LOVE MISSION - 35

Kimberly menatap ke sekelilingnya dengan bingung. Ia tidak mengetahui dimana dirinya sekarang, tapi satu hal yang diketahuinya bahwa tempat yang didatanginya saat ini bersama Barbara adalah tempat ternyaman yang pernah didatanginya- seperti rumah, sangat hangat.

"Masuklah Kimberly,"

Kimberly mengangguk kecil seraya mengikuti Barbara yang telah lebih dulu masuk kedalam bangunan didepannya dan tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum, siapapun yang memiliki rumah seperti ini sangat beruntung.

"Kau mau minum teh bersamaku, gadis muda?" Perkataan Barbara menyadarkannya dari lamunan tentang rumah ini dan mendapati kalau Barbara sedang mengamatinya.

Tidak ingin berlama- lama, kembali Kimberly mengangguk. Dia masih sedikit bingung dengan kedatangan Barbara di rumah Jayce tadi hingga langsung mengajaknya ke sebuah rumah yang saat ini didatanginya.

Kimberly terdiam diatas kursi didalam dapur sementara kedua matanya terus memperhatikan Barbara yang menyeduh teh kedalam cangkir.

"Untung saja Mr. Baggings selalu menyiapkan teh di tempat ini."

Kimberly tidak tahu siapa itu Mr. Baggings tapi ia juga tidak ingin berkomentar lebih banyak ketika dilihatnya Barbara justru tersenyum padanya.

"Aku tidak tahu kau begitu pendiam, gadis muda," ujarnya masih dengan senyum yang sama. "Terakhir kita bertemu kau begitu cerewet dan penuh tekad." Lanjutnya berkomentar.

"Itu karena aku tidak tahu kita berada dimana, grandmere," Kimberly membalas terus terang. "Dan aku khawatir Jayce akan mencariku."

Untuk sesaat Barbara mengangkat sebelah alisnya lalu kembali tersenyum.

"Kau begitu khawatir dengan cucuku itu. Apa kau tidak khawatir dengan dirimu?"

"Eh?" Kimberly memperlihatkan ekspresi bingung di wajahnya. "Kenapa aku harus khawatir denganku?"

Tidak ada sahutan selama beberapa saat ketika keheningan itu dipecahkan oleh suara tawa Barbara.

"Kau benar- benar sangat manis dan polos. Pantas saja cucuku ingin mempertahankanmu, gadis muda."

Kimberly menautkan kedua alisnya. "Kenapa grandmere terus memanggilku dengan gadis muda? Grandmere bisa memanggilku dengan namaku- Kimberly." Usul Kimberly halus.

Sejenak Barbara terdiam, menatap gadis didepannya kemudian mengangguk seraya mengangkat cangkir tehnya dan meneguknya.

"Ah, nikmat sekali. Cobalah dulu teh ini, Kimberly. Ini adalah salah satu teh favoritku dan juga almarhum anak dan menantuku."

Kimberly mengangguk kemudian mengikuti Barbara mengangkat cangkirnya sendiri dan menyesap tehnya pelan.

"Bagaimana?"

Kimberly kembali menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat Barbara.

"Grandmere benar. Teh ini memiliki rasa mint yang unik dan juga ada semacam perpaduan antara bunga- bunga?"

"Kau memiliki lidah yang sensitif, sayang." Ujar Barbara tersenyum tapi justru membuat Kimberly termanggu. Sikap Barbara kali ini sangat ramah dan juga penuh kelembutan. "Teh ini adalah perpaduan antara chamomile, jasmine dan juga Rose yang dicampur dalam daun teh berkualitas tinggi." Jelasnya

Kimberly mengangguk kembali menyesap teh. Ia begitu senang dengan sikap Barbara saat ini. Terakhir kali ia tidak mengerti kenapa Barbara justru bersikap tidak ramah dengan menyuruhnya berpisah dengan Jayce kala itu.

Keduanya sama- sama menikmati rasa tehnya selama beberapa saat ketika suara dering ponsel milik Kimberly berbunyi dan menunjukkan nama Jayce dilayarnya.

"Aku tidak menemukanmu di rumah. Apa kau sudah kembali?" Suara Jayce langsung menyela sebelum Kimberly mengatakan kata 'halo' ketika kedua matanya melihat pergerakan tangan Barbara didepannya, meminta ponselnya.

"Um, Jayce aku..." kalimatnya terhenti ketika Barbara langsung mengambil ponsel dari tangannya dan mengaktifkan loudspeakernya.

"Kimberly baik- baik saja disini, Jayce."

"Eh, grandmere?"

"Apa kau tidak melihat pesan yang baru saja kukirimkan padamu?"

"Eh pesan? Aku belum membacanya. Tunggu dulu, grandmere bersama Kimberly? Apa yang grandmere lakukan?"

Kimberly menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa ia seperti mendengar ada nada kesal dan juga panik dalam suara Jayce? Ketika kembali kedua telinganya menangkap suara tawa milik Barbara dan terdiam ketika mendapati Barbara yang sedang melihatnya.

"Istrimu lucu sekali disini, cucuku. Grandmere rasanya tidak tahan ingin melumatnya."

Eh?

"Apa?"

Barbara semakin tertawa melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Kimberly didepannya.

"Dimana grandmere sekarang?"

"Ditempat yang hanya kau dan grandmere satu- satunya ketahui." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya kearah Kimberly yang masih syok.

"Aku akan kesana."

"Cepatlah. Jangan sampai grandmere habiskan." Candanya yang langsung membuat Jayce mengerang jengkel diseberang dan memutuskan sambungannya.

.
.
.

Jayce tiba ditempatnya setengah jam kemudian dan langsung berlari masuk kedalam rumah yang pernah ia tinggali sebelum kedua orang tuanya meninggal dan langsung menarik tangan Kimberly tepat setelah gadis itu berdiri melihatnya dengan terkejut.

"Apa yang grandmere lakukan?" Ujar Jayce gusar seraya menarik Kimberly kedekatnya dan menatap nenek satu- satunya itu dengan lekat.

"Berbincang- bincang." Jawab Barbara, tersenyum penuh arti.

Jayce langsung memutar kedua bola matanya lalu beralih memeriksa seluruh tubuh Kimberly.

"Kau tidak apa- apa?"

"Eh?"

"Grandmere belum menghabiskan gadismu sepenuhnya, Jayce. Kau ini mirip sekali dengan almarhum ayahmu." Sindir Barbara halus.

Untuk sesaat Jayce melihat kedalam mata Kimberly mencari jawaban dan menghembuskan napas lalu kembali melihat Barbara.

"Sebenarnya apa yang grandmere lakukan?" Ujar Jayce seraya membawa Kimberly duduk kemudian diikuti oleh dirinya sementara jari- jarinya masih bertaut di jari- jari milik Kimberly dan semua itu tidak luput dari pengamatan Barbara.

"Apa kau lupa, hari ini hari apa?"

Jayce mengernyit sementara Kimberly menatap Jayce dan Barbara bingung.

Barbara berdecak kesal karena ketidakpedulian cucunya itu padahal setiap tahun dia selalu melakukannya.

"Selain karena kita harus mengunjungi makam orang tuamu yang juga anak dan menantuku. Kita juga diundang untuk menghadiri acara amal di tempat ini," Kata Barbara jengkel. "Dan jangan bilang kalau kau melupakannya, Jayce. Kau sudah mengiyakan akan menemani grandmere kesana."

"Aku tidak lupa," Jayce membalas. "Tapi apa hubungannya ini semua dengan Kimberly?"

Raut wajah Barbara seketika berubah. "Kau tidak ingin memperkenalkan Kimberly dengan kedua orang tuamu?" Tanya Barbara bingung sementara kedua matanya memperhatikan Kimberly yang tanpa ekspresi.

"Bukan itu maksudku," Jayce menjawab. "Sore ini Kimberly harus kembali ke Milan untuk mengikuti pemotretan dan fashion show, dan jika grandmere menculiknya secara tiba- tiba seperti ini bisa saja menganggu kegiatannya."

Barbara sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh cucunya itu barusan. Okey, dia mengerti kalau cucunya itu hanya memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh Kimberly tapi entah mengapa terasa ada yang janggal tapi ia tidak begitu mengerti dengan itu.

"Baiklah. Kita bisa melakukannya sekarang." Cetus Barbara tiba- tiba.

"Apa?"

"Kita bisa melakukannya lebih awal. Pertama kita akan mengunjungi makam ayahmu kemudian ke tempat amal itu, dengan begitu kegiatan Kimberly tidak akan terganggu, bukan?"

"Aku tidak yak..."

"Aku tidak masalah." Kimberly mengatakannya langsung kemudian menoleh agar bisa menatap Jayce. "Aku akan mengirimkan sebuah pesan pada Sophie agar menungguku lebih lama. Aku yakin Sophie akan mengerti."

Untuk sesaat Jayce terdiam lalu kemudian mengangguk mengiyakan.

"Terima kasih, Jayce." Kimberly menyunggingkan senyum penuh kebahagiannya, membuat Jayce tidak tahan dan membawa jari- jari milik Kimberly ke bibirnya, mengecupnya disana.

.

Kimberly terus saja menyunggingkan senyum penuh kebahagiannya ketika mendengar Jayce memperkenalkan dirinya di depan pusara kedua orang tua Jayce. Ia tidak terlalu ingat bagaimana orang tuanya dulu tapi ia yakin pasti orang tuanya juga sangat menyayanginya. Ia hanya ingat kalau orang tuanya juga meninggal karena kecelakaan kemudian harus dititipkan di suatu tempat sebelum kemudian bertemu dengan keluarga barunya yaitu Sophie dan juga Ray. Ia juga sudah menganggap Barbara sebagai keluarga barunya merujuk pada pembicaraannya tadi dengan Barbara sebelum Jayce datang.

Kimberly sedang memandangi jalanan sepulangnya dari makam sementara Jayce dan Barbara sedang membicarakan sebuah bisnis yang tidak dimengerti olehnya ketika sebuah ingatan menghantamnya. Ia mengenal tempat yang saat ini baru saja dimasukinya. Meskipun telah mengalami pembangunan ulang tapi Kimberly tidak mungkin melupakannya.

Barbara dan Jayce sama- sama lebih dulu turun dari mobil ketika Jayce menyadari kalau Kimberly tidak ikut turun bersamanya dan hanya diam didalam mobilnya.

"Ada apa? Ayo turun." Jayce membukakan pintu agar gadis itu bisa keluar.

"Ini..."

"Ini adalah acara amal yang tadi dikatakan oleh grandmere. Disini tidak ada wartawan well, mungkin hanya wartawan kecil atau lokal tapi aku yakin tidak akan ada yang mengenalimu disini meskipun aura supermodelmu masih begitu terasa." Jayce bergurau tapi sama sekali tidak membuat Kimberly bereaksi apa- apa. Justru gadis itu tampak gugup. "Kemarilah." Jayce menyentuh tangan Kimberly dan mengernyit ketika dirasakannya kalau tangan gadis itu dingin. "Kau tidak apa- apa, sayang?" Jayce bertanya khawatir. Dia tidak mengerti apa yang membuat Kimberly begitu gugup. Untuk sesaat Jayce mengalihkan pandangannya mencari keberadaan Barbara dan menduga kalau neneknya itu telah lebih dulu masuk kedalam panti sosial itu. Hanya beberapa anak- anak yang terlihat sedang bermain di halaman.

Kimberly menggelengkan kepalanya kuat- kuat. "Aku ingin pulang."

"Apa?"

"Aku ingin pulang dan itu sekarang, Jayce!"

Jayce tidak mengerti apa yang membuat Kimberly mendadak berubah dan semakin bingung ketika Kimberly justru menarik kembali tangannya dari genggaman tangan Jayce kemudian keluar dari mobil.

"Apa yang..."

"Aku tidak ingin berada disini." Ucap Kimberly memotong kalimat yang ingin diucapkan oleh Jayce. "Aku tidak menyukai tempat ini. Aku membencinya." Ucapnya seraya mendekap tubuhnya sendiri.

"Tidak akan ada yang mengenalimu disi.."

"Apa kau pikir aku takut orang- orang akan mengenaliku, Jayce?" Seru Kimberly dalam dan tajam. "AKU TIDAK PERDULI," teriaknya tiba- tiba. "Apa kau perduli jika orang- orang mengenaliku atau mengenalimu atau apapun itu karena yang kulihat hanya dirimu, apa kau tidak tahu?" Tanpa diduga Kimberly mulai mengucurkan air dari kedua matanya.

"Sayang, ada apa dengan...?" Jayce benar- benar bingung melihat gadis didepannya terlebih lagi ketika Kimberly mulai menangis. Selama ini Jayce hanya mengetahui kalau Kimberly hanya tidak bisa tersenyum tapi itu sudah sangat lama, belakangan ini Kimberly nyaris tersenyum setiap saat tapi sekarang... apa yang sebenarnya terjadi?

Kimberly menyeka air matanya dengan kasar, masih menolak disentuh. "Aku ingin pulang." Ujarnya.

"Kita tidak bisa pergi begitu saja setidaknya kita tinggal beberapa menit kemudian pulang." Jayce terus berusaha membujuk Kimberly.

"Tidak. Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Aku ingin pulang dan bertemu dengan Sophie dan Ray."

Jayce yang mendengar nama Ray disebut seketika terpancing. Ditariknya sebelah tangan Kimberly dan membawanya ke tempat yang lebih jauh dari tempatnya semula, menghindarkan dirinya dan juga Kimberly dari tatapan penasaran orang- orang yang mulai keluar dari bangunan itu.

"Berhenti bersikap kekanak- kanakan, Kim."

"Apa?"

"Memang ada apa denganmu? Kenapa kau mendadak berubah seperti ini? Ini tidak seperti dirimu yang selama ini kukenal."

Kimberly menyentak tangan Jayce keras hingga terlepas dari tangannya.

"Apa kau memang mengenalku?" Tanyanya sementara matanya basah menatap lurus mata Jayce.

"Apa?"

"Kalau kau mengenalku, kau tidak mungkin membawaku ke tempat ini."

"Apa?"

"Kalau kau mengenalku, kau sudah pasti akan membawaku pergi dari tempat ini."

"Apa yang...?"

"Tapi tidak satupun yang kau lakukan. Aku sudah mengatakan kalau aku tidak menyukai tempat ini. Aku membencinya tapi kau..."

"Kau egois." Cetus Jayce tiba- tiba. "Kau orang yang paling sombong yang pernah kukenal. Kupikir kau akan mengerti karena kau juga pernah tinggal di tempat seperti ini. Tentunya kau yang lebih tahu bagaimana perasaan anak- anak yang tidak memiliki orang tua itu karena kau pernah mengalaminya, aku cukup beruntung karena aku masih memiliki grandmere disampingku tapi kau... aku tidak mengerti, Kim. Kupikir... aku salah menanggapi tentangmu." Ucap Jayce seraya mengusap kasar wajahnya.

Tidak ada yang bicara. Masing- masing dari mereka sibuk dengan pikiran mereka.

Kalian membutuhkan waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu

Seberapa banyak kau mengenal, Jayce?

Menikah bukanlah keputusan yang bisa dibuat secepat kilat.

Pernikahan kalian bisa saja dibatalkan dan jika bukan berasal darimu maka Jayce mungkin yang akan melakukannya.

"Jadi," sejenak Kimberly menutup matanya, berusaha memantapkan hatinya pada keputusan yang baru saja dibuatnya, tidak memperdulikan perasaan sakit yang dirasakannya. Ia kembali membuka matanya dan langsung tertuju pada kedua mata dihadapannya. "Kita berakhir sampai disini."

"Apa?" Jayce terkejut, tidak menyangka kalau gadis dihadapannya akan mengatakan hal itu padanya.

"Kau tidak ingin mempublikasikan pernikahan kita jadi kupikir akan lebih baik kalau kita segera mengakhiri pernikahan ini. Apa yang mereka katakan benar, Kita berdua adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Mereka juga mengatakan kalau salah satu dari kita bisa membatalkan pernikahan ini jadi," sekali lagi Kimberly menghembuskan napasnya, kali ini terasa seperti ada batu yang menghimpitnya, sangat berat dan sulit. "Selamat tinggal Jayce."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS