman Jerry. "Ada apa denganmu?"
"Apa? Kau bertanya ada apa denganku? Apa kau sama sekali tidak mengerti?!"
Anna mengerang, terpaksa memejamkan kedua matanya dan menghitung sampai sepuluh kemudian membukanya lagi dan langsung bertatapan dengan mata Jerry.
"Pergilah, Jerry."
"Apa?"
"Apa- apaan ini?" Mendadak seorang wanita dengan wajah kaku datang menghampiri kerumunan, membuat Anna mendesah.
Mona, sang bos- bukanlah wanita yang bisa dengan mudah menerima kesalahan. Meskipun Anna sangat disukai oleh para pelanggan pub ini tapi hal yang sama tidak berlaku pada bos dan rekan kerjanya.
"Maafkan aku, Mona." Ucap Anna menyesal.
"Tidak akan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini." Mona menunjuk semua minuman yang ditumpah dan juga gelas yang pecah.
"Aku yang akan bertanggung jawab." Sahut Jerry, membuat Anna terpaksa kembali menoleh sementara Mona justru menyipitkan kedua matanya, curiga.
"Kami tidak..."
"Aku bilang aku yang akan bertanggung jawab untuk semuanya termasuk seluruh minuman yang kau jual hari ini. Sebutkan berapa jumlahnya dan akan kubayar malam ini juga." Jerry berkata tegas.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Anna terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Jerry.
Jika Jerry sudah mengatakan hal itu, jadi apa bedanya ia dengan pria lain yang menganggap Anna seperti wanita yang bekerja di pub yang sama dengan dirinya? Jerry bahkan menganggap dirinya sebagai pelacur, hanya karena dia bekerja di tempat seperti ini.
Anna tertawa pelan, bahkan jika ia mulai memiliki perasaan pada pria itu. Jerry sama sekali tidak menganggapnya layak dan hanya melihatnya seperti pelacur atau apapun itu yang bermakna negatif untuknya.
Sembari meneguk ludahnya dengan susah payah, berusaha mempertahankan sisa- sisa harga dirinya. Ia mencoba untuk bersuara dan menoleh untuk menatap Mona.
"Aku akan bertanggung jawab, Mona." Katanya dengan nada tenang tapi juga tegas. Untuk sesaat Mona melihatnya dan mendengus.
"Kalau begitu kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan."
Anna mengangguk. "Ya."
"Bagus. Sekarang bersihkan semua kekacauan ini."
Anna kembali mengangguk dan melihat Mona berlalu meninggalkannya setelah terlebih dahulu membubarkan kerumunan orang. Tobby tidak mengatakan apa- apa dan berpaling pergi, meninggalkan Anna.
Tinggal Jerry dan Anna yang masih bertahan. Sementara Lea dan Jullian masih berdiri, tidak jauh tapi juga tidak dekat. Lea tahu apa yang akan dilakukan oleh Jerry saat ini tapi tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita yang tadi sempat membuatnya sangat terkejut.
Anna mendesah pelan dan menunduk untuk mengambil pecahan gelas yang jatuh ketika Jerry justru berkata dengan nada tajam.
"Biarkan itu."
Anna menengadah hingga matanya bersirobok dengan mata Jerry. "Lalu apa? Dengarkan aku, Jerry. Bukan urusanmu dengan apa yang sedang dan akan kulakukan jadi bagaimana kalau pergi sekarang dan tinggalkan aku." Anna mulai merasakan kemarahan mulai menyeruak dari dalam dirinya.
"Aku akan menunggumu sampai selesai." Balasnya setelah menatap Anna lama.
Anna kembali menunduk. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi dan memilih untuk menyelesaikan tugasnya hingga ia merasakan Jerry berlalu meninggalkannya dan mendesah pelan.
Dua jam...
Tiga jam...
Jerry terus menunggu didalam mobil miliknya. Dia tahu kalau sejak tadi Lea ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian diurungkan. Besok sudah pasti Lea tidak akan memberikan dirinya kesempatan lagi lagipula Jerry masih belum bisa berpikir dengan tenang saat ini.
Dia sama sekali tidak menyukai penampilan Anna dalam pakaian yang sangat minim dan lebih tidak suka lagi melihat wanita itu bekerja sebagai pelayan dan pria lainnya bisa dengan mudah menyentuhnya.
Sialan! Rutuk Jerry.
Seharusnya dia langsung menyeret wanita itu pergi, menjauh dari tempat itu. Bagaimana kalau pria lainnya datang dan menyentuh tubuh itu lagi? Apakah Anna akan membiarkannya, mengingat wanita itu sama sekali tidak keberatan ketika tubuhnya di gerayangi oleh pria- pria itu.
Jerry baru saja akan memutuskan untuk kembali dan menyeret Anna ketika melihat wanita itu keluar paling akhir. Anna sudah menutupi tubuhnya dengan jaket berwarna navy tapi sama sekali tidak menutupi kakinya yang hanya menggenakan rok pendek.
Anna sama sekali tidak menyadari keberadaan Jerry dan sedang berbicara dengan sekuriti yang sempat melihat kejadian yang terjadi padanya dan mendapat tatapan penuh simpati.
"Kau sudah selesai?"
Anna dan pria sekuriti itu seketika berbalik. Rahang Jerry terlihat mengeras ketika melihat pemandangan di depannya. Terlebih lagi pria sekuriti itu sedang memegang kedua lengan Anna dengan akrab.
"Seharusnya kau tidak disini." Anna berkata sangat lelah, melepaskan diri dari tangan Brouni- sekuriti sekaligus teman yang bisa diajaknya bicara.
Gajinya sepenuhnya di potong dan itu berarti dia harus mencari pemasukan yang lebih lagi. Biaya sekolah Patricia dan biaya sewa toko bunga sangat mahal dan baik ia maupun Betrice tidak bisa hanya bergantung dengan penjualan bunga dan juga kerja part time Anna di toko buku kecil.
"Kau mengenalnya?" Brouni menanyai Anna sembari sesekali melihat Jerry. "Atau tidak?" Kali ini Brouni mengatakannya dengan suara yang menyiratkan kalau dia sudah siap berkelahi.
Untuk sesaat Anna bolak- balik melihat Jerry dan Brouni kemudian menggeleng pada Brouni.
"Jangan khawatir, Brouni." Anna menenangkan. "Aku bisa mengatasinya."
"Kau yakin, sweetheart?"
Untuk sesaat Jerrye mengepalkan sebelah tangannya. Dia sangat tidak menyukai panggilan yang ditujukan pada Anna dan lebih tidak suka ketika melihat wanita itu justru tersenyum.
"Apa kau mulai meragukanku? Aku tersinggung, Brouni." Anna memperlihatkan wajah pura- pura tersinggung pada temannya itu.
Brouni tersenyum lalu mengacak- acak rambut Anna. "Aku mempercayaimu. Tapi kalau ada...."
"Oh ayolah, Brouni." Potong Anna cepat. "Aku akan menghubungimu setibanya aku di rumah."
Lama tidak ada yang bersuara hingga Brouni terpaksa mengangguk.
"Aku akan menunggu telponmu."
"Kuharap kau hanya sekedar berbasa- basi dengannya."
Anna berhenti. Terpaksa berbalik agar bisa berhadapan dengan Jerry setelah mereka berdua berjalan meninggalkan tempat tadi menuju mobil Jerry yang di parkir.
"Basa- basi?"
"Ya. Menelpon dia." Jerry terpaksa menelengkan kepalanya kearah Brouni agar bisa membuat Anna lebih mengerti.
Kernyitan di kening Anna semakin dalam melihat Jerry. "Apa yang kau lakukan disini, Jerr?" Tanyanya dengan nada lelah.
"Aku sudah bilang kalau akan menunggumu," Jerry membalas seraya kembali membawa Anna menuju mobilnya. "Dan kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita, Jerry." Anna tidak ingin berbicara apapun. Tidak ketika ia sulit untuk berkonsentrasi jika Jerry berada di dekatnya.
Jerry terdiam selama sesaat lalu menghela napas. "Kalau begitu besok setelah kau istirahat. Kau terlihat sangat lelah hari ini."
Memang dan itu juga karena dirimu. Dimana dan apa yang kau lakukan selama beberapa hari ini?. Anna bertanya dalam hatinya seraya menatap Jerry tapi ketika pria itu balas menatapnya, Anna langsung memalingkan wajahnya.
"Aku tidak bisa besok." Ucap Anna. "Aku harus bekerja dari jam 9 sampai jam 3."
"Dimana?"
"Toko buku. Aku memiliki part time disana."
Anna berharap Jerry akan menyerah. Dia belum siap bertemu dengan Jerry saat ini. Ada perasaan aneh tiap kali ia bersama pria itu dan tatapan itu. Tatapan yang ditujukan Jerry padanya entah kenapa justru membuat tubuhnya mengigil dan otaknya seperti menjadi encer seperti coklat yang dilumerkan.
Nyaman sekaligus menakutkan.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, Jerr. Letaknya hanya dua perhentian bus dari toko Betrice."
"Aku perlu bersama denganmu lebih lama, Ann."
Anna terdiam, berusaha menyerap apa yang baru saja dikatakan Jerry padanya.
"Kenapa?"
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka dulu, Jerry menyentuh wajahnya dengan telapak tangan. Mengusap pipi Anna lembut. Membuat Anna sulit berkata apa- apa.
"Karena aku merindukanmu dan aku tidak bisa berhenti untuk mengkhawatirkanmu."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS