IY - DELAPAN
Seminggu telah berlalu semenjak percakapannya yang terakhir dengan Cassie. Jerry masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Dulu dia memang berpikir untuk membatalkan hubungan yang terjalin diantara mereka tapi ketika pada akhirnya gadis itu setuju, entah mengapa Jerry merasa tidak senang. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerugian yang dialaminya di kafe yang dikelolahnya akibat keteledoran salah satu pengawainya atau tidak juga berhubungan dengan banyaknya celana dalam yang belum di cucinya dan sekarang menumpuk di sudut apartemennya. Dia terlalu malas melakukan semua itu saat ini dan penyebabnya tidak lain karena gadis itu.
Merasa sangat bosan dengan kegiatannya selama seminggu ini ditambah lagi ucapan Brandon tempo hari di kafenya- membuatnya semakin uring- uringan. Bagaimana tidak, Brandon seperti mencecarnya dengan semua pertanyaan mengenai hubungannya dengan Cassie- dan apapun yang Brandon katakan sama sekali tidak membantunya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua," permintaan Brandon dua hari yang lalu agar bertemu membuatnya tidak habis pikir dan semakin tidak habis pikir dengan kalimat yang diucapkan Brandon selanjutnya."Kau sudah kuanggap sebagai sahabatku tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu menyakiti dirinya. Pikirkan secara matang keputusan yang kau buat, Jerr. Jangan biarkan penyesalan datang terlambat. Aku tahu kau menyukainya sobat, hanya saja... belum menyadarinya."
Benarkah?
Apa sebenarnya arti gadis itu untuknya?
Apakah sebaiknya dia menyetujui permintaanya?
... Jangan biarkan penyesalan datang terlambat.
...aku tahu kau menyukainya, hanya saja... belum menyadarinya.
Apakah dia mulai memiliki perasaan pada gadis itu?
"Kau tampak sedang memikirkan sesuatu," mendadak Lea muncul di dekatnya seraya sebelah tangannya menyodorkan sebotol minuman dingin pada Jerry. "Ada apa?" Tanyanya setelah membuka penutup minumannya dan diikuti oleh Jerry.
"Bukan apa- apa." Jawab Jerry seraya meneguk minumannya. "Kenapa kau ingin ke pantai?"
"Oh," Lea tersenyum sementara kedua matanya memperhatikan Audrey yang sedang membuat istana pasir dengan Jullian tidak jauh darinya. "Entahlah. Mungkin aku merindukan suasana pantai." Jawabnya seraya mengelus janin di perutnya yang sudah berusia tiga bulan.
"Ya. Suasana pantai memang bagus." Ujar Jerry menyetujui, kembali meneguk minumannya.
"Kau tahu, kupikir kau akan menolak ketika kuajak kemari."
"Biar kutebak, pasti Jullian tidak ingin aku kemari, iya kan?"
Lea tertawa. "Harus kukatakan, ya tapi Audrey menanyakanmu dan kau juga tampak uring- uringan beberapa hari ini. Apa ada masalah?"
Jerry mendesah. "Bukan masalah yang besar."
"Masalah di Institute?"
Jerry yang tadinya memperhatikan didepannya seketika menoleh pada Lea. Keningnya serta merta bertaut hingga membentuk garis lurus, menjadikan Lea semakin ingin melancarkan tebakannya.
"Atau kau bertengkar dengan gadis yang menjadi tunanganmu." Lea hampir saja menjerit senang ketika dilihatnya raut wajah masam yang ditampilkan oleh Jerry. "Kau tahu, aku sangat ingin menimpukmu dengan botol saat ini juga. Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Kutebak lagi Jullian mengatakan semua ini padamu, iya kan? Oh, dan aku sudah memberitahumu tentang masalah Institute tapi kau justru mengira aku berbohong."
"Itu karena aku berpikir, kau hanya ingin menarik perhatianku."
Jerry terdiam dan seketika dia tertawa terbahak- bahak. "kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi," ujarnya disela tawanya. "Bahkan tanpa mengatakannya pun, aku sudah menarik perhatianmu. Akuilah itu, sayang." Goda Jerry yang membuat kedua pipi Lea merona.
"Apa tidak ada yang memberitahumu kalau wanita yang bersamamu ini sudah berstatus sebagai istri orang?" Mendadak Jullian muncul diantara mereka dan menatap Jerry dengan sengit.
Berbeda dengan Jerry yang memakai celana pendek dan kaos, Jullian justru hanya mengenakan celana pantai, memperlihatkan tubuhnya yang tegap beserta perutnya yang tampak menggiurkan di mata Lea.
"Baiklah. Aku minta maaf. Kau tahu, Anderson, " sudut mata Jerry sengaja mengerling pada Lea yang memberi Jullian pandangan ingin menerkam. Jerry bahkan yakin jika ini bukan tempat umum, sudah pasti wanita yang disayanginya sebagai sahabat itu akan melakukan sesuatu yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Oh, sudah jelas Jullian juga akan terlibat. Karena pria itulah sehingga gadis manis nan lugu yang dikenalnya dulu sudah tidak ada dan berganti menjadi gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. "Sepertinya kau harus segera menjinakkan istrimu sekarang. Dia melihatmu seperti tidak sabar ingin menjadikanmu makanan penutup." Timpal Jerry muak.
Lea yang menyadari kalau kalimat itu ditujukan padanya segera membuang botol minumannya yang baru separuh di minumnya kearah Jerry tapi dengan cepat ditangkis oleh Jerry sebelum mencapai anggota tubuhnya.
Sementara itu disisi lain, Jullian tersenyum tapi ikut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir sang istri dengan lembut semakin membuat Jerry yang berada disampingnya serta merta memutar kedua matanya.
"Jangan berani membayangkan apapun, Culton." Ujar Jullian setelah kembali menegakkan tubuhnya tapi sebelah tangannya masih memegang tangan Lea.
"Tidak berminat. Terima kasih." Balasnya.
"Sama- sama. Oh iya, aku bertemu dengan tunanganmu kemarin," entah Jerry sadar atau tidak tapi mendadak dia membuka matanya yang tadi sempat terpejam dan menatap Jullian dengan tajam. Lea yang baru kali ini melihat sikap Jerry yang seperti ini dibuat kaget tapi berbeda dengan Jullian, pria itu tampak sedang menahan tawanya. "Tidak kusangka dia sangat cantik jika dilihat secara langsung. Aku melihatnya bersama seseorang."
"Siapa?"
Jullian mengangkat kedua bahunya, cuek. "Entahlah tapi mereka tampak akrab."
Kembali Jerry memejamkan matanya, entah mengapa mendengar Jullian mengatakan hal itu padanya membuatnya semakin buruk.
"Bukan urusanku." Jawabnya kemudian.
"Oh jadi kalian bertengkar?" Jullian semakin melancarkan aksinya.
"Tidak juga."
"Kau cemburu kalau begitu."
Ingin rasanya Jerry ikut melemparkan botol yang dipegangnya ke kepala Jullian. Entah ini perasaannya atau tidak tapi sesuatu yang tak kelihatan seperti mengamini apa yang baru saja dikatakan oleh Jullian.
"Kau bercanda ya?" Tanya Jerry beberapa menit kemudian.
"Tidak. Wajahmu menunjukkan kalau kau sedang cemburu. Well, tidak mengherankan mengingat dia cantik dan juga mengagumkan."
Kali ini Jerry memutuskan untuk melemparkan botolnya ke kepala Jullian ketika telinganya menangkap suara Lea.
"Kau bertemu dengannya? Kapan?"
"Tiga hari yang lalu." Jelas Jullian kebingungan dengan sikap Lea saat ini. Wanita itu tampak tidak terlalu suka.
"Kau tidak mengatakannya padaku?"
Jullian semakin berkerut. Dia berusaha menelaah raut wajah wanita yang dicintainya itu beberapa detik dan menanyakan apa yang pertama kali terlintas dalam benaknya barusan meskipun dia juga menganggapnya sebagai pikiran yang konyol dan tidak masuk akal.
"Apa kau sedang cemburu?"
"Ya. Aku cemburu kau memuji wanita lain didepanku." Jawab Lea terus- terang. "Tapi dibandingkan itu semua, seperti apa dia? Bagaimana sifatnya? Oh, apakah Jerry cocok dengannya?"
"Hah?" Baik Jullian maupun Jerry sama- sama melonggo.
Lea lalu menggaruk tengkuknya, tidak sadar sementara ia memberi Jerry pandangan seperti baru saja melakukan pencurian dan ingin mengakuinya. "Sebenarnya Jerr, aku kaget ketika Jullian mengatakan kalau kau sudah memiliki tunangan. Tadinya aku pikir aku bisa memperkenalkanmu dengan salah satu teman yang baru- baru ini kutemui. Kupikir kalian akan cocok karena dia bisa memainkan gitar dan permainannya juga tidak kalah bagus. Kalian pasti tampak sangat keren jika..."
Mendadak Jerry mengangkat kedua tangannya, menghentikan Lea dari ocehannya yang sangat panjang dan dengan lambat dia bertanya, "apa aku baru saja mendengar kau berusaha menjodohkanku dengan, tunggu siapa tadi? Oh, kau belum menyebutkan namanya tapi kau baru mengenalnya dan ingin... menjodohkanku? Apa aku terlihat semengenaskan itu?" Jerry menatap Jullian meminta kepastian sebagai sesama pria.
"Tidak... tidak menjodohkan sih, hanya sekedar mengenalkanmu padanya." Elak Lea. "Lagipula tidak ada salahnya menambah pertemanan. Tentu saja aku tidak menginginkanmu membatalkan pertunanganmu dengan wanita itu tapi Case orangnya asyik dan menyenangkan."
"Case? Dia dipanggil Case?"
Lea mengangguk. "Ya. Kami sering menghabiskan waktu bersama."
Jerry menolehkan kepalanya pada Jullian. "Kau mengenal si Case ini?"
Jullian menggeleng. "Tidak. Tapi setelah kupikir tidak ada salahnya menambah teman baru."
Kedua mata Jerry memicing curiga terutama pada Jullian. Jullian tampak seperti memikirkan sesuatu yang tak diketahuinya.
"Sejujurnya malam ini kami akan bertemu," lanjut Lea yang tampak tidak memperhatikan ekspresi wajah Jerry. "Tapi sepertinya dia memiliki sesuatu yang lebih penting. Aku akan menghubungimu kalau dia tampil. Kau pasti tidak akan menyangka."
Jerry tidak tahu harus membalas apa dan hanya bisa diam sambil memperhatikan Audrey yang berjalan kearah mereka sambil menyeret ember- ember hasil membuat kastilnya.
***
Comments
Post a Comment