BTY - TIGA
The cover by greyanakim@gmail.com
**
Jerry menatap nyalang bagian atas kamarnya. Kamarnya masih dalam suasana gelap meskipun ia tahu kalau matahari sejak tadi telah beranjak dari peraduannya.
Dalam hatinya, Jerry tidak bisa memungkiri kalau ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya kemarin di depan kantor polisi. Kakak gadis itu sangat mirip...
Dalam hatinya, Jerry tidak bisa memungkiri kalau ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya kemarin di depan kantor polisi. Kakak gadis itu sangat mirip...
"Jadi katakan, bagian mana dulu dari bagian tubuhmu yang perlu ku kuliti sebelum mendengarkan penjelasanmu, Patricia Wildblood?"
Sejujurnya tidak ada yang menyangka- tidak juga Patricia yang baru saja dihantam dengan telapak tangan dari si pendatang baru- tapi satu- satunya yang membuat Jerry tidak bisa bergeming adalah karena kakak gadis itu sangat mirip dengan...tunangannya dulu.
Jika dulu Cassie selalu tampak fashionable dengan segala penampilannya. Kakak Patricia ini tampak tak acuh dengan penampilan, sneaker yang mulai terlihat butut seakan sudah digunakan selama bertahun- tahun dan rambut yang di jepit asal- asalan.
"Anna!" Patricia memekik kaget tapi langsung tersenyum sumringah ketika melihat kakaknya.
"Kau seharusnya tidak membawa kabur mobil kita." Anna menghela napasnya pelan seraya mengusap rambut yang berantakan dari kepala sang adik. "Kau tahu aku hampir saja jantungan ketika diberitahu kalau kau terlibat kecelakaan. Apa kau terluka?"
Patricia menggeleng cepat, masih dengan senyum yang tercetak di bibirnya. Anna terdiam di tempatnya tapi memandang lurus pada luka memar di kening adik semata wayangnya.
"Kita akan mengurus hal itu nanti. Aku harus masuk dan berbicara dengan polisi yang menanganimu."
"Tapi Ann,"
Dan begitulah. Jerry bahkan tidak berbicara satu kata pun dengan wanita itu dan hanya melihta wanita itu berlari masuk ke dalam kantor polisi.
Jerry menatap kartu nama di tangannya dan menimbang. Patricia memberikannya ketika kakaknya mengurus masalahnya di dalam kantor polisi. Patricia mengatakan kalau kakaknya membantu di toko bunga itu dan kebetulan sekali toko bunga yang ditunjukkan oleh kartu nama itu hanya beberapa blok dari apartemennya.
Ceklek.
Jerry tidak perlu melihat siapa yang baru saja memasuki apartemennya karena tidak lama kemudian Lea muncul dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Astaga Jerry, kau tidak apa- apa? Aku mendengar kalau mobil Jullian mengalami kecelakaan dan Jullian mengatakan kalau mobilnya dia pinjamkan padamu. Aku... aku..."
Jerry tidak tahan melihat Lea menangis jadi yang ia lakukan adalah bangkit dari tempat tidurnya dan membawa Lea dalam dekapannya.
"Astaga Jerry. Aku khawatir sekali." Kata Lea dalam isak tangisnya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Jerry katakan dan menyadari tatapan Jullian. Jullian tidak mengatakan apa- apa dan hanya memandangi Jerry dengan kedua matanya.
"Sudah kubilang padanya kalau dia baik- baik saja." Ujar Jullian seraya melangkah menuju istrinya dan mengambil alih Lea ke dalam pelukannya. Jerry tidak mengatakan apa- apa dan melepaskan Lea dengan santai.
"Aku tahu. Itulah aku meminta maaf padanya." Katanya. "Dan terima kasih padamu."
Jullian tidak bodoh untuk tidak menyadari perubahan yang terjadi pada diri Jerry tapi tidak bertanya lebih lanjut.
"Jadi bagaimana Audrey dan Austin?" Tanya Jerry setelah menggiring mereka ke dapurnya yang mewah dan memberikan segelas air untuk Lea agar bisa menenangkan diri.
Lea dan Jullian sama- sama saling berpandangan ketika Lea memutuskan untuk menjawab. "Mereka baik. Aku dan Jullian memutuskan untuk menetap disini."
Jerry mengangkat alisnya.
"Oh dan Elena juga akan segera menyusul."
"Apa kalian berniat menginvasi London saat ini?" Tanya Jerry curiga.
"Tentu saja tidak." Jawab Lea disela tawanya. "Tapi aku dan Elena memiliki satu visi kalau London adalah tempat yang kami inginkan."
"Oh ya? Aku tidak tahu kalau kalian begitu tertarik dengan London."
Lea baru saja akan membalas ketika Jullian menyela.
"Jadi bagaimana kau bisa selamat?"
Lea memukul lengan suaminya. Tidak terlalu keras tapi cukup membuat Jullian mengaduh.
"Hei, tadi kau begitu khawatir dengan dirinya. Aku hanya bertanya, sayang." Kata Jullian membela diri.
"Tapi pertanyaanmu seakan mengatakan kalau kau..."
"Jangan khawatir, Lea. Aku mungkin akan mengatakan hal yang sama jika dia yang berada di posisiku." Kali ini Lea melayangkan pukulannya kearah Jerry. "Untuk apa itu?" Tanya Jerry tidak terima dengan pukulan yang baru saja diterimanya.
"Itu karena mengatakan hal yang tidak- tidak untuk suamiku." Jawab Lea jengkel tapi justru mendapatkan ciuman sekilas di bibir dari suaminya.
"Oh. Oh. Aku memiliki dua kamar di ujung lantai atas. Silahkan kalian pergi kesana dan melakukan apapun didalam."
Kedua pipi Lea serta merta meronah karena malu bahkan dengan rambut merah yang Lea miliki semakin memperlihatkan rona itu.
"Okey, thanks Culton." Ujar Jullian ketika lagi- lagi mendapatkan pukulan dari istrinya.
"Itu bisa menunggu,..."
"Aku tidak bisa menunggu."
Sejenak Lea mendelik tapi melayangkan kecupan kilat di bibir suaminya dan tersenyum. "Aku akan melakukan apapun permintaanmu hari ini tapi aku ingin mendengar cerita Jerry tentang kecelakaan itu."
"Baiklah. Kau sudah berjanji." Tapi kembali mengecup bibir istrinya. Kali ini lebih lama dari yang sebelumnya.
"Tuhan! Aku tidak percaya ini." Erang Jerry tidak tahan tapi dalam hati ikut bahagia dengan pasangan didepannya.
Dia tidak pernah berpikir jika kesedihan yang selama dua tahun ini dipendamnya malah ikut berefek pada sahabat- sahabatnya. Dia tidak pernah menyadari betapa Lea maupun Elena sering kali bertugas untuk mengawasinya. Takut jika sewaktu- waktu Jerry akan berpikiran singkat dan ikut menyusul Cassie. Istrinya.
Jerry terdiam. Menegang di tempatnya. Hatinya seakan memanggil untuk mendatangi tempat yang tertera pada kartu nama itu dan jika ia melepaskannya maka sudah dapat dipastikan dia akan menyesal.
Tanpa memperdulikan tatapan bingung Lea, Jerry cepat- cepat menuju kamarnya dan mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya.
"Jerry?"
"Aku akan keluar sebentar. Tutup pintunya jika kalian akan keluar." Dan langsung keluar meninggalkan pasangan itu yang memandangnya dengan kebingungan.
.
.
.
Hari sudah hampir sore dan Jerry sama sekali tidak melihat wanita itu. Satu- satunya yang ia yakini kalau alamat yang ditujunya adalah benar karena melihat Patricia berada disana. Bermain- main dengan bunga- bunga yang diambilnya secara asal dan mengumpulkannya menjadi satu hingga seorang wanita paruh baya datang dan menggelengkan kepalanya tapi sama halnya dengan kakak gadis itu. Patricia tidak mendapatkan amarah dan hanya ada senyum yang dikulum seakan mereka terlibat dalam sebuah konspirasi.
Jerry memutuskan untuk tidak ada gunanya menunggu diluar dan memilih masuk ke dalam toko bunga itu. Siapa tahu kakak Patricia yang bernama Anna ada didalam sana. Tertutup dalam ribuan bunga- bunga.
Cling.
Suara lonceng kecil di dalam toko bunga berbunyi menandakan kalau seseorang baru saja melangkahkan kakinya, membuat Patricia dan wanita paruh baya itu yang diperkirakan Jerry hampir berusia 45 tahun tapi meskipun begitu masih terlihat cantik.
"Maaf, kami sudah akan..."
"Mr. Culton?"
Si wanita paruh baya itu sejenak melirik kearah Patricia lalu kembali menoleh pada Jerry.
"Maaf. Anda?"
"Maaf. Saya..."
"Dia Mr. Culton. Orang yang mobilnya kutabrak semalam." Cara Patricia yang lugas dan terkesan santai seakan ingin membuat Jerry tertawa tapi melihat tatapan wanita disampingnya yang mendadak terbelalak jadi Jerry memutuskan bukan langkah yang bijaksana jika ia melakukan itu.
"Oh astaga. Maafkan saya. Silahkan duduk, Mr. Culton." Kata wanita itu cepat- cepat seraya mendorong Patricia hingga tubuh gadis itu terjatuh dibelakang tapi itu tidak menyurutkan sikap wanita itu padanya. "Astaga, maafkan karena keteledoran anak saya. Saya benar- benar minta maaf. Dia memang masih muda dan penuh ide liar di kepalanya yang bodoh ini jadi tidak memikirkan konsekuensinya jadi..."
"Tidak apa- apa, Mrs.?" Potong Jerry sebelum wanita itu berbicara sepanjang kereta yang ada di London.
"Betrice. Panggil saja Betrice."
Jerry berdehem sekali. "Maaf karena kehadiran saya sangat mengejutkan anda."
"Eh? Oh. Tidak apa- apa. Seharusnya kami yang meminta maaf." Jerry tersenyum tapi lebih mudah jika ia berdiri sekalian berkeliling melihat bunga yang dijual.
"Apakah anda yang memiliki semua ini?" Tanyanya seraya menyentuh kelopak bunga mawar merah disamping mawar putih yang sisa beberapa.
"Ya. Mr. Culton."
Jerry menoleh dan tersenyum. "Anda bisa memanggil saya Jerry jika anda tidak keberatan."
"Oh!" Jelas sekali kalau Betrice tidak menyangka akan diperlakukan sesopan ini. Ia bahkan tadi mengira kalau kedatangan Jerry agar ia bisa memberikan uang ganti rugi pada pria itu.
"Bisakah aku memanggilmu Jerry juga?" Mendadak Patricia muncul dengan wajah sumringahnya.
Jerry tersenyum. "Tentu saja. Bukankah kemarin aku memanggilmu dengan nama Patricia?"
Kedua mata Patricia mendadak berbinar dan Jerry nyaris tertawa melihat kepolosan gadis itu.
"Be- berapa biaya kerusakan mobil anda?" Betrice mulai bertanya ragu. Takut jika biayanya sangat mahal dan sejujurnya memang seperti itu.
"Sebenarnya itu bukan mobil saya. Teman meminjamkan kepada saya sebelum kejadian itu terjadi."
"Be- berapa?"
"Sebenarnya kedatangan saya kemari untuk..."
"Tidak. Tidak. Kami harus bertanggung jawab."
Jerry terdiam, menimbang apakah sebaiknya dia memberitahukannya tapi melihat kesungguhan yang ditampakkan wajah wanita itu dihadapannya. Mau tidak mau membuat Jerry takjub.
"5000 pound. Setidaknya itu yang diberitahukan oleh mekanik yang bertanggung jawab memperbaiki kerusakannya."
Jerry terdiam menelaah apa yang harus dilakukannya karena entah bagaimana, Jerry seakan melihat darah di kedua wajah dihadapannya mendadak dihisap keluar oleh sesuatu.
"Oh Tuhan!" Pekik Betrice menutup mulutnya. "Bagaimana kita..."
Tepat saat itu bunyi lonceng di pintu berbunyi dan kali ini Jerry seakan melihat seseorang dari masa lalunya berdiri dihadapannya dengan kaos putih hingga sedikit diatas lututnya sedang membawa beberapa mawar putih sedang menatapnya dan kemudian tersenyum.
***

Comments
Post a Comment