BTY - LIMA



"Apa hari ini kau bekerja?"
Anna mengangguk atas pertanyaan Betrice di sela ia mengoleskan rotinya.
"Ya." Jawabnya. "Apa kau perlu bantuan?"
Betrice menggeleng. "Tidak. Hanya saja kau terlalu keras agar bisa menghasilkan uang lebih banyak akhir- akhir ini, sayang." Katanya seraya mengelus sebelah tangan Anna yang bebas. "Kenapa kau tidak meluangkan waktumu untuk beristirahat malam ini? Ini akhir pekan. Mungkin sebaiknya kau tidur atau melakukan apapun yang kau sukai."
"Tawaran yang menggiurkan, Betrice," Anna tersenyum, ikut mengusap sebelah tangan Betrice. Menenangkan. "Hanya saja kita membutuhkan pemasukan yang lebih banyak. Belum lagi kita harus membayar biaya kerusakan yang diakibatkan oleh Patricia karena tabrakan itu."
"Apa pria itu mulai mendesak agar kau segera membayarnya?"
Anna menggeleng. "Bukan begitu." Timpalnya tersenyum. Hanya saja ada sesuatu yang aneh ketika terakhir kali ia bertemu pria itu. Empat hari yang lalu, tapi cukup seperti membuat dunianya seperti terguncang. Seakan ada perasaan aneh dan menggebu- gebu yang berusaha muncul di permukaan.
Jerry tampan bahkan mungkin sangat tampan dengan rambut coklat halus yang sangat menggelitik tangan Anna untuk menyentuhnya. Dibandingkan itu semua tatapan yang dulu diberikan oleh Jerry padanya seakan seperti ingin menyedot jiwanya keluar. Hal itu sangat membuat tidak nyaman buat Anna tapi juga sedikit... mendebarkan.
"Utang adalah utang. Dan kita tidak bisa menundanya lebih lama." Kata Anna melanjutkan. "Lagipula aku juga tidak bisa bersenang- senang." Desahnya pelan. "Ini akhir pekan dan biasanya akhir pekan seperti ini orang- orang memberikan tip yang lebih banyak dibandingkan hari yang biasanya."
Betrice ikut mendesah. "Kau benar. Seandainya aku bisa membantumu."
"Membantuku menjaga Patricia adalah bantuan yang paling besar. Kau juga telah menyelamatkan kami, ingat? Kurasa kami beruntung karena memilikimu."
"Oh, sayang. Kau memang pandai membuat orang merasa tersanjung dan juga bahagia."
"Kurasa itu bagian dari pesonaku." Ujar Anna bangga.
"Pagi semua." Tiba- tiba Patricia muncul dari arah belakang dan langsung mengambil tempat duduk disamping kakaknya. "Aku benar- benar kelaparan," desahnya seraya mengambil piring dan menumpuk pancake diatasnya serta menuangkan sausnya diatas. "Ah, fhenkek futon tis heman enhak. Afu selu mhehuyia."
"Patricia, habiskan dulu makanan di mulutmu baru bicara." Tegur Betrice sementara itu Anna terkikik geli. Menurutnya Patricia sangat hebat. Masih bisa mengeluarkan suara dan tidak sedikitpun memuncratkan makanan dari mulutnya. "Oh, dan jangan mulai menganggap ini lucu, Ann. Kau tahu itu tidak sopan." Betrice mengalihkan tatapannya dari Patricia ke Anna yang langsung mengubah raut wajahnya.
"Aku bilang," Patricia menelan makanannya sekali. "Pancake buatan Betrice memang ini. Aku selalu menyukainya." Ujarnya seraya mengacungkan dua jempolnya kearah wanita itu. "Bagaimana menurutmu, Ann?"
Anna cepat- cepat mengangguk, ikut mengacungkan dua jempolnya kearah Betrice, tahu kalau Betrice sangat menyukai jika seseorang memuji buatannya.
"Kalian berdua ini, kau bahkan sama sekali lebih memilih roti dibandingkan pancake buatanku." Tuduh Betrice tapi sikap wanita itu tidak semarah tadi, bahkan dari sudut mulutnya bergetar karena geli.
"Itu karena Anna sama sekali tidak menghargai arti dari cita rasa pancake buatanmu, Betrice dan dia terlalu cemburu karena tidak bisa membuat yang seenak ini." Timpal Patricia pura- pura memperlihatkan wajah mencela tapi baik Patricia maupun Betrice sama- sama tahu kalau Anna juga mampu mengubah bahan mentah yang bahkan Betrice tidak tahu menjadi sesuatu yang layak di komsumsi dan terasa enak.
"Oh begitukah, adikku sayang?" Anna memicingkan kedua matanya, pura- pura tersinggung. "Aku akan mengingatnya suatu hari dan jika Betrice tidak ada dan kau kelaparan, dengan senang hati aku tidak akan membuatkanmu apa- apa. Oh! Dan bagaimana dengan kentang tumbuk dan juga hm, chicken katsu resep rahasia ibu yang kau katakan gurih dan lezat hingga rasanya kau rela ke surga untuk mendapatkannya? Apa aku perlu menghabiskannya seorang diri? Atau memberikannya pada Ayana? Kurasa gadis itu tidak akan keberatan mendapatkan makanan surga itu."
"Oh, tidak. Jangan." Seru Patricia seakan memohon. "Ayana akan menghisap habis seperti vacum cleaner jika kau melakukannya. Aku hanya mengatakan kalau pancake buatan Betrice sangat enak, bukan berarti kau tidak mampu membuat yang seenak ini juga." Kata Patricia membela diri. "Lagipula kau juga akan merasa bersalah jika membiarkanku kelaparan seperti kucing liar dan memohon meminta makan. Itu bertentangan dengan hati nuranimu, iyakan?"
"Oh, Ann. Dia semakin pintar menyambungkan kalimatnya." Sahut Betrice geli.
"Kau benar, Betrice." Desah Anna. "Kurasa sudah saatnya aku melepaskan dia ke alam liar." Katanya sembari melirik Patricia yang membalasnya dengan senyum sumringahnya. "Tapi mungkin setelah dua tahun." Anna dan Betrice sama- sama tertawa ketika melihat raut wajah Patricia yang seakan merenggut dan langsung memasukkan sisa pancakenya ke dalam mulutnya tanpa ampun.
.
.
Jerry seharusnya kembali ke apartemennya setelah baru satu jam yang lalu dia kembali dari New York mengurus institutenya yang sempat terbengkalai selama dua tahun.
Claire dan Elena tentu saja terkejut mendapati Jerry yang kembali ingin mengurus institute itu, meskipun juga sedikit bingung karena Jerry menolak untuk menetap di New York kembali dan memilih untuk melakukan perjalanan bolak- balik antara London- New York.
Lea memintanya untuk datang ke pub setibanya ia di London. Lea mendapatkan undangan ulang tahun dari salah satu kliennya, yang diadakan di pub terkemuka di London. Sepertinya Lea masih sedikit khawatir dengan keadaan Jerry dan tidak ingin pria itu kembali ke gua pribadinya meskipun dari informasi Elena dan Claire di New York kalau hampir setiap waktu Jerry berada di kafe dan Institute miliknya, menyelesaikan segala pekerjaan yang pernah dia tinggalkan.
"Aku akan pulang." Kata Jerry seraya bangkit dari sofa tempatnya duduk. Setengah berteriak karena hingar- bingar musik di sekitarnya.
"Baiklah." Lea ikut bangkit. "Sebentar lagi Jullian akan tiba."
Kedua kening Jerry saling bertaut. "Sejujurnya aku heran denganmu, Lea. Kau memiliki Jullian yang sepertinya bersedia menuruti segala kemauanmu termasuk menemanimu ke tempat ini. Sungguh mengherankan dia justru mengizinkanmu agar bisa berduaan denganku."
"Itu karena Lea mengancam tidak akan mengajakku bicara jika datang menemaninya." Mendadak Jullian muncul dari belakang Lea dan memeluk wanita posesif. "Dan senang karena pada akhirnya kau keluar dari gua pribadimu meskipun aku mengira jika semenjak kecelakaan itu, ada sesuatu yang berubah darimu." Lanjut Jullian yang langsung mendapat sikut dari istrinya. "Aduh!"
"Aku mungkin akan senang jika kau langsung meninggalkan pria ini, Lea." Timpal Jerry.
"Jangan harap!" Balas Jullian kemudian diikuti oleh senyum mencemoohnya.
"Aku benar- benar heran dengan alasan persilisihan kalian." Kata Lea setelah memutar matanya. "Kalian berdua selalu saja terlibat suatu pembicaraan aneh seakan kalian bersedia menghancurkan apapun di dekat kalian."
Jullian membalas dengan cengiran. "Jangan khawatir, sayang." Ucapnya seraya mengecup puncak kepala Lea, lembut. "Tidak akan ada yang terluka diantara kami. Lagipula pria memiliki cara tertentu dalam komunikasi."
"Dan cara berkomunikasi kalian adalah dengan... Jerry?" Suara Lea berhenti karena Jerry tidak lagi melihat kearahnya melainkan jauh kearah belakangnya.
Kedua mata Jerry menyipit, memperhatikan seseorang yang baru saja melewati orang- orang. Wanita itu berpakaian sangat minim hingga menonjolkan segala lekuk tubuh serta hanya memakai rok yang sangat pendek dan sedang membawa nampan berisi minuman seraya tersenyum pada pria- pria yang berpapasan dengannya.
"Jadi Ann, jam berapa kau selesai malam ini?"
"Maaf Tobby. Kurasa ini akan memakan waktu yang lama." Anna tersenyum pada pria itu.
"Aku bisa menunggu." Tobby masih tetap melancarkan aksinya hingga menyentuh bagian belakang pakaian Anna yang terbuka, menyusuri belakang wanita itu pelan.
"Dan membiarkan kau menghabiskan waktumu dengan percuma?" Anna mengelak dengan sopan, menghidar dari jari- jari gemuk Tobby. "Kurasa itu bukanlah ide yang bagus."
"Kenapa tidak?" Tobby kembali mendekati Anna. "Kurasa menunggu sepadan untuk gadis secantik dirimu, bukankah begitu?"
Anna tersenyum masam. Baginya tidak mungkin jika dia harus mencari masalah di tempat dimana dia bisa mendapatkan penghasilan dan tip yang besar meskipun terkadang dia harus menemui para pria hidung belang tapi meskipun begitu, selama tidak terjadi apa- apa padanya dalam hal ini pelanggan yang memaksakan kehendaknya padanya. Anna masih bisa menghadapi semuanya.
"Maafkan aku, Tobby tapi kurasa itu bukan ide yang bagus dan bosku akan marah jika melihatku lebih banyak berbicara dengan pelanggan dibandingkan bekerja, iya kan?"
"Aku tidak peduli." Sahut Tobby seraya menarik tubuh Anna ke dekatnya, hingga membuat nampan minuman yang berada di tangannya seketika mengenai dadanya yang sedikit terbuka.
Kedua mata Tobby tiba- tiba berwarna hitam dan pria itu menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya melihat minuman yang tumpah. Anna terbelalak kaget dan jika dia memutuskan untuk menyentak tubuhnya tiba- tiba, sudah jelas gelas yang diatas nampan akan jatuh, yang berarti masalah baru untuknya lagi.
Anna baru akan menolak dengan sopan dan halus ketika mendadak lengannya di tarik kebelakang. Tak ayal lagi nampan dan gelas yang dipegangnya jatuh dengan bunyi berkelontang hingga mendapat tatapan dari orang- orang di sekitarnya.
"Oh tidak!" Pekik Anna tidak percaya dan berbalik untuk melihat siapa yang menariknya tadi ketika terbelalak.
"Apa ini maksudmu dengan pekerjaanmu yang lain?" Jerry memberinya tatapan yang seakan ingin mengulitinya dan Anna merasa seperti jiwanya baru saja dihisap keluar dari tubuhnya melihat Jerry dihadapannya.
Dibelakangnya Lea ikut memekik kata "Tuhan!" Dan tercekat membelalak melihat sosok yang berdiri dihadapan Jerry.
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS