LOVE MISSION - 19

Prang....

"Mama... mama...."

"Aku akan membawa anak kita." Kata wanita itu sambil menahan air matanya agar tidak terus tumpah sementara Kimberly kecil terus bergelayut di tangannya, tidak henti- hentinya mengeluarkan isak tangis.

"Ini semua salah paham, Aura. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku di jebak!" Balas sang pria tidak kalah frustrasinya.

"Lalu bagaimana bisa ada fotomu bersamanya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian? Aku tidak bodoh, Will. Aku tahu! Aku tahu apa yang kalian lakukan dibelakangku".

Pria yang bernama Will itu semakin mengerang frustrasi. "Harus berapa kali aku harus menjelaskan padamu? Aku tidak tahu!"

Aura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakan semuanya. Sejak awal hubungan kita tidak bisa berjalan baik. Aku tahu itu".

"Tidak. Kita bisa melaluinya, sayang. Kita sudah berjalan sejauh ini. Percayalah! Aku tidak pernah menghianatimu"

"Aku tidak bisa. Selamat tinggal, Will"

Aura lalu berjalan meninggalkan Will yang masih terdiam sambil membawa Kimberly kecil yang terus saja meronta.

"Kimmy mau sama papa... Kimmy mau sama papa"

"Tidak! Dengarkan mama . Papa sudah tidak ada. Sekarang yang ada mama. Jangan menyebut dia lagi".

"Kimmy mau sama papa"

"Diam, Kimmy!" Bentak Aura seraya memasukkan Kimberly kecil kedalam mobil dengan paksa, mengindahkan tangisan Kimberly yang semakin keras.

Aura baru saja akan masuk ke dalam mobilnya ketika disaat yang bersamaan dia di dorong semakin kedalam oleh Will, menggantikan dirinya dibelakang kemudi.

"Papa?"

"Apa yang kau lakukan? Keluar dari mobilku sekarang juga!" Bentak Aura tapi justru tidak diperdulikan oleh Will dan hanya menyalakan mobilnya meninggalkan tempat mereka.

"Apa kau tidak mendengarku?! Keluar sekarang juga!"

"Pakai seatbeltmu, Aura. Kau bisa membahayakan dirimu". Ujar Will

"Siapa kau hingga bisa memerintahku. Keluar sekarang juga! Aku tidak mau melihatmu lagi!"

"Aku hanya akan mengantarmu setelah itu aku akan pergi".

"Jangan pergi, papa" pinta Kimberly sekali lagi dia mengeluarkan air matanya.

Kimberly kecil tidak pernah menyangka kalau akan melihat pertengkaran dua orang yang sangat dikaguminya. Di matanya, kedua orang tuanya adalah panutan sekaligus idola. Kala itu usianya baru menginjak delapan tahun dan mendapati dua orang yang menjadi panutannya bertengkar untuk pertama kali, membuatnya kaget sekaligus sedih.

"Aku sudah tidak membutuhkanmu! Berhenti sekarang juga!" Aura berusaha untuk menghentikan paksa mobil yang mereka kendarai.

"Hentikan Aura! Kau bisa membuat kita celaka!" Will berusaha mencegah istrinya untuk tidak berbuat nekat.

"Aku tidak peduli! Aku bahkan sudah muak denganmu!" Sergah Aura masih terus berusaha untuk mengambil alih kemudi.

"Papa... mama..." Kimberly kecil berdiri dari duduknya guna menghentikan pertengkaran kedua orang tuanya ketika mendengar Will berteriak.

"Apa yang kau lakukan?! Kembali duduk di tempatmu, Kim. Kau bisa terluka".

"Papa..."

"Dan pasang seatbeltmu. Hentikan Aura!"

Ting... ting...

Brakkk....

Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Yang bisa Kimberly rasakan adalah mobil yang mereka kendarai berguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti. Tidak terdengar suara apa- apa hingga suara sirene polisi juga ambulans datang.

Kecelakaan itu merenggut semuanya. Will dan Aura meninggal di tempat. Menurut para saksi, mobil sempat melaju dengan sangat cepat dan tidak melihat pembatas jalan serta truk yang kebetulan lewat.

Selang beberapa minggu, orang- orang dari panti sosial datang untuk menjemput Kimberly kecil dan membawanya ke panti sosial dikarenakan tidak ada yang bisa merawatnya. Selama berada di panti sosial, Kimberly tidak menemukan apa yang disebut rumah. Anak- anak lain justru memanggilnya dengan sebutan anak setan atau orang gila dan tidak ada yang mau berteman dengannya.

Kimberly yang ceria telah berubah menjadi sosok yang pendiam dan tidak bisa lagi menyunggingkan senyumnya hingga ketika dia menginjak usia lima belas tahun Sophia melihatnya, sedang berdiri di depan etalase toko tanpa memperdulikan kalau beberapa pria terang- terangan memotretnya.

Perawakannya yang tinggi, tubuh yang proporsional ditunjang dengan wajahnya yang sangat cantik membuat Sophie memutuskan untuk menjadikannya seorang model dan mulailah Sophie mencari tahu tentang asal- usul Kimberly yang sempat membuatnya tercengang dan perlakuan apa saja yang sudah diterimanya selama berada di panti sosial.

Tidak ada yang tahu kalau semenjak dia menginjak usia dua belas tahun, Kimberly hampir selalu menjadi korban kekerasan seksual tapi selalu berhasil lolos dan sebagai hukuman atas ketidakpatuhannya dia akan mendapatkan cambukan atau bahkan tidak diberi makan hingga berhari- hari oleh pengurus panti. Tidak ada yang berani melapor karena jika ada yang melapor maka bisa dipastikan kalau tidak akan lagi tempat untuk hidup dan sejak awal Kimberly memang sudah dibenci jadi tidak akan ada yang perduli.

Sophie harus mengeluarkan jurus menggertak sekaligus bernada ancaman agar bisa mengeluarkan Kimberly dari tempat itu. Untung saja Sophie memiliki koneksi yang tidak bisa dianggap remeh. Tidak cukup sehari, surat pengambil alihan atas nama Kimberly akhirnya jatuh ke tangan Sophie tapi luka yang ditimbulkan masih belum bisa dikatakan sembuh karena gadis tidak lagi bersikap ceria seperti sedia kala. Psikiater yang kebetulan memeriksa Kimberly mengatakan kalau Kimberly berusaha untuk tidak mengingat kejadian yang dulu menimpanya dengan kata lain, dia memilih untuk menyimpannya di bagian terdalam otaknya seperti kotak Pandora yang tidak boleh dibuka.

***

Jayce mengerang frustrasi. Sudah hampir dua minggu sejak kejadian itu dan tidak sekalipun dia pernah melihat Kimberly. Gadis itu seakan ikut ditelan bumi.

London mengatakan kalau Kimberly sempat melihat Jayce dan Rhea yang sempat bersitegang tapi setelah itu London tidak melihat gadis itu lagi. Kimberly tidak mengatakan apa- apa ketika akan pergi, yang sempat membuat baik Jayce maupun London kelimpungan mencari keberadaan gadis itu.

"Hentikan, Jayce. Dia hanya memperalatmu. Model itu hanya menganggapmu sebagai salah satu mainannya". Geram Rhea tidak tahan melihat Jayce yang sering kali menanyakan keberadaan gadis itu. "Semua yang ditunjukkan padamu hanya pura- pura. Kau tahu itu dengan jelas".

Jayce sengaja membalikkan badannya agar bisa bertatapan dengan Rhea.

"Dengarkan aku, Rhea. Aku tidak peduli apakah Kimberly hanya memanfaatkanku atau tidak jadi berhentilah untuk terus- terusan mengangguku".

"Kau dulu mencintaiku".

Jayce lantas tersenyum. "Kau benar. Aku mencintaimu tapi itu dulu. Perasaanku padamu sudah hilang tak berbekas".

"Kau kejam!" Sontak Rhea berdiri dari duduknya. "Aku sengaja pulang dari Aussie karena aku ingin kembali padamu".

Jayce tertawa. "Ironis bukan? Dulu aku memelas dan memintamu untuk tidak mengikuti pria itu dan belajar disana dan yang kau lakukan adalah meninggalkanku tanpa sekalipun menoleh".

"Aku minta maaf. Sungguh. Aku menyesal melakukannya. Aku akan melakukan apa saja agar bisa mendapatkan maaf darimu. Ku mohon".

"Aku memaafkanmu biar bagaimana pun kita sudah lama saling mengenal." Dia melihat sebuah senyum yang mendadak mengembang di bibir Rhea dan mau tidak mau dia juga ikut tersenyum. "Tapi itu tidak akan mengubah apapun. Hatiku sudah berada padanya tanpa kusadari." Lanjutnya yang langsung membuat senyum di bibir Rhea redup.

"Aku tidak percaya." Sergah Rhea marah dan London hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa keras kepalanya Rhea, gadis yang dikenalnya sangat baik hati itu. "Aku tahu kalau selama ini kau masih memiliki perasaan padaku. Itulah sebabnya kau tidak menerima pernyataan cinta dari siapapun".

Jayce membalikkan tubuhnya menghadap London dan menyadari darimana informasi ini berasal. Untuk sesaat Jayce menghembuskan napasnya pelan dan berbalik untuk kembali melihat Rhea.

"Kurasa kau salah paham padaku, Rhea. Alasan aku tidak menerima satupun dari mereka karena aku tahu kalau mereka hanya sekedar kagum padaku dan aku tidak ingin memanfaatkan kekaguman mereka padaku"

"Terus apa bedanya mereka dengan dia? Apa yang dilakukannya bahkan jauh lebih buruk lagi"

"Bukankah tadi aku sudah bilang, kalau dia sudah mengambil hatiku tanpa kusadari? Alasan kenapa dia melakukannya, aku tidak bisa memberitahumu"

Hening sejenak.

"Jangan lakukan ini padaku, Ace." Rengkuh Rhea ke tubuh Jayce, mengindahkan belalak baik Jayce maupun London. "Aku mencintaimu". Kata Rhea.

Sementara itu, Kimberly baru saja keluar dari ruang Prof. Noor setelah mengumpulkan tugasnya dan berjalan melewati pepohonan kampus ketika dia terdiam melihat pemandangan di depannya.

Jayce juga ikut terdiam melihat sosok yang selama beberapa hari ini seperti di telan bumi ketika mendadak dia mengerutkan keningnya ketika dilihatnya Kimberly mundur beberapa langkah dan langsung berbalik. Detik selanjutnya dia sudah melihat kalau gadis itu sudah mengambil langkah seribu meninggalkannya.

"Sial, apa yang sedang dilakukannya?" Dengan paksa Jayce melepaskan pelukan Rhea dan berlari agar bisa mengejar sosok yang selama ini menghindarinya.

"Jayce! Hei Ace!"

Jayce terus berlari mengejar Kimberly tanpa memperdulikan teriakan Rhea maupun London dibelakangnya.

Aku tidak akan melepasmu kali ini. Tekad Jayce dalam hati

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS