LOVE MISSION - 4
"Call my name."
Lama tidak ada yang berbicara diantara mereka hingga kemudian London memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Hmm apa yang sebenarnya kalian..."
"Bisa tinggalkan kami berdua?" Jayce mengatakannya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Kimberly.
"A-apa?"
"Akan kujelaskan nanti tapi sebelum itu ada yang ingin kubicarakan berdua dengannya."
Sejenak London menatap wajah sahabatnya kemudian ke wajah gadis pujaannya.
"Baiklah. Aku akan pulang naik bus."
Jayce mengangguk. Tidak lama setelah kepergian London, Jayce berbalik menuju pintu mobilnya.
"Masuk." Perintahnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Kimberly ingin tahu.
"Membicarakan masalah kita." Jawabnya.
"Tidak mau."
Jayce yang tadinya akan masuk kedalam mobil seketika berhenti dan balik menatap Kimberly. Gadis itu berdiri dengan tangan didada, menandakan dia menolak.
"Masuk. Apa kau mau tetap berdiri disitu?"
"Tidak jika kau melakukan apa yang kuminta tadi."
"Kau mau masuk sendiri atau perlu kupaksa?"
Otak Kimberly mendadak berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya? Hmm...
"Berhenti berpikir sesuatu yang tidak masuk akal. Ayo masuk sebelum banyak orang yang datang."
"Tidak sebelum kau mengatakan."
"Terserah kau saja." Jayce kembali membuka mobilnya dan akan menutupnya ketika mendadak tangan Kimberly menghalangi.
"Apa yang kau lakukan?!" Sontak Jayce meraih tangan Kimberly, memeriksanya.
"Kau hampir saja meninggalkanku." Isak Kimberly menahan rasa sakit di jarinya.
"Dasar bodoh! Kau sendiri yang tidak mau naik malah menyalahkan orang lain."
"Tidak penting siapa yang salah disini tapi aku hampir saja kehilangan jari."
"Kau tidak akan kehilangan jari semudah itu mengingat betapa kerasnya kepalamu."
"Hah?"
"Sudahlah. Masuklah."
"Tidak sebelum kau menyebutkan namaku."
Jayce menghembuskan napasnya, menahan rasa jengkel. "Baiklah. Masuk Kimberly." Ucapnya yang sontak membuat kedua mata Kimberly membelalak.
"Kau... mengatakannya?"
"Berhenti bermain- main. Kita akan membicarakan masalah kita di suatu tempat." Ujarnya lagi yang langsung dituruti oleh gadis itu. "Pakai seatbeltmu."
"Ah seatbelt."
Disisi lain, Jayce terus memperhatikan Kimberly yang memasang seatbeltnya sangat lama. Dia ingin membantu tapi dia juga tidak ingin membuat gadis disampingnya ini salah paham.
Eh salah paham? Bukankah itu yang diinginkan gadis aneh ini?. Pikir Jayce.
"Apa kita tidak akan jalan?" Pertanyaan Kimberly sontak menyadarkan Jayce dari pemikiran konyolnya barusan dan mulai menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan pelataran parkir.
Tidak ada yang berbicara diantara mereka. Didalam otak Kimberly mulai saling berpikir. Apa yang biasanya orang jatuh cinta lakukan ketika berada dalam mobil? Hmm seharusnya dia mencari tahu dulu sebelum memutuskan tapi..
"Kenapa kau memilihku?"
Sontak Kimberly berbalik dan langsung berhadapan dengan mata itu. Mobil yang mereka naiki sudah berhenti disuatu tempat. Dilayangkannya pandangannya melihat sekitar. Wow, air! Pekik Kimberly dalam hati.
"Jangan mengalihkan perhatian. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Apa kau mau turun dulu? Sepertinya matahari sebentar lagi akan terbenam. Ayolah Jayce. Apa kau tidak sumpek berada didalam mobil?" Desaknya lagi tapi sebelum Jayce menjawab. Kimberly sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini?" Rutuk Jayce dalam hati tapi ikut turun mengikuti gadis itu.
"Kau pintar memilih pantai. Ini indah sekali." Kata Kimberly ketika Jayce telah berada disampingnya.
"Aku tidak tahu harus membawamu kemana dan pantai satu- satunya yang terbersit dalam pikiranku."
Wow!. Dalam hati Kimberly berguman.
"Okey. Selanjutnya. Peluk aku."
"Apa?"
"Aku ingin kau memelukku."
"Whoa... whoa... tenang dulu nona. Kenapa aku harus memelukmu?"
"Karena itu akan membantuku."
Jayce terdiam tidak percaya. "Biar kujelaskan satu h..." ucapan Jayce terpotong karena tiba- tiba Kimberly membelit sebelah lengan Jayce dengan tangannya. Wah. Ini menyenangkan!. "Apa yang kau lakukan?!" Jayce berusaha melepaskan rangkulan Kimberly darinya yang ternyata sia- sia karena gadis itu semakin merekatkan tubuhnya ke lengan Jayce.
"Pasangan biasanya melakukan ini."
"Pasangan?" Tanya Jayce heran. Dia sudah menyerah untuk melepaskan diri.
Kimberly mendongak memperlihatkan manik- manik matanya yang memancarkan rasa bahagia tapi entahlah, Jayce juga tidak bisa mengatakannya secara langsung karena gadis itu sama sekali tidak tersenyum.
"Aku pernah melihat Sophia dan Hans melakukan ini."
"Aku tidak mengenal siapa itu Sophia dan siapa itu Hans jadi..."
"Sophia itu adalah manajerku di agensi dan Hans adalah pacarnya."
"Aku tidak peduli. Tunggu, apa sebelumnya kau tidak pernah melakukan ini?" Tanya Jayce penuh selidik. Aneh rasanya jika kau seorang model dan sama sekali tidak pernah melakukan hal remeh seperti ini.
Kembali Kimberly mengangguk. "Ya."
"Bahkan dalam pemotretanmu?"
"Kalau itu aku harus profesional."
Apa maksudnya itu?
"Tapi ini beda." Lanjut Kimberly. "Rasanya menyenangkan jika bersamamu."
Hah?
Mendadak kepala Jayce terasa sakit. Kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga harus berurusan dengan gadis ini?. Dengan lembut Jayce melepaskan pegangan Kimberly darinya.
"Kurasa kau salah tentangku." Jayce mencoba mengatakannya dengan lembut. Menurut pengamatannya, gadis yang berdiri didepannya ini adalah gadis paling agresif yang pernah ditemuinya. "Aku bukanlah laki- laki yang tepat untukmu."
"Kenapa?"
Bukankah sudah jelas?!. "Permainan konyolmu ini tidak sesuai denganku."
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan. Aku hanya tidak tepat untukmu."
"Apa kau menyukaiku?"
"Apa?"
"Kalau tidak kenapa kau tidak mau membantuku? Aku sering melihatmu membantu gadis- gadis itu."
"Karena bantuan yang mereka butuhkan tidak seaneh dirimu."
"Jadi aku aneh?"
"Apa perlu penekanan lain?"
Keduanya terdiam cukup lama.
"Maaf karena membuatmu kecewa tapi kita..."
"Kalau begitu... cium aku."
Apa?!. "Kau sudah gila ya?" Jayce benar- benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis didepannya ini.
"Tidak. Kiss me"
***
Comments
Post a Comment