LOVE MISSION - 5

Kimberly baru saja menyelesaikan dua sesi pemotretan dan sedang duduk disudut terdalam sebuah kafe seraya menyandarkan sebelah pipinya diatas meja ketika Sophia datang menghampiri.

"Mungkin jika aku tidak mengenalmu dengan baik, aku akan mengatakan kalau kau seperti biasanya." Ujar Sophia sambil menarik kursi yang akan didudukinya. "Jadi ceritakan. Kenapa auramu terasa lebih dingin kali ini."

Tidak ada jawaban.

"Apa Martin membuatmu kesulitan?" Sebenarnya ini hanya ucapan Sophia belaka. Siapapun yang mengenal Martin dengan baik akan seketika mengernyitkan dahinya jika ada yang mengatakan kalau Martin, sang fotografer membuat orang yang dipotretnya tidak nyaman. Martin adalah seorang fotografer handal yang sangat ramah pada siapapun.

Masih tidak ada jawaban.

"Kau mau jalan- jalan? Mungkin dengan berbelanja atau menonton bisa membuatmu kembali lagi."

"Not now. I am too sad to walk. Just give me few hours."

Dalam hatinya, Sophia terkikik geli mendengar kalimat pelan, nyaris tanpa gairah dari bibir Kimberly. Itu adalah kalimat Sadness dalam film Inside Out yang dua bulan lalu mereka tonton. Siapa yang menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Kimberly, gadis tanpa ekspresi.

Lama tidak ada yang bersuara diantara mereka hingga rasanya Sophia sebentar lagi akan menyeret gadis itu agar mau menceritakan apa yang terjadi ketika tiba- tiba saja Kimberly mengangkat kepalanya dan menatap lekat Sophia.

"Sophie." Panggil Kimberly pelan. "Apa aku bau?"

Sontak kedua mata Sophia mengerjap kaget. "Apa?"

Mendadak Kimberly bangkit dari duduknya dan langsung mengambil tempat disamping Sophia. "Coba kau cium, apa aku bau?" Kimberly mendekatkan tubuhnya pada Sophia. "Jadi aku benar bau ya." Guman Kimberly lagi karena Sophia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya memberinya pandangan aneh.

Kimberly menghembuskan napasnya pelan seraya menumpukan dagunya diatas meja. "Apa karena itu dia tidak mau melakukannya?" Gumannya lagi.

Seakan baru tersadar dari hipnotis. Sophia langsung mengerjap. "Tunggu. Apa yang kau bicarakan? Siapa yang tidak mau melakukannya?" Cerca Sophia menarik Kimberly agar mau menatapnya. Dipandanginya wajah Kimberly lekat dan menelitinya.

"Dia langsung pergi ketika kusuruh menciumku." Kimberly mengatakannya dengan nada tenang seakan dia cuma membicarakan menu makan malam apa yang akan dimasak oleh Sophia malam ini.

Sementara itu, Sophia seperti baru saja mendengar suara petir di cuaca yang cerah ini. "Kau meminta orang asing menciummu?"

"Bukan orang asing tapi dia orang yang kukenal."

"Aku tidak tahu kalau aku mengenal orang yang kau kenal seperti yang tadi kau katakan."

Kimberly mengangkat kedua alisnya. "Ah, benar juga. Kurasa kau tidak mengenalnya. Dia pria di kampusku."

"Sudah berapa lama kalian kenalan?"

"Hm dua hari?"

"Dan kau sudah memintanya untuk menciummu?" Sophia bertanya histeris. Bagaimana kalau orang itu hanya ingin mencari keuntungan dari kepolosan gadis itu. Hanya Sophia yang tahu bagaimana minimnya pengalaman bersosialisasi Kimberly. Semua ini hanya topeng agar Kimberly tidak ikut tersesat dalam pergaulan bebas model kebanyakan dan hal itu semakin diperkuat dengan cara Kimberly yang tidak pernah menampilkan senyumnya. Dingin dan misterius.

"Bukankah begitu yang dilakukan di film? Berciuman. Aku bahkan pernah melihatmu berciuman di depan pintu ketika Hans mengantarmu."

"Itu karena kami saling tertarik."

"Aku juga tertarik pada Jayce."

Kedua mata Sophia menyipit. "Jadi namanya Jayce?"

Kimberly mengangguk. "Ya."

"Dan dia teman kampusmu?"

"Ya."

"Dia seperti apa?"

"Kurasa kata playboy lebih cocok untuknya."

Sontak Sophia membuka mulutnya, kaget. "Playboy, katamu?"

Lagi- lagi dia mengangguk. "Aku menemukan banyak nama cewek dibukunya dan semuanya di garis. Apa seharusnya aku lebih mendesaknya? Kau tahu mungkin dengan sedikit memberinya minuman yang dicampur obat dan..."

"Tunggu.... tunggu... "Sophia langsung menghentikan Kimberly sebelum gadis itu melakukan sesuatu seperti yang mereka tonton. Dalam hatinya Sophia menekankan dalam- dalam untuk tidak mengajak Kimberly menonton film romansa lagi. Mungkin mereka mulai merencanakan menonton film komedi atau yang paling parah adalah kartun. Mungkin dengan begitu Kimberly akan belajar untuk tersenyum.

"Ada apa?" Kimberly menautkan alisnya, heran.

"Apa saja sudah kalian lakukan?" Tanya Sophia seraya berdoa dalam hati semoga gadis disampingnya ini belum mencontohkan apa yang sudah dilihatnya.

"Hm hanya menyuruhnya memanggil namaku dan memeluknya."

"Thanks God."

"Dan kemarin aku baru saja memintanya untuk menciumku dan langsung mendapatkan respon ditinggalkan." Lanjut Kimberly lemah.

"Aku bersyukur dia tidak melakukan apa pun yang kau minta."

Hening selama dua menit penuh ketika kembali Kimberly berucap. "Kurasa mulai sekarang aku harus membeli pengharum napas."

"Bukan itu yang kumaksud!"

"Pengharum napas juga diperlukan. Bagaimana kalau dia pergi lagi sementara aku masih memerlukannya untuk membantuku."

"Bantuan seperti apa yang kau inginkan hingga harus memaksanya untuk menciummu? Bagaimana kalau dia malah mengambil keuntungan darimu?"

"Keuntungan? Keuntungan seperti apa?"

"Bagaimana kalau dia membawamu ke hotel atau dimanapun itu dan langsung meni...sudahlah. lupakan yang kukatakan tadi. Pokoknya tidak ada yang bisa kau dapatkan darinya."

"Tapi dia cocok dalam misi ini."

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Tadi kau mengatakan kalau kau membutuhkannya untuk membantumu dan sekarang kau menyebut- nyebut misi. Ingat Kimberly. Cowok itu tidak cocok untukmu. Dia playboy. Kau tahu apa arti playboy itu kan?"

"Bukankah justru lebih bagus? Itu tandanya dia tahu bagaimana harus melakukannya."

Rasanya Sophia ingin langsung membelah kepala Kimberly saat itu juga. Dia ingin sekali tahu apa isinya.

"Baiklah." Dengan pelan Sophia mencoba mengatur ritme napasnya. "Apa maksud ucapanmu tadi yang dia bisa membantumu atau misi atau apapun itu?"

"Bukankah kau bilang kalau aku harus mencari seseorang di kampusku untuk membantuku tersenyum?"

Eh?

"Dan aku menemukannya. Kurasa dia orang yang cocok untuk membantuku kali ini. Maksudku untuk pemotretan musim semi nanti, ingat?"

"Astaga! Bagaimana aku bisa melupakan pemotretan itu? Dan bagaimana aku bisa menyarankan hal konyol seperti itu pada gadis ini?" Lagi- lagi Sophia merutuk cara pikirnya.

"Aku suka padanya dan aku tidak akan mundur."

***

Comments

  1. Astaga....kimberly polos parah...rasanya pengen ngantongin 🤣

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS