LOVE MISSION - 8

"Ray, hentikan!" Sergah Sophie sebelum Jayce membalas. "Dan kalau kalian lupa, ini adalah rumah sakit. Kalian tidak seharusnya membuat keributan disini." Ucapnya dengan nada tegas.

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun." Bantah Ray, sama sekali tidak melepaskan tatapan sengitnya dari wajah Jayce yang juga melakukan hal yang sama. "Aku cuma menyuruhnya untuk pergi dari sini."

"Bukan kau dokternya disini bung." Balas Jayce tidak kalah sinis. "Dan apa masalahmu? Aku kesini untuk melihatnya."

"Kau sudah melihatnya kan? Dia baik- baik saja. Sekarang pergilah."

"Apa kau tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan? Bukan kau dokternya jadi kau sama sekali tidak berhak menyuruhku melakukan sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak berhak."

"Aku wali dari pasien ini jadi aku berhak mengusir siapapun yang menganggu kenyamanan pasien."

"Aku sama sekali tidak melihat kalau Kimberly terganggu dengan kehadiranku justru dia merasa senang." Untuk pertama kalinya ia berharap gadis itu menyetujui ucapannya sementara itu Ray menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Jayce. Sial, kenapa harus seribet ini? Siapa sebenarnya laki- laki ini?. Ray mulai merasa sedikit frustrasi.

"Ray." Panggil Kimberly lembut seraya menyentuh lengan Ray dan semua itu tidak luput dari penglihatan Jayce.

"Siapa laki- laki ini? Apa hubungan mereka sebenarnya?"

Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan perasaan tidak suka pada sesama jenisnya.

"Kau tidak boleh melakukan itu pada Jayce. Dia hanya datang untuk menjengukku." Ucap Kimberly dan Ray mulai menelusuri wajah Kimberly dengan jari- jarinya.

"Sial, apa yang dia lakukan?"

Dengan susah payah dia menahan diri untuk tidak langsung memukul laki- laki yang menyentuh gadisnya.

Tunggu. Gadisnya? Apa yang baru saja dia pikirkan?. Jayce hampir saja tertawa mendapati pikiran konyolnya. Mana mungkin dia...

"Dan aku hanya membantumu agar bisa beristirahat. Kau butuh istirahat dan orang lain tidak perlu datang untuk menganggumu."

"Jayce datang bukan untuk mengangguku, Ray. Dia datang karena ingin melihatku."

"Tidak. Aku datang karena London terus- menerus memaksaku untuk datang." Sahut Jayce dalam hatinya.

Sejenak Ray menatap Kimberly, dia penasaran apa hubungan diantara mereka. Selama ini yang dia tahu, Kimberly bukanlah orang yang mudah membuka diri dengan orang baru.

"Apa hubunganmu kalian?" Tanya Ray pada akhirnya.

"Maksudmu Jayce? Dia orang yang akan membantuku untuk..."

"Ray, kita perlu bicara diluar." Potong Sophie. Dia mulai merasa tidak enak berada dalam situasi ini apalagi Jayce tidak henti- hentinya memandang baik Kimberly maupun Ray dengan pandangan seakan ingin menguliti mereka berdua. Sophie tidak tahu darimana dia mendapat pemikiran seperti ini tapi dia yakin kalau Kimberly pasti bisa menghadapi amarah Jayce. Dia memberi Ray pandangan penuh arti dan meskipun Ray tidak suka tapi terpaksa dia harus mengikuti apa kemauan saudara perempuannya itu.

"Baiklah. Istirahatlah baby." Ujar Ray seraya mengecup kening Kimberly lembut. Dibelakangnya Jayce memandang tak percaya akan apa yang dilihatnya. London juga tidak tahu harus berbuat apa, yang dia tahu adalah kalau saat ini sahabatnya itu sedang dalam mode marah tapi alasan yang menjadi kemarahannya itu masih membuat London bertanya- tanya. Apa Jayce marah karena laki- laki itu tiba- tiba menyentaknya dan mengusirnya atau dia marah karena merasa cemburu. Sangat tidak mudah memahami apa yang dipikirkan sahabatnya itu.

"Terima kasih telah datang, London. Aku tidak menyangka kalian akan datang kemari." Ucap Kimberly tepat ketika Sophie menutup pintu ruangannya.

"Itu karena kami merasa bersalah padamu." London tidak tahu harus bersikap bagaimana dalam situasi ini dan hanya bisa tersenyum simpul. "Apa kau baik- baik saja?"

"Tentu saja." Kimberly menjawabnya riang. "Dan tiga hari lagi aku sudah bisa pulang."

"Baguslah. Kupikir aku..."

"Bisakah kau mengancing bajumu dulu?"

Hah?. Kimberly dan London sama- sama melihat kearah Jayce, bingung ketika Jayce beranjak dari tempatnya kearah Kimberly.

"Kau seharusnya tidak memperlihatkan tubuhmu ke sembarang orang." Lanjut Jayce.

Sejenak Kimberly menunduk, memperhatikan dua kancing teratasnya terbuka. "Oh. Ray tadi membantuku mengolesi salep. Kurasa dia lupa."

"Apa kau tidak bisa melakukannya sendiri?"

Gadis itu mengangguk. "Akan lebih mudah jika seseorang membantuku. Aku tidak bisa melihat ada dimana saja bintik merah itu."

Jayce mengerang frustrasi. "Kau bisa meminta Sophie melakukannya."

"Sophie tidak menyukai sesuatu yang lengket dan Ray calon dokter jadi kurasa wajar saja dia melakukan ini."

"Dia baru calon dan bukannya dokter."

"Aku tidak melihat perbedaannya."

Kedua mata Jayce menyipit curiga, "apa kalian selalu melakukan ini?"

"Melakukan apa?"

"Membiarkan dia yang menyentuhmu."

"Semua orang bisa menyentuhku. Aku juga pernah menyentuhmu, ingat? Waktu di pantai dulu. Aku memelukmu."

London terbatuk dibelakang Jayce, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sudah sejauh mana hubungan mereka?

"Pokoknya kancing dulu bajumu." Jayce tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada gadis aneh di depannya ini. "Katakan, apa dia pernah melihat tubuhmu?" Tanya Jayce mulai penasaran dengan hubungan yang terjalin diantara mereka sementara memperhatikan gadis itu mengancing bajunya. Sebenarnya tidak ada masalah dengan baju yang dikenakannya tapi memikirkan laki- laki lain menyentuh bagian lehernya dan mungkin dibawah lehernya membuatnya sedikit jengkel. Gadis itu mengatakan kalau dia belum pernah berciuman tapi membiarkan orang lain menyentuhnya dengan bebas seperti itu, membuatnya tidak habis pikir.

Dia tahu dan sadar sepenuhnya kalau gadis dihadapannya ini adalah seorang model dan pakaian minim adalah hal yang biasa untuk model sekaliber Kimberly Moss tapi tetap saja itu membuatnya bingung.

"Umm... kurasa tidak. Apa aku harus melakukannya?"

Kali ini Jayce yakin London sedang berusaha untuk tidak tertawa dibelakangnya. Beberapa kali ia mendengar suara tawa London yang disamarkan menjadi sebuah batuk kecil.

"Tidak perlu." Jawabnya tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Sudah cukup aku mendengar dia yang menyentuhmu. Tidak perlu tambahan lagi. Tambahnya dalam hati.

Setengah jam kemudian Ray datang tanpa adanya Sophie dan kembali mengecup puncak kepala Kimberly.

"Kurasa sudah seharusnya kau istirahat." Ucap Ray pada Kimberly.

"Ya. Kau benar. Aku juga sudah mengantuk." Balasnya. "Terima kasih Jayce, London karena mau datang."

"Tidak masalah. Cepatlah sembuh. Aku tidak sabar melihatmu ke kampus lagi." Ujar London.

Kimberly mengangguk. "Terima kasih."

Jayce dan London baru saja akan meninggalkan rumah sakit dan masuk ke dalam Range Rovernya ketika mendengar namanya dipanggil dan mendapati Ray dibelakangnya.

"Ada apa?" Tanya Jayce dingin.

"Aku sudah mendengar semuanya." Jawab Ray sama dinginnya.

"Terus?"

"Aku ingin kau menolaknya."

"Apa?"

"Tolak apapun yang diminta Kimberly."

"Ini urusanku dengannya. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."

"Apapun yang berhubungan dengannya menjadi urusanku."

Jayce dan Ray sama- sama saling melemparkan tatapan setajam pisau.

"Kenapa kau begitu peduli padanya?" Kedua mata Jayce menyipit mempertanyakan status hubungan mereka dan bertanya- tanya jika gadis itu mengenal laki- laki se-protective ini, kenapa Kimberly begitu memaksa dirinya untuk membantunya? Jayce sangat yakin kalau laki- laki ini pasti bersedia melakukan apa saja untuknya.

"Kurasa ini bukanlah urusanmu." Balas Ray membuat Jayce mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya. "Dengar sobat," sejenak Ray memegang pundak Jayce. "Ini bukanlah permintaan tapi lebih kepada menyuruhmu untuk tidak lagi berhubungan dengan Kimberly."

"Dengar," Jayce melepaskan tangan Ray dari pundaknya. "Pertama, aku bukan tipe orang yang suka menerima perintah. Apalagi jika itu berhubungan dengan apa yang boleh atau tidak boleh aku lakukan. Kedua, kurasa perintahmu tadi lebih cocok ditujukan pada dirinya dan bukan padaku. Dia yang datang padaku dan memaksaku melakukan hal- hal konyol dan tidak masuk akal lainnya dan ketiga, aku bukanlah sobatmu jadi berhentilah memanggilku dengan kata sobat atau teman atau apapun itu karena aku sama sekali tidak mengenalmu."

Tidak ada suara.

"Baiklah. Kurasa sudah jelas bagaimana hubungan kita kelak." Ujar Ray setelah lama mereka saling menatap, mencari kelemahan masing- masing.

"Kurasa begitu."

"Kalau begitu semoga berhasil, Mr...?"

"Caldwell. Jayce Caldwell."

"Dan aku Rios. Raymond Rios. Sekali lagi semoga berhasil, Mr. Caldwell."

"Anda juga, Mr. Rios." Keduanya sama- sama saling berjabat tangan dan saling melempar tatapan penuh penilaian.

London yang sejak tadi hanya diam memperhatikan seketika bersiul pelan bersamaan ketika punggung Ray sudah tidak terlihat lagi, kembali masuk ke dalam rumah sakit.

"Wow apa aku baru saja menyaksikan sebuah gencatan senjata? Deklarasi perang?' London tertawa geli. "Sangat tidak terduga darimu, sobat" Ujarnya menirukan apa yang tadi dilakukan Ray di pundak Jayce.

Jayce hanya bisa terdiam mendengar gurauan London disampingnya. Apa yang diucapkan London benar, ini bukanlah dirinya. Selama ini dia tidak pernah kehilangan kendali apalagi dengan orang yang baru saja dia temui tapi sekarang hidupnya seperti jungkir balik dan ini semua karena dia. Gadis itu. Sang model cantik tapi juga menurutnya aneh,

Kimberly Moss!.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS