BTY - TUJUH



"Jerry!Lepaskan!"
Jerry mengertakkan giginya ketika wanita itu menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggamannya yang sangat erat.
"Sebenarnya apa yang baru saja kau lakukan?!" Kali ini Anna tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya dan memandang pria itu yang secara keseluruhan telah menghancurkan hidupnya dan masa depannya.
"Apa kau serius menanyakan hal itu padaku?" Hatinya juga sudah diliputi kemarahan hingga tidak memperdulikan nada sinis dalam suaranya dan menyadari kalau sudah terlambat untuk menarik kalimatnya kembali.
"Brengsek, Jerr!" Sergah Anna semakin bertambah marah. Untung saja mereka sudah berada diluar hingga tidak mungkin ada orang yang melihat pertengkaran mereka apalagi didalam pub tempatnya bekerja yang sebentar lagi menjadi bukan tempat kerjanya akibat kejadian luar biasa yang baru saja dilakukan Jerry beberapa menit yang lalu. Anna menatap Jerry dengan sengit dan tahu kalau hal itu sia- sia. Anna tahu kalau pria itu menolak untuk disalahkan sepenuhnya mengingat dirinya juga turut andil di setiap bagiannya tapi egonya menolak untuk ikut dipersalahkan.
"Itu tidak akan berhasil kali ini, sayang." Ucap Jerry setelah lama mereka saling melempar tatapan tapi meskipun Jerry tidak menatap tajam seperti awal tapi dia juga tidak akan mengalah, membiarkan wanita itu kembali melakukan hal tadi. Tidak ketika ia mengetahui kalau wanita itu adalah miliknya. Hanya miliknya sepenuhnya.
"Luar biasa." Anna membalas sinis. "Sudah kukatakan hubungan ini tidak akan berhasil."
"Berhasil atau tidaknya itu tergantung dari apa yang kita berdua rasakan dan sejujurnya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku."
"Dasar sombong."
Mau tidak mau Jerry tersenyum. "Kau tahu kurasa itulah yang membuatmu terpesona padaku."
"Apa perkelahian didalam membuatmu mengalami gegar otak atau apa? Bagaimana mungkin kau bisa dengan mudahnya mengatakan hal itu? Mau dengar saranku, sebaiknya kau segera memeriksakan otakmu ke rumah sakit sebelum menjadi lebih parah."
Jerry tertawa menimpali. "Yang berarti kau juga harus ikut bersamaku." Balas Jerry yang seketika membuat kening Anna berkerut. "Karena kaulah yang membuat otakku menjadi semakin parah, bahkan setiap detiknya."
Anna mendengus.
"Dan apapun alasannya kau harus keluar dari tempat ini."
"Kau tidak bisa memerintahku."
"Ya. Aku bisa. Dan aku tidak keberatan harus memukul orang lagi yang berniat menyentuhmu hingga mati jika itu bisa membuatmu berhenti bekerja di tempat ini."
Anna memandang Jerry ngeri. Dia tidak pernah menyangka kalau pria yang bersikap lembut selama dua minggu penuh ini padanya sangat keras kepala dan otoriter. Oh! Dia memang sudah menyadari kalau Jerry keras kepala tapi memerintahnya agar berhenti dari pekerjaan yang mana bisa membantu kehidupannya dan Patricia membuatnya tidak habis pikir.
Hanya berharap agar bisa meredakan kemarahan Jerry sekaligus ingin menyentuh tubuh pria itu, Anna mendekat dan langsung memeluk Jerry.
Tubuh Jerry menegang karena sentuhan yang diberikan oleh Anna. Meskipun mereka tidak pernah berciuman bibir dan hanya berani mencium di kening tapi ada kalanya ia ingin merasakan bibir itu, mengecapnya hingga dia tidak bisa lagi memikirkan apa- apa apalagi setelah melihat apa yang sempat dilihatnya.
Anna mendongak agar bisa menatap mata Jerry. Tingginya hanya sebatas bibir Jerry dan meskipun dia selalu merasakan dorongan ingin merasakan kehangatan bibir itu tapi ada sesuatu, sesuatu yang menyiratkan jika ia melakukannya maka bukan tidak mungkin dia bisa menghentikannya dan perasaannya pada pria yang berada dalam pelukannya ini semakin bertambah setiap detiknya.
"Tidak seharusnya kau melakukan apa yang baru saja kau lakukan tadi." Anna mencoba untuk menjelaskan dengan lemah lembut.
"Aku masih bisa menolerir kejadian dulu tapi tidak kali ini, Ann. Tidak ketika dia nyaris memperkosamu secara terang- terangan di tempat kotor itu."
Anna meringgis ketika mendengar kalimat Jerry, membuat tubuhnya seketika tegang.
Anna tidak tahu bagaimana kejadiannya. Ia hanya disuruh melayani pelanggan di lantai atas, tempat para tamu VVIP biasa ada. Hal selanjutnya yang terjadi adalah dia sudah ditarik hingga bagian belakangnya yang sudah minim robek ketika hendak melarikan diri dan entah bagaimana dia sudah berada diatas sofa dengan tubuh pria itu diatas tubuhnya. Dia tidak bisa berteriak karena hingar musik tapi apa yang selanjutnya terjadi adalah mendadak tubuh pria diatasnya terangkat dan ketika matanya sudah bisa memfokuskan diri. Dilihatnya Jerry sudah melayangkan beberapa pukulan ke tubuh pria tadi hingga Anna sadar berusaha menjauhkan Jerry tepat ketika Mona datang beserta pengawal lainnya dan memandang dirinya ngeri. Sejak itulah dia tahu kalau dia tidak akan selamat kali ini.
"Hal itu tidak akan terjadi lagi." Gumam Anna mencoba mencari penenangan dalam pelukan Jerry dan seperti mengetahui apa yang dibutuhkan oleh wanita itu, Jerry semakin merapatkan tubuhnya dan mencium puncak kepala Anna lembut.
"Tidak akan ada lain kali, sayang."
Anna tersentak dari tempatnya, kembali mendongak agar bisa bertatapan dengan Jerry.
"Kau tahu kalau kau tidak bisa lagi berada di tempat itu."
Anna menggelengkan kepalanya, melepaskan diri dari Jerry. Dia perlu berpikir jernih. Jika dia keluar dari tempat dimana dia bisa menghasilkan uang lebih banyak maka itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia lakukan tapi apa yang dikatakan oleh Jerry juga benar, tempat itu tidak cocok dengan dirinya. Terlalu banyak yang menggodanya disana. Dia masih bisa bertahan dengan pria yang menggodanya tapi jika menyentuh, kadang dia berpikir tidak harus merasakan hal itu lagi. Mona selalu lebih mementingkan pelanggan tetapnya apalagi yang memberikan tip paling besar padanya dan sebagai pelayan yang baru bekerja, dia tidak memiliki hak untuk menyuarakan pendapat.
"Aku bisa mengatasinya." Katanya pada akhirnya.
Jerry menatap Anna lebih seksama. Rasanya ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Apa yang sudah dialaminya. Wanita itu tidak selalu menceritakan kehidupannya dan melihat apa yang tadi dilihatnya semakin membuatnya penasaran.
"Apa kau memiliki barang lain selain dari yang kau kenakan sekarang?" Tanya Jerry kemudian.
Sekilas Anna menundukkan kepalanya dan memperhatikan penampilannya. Sudah jelas penampilannya saat ini sangat berantakan. Baju tipis dan pendek itu sudah robek di beberapa bagian, membuatnya menggigil.
"Ya. Ada di loker pelayan. Aku akan pergi mengambilnya dan mengganti pakaian ini." Lalu tanpa menunggu balasan dari Jerry, Anna berlari dan menyelinap dari pintu belakang.
Anna melepas pakaiannya dengan hati- hati. Sudah jelas tidak ada yang bisa ia lakukan kali ini. Mona sudah terlalu serin menolerir kelakuannya apalagi jika itu menyangkut pelanggannya tapi dibandingkan itu semua dia memikirkan Patricia. Apa yang harus ia lakukan kelak jika tidak memiliki uang? Bagaimana ia harus membayar kebutuhan mereka kelak? Tentu saja bekerja di toko buku dan menjadi pengurus anak selama beberapa jam tidak akan bisa menyokong kehidupan mereka kelak.
Dia baru saja memakai jeansnya dan hendak memakai kaos ketika matanya tertumbuk pada memar di lengan dan tanda merah di lehernya.
Terdiam.
Dia sudah mencoba untuk tidak menggigil dihadapan Jerry tadi. Rasa takut ketika menyadari kalau kali ini dia tidak akan selamat ketika sebelumnya berusaha untuk menghindar dari orang- orang yang secara terang- terangan menginginkannya.
Tapi melihat memar dan tanda itu di tubuhnya, perasaan menggigil itu datang lagi, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ruang pendingin di tempatnya sekarang.
Dia menangis untuk pertama kalinya untuk sekian lama. Bahkan dia tidak pernah menangis lagi setelah kecelakaan itu merenggut kedua orang tuanya. Rasa sakit dan kehilangan itu seketika menghilang digantikan dengan Patricia, satu- satunya keluarga yang membutuhkan dirinya.
Dia menangis entah berapa lama hingga tidak menyadari seseorang telah menyelinap dan mendekatinya.
"Maaf. Maafkan aku, sayang." Jerry membawanya kedalam dekapannya dan memeluknya sementara suaranya berusaha meredam diantara isak tangis wanitanya. "Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan melindungimu."
Anna ingin menampik dan mengatakan kalau itu tidak mungkin tapi dia tidak bisa. Tidak ketika dia bahkan sulit mengeluarkan suara diantara isak tangisnya.
Baru setelah beberapa menit, Anna baru bisa mengendalikan dirinya. Dengan mata merah dan hidung yang juga merah, Anna berusaha untuk menyunggingkan senyum. Jerry tidak mengatakan apa- apa dan juga tidak memperlihatkan ekspresi apapun bahkan ketika Anna menyadari kalau dia berdiri setengah telanjang dihadapan pria itu tapi sudah terlambat untuk bersikap malu. Toh, Jerry pasti sudah melihat semuanya sebelum memeluknya tadi.
Jerry memperhatikan ketika Anna membalikkan tubuhnya agar bisa memakai kaosnya, meskipun darahnya berdesir karena bentuk tubuh yang dimiliki oleh Anna tapi juga ada perasaan marah ketika melihat luka memar dan tanda yang berada di tubuh wanita itu dan dalam hati menekankan akan membalas perbuatan pria yang melakukan hal itu padanya.
Saat itulah napasnya seakan ikut tersentak.
"Ayo." Anna berseru setelah menutup pintu lokernya dan melangkah lebih dulu, meninggalkan Jerry.
Baru setelah Jerry berhasil menyusulnya, Anna berbalik dan menyunggingkan senyumnya.
"Terima kasih untuk hari ini, Jerr. Kau pasti sudah jijik padaku tapi apapun itu terima kasih atas semua yang kau lakukan."
Jerry merasa jiwanya tersedot keluar.
"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita tapi aku berjanji akan melunasi utangku padamu."
Anna menunggu Jerry berbicara tapi yang dilakukan pria itu hanya diam sambil memandanginya. Anna sudah memikirkan segalanya dan meskipun rasanya menyakitkan tapi dia harus melakukannya. Jerry tidak perlu terlibat dalam kehidupannya. Tidak hari ini. Tidak nanti.
Setelah mengambil napas panjang, Anna berbalik untuk pergi meninggalkan pria yang mulai dicintainya itu dan kembali menahan diri agar tidak menangis.
Baru beberapa langkah ia melangkah ketika tubuhnya ditahan dari belakang.
"Apa kau menangis lagi?" Suara Jerry yang memeluknya dari belakang seakan memberinya perasaan tentram.
"Tidak." Jawabnya tapi ia tahu suaranya bergetar karena itu.
Dengan pelan, Jerry membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Anna menunduk, tidak berani menatap wajah Jerry. Tahu dia tidak akan kuat jika melihat wajah itu tapi Jerry mengangkat dagunya hingga matanya bisa menatap kedua mata Jerry.
"Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya." Ucap Jerry perlahan. "Tapi meskipun begitu aku benci melihatmu meneteskan air mata apalagi jika itu karena pria lain."
"Ini bukan..."
"Berjanjilah satu hal padaku. Kau tidak akan menangis lagi."
"Jerry."
"Ya. Sebut namaku, sayang." Jerry menatapnya seakan Anna lah hidupnya. "Dan akan kukatakan kalau aku mencintaimu." Anna ingin membalas tapi langsung diredam dengan ciuman dari Jerry.
Ciuman itu seperti menunjukkan penantian yang sangat panjang. Tidak menggebu- gebu tapi penuh kelembutan seakan Jerry ingin menumpahkan semua perasaannya di bibir mereka, membuatnya melebur menjadi satu.
"Jerry?" Anna terengah- engah ketika Jerry menempelkan keningnya di kening Anna seakan menolak untuk dipisahkan.
"Aku mencintaimu dan sangat merindukanmu, Ann."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS