LOVE MISSION - 27
Kali ini Kimberly melakukan semua sesi pemotretannya dengan sempurna atau bahkan malah kelewat sempurna hingga membuat Walker yang tadinya tidak yakin akan memotret Kimberly justru malah beralih untuk tidak berhenti mengikuti segala gaya yang ditampilkan Kimberly.
Meskipun semua orang yang berada di studio Walker telah melihat dan mendengar tawa gadis itu tapi mereka tidak pernah berhenti mengagumi sosok sang model, yang menurut mereka bak malaikat tanpa sayap.
"Okey beauty. Nice shoot for today!" Seru Walker mengakhiri sesi pemotretannya yang memakan hampir lima jam.
"Kau melakukannya dengan baik, beauty" ucap Walker ketika Kimberly mendekati dirinya.
"Terima kasih, Walker. Aku senang kau tidak marah padaku karena peristiwa kemarin" balas Kimberly merasa bersalah karena menghancurkan pemotretannya yang kemarin, sehingga orang- orang disekelilingnya harus rela ikut menanggung semuanya belum lagi dia juga telah membuat fotografer favoritnya itu menjadi marah.
"Jangan khawatir, beauty. Kau telah membalas hal yang kemarin dengan hari ini, " balasnya seraya tersenyum menenangkan. "Aku bahkan sangat yakin kalau fotomu kali ini akan membuat para sponsor semakin jatuh cinta padamu." Tambah Walker semakin membuat Kimberly berseri- seri.
"Miss Moss?"
Kimberly yang mendengar namanya disebut seketika berbalik dan menemukan seorang wanita dengan rambut digelung serta mengenakan kacamata bertungkai, membawa pena dengan mata yang tajam serta memegang alat perekam di sisi tangannya yang bebas. Wanita itu memberi Kimberly tatapan yang haus akan imformasi meskipun ada senyum yang tersungging di bibirnya yang tipis dan berwarna merah darah, sekilas wanita itu mengingatkan Kimberly pada Rita Skeeter, sang wartawati dalam film Harry Potter yang dulu sering ditontonnya.
Untuk sesaat Kimberly memperhatikan sekelilingnya, mencari tahu keberadaan Sophie. Sophie biasanya tidak membiarkan siapapun mendekati dirinya. Bahkan jika ada seseorang yang hendak mewawancarainya maka itu membutuhkan pengawasan dari darinya.
"Miss Moss" panggil sang Rita Skeeter lagi padanya, membuatnya kembali menoleh pada sosok dihadapannya. Walker sudah pergi daritadi. Untuk masalah yang satu ini, Walker tidak mau pusing karena menurutnya urusan media dan segala tetek bengek infotaiment bukanlah masuk dalam kategori pekerjaannya.
"Eh ya?"
Masih dengan senyum lebarnya wanita itu mulai memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, nama saya Rita," Kimberly nyaris berteriak girang ketika menyadari kalau nama wanita dalam karakter Harry Potter itu sama dengan nama wanita yang berdiri dihadapannya ketika kembali mendengar suara itu kembali. "Rita Bones."
"Oh" tanpa sadar Kimberly menghela napas panjang.
"Maaf?"
"Eh.. oh maafkan aku" ucap Kimberly cepat- cepat ketika menyadari kalau kedua kening wanita didepannya ini berkerut, membuat kacamatanya merosot beberapa senti dari hidungnya.
Sekali lagi wanita yang bernama Rita itu tersenyum. "Saya adalah wartawan dari Elle Magazines. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat karena anda telah berhasil terpilih sebagai brand ambassador eau de perfume di Prancis."
"Terima kasih"
"Apa yang membuat anda hingga dapat mengalami perubahan yang signifikan yang seperti ini? Yang mana, anda dulu sama sekali jauh dari kesan ceria dan bahagia seperti ini?"
"Eh?" Kimberly mengerjap kaget mendapatkan pertanyaan dadakan seperti ini.
"Apa ini adalah taktik anda agar popularitas anda tidak tergantikan dengan model- model baru yang terus saja berdatangan?"
"Eh?"
"Atau diam- diam anda memiliki suatu rahasia atau mungkin anda mendapatkan bantuan dari orang lain?" Tanya Rita penuh selidik.
"Itu..."
Kimberly baru saja akan menjawab ketika mendengar suara tak asing yang baru saja menghampirinya.
"Selamat sore, Miss Bones" sapa Sophie- entah muncul darimana, membuat raut wajah Rita seketika berubah lalu kembali menyunggingkan senyum.
"Selamat sore, Misa Rios. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu." Balas Rita, menyambut uluran tangan Sophie.
"Ya. Sudah lama sekali, Rita. Bagaimana hingga anda bisa masuk ke tempat ini?"
Meskipun Sophie mengatakannya dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya tapi siapapun akan tahu kalau ada nada mengintimidasi dalam suara itu.
Sejenak Rita terkekeh, "oh jangan salah sangka, Sophie. Saya hanya sekedar lewat ketika seseorang memberitahu kalau seorang Kimberly Moss menjalani pemotretan disini"
"Oh, begitukah?"
"Ya. Rasanya menyenangkan melihat seorang Kimberly Moss pada akhirnya tersenyum. Apakah anda tahu apa pendapat orang- orang diluar sana setelah melihat sisi lain dari model anda itu, Sophia?"
"Oh. Saya tahu. Bahkan sangat tahu tentang itu."
"Dan anda tidak memberinya kesempatan untuk melakukan sebuah wawancara? Itu akan membentuk opini publik tentangnya, bukan?"
Sophie tersenyum. "Tentu saja saya tahu apa pendapat publik tentang itu tapi saya masih tetap menolak wawancara yang akan dilakukan oleh Kimberly. Saya harap anda bisa mengerti."
Baik Sophie maupun Rita sama- sama saling menatap. Siapapun tahu kalau Rita adalah seorang wanita yang tidak pernah puas dalam mengorek kehidupan orang- orang yang memiliki pengaruh yang kuat di mata publik dan sejak dulu pula, dia selalu penasaran dengan kehidupan Kimberly yang menurutnya sangat misterius dan tertutup.
"Baiklah, Miss Rios. Saya mengerti tapi tidakkah anda merasa kalau kebanyakan paparazzi mulai sedikit curiga dengan perubahan yang dialami Miss Moss?" Kembali Rita berusaha mencari celah. Rita tahu kalau sangat sulit menembus pertahanan yang dimiliki oleh Kimberly jika ada Sophia Rios didekatnya dan itu semakin membuat Rita yang memang menyukai tantangan semakin tertantang untuk mengorek kehidupan sang model.
Lagi- lagi Sophie hanya menyunggingkan senyum. "Bukankah sudah menjadi tugas kalian mencari tahu kehidupan orang yang diincarnya?"
Rita terdiam lalu tidak lama kemudian dia kembali tersenyum.
"Oh ini semakin membuat saya merasa penasaran dan saya yakin yang lainnya pun merasakan apa yang saya rasakan," lalu pelan- pelan Rita mendekati Sophie dan berbisik di telinga wanita itu. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Sophia?"
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Kimberly tiba di apartemennya setelah sebelumnya diantar oleh Sophie.
"Ingat Kimmy. Fashion Show di Milan sangat penting untuk karirmu selanjutnya. Usahakan jangan sampai ada insiden- insiden tak terduga yang akan menghancurkan ini semua termasuk mengenai hubunganmu dengan Jayce"
Itulah kalimat yang tadi dilontarkan Sophie padanya ketika Sophie mengantarnya. Kimberly baru saja selesai memakai kaos lengan panjang dengan leher lebar hingga menampilkan leher dan bahunya ketika mendengar suara ponselnya yang berdering.
"Hai Kimberly"
"London?"
"Apa kau mau kemari?"
Kedua kening Kimberly sontak bertaut. "Kemana?"
"Kau bisa melihatnya sendiri. Apa kau mau?"
"Hm, entahlah London. Aku tidak yakin kalau Sop..."
"Jayce juga ada disini"
"Eh?"
"Kau mau?"
Untuk sesaat Kimberly terdiam dan pemikiran akan bertemu Jayce serta merta kembali membuatnya tersenyum.
"Tentu. Dimana?"
Setengah jam kemudian. Kimberly telah tiba di tempat yang diberitahukan oleh London melalui pesan singkat dan mengernyit. Tempat ini penuh dengan orang- orang dan suara deru motor yang saling berkejaran. Tidak ada seorangpun yang mengenali Kimberly saat ini. London telah mengatakan dalam telponnya tadi kalau Kimberly tidak boleh tampil mencolok tapi meskipun begitu, tidak sedikit orang terutama pria yang bersiul kearahnya bahkan ada yang terang- terangan ingin mengajaknya kencan.
Saat ini Kimberly memakai kaos yang tadi dipakainya tapi dengan tambahan rok mini dengan beberapa lipitan disekitarnya setinggi paha, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan juga mulus. Kimberly baru saja akan mencari keberadaan London ketika matanya menangkap sosok yang dicarinya, yang ternyata melambai kearahnya.
"Wow," untuk sesaat London bersiul pelan memperhatikan sosok didepannya, "you look sexy, Kim"
"Aku tidak melihat Jayce. Apa dia belum datang?" Tanyanya seraya menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang dicarinya.
"Oh. Dia sedang berada disana. Sebentar lagi dia akan lewat sini." Jawab London seraya menunjuk jalanan yang lenggang dan hanya terdengar suara deru motor dari kejauhan.
Kimberly baru saja akan bertanya ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang, membuatnya berbalik.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Ray?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kimberly. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ray menatap Kimberly marah.
"Eh aku..."
"Apa kau tidak tahu tempat apa ini? Tidak seharusnya kau..."
"Hei bung," sela London marah. "Kau tidak punya hak untuk melarang siapapun datang kemari. Ini tempat umum dan semua orang berhak untuk..."
"Naik apa kau kesini?" Tanya Ray mengindahkan ucapan London barusan.
"Eh tak...si?"
"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Ray seraya meraih tangan Kimberly dan mengenggamnya.
"Hei bung, apa sih masalahmu?" Seru London tidak terima karena tidak dipedulikan oleh pria didepannya dan justru langsung meraih tangan gadis milik sahabatnya.
"Jangan ikut campur!" balas Ray menyentak tangan London yang hendak melepaskan genggaman Kimberly darinya.
"Apa? Brengsek!" Tanpa sengaja London menyentak tangan Kimberly lebih keras dari yang dimaksudkannya, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?" Sergah Ray marah hendak memukul London ketika secara bersamaan suara deru motor terdengar memekakkan telinga, memunculkan dua orang pengendara yang berusaha saling menyalip. Kerumunan orang mulai meneriakkan sorak- sorak dan tanpa sadar mendorong Kimberly hingga maju semakin ke depan, menuju sisi jalan ketika seorang gadis yang lain cekikikan bersama dengan seorang pria dan temannya hingga tanpa sadar menyenggol Kimberly lagi, membuatnya semakin berjalan hampir menuju tengah lapangan.
Disisi lain, Jayce sedang konsentrasi untuk mengalahkan rivalnya, Anthony ketika matanya menangkap sosok yang dikenalnya, meskipun sosok itu mengenakan topi dan kacamata tapi dia tahu siapa yang berada dibaliknya.
Kimberly?
Kedua mata Kimberly tampak membelalak ketika menyadari dimana dia berada saat ini. Tubuhnya terasa kaku dan telinganya mendadak tuli. Anthony yang begitu ingin mengalahkan Jayce tidak memperhatikan sosok yang berdiri di tengah ketika didengarnya suara raung motor Jayce yang semakin keras disusul oleh suara tabrakan, tepat di depan mata Kimberly.
Brakkk.
***
Comments
Post a Comment