IY - ENAM BELAS

"Jerr?"

"Hm?"

"Apa kau tidak mau mandi?"

"Tidak," dia menjawab masih memberikan kecupan- kecupan ringan di sepanjang tulang bahu wanitanya "Dan kau sudah berbuat curang." Lanjutnya pelan tapi juga terdengar tajam di telinga Cassie tapi justru membuat wanita itu tertawa.

Tidak pernah terpikir dalam benak Cassie kalau pada akhirnya ia akan melakukannya lagi bersama Jerry. Kejadian di pantai kemarin sore ditambah dengan suasananya yang begitu romantis membuat otaknya mendadak macet. Hal terakhir yang dia ingat adalah mereka menyewa sebuah kamar di hotel terdekat dan melakukan apa yang pernah mereka lakukan tapi kali ini tanpa alkohol di dalamnya.

Cassie yang lebih dahulu bangun dan memutuskan untuk sekalian membersihkan diri. Claire sudah menghubunginya setengah jam yang lalu dan berencana akan melakukan shopping bersama ketika di dengarnya pintu kamar mandi di buka dari luar dan menampilkan tubuh Jerry dalam balutan handuk di sekeliling pinggangnya.

"Claire akan marah jika aku terlambat menemaninya hari ini," ucap Cassie ketika jari- jari Jerry sudah menyelusuri sepanjang lengan Cassie yang telanjang. Untung saja ketika Jerry masuk, Cassie sudah selesai mandi dan hanya menutupi tubuhnya dengan handuk yang berwarna sama dengan Jerry.

"Dan aku sudah marah karena kau akan pergi tanpa membangunkanku lebih dulu," balasnya membuat Cassie tertawa kecil.

"Maaf. Aku hanya tidak ingin membuatmu terbangun." Katanya setelah membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan Jerry.

"Satu- satunya yang membuatku terbangun adalah karena aku tidak merasakan kehadiranmu di sampingku," lalu kedua matanya menyipit curiga. "Aku curiga ini adalah taktik agar kau bisa kabur dariku secepat yang kau bisa, iya kan?"

Cassie tertawa, "Buat apa aku melakukan itu? Kau pasti akan menangkapku jika aku berani melakukannya."

"Ya. Kau benar. Aku tidak akan pernah melepasmu. " Katanya disusul suara tawa yang keluar dari bibirnya. "Dan ngomong- ngomong, mau kemana kalian hari ini?" Tanyanya seraya menempatkan kedua tangannya di belakang pinggang Cassie sementara Cassie menaruh kedua tangannya di sekitar leher Jerry.

"Hm, entahlah." Cassie menggigit bibir bawahnya, tampak sedang berpikir. "Claire hanya mengatakan kalau dia ingin membeli sesuatu setelah itu mungkin kami akan makan siang di suatu tempat. Kenapa?" Tanyanya ketika Jerry hanya diam sambil menatap kearah bibirnya.

"Aku tidak tahu kalau kau bisa begitu seksi dengan hanya berpikir?"

"Apa?" Serta merta kedua pipi Cassie mendadak terasa panas.

"Bibir ini seakan mengundangku untuk merasakannya lagi." Katanya seraya mengelus lembut bibir Cassie dengan ibu jarinya.

Oh! Cassie mengerjap mencoba meredakan debaran jantungnya yang mendadak menjadi lebih cepat tapi sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, dia sudah merasakan bibir Jerry di bibirnya membuat otaknya mendadak meledak menjadi serpihan kecil- kecil.

Ciuman panas mereka terpaksa berhenti ketika mendadak Cassie mendengar suara dering ponselnya yang berdering nyaring.

"Ya, Claire?" Ujar Cassie masih terengah- engah karena ciuman tadi.

"Dimana kau? Aku tadi menelpon Bibi Monica dan menanyakan keberadaanmu tapi dia mengatakan kalau kau tidak pulang semalam. " Diam. "Dan kenapa kau terdengar seperti baru saja lari di kejar anjing? Apa terjadi sesuatu?"

"Hah? Apa? Oh. Tidak. Aku baik- baik saja. Beritahukan saja dimana tempatnya dan kita akan bertemu disana." Cassie terpaksa memukul tangan Jerry, menghentikan pria itu menciumi sepanjang lehernya.

"Aku tidak yakin. Dimana kau? Aku akan menjemputmu."

"Kami sedang sibuk, Claire. Bisakah kau menghubungi sepupumu lagi nanti?" Mendadak Jerry bersuara, membuat Cassie membelalak.

"Apa... tadi itu... Jerry?"

"Eh?"

"Oh Tuhan! Kau harus menceritakannya! Oh, jangan aku sudah tahu apa yang kalian lakukan. Aku akan memberitahukan ini pada Elena. Astaga! Pantas saja Bibi Monica terdengar sangat bahagia ketika kuhubungi. Pasti dia juga sudah bicara dengan Tessa."

"Apa? Claire, bicara pelan- pelan aku..."

"Sudahlah. Aku akan menghubungi Elena. Nikmati waktu kalian dan," mendadak Claire terdengar mengecilkan suaranya seperti sedang berbisik. "Kau harus menceritakannya ketika kita bertemu." Klik.

Cassie hanya bisa diam di tempatnya sekaligus terperanggah.

"Ada apa?"

Dialihkannya pandangannya dari ponsel di tangannya ke wajah Jerry.

"Kurasa... Claire menjadi gila."

Jerry terlihat sedang menahan tawanya. "Memang apa yang dikatakannya?"

"Entahlah," Cassie mengendikkan bahunya, bingung. "Dia berbicara sangat cepat dan lancar setelah dia tahu kalau kita bersama."

"Dan?"

Cassie menatap kedua mata Jerry lekat. "Dan dia... bahagia. Itulah yang bisa kutangkap dari nada suaranya."

Jerry tersenyum. "Kurasa pada akhirnya dia sudah mengerti."

"Apa?" Cassie terdiam beberapa saat ketika sebuah pemahaman mendadak datang. Oh!

"See? Nah, sekarang tidak ada salahnya kalau kau mandi lagi." Sahut Jerry dengan senyum di wajahnya, semakin membuat Cassie merona sekaligus bergairah.

.
.

Cassie tidak pernah mengira kalau hari ini dia akan melalui hari yang begitu melelahkan dan sangat panjang- bahkan dengan latihan dan konser di beberapa negara dulu tidak pernah membuatnya selelah ini dan ini semua berkat Claire.

Jerry memang mengantarnya hingga ke salah satu pusat perbelanjaan ternama di New York dan pergi setelah melihat Elena dan Claire. Elena bahkan mengikutsertakan Shane karena tidak ada yang bisa menjaga. Leo dan Leah sama- sama harus masuk sekolah dan siang ini Elena berencana akan menjemput mereka.

Setelah Jerry menghilang dari arah pandangan mereka, dengan cepat Claire menyeret sepupunya itu dan mulai memaksanya bercerita. Satu hal yang tidak bisa Cassie percayai adalah Claire seakan telah menyiapkan ratusan pertanyaan untuknya. Mulai dengan apa yang ia dan Jerry bicarakan dan berakhir dengan menginap di hotel. Claire jauh lebih antusias dibandingkan dirinya sementara Elena sesekali menambahkan. Untuk kali pertama dalam hidupnya, Cassie berharap tidak mendapatkan sepupu yang secerewet Claire tapi di lain pihak, dia juga menyayangi sepupunya itu. Claire bisa saja terlihat kejam di permulaan tapi dia juga begitu protective jika menyangkut dengan keluarganya.

Jerry tadi sempat menceritakan pada Cassie bagaimana marahnya Claire ketika ia hendak memutuskan pertunangannya dengan Jerry dulu. Cassie tidak pernah mengira kalau Claire akan senekat itu, mengingat Cassie lah yang memutuskan tapi justru pria itu yang dipersalahkan. Di satu sisi Cassie ingin mengutuk sepupunya itu tapi di sisi lain ingin menenggelamkannya saja di samudra atlantik.

Cassie baru saja kembali dari rumah Elena dan melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul sebelas malam ke rumahnya dan hendak melangkah menuju kamarnya ketika ia mendengar bunyi pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

Temui aku.

Tidak perlu berpikir siapa yang baru saja mengirimkan pesan itu padanya dengan menggunakan nomor baru. Hanya satu orang dan orang itu sendiri yang menghubunginya setelah membuat kehebohan.

Suara hentakan musik yang menggelegar seketika menyambutnya dan melihat kalau Dj yang saat ini sedang melakukan aksinya memanaskan suasana malam di klub. Masih mengingat tempat yang dulu, Cassie menginjakkan kakinya menaiki anak- anak tangga yang kecil ketika akhirnya melihatnya, sedang duduk bersandar di sofa sementara sebelah tangannya memegang segelas Vodka.

"Wow baby." Serunya dengan senyum lebar. "Kau terlihat berbeda sekaligus sangat cantik dengan penampilanmu saat ini."

Cassie tersenyum dan mulai berkata. "Senang melihatmu lagi, Matt."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS