IY - TUJUH BELAS

"Ini pertama kalinya aku melihat wanita hamil ingin ke tempat ini."

"Ayolah Jullian," Lea membujuk seraya mengapit lengan suaminya. "Anakku sepertinya ingin bersenang- senang." Katanya tersenyum.

Jullian menoleh, sesaat melupakan kejengkelan yang tadi dirasakannya pada wanita yang saat ini sedang hamil anak kedua mereka, seraya menciumi bibir Lea, ia juga berujar. "Dan jangan lupa dia juga anakku. Kau tidak mungkin bisa hamil jika tanpa bantuanku." Katanya dengan senyum menggoda dan mau tidak mau membuat Lea tertawa.

"Ya. Karena itulah aku akan melayanimu habis- habisan sepulangnya kita dari sini."

"Wow aku sudah tidak sabar mendapatkannya." Lalu baik Jullian maupun Lea sama- sama tertawa.

Jullian tersenyum memandangi Lea yang tampak asyik menikmati alunan musik yang dihentakkan oleh Dj ketika secara tidak sengaja ia melihat sosok tidak asing yang baru saja menaiki sebuah tangga menuju keatas.

"Bukankah tadi itu..." Jelas Lea tadi juga melihat sosok barusan. "Ayo kita lihat, Jullian."

Jullian mengangguk mengikuti langkah Lea tapi tetap menjaga agar wanita itu tidak terjatuh karena saking terburu- buru.

"Aku tidak merindukanmu, Matt. Aku hanya ingin tahu dimana kau tinggal sekarang. Jelas sekali ada perbedaan diantaranya."

"Kau masih seperti dulu, Case. Dengan wajah poker face yang kau tampakkan, tidak seorangpun akan menyadari kalau kau ini bukanlah orang sembarangan."

Cassie tertawa. "Jadi apa itu berarti aku telah menyakiti hatimu? Membohongimu?" Tanyanya.

"Secara harfiah, ya." Matt memberikan senyumnya. "Tapi setidaknya itu membuktikan kalau pacar cantikku ini sangat amat kaya."

"Kalau yang kau butuhkan adalah uang, maka aku tidak punya."

"Oh, baby," katanya pelan. "Kau benar- benar menyakiti hatiku dengan kalimatmu barusan."

"Dan aku tidak akan meminta maaf."

Matt tersenyum. "That's my girl. Keras dan tangguh. Kupikir kita memang sepasang kekasih yang telah ditakdirkan."

"Aku tidak sependapat."

Lalu mendadak wajah Matt berubah menjadi keras dan menarik tangan Cassie agar mendekat dengannya.

"Bagaimana bisa setelah begitu lama tidak bertemu, aku mendapati dirimu semakin pintar menggunakan lidahmu."

"Aku pikir aku belajar dari orang terbaik yang pernah kukenal."

Tiba- tiba Matt tertawa. "Kalau begitu bagaimana kalau kita mengulang masa lalu."

Cassie tersentak dan sebelum ia bisa melepaskan diri, Matt telah berada diatasnya.

"Kau tidak pernah menginginkanku untuk melebihi batas ciuman. Membuatku harus tersiksa karena ingin mencicipi tubuh ini."

"Lepaskan!"

"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak melepasmu? Berteriak? Berteriaklah. Tempat ini penuh dengan sekumpulan orang- orang yang mencari kesenangan dan bukannya ingin menolong gadis yang datang sendiri kemari. Aku bahkan tidak yakin jika ada yang mendengarmu. Tempat ini sangat berisik dan kau juga tahu kalau ini adalah ruangan khusus."

"Apa kau pikir aku takut dengan kalimat seperti itu? Jangan pikir aku... phffff...." Matt telah membungkamnya dengan ciuman yang mengebu- gebu yang dengan susah payah Cassie hindari. Beruntung Cassie tadi sempat menutup mulutnya, tidak membiarkan Matt membiarkan lidahnya bertemu dengan miliknya ketika beberapa detik kemudian, ia merasakan tubuhnya menjadi bebas. Hal selanjutnya yang ia lihat adalah Matt telah tersungkur di lantai, dengan wajah yang meringgis.

"Jika kau melakukan itu lagi pada wanita, maka aku tidak segan memotong- motongmu dan memberikan anjing jalanan setiap potongan."

Cassie sulit mencerna semuanya, terlebih lagi ketika melihat Lea beserta Jullian justru membawanya pergi dari tempat itu.

"Bisakah kau pergi dengan Lea dulu. Aku perlu menenangkan diri dulu."

"Jullian?"

Jullian tersenyum kearah Lea yang tampak khawatir. "Aku baik- baik saja. Aku hanya perlu menghirup udara segar, sayang. Bicaralah dengan Cassie sebentar setelah itu kita pulang."

"Jullian... aku mencintaimu." Lea tersenyum memberikan semangat.

"Aku lebih mencintaimu, Azalea."

Lea dan Cassie sama- sama menatap kepergian Jullian dalam keheningan malam ketika Lea yang membuka suara.

"Kau baik- baik saja?"

"Eh apa? Ya. Kurasa begitu." Cassie menjawab sedikit bingung. "Apa Jullian baik- baik saja?"

Sejenak Lea mengarahkan pandangannya pada sosok yang berdiri membelakanginya- tidak jauh dari tempat mereka tadi kemudian mengangguk.

"Ya. Jullian hanya mengingat kejadian di masa lalu. Dia akan baik- baik saja." Jawab Lea.

Cassie sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tapi terlihat jelas di wajah Lea kalau wanita itu tidak ingin membicarakannya jadi dia mencari kalimat baru lainnya.

"Aku kaget melihatmu di tempat tadi. Apa yang kau lakukan disana?"

Seperti mengingat sesuatu, mendadak Lea tersentak dan menatap Cassie dengan pandangan memohon.

"Case,"

"Ya?"

"Bisakah kau tidak datang ke tempat itu lagi?"

"Eh?"

"Aku bukannya bermaksud untuk pergi bersenang- senang hanya saja..."

"Lea," Cassie memotong cepat. "Aku baik- baik saja."

Lea menggeleng. "Bukan itu yang kukhawatirkan, Case."

"Lalu?"

"Setidaknya jangan menemui pria itu lagi," Cassie terdiam. "Aku dengar kau tadi memanggilnya Matt, apa dia mantan pacar yang pernah kita bicarakan? Yang menciummu malam itu? Kumohon jangan temui dia."

"Lea,"

"Setidaknya hargai perasaan Jerry."

Hah? Kali ini dia tidak mengerti kenapa Jerry harus dilibatkan dalam masalahnya dan kenapa Lea justru mengungkit Jerry?

"Aku tahu bagaimana rasanya jika pria lain memiliki obsesi padamu. Percayalah. Hal itu bukan sesuatu yang baik. Aku mengenal Jerry dengan baik. Aku tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu ada orang lain yang mendekati apa yang sudah menjadi miliknya. Jerry sama seperti Jullian. Sama- sama keras, sama- sama memegang teguh prinsipnya dan sama- sama berkuasa. Dia bukan tipe orang yang akan mudah melepaskan sesuatu."

.
.

"Apa kau mau menjadi pacarku, Case?"

"Kau akan menyesal jika kau menjadikanku pacarmu, Matt." Cassie mengatakannya sambil tertawa.

"Apa kau pikir aku orang yang mudah mengajak orang lain agar mau pacaran denganku?"

"Bisa kulihat seperti itu."

"Itulah alasan kenapa aku menyukaimu, Case. Kau gadis yang penuh semangat tapi ada kesan misterius yang kadang kau tampakkan. Seperti kau memiliki poker face."

"Apa aku membangunkanmu?"

"Jerry?" Cassie mengeliat nyaman dalam dekapan seseorang di ranjangnya dan merasakan kalau dada orang itu sedikit terguncang karena tawa.

"Yeah, that's me. Aku melihatmu sedikit gelisah. Apa kau bermimpi buruk?"

Cassie mengelengkan kepalanya. "Tidak buruk."

"Jadi baik?"

"Tidak bisa dikatakan baik juga. Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Cassie mencoba mengalihkan pembicaraan tentang mimpi berisi memori masa lalunya tadi.

"Lewat pintu."

Serta merta Cassie membuka matanya. Dia sedang berada didalam kamarnya, sedang berpakaian hampir telanjang ketika matanya tertumbuk pada penampilan Jerry. Pria itu sedang memakai kemeja biru dan celana panjang hitam. Sementara jasnya sengaja Jerry sampirkan di kursi dekat jendela.

"Kau..."

"Apa kau menyesal aku berpakaian lengkap sementara kau tidak?" Jerry memotong sementara ia tersenyum menggoda.

"Bukan itu," Cibir Cassie. "Apa kau tidak bertemu dengan ibuku?"

"Ketemu."

"Dan?"

"Dan apa? Dia menyuruhku agar langsung naik ke kamarmu."

Cassie melonggo tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin orang tuanya sendiri bisa dengan mudahnya memasukkan seorang pria ke dalam kamar putri satu- satunya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?

"Apa kau takut aku berbuat tak senonoh padamu?" Tiba- tiba Jerry bertanya. "Padahal ini bukan pertama kalinya aku masuk ke kamar ini. Kau bahkan pernah melihat secara langsung keseluruhan tubuhku, merasakan bagaimana aku yang mengguncang...pfftttt," Cassie membelalak seraya kedua tangannya membekap mulut Jerry.

"Kau gila ya," bisik Cassie memperingatkan. "Apa kau tidak sadar kita berada dimana?"

Jerry terkekeh dibalik tangan mungil Cassie dan mengarahkan lidahnya ke tangan yang membekapnya itu, membuat Cassie menjerit geli tapi langsung berbalik membekap bibirnya- semakin membuat Jerry tertawa.

"Wajah malu- malumu ini membuatku ingin melakukan hal yang melibatkanmu lagi." Goda Jerry membuat wajah Cassie semakin memerah.

"Hentikan Jerry! Kau bisa membuat seisi rumah salah paham."

Jerry tertawa.

"Aku masih ingin tidur."

"Tidur? Apa yang kau lakukan semalaman?"

"Membaca. Aku terlalu asyik membaca Wuthering heights hingga tidak memperhatikan kalau sebentar lagi pagi akan datang."

"Pantas saja kau begitu lambat meresponku."

Cassie mencibir. "Jadi apa kau mau ke institute hari ini?" Tanyanya kembali mendekatkan tubuhnya pada pria yang ikut menyambut dirinya.

"Ya dan setelah itu aku akan ke kafe. Aku perlu memeriksa persediaan disana."

"Hm,"

"Apa kau tidur?"

"Sebentar lagi."

"Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Jerry baru akan beranjak dari tempat tidur Cassie ketika kedua tangan gadis itu tidak ingin melepasnya.

"Jerr?" Gumamnya masih dengan mata tertutup.

"Ya?"

"Bisakah kau tinggal sebentar lagi hingga aku benar- benar tertidur?" Tanyanya. "Please?" Tambah Cassie ketika sama sekali tidak terdengar jawaban dari pria itu.

... Aku mengenal Jerry dengan baik...

... Dia bukan tipe orang yang akan mudah melepaskan sesuatu.

"Tentu. Tidurlah, My love."

Cassie semakin mendekatkan tubuhnya kearah Jerry.

"Jerr?"

"Ya."

"Aku mencintaimu."

Jerry terdiam selama beberapa saat kemudian membalas dengan tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Cassandra."

Kenapa rasanya menjadi sesakit ini?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS