LOVE MISSION - 17
Dari kejauhan Jayce tidak hentinya melihat pemandangan didepannya. Dan semakin dia memandang, semakin dalam kernyitan di dahinya. Ya. Dia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya datang ke tempat dimana Kimberly sedang menjalani pemotretan bersama seorang pria.
Jayce sadar. Sangat sadar kalau ini merupakan pekerjaan gadis itu tapi ketika dia melihat bagaimana tangan pria itu melingkar di pinggang Kimberly, membuat perasaannya bergolak apalagi Kimberly tidak henti- hentinya menyunggingkan senyumnya mengikuti arahan sang fotografer.
Jayce baru saja akan memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobilnya ketika di dengarnya suara orang- orang yang mengatakan kalau pemotretannya di tunda untuk sementara waktu ketika disaat yang bersamaan dia juga mendengar suara yang memanggilnya.
"Jayce!"
Jayce terpaksa menoleh dan bingung mendapati Kimberly setengah berlari menuju kearahnya, mengindahkan tatapan orang- orang padanya.
"Kau kemari? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya gadis itu ketika dia sudah berada di depan Jayce dan tersenyum.
"Aku kebetulan lewat dan tidak sengaja melihatmu."
Tentu saja dia berbohong dengan mengatakan itu karena faktanya dia sengaja datang kesini setelah London mengejeknya habis- habisan dan memberitahukan lokasi pemotretan Kimberly yang memang bertempat di sisi jalan kota New York.
"Oh. Tadinya aku berpikir aku sedang salah melihat orang tapi ternyata ini kau. Kau datang melihatku?"
Jayce baru saja akan mengelak ketika kembali gadis itu memotongnya.
"Terima kasih, Jayce. Aku senang." Lanjut Kimberly masih dengan senyum di bibirnya dan Jayce tidak tahan untuk tidak menyentuh gadis itu.
Dengan pelan dia mengulurkan sebelah tangannya ke pipi Kimberly dan menempatkannya disana. Perlakuan ini tentu saja mengagetkan Kimberly tapi ikut menempatkan tangannya diatas tangan Jayce yang lebih besar dari tangannya.
"Kau menyentuhku?" Kimberly tidak dapat menyembunyikan kalau dia senang Jayce menyentuhnya seperti ini. Selama ini Jayce hanya mengenggam tangannya. Itupun sudah lama sekali ketika itu terjadi dan sekarang Jayce menyentuh pipinya. Ini membuat Kimberly jauh merasa lebih senang.
"Kau tidak suka?"
Kali ini Kimberly menggeleng. "Tentu saja aku suka. Aku suka kau yang menyentuhku."
"Dibandingkan model pria itu?"
"Tentu saja. Kenapa kau bertanya?"
Sial. Jayce tidak sadar kalau dia hampir saja menunjukkan sifat posesifnya pada gadis polos didepannya dan segera akan melepaskan tangannya ketika Kimberly menahan tangan itu bergerak.
"Kau marah lagi" Ujar Kimberly cemberut.
"Aku tidak marah" Balas Jayce padanya. Sebelum Jayce bisa merespon apa yang dilakukan oleh Kimberly, dengan cepat gadis itu melangkah hingga tidak ada jarak diantara mereka.
"Aku tidak mengerti kenapa kau selalu menunjukkan ekspresi wajah kesal jika bersamaku. Apa aku membuat hidupmu kesulitan?" Bahkan hembusan napas Kimberly diwajahnya sangat mengundang dunia persilatan yang ada didalam diri Jayce.
Tingga mereka tidak jauh berbeda tapi ketika Kimberly memakai boots dan dipadu padankan dengan rok mini seperti ini, siapapun pasti akan tergoda ditambah dia tidak lagi berwajah dingin atau tanpa ekspresi seperti kemarin.
"Kau selalu membuat hidupku sulit" Ucap Jayce lirih, masih tetap menatap mata Kimberly.
Kedua mata Kimberly seketika mengerjap. Bukan karena apa yang baru saja keluar dari bibir Jayce tapi mendadak jantungnya berdebar kencang hingga tanpa sadar dia menyentuh dadanya.
"Ada apa?" Tanya Jayce ketika dia melihat raut wajah berpikir Kimberly.
"Kurasa... kurasa ada yang salah dengan tubuhku."
"Hah?" Jayce terpaksa mundur selangkah dan memperhatikan sikap Kimberly di depannya. "Kau sakit?"
Kimberly menggeleng. "Kurasa... aku baru saja... terkena serangan jantung."
"Serangan jantung?" Ulang Jayce tidak mengerti lalu kedua matanya ikut mengerjap.
Kedua mata Kimberly mengedip lucu. Bukan karena dia bermaksud untuk menggoda Jayce tapi untuk menetralisir perasaannya yang mendadak muncul.
"Ini seperti jantungku berdetak lebih kencang." Jawabnya masih tetap menyentuh dadanya. "Kau bisa menyentuhnya." Katanya lagi.
Jayce terdiam.
Dua detik...
Lima detik...
Sepuluh detik...
Tidak ada suara hingga sebuah pemikiran terlintas dibenak Jayce dan hampir saja membuatnya tergelak ketika disaat yang bersamaan melihat wajah Kimberly yang menatapnya heran.
Jayce tidak tahan lagi. Ditariknya tubuh Kimberly kearahnya dan langsung merengkuh tubuh gadis itu. Tentu saja tanpa sama sekali menyadari kalau mereka sedang menjadi bahan tontonan para kru di lokasi itu.
"Woah... kau memelukku". Ucap Kimberly kagum yang terdengar jelas di telinga Jayce. "Kupikir hanya Rhea yang boleh memelukmu." Lanjut Kimberly yang serta merta membuat Jayce melepaskan rangkulannya hanya untuk melihat wajah itu.
"Kenapa Rhea?"
"Dia memelukmu waktu itu dan aku tidak mengerti apa yang membuat kami berbeda." Balas Kimberly merujuk pada kejadian tempo hari.
Sejenak Jayce berpikir dan langsung menghadiahi Kimberly sebuah jentikan kecil di kening Kimberly yang segera diusap oleh Kimberly dengan kesal tapi itu semakin membuat Jayce geli.
"Dasar bodoh! Tentu saja kalian berbeda."
"Dia lebih cantik dariku, iyakan?"
Jayce terdiam sejenak. "Apa aku baru saja mendengar ucapan cemburu darimu?" Goda Jayce.
Tadinya Jayce mengira kalau Kimberly akan menggeleng ketika yang dilihatnya kemudian Kimberly menganggukkan kepalanya.
"Ya. Kau hampir selalu menolak jika aku menyentuhmu tapi kau seperti tidak menolak jika Rhea menyentuhmu. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa bisa begitu."
Jayce menahan rasa geli di bibirnya dan meraih tangan Kimberly dan mengenggamnya.
"Aku menyentuhmu, iyakan? Ini bahkan bukan pertama kalinya kita saling berpegangan seperti ini."
Kimberly memperhatikan jari- jarinya yang saling bertaut dengan jari- jari Jayce ketika kembali ia tersenyum.
"Ya. Tapi dia juga memelukmu."
"Apa kau ingin aku memelukmu?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu akan kupeluk." Lalu Jayce menarik tangan Kimberly dan kembali merengkuh tubuh gadis itu. "Sekarang apa lagi yang kau inginkan?"
"Bolehkah?" Kimberly tidak menyangka kalau dia akan mendapat Jackpot sekarang ini dan mengingat- ingat apa ini hari ulang tahunnya atau ulang tahun Sophie atau... mungkinkah ini ulang tahun Jayce?
"Um... Jayce?"
"Ya?"
"Apa kau... berulang tahun?" Tanya Kimberly yang langsung membuat Jayce melepaskan pelukannya.
"Aku? Ulang tahun?"
Kimberly mengangguk. "Kau sangat baik hati hari ini"
"Apa aku harus berulang tahun dulu supaya bisa baik hati?"
Kimberly mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Kau yang lebih tahu tentang itu. Apa kau ulang tahun?"
Dan Jayce tidak tahan untuk tidak menjitak kepala gadis itu. Tidak keras tapi kembali membuat gadis itu mengusap kepalanya.
"Aku tidak akan pernah bertanya tentang hal itu lagi." Renggek Kimberly, masih mengusap kepalanya.
Jayce tertawa tapi ikut mengusap kepala Kimberly dengan lembut dan tanpa sadar Kimberly ikut tertawa.
Dan semua itu tidak luput dari mata orang- orang yang melihat tingkah laku mereka berdua.
***
Comments
Post a Comment