IY - SEPULUH

"Ayolah Jerr. Hanya sebentar."

"Baiklah. Dimana?"

"Aku akan mengirimkan alamat kafenya? Kita bertemu disana." Klik.
.

Jerry tidak pernah menyangka kalau kafe yang diberitahukan oleh Lea lewat telpon tadi adalah tempat yang dikenalnya, bisa dibilang sangat dikenalnya terlebih lagi dengan pemiliknya.

Ia berjalan melewati beberapa kerumunan orang, mencari keberadaan Lea ketika mendadak keningnya berkerut mendapati sosok tidak asing sedang berbicara dengan Lea bahkan masing- masing dari pasangan mereka pun tampak akrab. Sebenarnya bukan hal yang mengherankan jika Jerry mendapati Elena berada di tempat ini. Elena dan Brandon adalah sahabat dari si pemilik kafe yang tidak lain adalah Josh tapi satu hal yang membuat Jerry heran adalah bagaimana mereka berdua bisa begitu akrab dengan dua orang yang dikenalnya, Jullian dan Lea. Tidak mungkin jika mereka bertemu secara acak di tempat ini, melihat betapa akrabnya mereka.

Jerry baru saja melangkah untuk menghampiri Lea ketika ia juga mengikuti pandangan kedua wanita di depannya dan melihat Lea yang menunjuk seseorang yang sedang memainkan sebuah lagu diatas panggung. Jerry mengenal baik sosok satunya. Dia adalah Josh, sahabat Brandon. Mereka pernah berbincang- bincang dan bertemu hingga beberapa kali- bukan sekali ini ia melihat permainan Josh dan tanpa sadar ia tersenyum. Josh selalu meresapi permainan gitarnya terlebih lagi dengan lagu milik Paramore yang tadi dimainkannya.

Lalu kemudian pandangannya beralih pada sosok gadis berkacamata disampingnya dan tertegun. Entah mengapa ia seperti pernah melihat gadis berkacamata itu, gadis itu menyanyikan dan memainkan sebuah lagu diiringi dengan petikan gitarnya dari tangannya yang lentik sambil sesekali melihat Josh disampingnya ketika ia juga sedikit mendongak.

Dia...?

Jerry terdiam di tempatnya saat ini, dia merasa sangat yakin kalau dia tidak mungkin salah mengenali orang apalagi gadis itu baru saja bersamanya. Tidak ingin mengalihkan pandangannya, Jerry terus memperhatikan Cassie yang meskipun sedikit mengubah penampilannya dengan atribut kacamata tapi yang membuatnya heran adalah gadis itu tidak biasanya berpakaian kasual seperti saat ini. Cassie cenderung menggenakan mini dress yang memperlihatkan sisi kewanitaannya, belum lagi rambutnya yang selalu dibiarkan tergerai kecuali tadi ketika membersihkan seluruh ruangan di apartemennya. Semuanya terlihat berbeda.

Dan sejak kapan gadis yang telah menjadi tunangannya itu bisa bermain gitar?

Are you with me after all
Why can't I hear you
Are you with me through it all
Then why can't I feel you

Stay with me, don't let me go
Because there's nothing left at all
Stay with me, don't let me go
Until the Ashes of Eden fall. (Breaking Benjamin, Ashes of Eden)

"Jerry! Kesini."

Jerry berbalik dan terpaksa mengalihkan pandangannya pada Lea yang melambaikan sebelah tangannya dengan semangat kearahnya ketika menyadari kalau Elena memperlihatkan wajah penuh keterkejutan sambil sesekali melemparkan pandangan gugup pada Cassie dan juga kearahnya.

Tidak ingin terlalu lama memikirkan perubahan wajah Elena yang tiba- tiba, Jerry melangkah menuju Lea yang bersemangat menyuruhnya untuk duduk di kursi kosong disampingnya. Brandon hanya memberinya pelukan selamat bergabung dan tersenyum sementara Jullian, seperti biasa bersikap tidak peduli tapi entah kenapa Jerry seakan merasakan kalau Jullian apa yang sebenarnya terjadi.

"Bagaimana? Kubilang juga apa? Kau bahkan terpesona dengan permainan Case, bukan?" Imbuh Lea setelah ia menempatkan pantatnya diatas kursi.

"Case?"

Lea tampak semakin lebar menyunggingkan senyumnya. "Kau terus saja memperhatikannya. Dia memang sangat piawai apalagi dia juga bisa bernyanyi. Aku menyukainya." Cerocos Lea tidak memperhatikan wajah bingung Jerry disampingnya ketika disaat yang bersamaan ia juga mendengar bisikan Brandon pada Elena.

"Setelah ini kita harus pulang, sayang. Daritadi Bibi Monica terus saja menanyakan keberadaan Cassie. Akan jadi masalah kalau Bibi Monica datang ke rumah kita dan tidak menemukan Cassie." Elena terlihat menganggukkan kepalanya sebagai balasan tapi Jerry dapat melihat kalau wanita itu sedang memandangnya lewat sudut matanya.

Jerry kembali memperhatikan Cassie didepannya ketika sebuah pemahaman mendadak terlintas dalam benaknya, membuatnya tertegun.

Tunggu, Case? Cassie?

Kemudian tiba- tiba kedua matanya bertemu dengan mata milik Elena ketika wanita itu mengangguk pelan.

.
.
.

Cassie termenung didekat balkon kamarnya, memandangi matahari yang baru saja terbit sementara diantara kedua telinganya terpasang sepasang headset. Cassie bahkan tidak tahu lagu apa yang didengarnya. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan kejadian semalam.

Cassie begitu senang hingga ia yakin kalau bisa saja bibirnya akan pegal karena terlalu seringnya tersenyum dan itu semua karena ia sangat menikmati petikan gitarnya.

Sama halnya dengan piano, Cassie juga menguasai gitar, biola dan beberapa mengkomposeri beberapa nada dalam pianonya. Bisa dikatakan kalau Cassie adalah multi instrumentalist, yang mana menguasai dua atau lebih dari alat musik, selain Elena. Tidak seorangpun yang mengetahui hal itu.

Cassie masih ingat ketika pertama kali mencoba bermain gitar di usianya yang ke sembilan belas, ia meminta baik Elena maupun Josh agar mengajarinya bermain gitar. Ada yang mengatakan piano adalah dasar dari semua alat musik tapi itu tidak semudah kelihatannya, dari alunan klasik yang sejak dulu ia mainkan kemudian mengubahnya ke bagian rock pop- membuatnya mengalami lecet di sekitar jari- jarinya, belum lagi dengan latihan dan tur keliling yang selalu ia lakukan membuatnya sedikit mengalami kesulitan tapi ada alasan yang sangat jelas kenapa dia sampai harus belajar memainkan gitar meskipun dengan diam- diam.

Kembali lagi ke topik awal.

Cassie baru saja turun dari tempatnya tampil sementara Josh menyampirkan lengannya disekeliling pundaknya tanpa sama sekali menyadari sosok yang sedang berjalan kearahnya.

"Oh Tuhan! Sangat menyenangkan tampil denganmu, Case. Kau selalu membawa sesuatu yang menakjubkan."

Cassie tersenyum. "Itu karena kau dan Elena yang mengajarkan aku selama ini."

"Dan aku bangga karena itu."

Cassie terkekeh. "Kalau begitu aku minta di traktir malam ini."

"Oh tentu saja, beauty. Bahkan jika kau menyuruhku mengatakan aku mencintaimu maka dengan senang hati akan kukatakan."

Cassie baru saja akan membalas ketika mendadak tangan Josh dilepas paksa dari pundaknya kemudian digantikan oleh pelukan dibelakangnya disusul dengan dagu dan merinding ketika merasakan hembusan napas si pemilik baru di pundaknya yang sedikit terbuka.

"Sorry Josh, she's mine."

Cassie menggelengkan kepalanya keras- keras, mencoba mengusir kalimat yang dilontarkan oleh Jerry semalam. Apa maksud Jerry mengatakan hal itu? Sejak kapan kata ganti milik melekat pada dirinya? Dan bagaimana bisa dia bisa berada di tempat itu?

Sial!

Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak langsung melempar sesuatu didepannya. Semua ini membuatnya bingung dan pria itu semakin membuatnya bingung. Cassie mencoba menerapkan latihan pernapasan yang diajarkan Chandra padanya. Tarik napas... hembuskan... tarik napas... hembuskan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Cassie sangat berharap memiliki pintu kemana saja milik Doraemon, dia sangat mengharapkan bisa memilikinya- setidaknya untuk saat ini. Apalagi jika mengingat pandangan syok yang ditampilkan Lea padanya. Apa Lea masih ingin lagi bertemu dengannya setelah mengetahui yang sebenarnya?

Gezz, dia bahkan tidak berani mengaktifkan kembali ponselnya karena takut dicecar dengan segala pertanyaan yang bisa saja membuatnya kebingungan ketika ia menjerit kaget mendapati si pembuat masalah- Jerry muncul di depan wajahnya secara tiba- tiba.

Jarak diantara mereka sangat dekat hingga mereka dapat saling merasakan hembusan napas masing- masing.

Cassie berusaha meredakan debaran jantungnya yang selalu saja berdebar kencang setiap kali pria itu berdekatan dengannya dan memutuskan untuk menyamarkannya dalam sebuah dengusan kasar dan mendorong tubuh Jerry agar menjauh darinya.

"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak tahu kalau tidak sopan memasuki kamar orang lain apalagi orang tersebut tidak mempersilahkanmu untuk masuk." Cecar Cassie langsung.

"Aku sudah mengetuk pintu kamarmu beberapa kali hingga merasa yakin kalau mungkin saja ada tulang yang patah ketika sebuah pemikiran mendadak terlintas, bisa saja kau memutuskan untuk mengeram didalam kamar, menunggu telur- telurmu menetas." Balas Jerry seraya mendekap kedua tangannya didepan dada.

Seraya memutar matanya, Cassie kembali mendengus. "Lucu sekali. Haha," ejeknya tapi kedua matanya menatap tajam Jerry. "Kutebak kedua orang tuaku tidak melihatmu datang, bukan? Kalau iya, mereka tidak mungkin...." kalimat Cassie mendadak terhenti di udara setelah melihat gelengan kepala Jerry. "Mereka membiarkannya?!" Cassie tidak bisa tidak memperlihatkan wajah penuh keterkejutannya yang sebenarnya tidak perlu. Semua orang tahu bagaimana bahagianya kedua orang tua mereka masing- masing terutama Mr dan Mrs. Swan dengan pertunangan ini.

"Sebenarnya hanya Monica yang kutemui dan ya, dia yang mengatakan kalau aku bisa langsung naik ke kamarmu."

Oh! Tentu saja. Pria didepannya ini memang selalu menjadi favorit ibunya. Tampan, mapan dan sopan. Siapa yang akan menolak?. Geram Cassie dalam hati.

"Baiklah. Apa yang kau inginkan?"

"Kau berutang penjelasan padaku."

Kedua kening Cassie seketika bertaut, "aku tidak pernah merasa memiliki utang denganmu dan penjelasan seperti apa yang kau bicarakan?"

"Penjelasan mengenai semalam."

Keduanya lantas sama- sama saling melempar tatapan tajam ketika Cassie memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya.

"Dengar, apa yang kulakukan semalam adalah urusanku, kau sama sekali tidak punya hak melarangku melakukan apa yang kusukai."

Jerry terdiam tapi bukan karena kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Cassie melainkan apa yang saat ini dikenakan oleh gadis itu. Jerry tidak pernah menyangka dibalik selimut yang tadi membungkus tubuh Cassie, ternyata Cassie hanya mengenakan tank top tipis yang melekat ketat di tubuhnya, belum lagi gadis itu hanya mengenakan celana kain super pendek yang agak mirip dengan celana dalam. Secara kesuluruhan penampilan Cassie pagi ini sangat...

"Aku tahu tubuhku seksi jadi bisakah kau mengangkat sedikit wajahmu dan melihatku." Ucap Cassie mengalihkan tatapan Jerry dari tubuhnya, berusaha untuk tidak menampakkan perasaan malunya. Dia sendiri bahkan hampir tidak menyadari penampilannya saat ini dan hanya fokus dengan kejadian semalam.

Jerry tersenyum, menimpali. "Aku tidak mungkin menyia- nyiakan penampilan super seksi yang diberikan oleh tunangan multitalentku ini, bukan? Dan ya, aku melihatmu. Setidaknya aku sudah melihat seluruh tubuh yang saat ini berdiri menantang dihadapanku." Balas Jerry menampilkan senyum menggoda miliknya. Dia ingin menyentuh dan menyembunyikan tubuh didepannya ini dibalik tubuhnya dan tidak mengijinkan seseorangpun yang melihatnya bahkan burung- burung yang sedang terbang pun tidak boleh melihat tubuh gadisnya.

"Pervert," Cassie membalas mencibir tapi membalikkan wajahnya agar bisa menyembunyikan wajahnya yang tersenyum. Entah mengapa, mendengar kalimat Jerry yang terakhir membuatnya merasa malu.

"Pergilah, Jerr. Aku sedang tidak mood bercanda hari ini. Aku ingin tidur."

Cassie baru saja melangkahkan kakinya ketika mendadak lengannya ditahan dan mengernyit ketika mendapati Jerry sedang menatapnya tanpa ekspresi.

"Ada apa?" Tanyanya karena pria itu sama sekali tidak mengatakan apa- apa selama beberapa menit.

"Kenapa?" Jerry mulai mengeluarkan suara lambat yang terasa tidak nyaman di tengkuk Cassie.

"Apa? Kenapa apa?"

"Kenapa kau menato tubuhmu, Cassandra Ann Swan?!" Kali ini Jerry memperlihatkan kemarahan di wajahnya, membuat Cassie terbelalak kaget,

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS