BTY - DUA PULUH DUA


Cover made by greyanakim@gmail.com
*

"Jangan bodoh, Paula." Suara itu mendesak tak percaya. "Kau tidak bisa melakukannya."
"Kenapa tidak," suara yang tidak kalah mendesak mengatakan sebaliknya. "Dia putriku."
"Dia bukan putrimu. Dan kau tahu itu."
"Tidak. Dia putriku, Betrice. Tidakkah kau melihatnya? Tuhan membawanya kembali padaku."
Sejenak Betrice melihat sahabatnya itu dengan nanar. Sahabat yang telah dianggapnya seperti saudara sendiri. Betrice mengerti, bahkan sangat mengerti dengan perasaan sahabatnya itu. Putri sulungnya, Anna beberapa hari yang lalu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Hal yang membuatnya semakin berkubang dalam kesedihan adalah karena dari penyelidikan yang dilakukan oleh polisi. Gadis itu sedang hamil muda dan besar kemungkinan dia baru saja akan memberi tahu pria yang telah menghamilinya- yang bahkan mereka sendiri pun tidak tahu kalau selama ini Anna menjalin hubungan secara diam- diam- tapi dari dulu memang Anna senang memberontak. Dia sering bersitegang dengan Patricia dan Patricia membalasnya. Tapi puncaknya adalah Kala itu entah bagaimana adu mulut Anna dan Patricia semakin besar dan Anna mengambil seluruh pakaiannya dan memasukkan ke dalam tas setelah mengatakan kepada seluruh orang yang bisa mendengar kalau dia akan menjalani kehidupan bahagia dan dia tidak sudi lagi bersama keluarga yang menurutnya tidak dapat diharapkan.
"Apa kau tidak melihat  keadaannya?" Betrice kembali mendesak, sementara matanya ikut melihat sahabatnya yang lain. John Wildblood, suami Paula. "Dia terluka. Kita harus menghubungi keluarganya."
Tanpa Betrice duga, Paula berteriak. "Kami keluarganya! Tidakkah kau melihatnya? Dia Anna. Dia putriku. Kenapa kau tidak bisa mengerti?"
"Paula..."
Terdengar suara helaan napas lelah, berasal dari John. "Dia putri kami, Betrice." Sahut John menghembuskan napas panjang.
"Tapi John..."
"Dia putri kami. Dia Annabelle kami. Dan tidak seorang pun yang boleh mengatakan sebaliknya."
"John. Kau..."
"Cukup Betrice. Paula benar." Jeda sesaat. "Jika kau tidak bisa menganggapnya seperti itu, maka kau boleh pergi."
***
Butuh waktu yang sangat lama bagi Betrice untuk menerima semuanya. Betrice tahu apa yang dilakukannya ini sudah memancing hal yang sudah diprediksinya sudah lama tapi tidak ada yang bisa dilakukannya, pasangan Wildblood itu sudah membuatnya berjanji. Janji yang seakan membuatnya terikat dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain menepati janji itu.
Bahkan semuanya terjadi atas kehendak Tuhan. Seakan Tuhan merestui apa yang terjadi. Gadis yang ditemukan oleh John dan Paula dalam keadaan lemah dan berdarah- darah itu, entah bagaimana berhasil melewati masa kritisnya. Gadis itu sedang hamil dan keguguran, sudah jelas. tapi dia berhasil bertahan kemudian sadar dalam keadaan tidak mengingat apapun sehingga Paula langsung memanggilnya dengan Anna. Putrinya.
Dan sekarang Betrice dilanda kegundahan yang luar biasa dan semua ini karena tiba- tiba saja seorang pria yang mengaku sebagai suami gadis itu, Jeremiah Culton. Sekeras apapun dia berusaha untuk menutupinya tapi dari tatapan yang dilayangkan Jerry padanya, seakan membuatnya tidak tahan lagi.
Dia ingin mengatakannya, bahkan kata- kata itu sudah berada di ujung lidahnya ketika kembali kalimat yang sama terucap dari bibir Paula tepat sebelum dia menghembuskan napasnya yang terakhir.
Jangan biarkan putriku, Anna pergi lagi. Jaga dia Betrice. Kumohon.
Dan keadaan semakin memburuk saja sepanjang yang bisa dilihatnya.
"Ugh," Anna mengerang dari tidurnya, membuka mata dan langsung melihat Betrice. "Betrice? Apa yang..." Anna mencoba untuk bangkit tapi kepalanya rasanya masih sakit lalu kemudian dia mengingat semuanya. "Ya ampun. Aku pingsan karena dijatuhi buku- buku itu."
Betrice tersenyum, seraya membantu Anna untuk bangkit dan menyodorkan segelas minuman kearah gadis itu. "Kau tidak bisa menyalahkannya. Siapapun pasti akan langsung pingsan jika dijatuhi buku yang sebesar dan sebesar kamus itu."
"Tapi astaga," Anna masih tidak bisa mempercayai apa yang telah terjadi dan mengulurkan sebelah tangannya ke atas, ke kepalanya dan merasakan ada benjol disana. "Ya. Paling tidak tidak ada yang terluka."
Satu hal yang disukai oleh Betrice dari sikap Anna adalah, Anna tidak pernah terlalu memusingkan apa yang telah terjadi dan mengubahnya menjadi semacam candaan yang membuat siapa saja menjadi tenang. Sangat berbeda dengan Anna yang dulu. Sungguh mengherankan bagaimana keadaan bisa sangat berbeda 360 derajat. Anna yang dulu sangat sombong dan meledak- ledak yang berasal dari kota kecil dan hanya bertumpu dari hasil peternakan yang tidak seberapa tapi Anna yang sekarang sangat jauh berbeda, meskipun ketika pertama kali melihatnya. Betrice sudah tahu kalau Anna yang sekarang bukanlah dari kalangan orang biasa.
"Kau terluka dan itu jelas sudah membuktikan semuanya." Balas Betrice, mengambil kembali gelas dari tangan Anna dan meletakkannya di atas meja.
Anna nyengir. "Jadi bagaimana aku bisa kembali disini?" Tanyanya. "Kuharap tidak melibatkan ambulans dan sebagainya."
"Oh. Aku hampir saja melakukannya. "Anna membelalak karena ngeri, lalu Betrice melanjutkan sambil terkekeh. "Tidak. Patricia menelponku, sambil menangis- nangis. Mengatakan kalau kau tertimpa reruntuhan buku."
"Oh!" Anna baru ingat, "bagaimana Patricia? Apa dia juga terluka?" Tanya Anna cemas.
Betrice menatap lama Anna, kemudian mendesah. "Dia baik- baik saja, Ann. Jangan terlalu mencemaskannya." Lalu Betrice berdiri dari duduknya. "Istirahatlah dulu. Aku tidak membawamu ke rumah sakit karena aku tahu pasti memalukan buatmu jika kau mendapati dirimu sendiri berada dalam keadaan seperti ini hanya karena buku."
Anna nyengir. "Yeah. Pingsan karena dijatuhi buku terdengar tidak elit bagiku." Lalu dia tersenyum. "Terima kasih, Betrice."
"Untuk apa?"
"Karena selalu bersama kami. Karena selalu membantuku dan karena berada didekatku. Kau sahabat terbaik ibuku yang pernah ibuku miliki, begitulah ibuku menceritakannya."
Tenggorakan Betrice tercekat lalu menghembuskan napas, sangat panjang hingga rasanya nyaris tidak bisa bernapas lagi. Diciumnya kening Anna dengan kasih sayang dan berkata "bahkan kaulah malaikat penyelamat dalam keluarga ini."
"Eh?"
"Istirahatlah, Ann. Akan kubangunkan kau jika makan malam sudah siap."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS