LOVE MISSION - 30

"Kau menyalahi aturan, cucuku sayang."

Untuk sesaat Jayce mengernyitkan dahinya, bingung. "Apa yang grandmere maksud?" Tanya Jayce.

Tadinya setelah mengantar Kimberly ke tempat pemotretannya, Jayce ingin kembali ke rumahnya untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bertemu dengan gadisnya. Kimberly mengatakan dia akan selesai jam sepuluh malam nanti dan hanya memberikan password apartemennya jika Jayce tiba lebih dulu tapi kemudian Barbara menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang ke perusahaan dan menemuinya langsung.

"Kau menyalahi isi dari pembicaraan kita dulu, Mr. Caldwell." Ulang Barbara semakin menambah kedalaman kening Jayce.

"Bisa lebih spesifik? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang grandmere katakan." Jayce tidak peduli apakah itu terdengar sopan atau tidak. Yang dia butuhkan adalah mengistirahatkan kepalanya untuk beberapa jam.

"Kau menemuinya, iyakan?"

Jayce tidak perlu menanyakan apa maksud neneknya itu. Sudah jelas Kimberly lah yang menjadi topik saat ini.

"Tidak ada aturan dimana aku tidak bisa menemuinya, iyakan grandmere? Dan seingatku lagi, aku hanya diminta untuk bertanggung jawab untuk membuktikan kepada grandmere seberapa kuat pengaruh Kimberly kepadaku."

Keduanya sama- sama saling melemparkan tatapan penuh intimidasi. Pengalaman selama bertahun- tahun dalam menjalankan bisnis, membuatnya tahu sejauh mana kemampuan lawannya dan untuk kali ini, Barbara harus akui kalau Jayce sudah banyak mengalami perubahan selama beberapa hari ini tapi apakah itu karena kehadiran sang model atau bukan, dia masih belum terlalu yakin. Barbara tahu apa keinginan terbesar Jayce dan itu bukanlah berada dibelakang meja. Satu- satunya yang bisa membuat Jayce bertekuk lutut adalah karena Rhea berada disamping cucunya, menemani Jayce selama ini. Dia juga tahu betapa Jayce sangat mencintai Rhea dulu.

"Dan kau yakin, itu karena adanya gadis itu?" Tantang Barbara

Jayce terdiam, menimbang apa yang harus dikatakannya. "Yakin atau tidak yakinnya aku, yang jelas grandmere harus akui kalau aku sudah meningkatkan jumlah pembelian dan beberapa kerjasama yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh siapapun selama beberapa hari ini."

Barbara terdiam. Dalam hatinya dia ikut menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh cucu semata wayangnya itu dan hampir saja menyunggingkan senyum bangga ketika ingat kalau dia tidak boleh memperlihatkan rasa bangganya itu dihadapan cucunya.

"Aku tidak akan memaksa grandmere untuk meneraktirku jika grandmere tersenyum padaku," ujar Jayce setelah menangkap sinyal- sinyal kalau Barbara ingin tersenyum tapi berusaha ditahan oleh wanita itu. "Toh, aku bisa meneraktir diriku sendiri." Lanjutnya santai membuat Barbara tidak tahan untuk tidak tersenyum.

"Dasar anak nakal! Bisa- bisanya kau menggoda grandmere-mu sendiri."

Mau tidak mau Jayce ikut tersenyum seraya berjalan mengitari meja tempat Barbara duduk dan memeluk tubuh yang wanita tua itu dari belakang lalu mencium puncak kepalanya.

"Apa grandmere tahu betapa aku sangat mencintai grandmere sendiri?"

Barbara mengusap lengan Jayce lembut. "Ya. Grandmere juga sangat mencintaimu, Jayce"

Jayce tersenyum. "Kalau begitu berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak penting lainnya. Harusnya grandmere tinggal saja di rumah, menikmati masa tua grandmere dan bukannya masih sibuk mengurusi segala macam hal perusahaan ini."

"Dan melihatmu hanya asyik pacaran?" Barbara berkata sinis dan Jayce terpaksa melepaskan pelukannya untuk menatap mata Barbara Caldwell- sang nenek tercinta, keluarga satu- satunya yang dia miliki.

Jayce tahu betapa letihnya grandmere-nya itu mengurus kembali perusahaan. Kedua orang tua Jayce, Kian dan Bella Caldwell telah meninggal akibat pesawat yang ditumpanginya jatuh di laut lepas, meninggalkan Jayce sebatang kara. Dia juga tahu Barbara sangat menginginkan dirinya untuk mengambil alih perusahaan ini. Itulah sebabnya dia berusaha mati- matian bekerja agar supaya Barbara bisa sedikit lega dan tidak lagi terlalu berkutat dengan segala macam urusan perusahaan. Terlepas dengan adanya pembicaraan sekaligus pemaksaan yang dulu diberikan oleh Barbara padanya.

"Aku tidak asyik pacaran." Kata Jayce tidak terima.

"Oh jadi informasi yang mengatakan kalau kau lebih memilih untuk menemuinya dibandingkan merawat lukamu itu salah?"

Jayce memberi Barbara pandangan tak percaya. "Grandmere memata- mataiku?"

"Tidak ada yang salah dengan itu."

Jayce mengusap wajahnya frustrasi. "Apa grandmere sadar kalau grandmere baru saja melanggar privasi yang kumiliki?"

"Jadi apa itu berarti grandmere sebentar lagi akan menerima surat perintah penahanan dari pengadilan?" Tanya Barbara pura- pura.

"Oh, aku bisa saja melakukannya"

"Dan itu pasti akan menjadi headline yang sempurna di surat kabar apalagi jika model itu dilibatkan."

"Tidak dapat dipercaya"

Barbara tersenyum senang. "Jadi berhati- hatilah dalam melangkah karena grandmere akan selalu tahu apa yang kau lakukan." Ancamnya sungguh- sungguh.

Sesaat Jayce menggelengkan kepalanya melihat sikap antipati Barbara pada hubungan dirinya dan Kimberly dan memutuskan untuk mengambil cuti satu hari sebelum kembali bertarung dengan Barbara keesokan harinya.

Dia baru saja membuka pintu ruangan Barbara ketika kembali Barbara menghentikannya.

"Kau tidak ada di rumahmu pagi tadi. Dimana kau menginap semalam?"

Jayce menoleh untuk menatap Barbara. Jika saja tidak mengenal neneknya itu dengan baik, mungkin Jayce akan berpikir kalau Barbara hanya ingin mengujinya tapi tidak ada sedikitpun terlihat di wajah tua itu tanda- tanda kalau Barbara hanya sekedar mengujinya dan tiba- tiba saja senyum tersungging di bibirnya, menyadari kalau Barbara hanya sedikit menerima informasi tentangnya dan merasa menang karena itu.

Disisi lain, Barbara yang melihat perubahan mendadak di wajah Jayce tadi seketika membuatnya merasa was- was. Apapun yang akan dikatakan oleh Jayce, sudah jelas akan membuatnya terkejut dan tidak suka.

"Sepertinya informasi yang grandmere terima tidak sepenuhnya lengkap." Ujar Jayce mengulur- ulur.

"Apa maksudmu?" Kedua kening Barbara saling bertaut. Dia tahu dengan jelas jika Jayce mulai tersenyum seperti ini.

Masih dengan senyum yang sama, akhirnya Jayce membuat keputusan. Terlepas dari setuju atau tidak setujunya Barbara padanya kelak.

"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak tinggal serumah dengan wanita yang telah berstatus istriku, iyakan grandmere?"

"Istri? Siapa yang..."

"Aku dan Kimberly sudah tercatat sebagai pasangan suami- istri di pengadilan dan ya, kami telah menikah. Sampai nanti, grandmere." Dan Jayce melangkah keluar meninggalkan Barbara yang termenung di tempat duduknya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS