LOVE MISSION - 18
"Jayce?"
Kimberly nyaris tidak dapat mempercayai penglihatannya ketika mendapati Jayce berada di tempat yang sama dengannya dan hanya memakai jeans hingga memperlihatkan dadanya yang tampak bidang.
"Apa yang kau lakukan disini?" Dia sudah memikirkan Jayce seharian ini dan bermaksud akan menemui pria itu setelah dia menjalankan pemotretan hingga suatu pemikiran kembali menerjang otaknya.
"Apa kau model prianya?" Tanya Kimberly lagi. Jayce baru saja akan menjawab ketika mendadak Martin muncul.
"Nah anak- anak sekarang kalian boleh mengambil pose di sofa sana. Usahakan senatural mungkin jadi aku bisa mengambil gambar terbaik kalian". Ujar Martin mengindahkan tatapan Jayce yang tertuju padanya.
"Um... Martin, apa Jayce partnerku?" Tanya Kimberly memastikan.
Martin tersenyum mengiyakan. "Tentu saja, Beauty. Apa kau melihat model pria lain disini?"
"Tapi Jayce bukan model?"
"Ck...duduklah disana dan jangan pedulikan kamera, okey Beauty". Kata Martin lagi seraya mendorong Kimberly agar duduk diatas sofa.
Kimberly sudah menyelesaikan satu sesi pemotretan tadi dan rencananya akan ada empat sesi pemotretan yang akan dilakukannya bersama model pria. Tempat pemotretannya telah diubah menjadi lebih mirip sebuah flat dengan satu sofa kecil dan beberapa barang yang sengaja disebarkan berantakan.
"Kim, tempatkan kepalamu di paha Jayce tapi tetap menatap matanya. Kalian bisa mengobrolkan apapun tapi tetap natural, okey? Anggap hanya ada kalian berdua disini". Perintah Martin membuat Jayce tidak sadar mendecakkan mulutnya.
Jayce tidak mengira kalau dia akan diminta untuk menjalani pemotretan seperti ini. London mendadak datang dirumahnya dan menyeretnya keluar hingga berada di tempat ini tapi dibandingkan itu semua. Pakaian apa yang dikenakan oleh gadis ini? Apa tidak ada pakaian yang lebih normal lagi?
Saat ini Kimberly hanya mengenakan pakaian kemeja kebesaran berwarna putih dan juga tipis hingga mungkin jika terkena air maka dalamannya juga akan terlihat.
"Kau sepertinya tidak suka". Komentar Kimberly untuk pertama kalinya dan Jayce terpaksa memalingkan wajahnya agar bisa menatap wajah Kimberly yang berada di bawahnya.
"Ya".
Klik...
"Kenapa kau bisa berada disini? Maksudku mengikuti ini?"
"London yang tiba- tiba menyeretku dan tahu- tahu aku sudah tidak memakai pakaian". Cercah Jayce tanpa menyembunyikan kejengkelannya tapi justru membuat Kimberly tertawa.
"Pasti London akan mendapatkan masalah kali ini".
Spontan Jayce mengangkat sebelah alisnya dan tanpa sadar menyentuh beberapa helai rambut di wajah Kimberly.
Klik...
Klik...
"Aku sedang memikirkannya".
Lagi- lagi Kimberly tertawa. "Ikutkan aku"
"Mengikutkanmu? Kenapa?"
Klik...
"Tidak ada". Balas Kimberly memamerkan senyumnya.
"Kimberly, bisakah kau bangun dan mengubah posisimu?"
Kimberly bangun dari sofa mengikuti saran Martin sementara Jayce masih duduk.
"Jayce renggangkan pahamu agar lebih lebar. Okey begitu. Nah, Kim. Naik dan duduk diatas paha Jayce. Usahakan tubuhmu menghadap Jayce".
Sontak Jayce membulatkan matanya mendengar instruksi Martin dan baru akan menolak ketika tahu- tahu Kimberly sudah berada dipangkuannya.
Dari sudut matanya, Jayce melihat Martin tersenyum puas. "Perfect! Nah, sekarang kalungkan tanganmu ke sekeliling leher Jayce dan Jayce taruh tanganmu di pinggul Kimberly. Nah begitu. Bagus! Kita akan mulai lagi".
Klik...
Jayce berusaha menahan dirinya untuk tidak kehilangan kontrol pada gadis di depannya.
"Apa kau pernah berpose seperti ini dengan model pria lainnya?" Jayce bertanya agar bisa membuat otaknya bekerja sekaligus penasaran.
"Ya". Kimberly mengangguk.
Sial!
"Sering?"
Sejenak Kimberly tampak berpikir lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya satu atau dua kali".
Sial!
"Kau terlihat biasa melakukan ini". Komentar Kimberly datar.
"Kau cemburu lagi?"
Dia mengangguk dan Jayce tanpa sadar memajukan tubuh Kimberly agar lebih dekat dengannya.
"Aku yang seharusnya cemburu karena sepertinya kau yang lebih sering melakukan ini ketimbang diriku".
"Aku jarang melakukan pose seperti ini. Kebanyakan pose seperti yang kau lihat kemarin".
Jayce menganggukkan kepalanya. "Tidak ada yang perlu kau cemburui. Tidak ada yang terjadi". Ucap Jayce pelan seraya menyentuh beberapa helai rambut Kimberly yang berada di keningnya.
"Benarkah? Termasuk Rhea?"
Jayce tertawa. "Aku bahkan tidak pernah melakukan ini dengan Rhea".
"Tapi akan, iyakan?"
Jayce terkekeh. "Kau ternyata sangat pencemburu ya?"
"Aku cemburu karena..."
"Aku menyukai melihatmu cemburu. Sangat menggemaskan".
Kimberly terkekeh dan mencium pipi Jayce membuat pria itu seketika bungkam.
"Terima kasih, Jayce karena sudah mau membantuku". Ucap Kimberly seraya menyunggingkan senyumnya lebih lebar.
***
Jayce memainkan game di tangannya kelewat antusias. Sejak pemotretannya bersama Kimberly seminggu yang lalu semakin membuat perasaanya tidak tenang. Dia mulai menyukai gadis itu tapi gadis itu justru menganggap kalau dirinya masih bertahan dalam misi konyol yang dibuat oleh gadis itu sendiri.
Lagipula selama ini dia tidak pernah memikirkan tentang misi itu tiap kali bersama Kimberly. Dia merasa kalau dia melakukannya karena memang menginginkannya dan tidak tahu sejak kapan dia memiliki perasaan itu.
"Jayce?"
Sejenak Jayce terdiam mendengar suara tidak asing itu di telinganya dan hening.
"Tidak mungkin dia berada disini". Gumam Jayce tertawa lalu kembali memainkan game di tangannya ketika secara bersamaan pintu kamarnya terbuka dan menampilkan London dan juga Kimberly.
Holy shit!
Cepat- cepat dia meraih kaos di dekatnya dan langsung mengenakannya.
"Kau pernah setengah telanjang ketika melakukan pemotretan dengannya. Kenapa harus malu?" Gurau London yang hanya terdengar di telinga Jayce.
Jayce hampir saja melempar apapun yang bisa diraihnya ketika Kimberly masuk kedalam kamarnya lebih dulu.
"Wah ini kamarmu?" Gumam Kimberly seraya berjalan menuju tumpukan buku dan komik yang tersusun rapi di dalam lemari kaca.
"Apa yang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau bisa kesini?"
"Aku bertemu London di kampus dan dia mengatakan kalau dia akan bertemu denganmu dan mengajakku kemari".
Serta merta Jayce melayangkan tatapan penuh ancaman pada London yang hanya dibalas pria itu dengan sebuah cengiran lebar.
"Terlalu banyak pria yang mengikutinya akhir- akhir ini jadi kupikir kenapa tidak sekalian membawanya kemari untuk mengamankan".
Ya. Jayce tahu. Semenjak Kimberly tersenyum, entah sudah berapa banyak laki- laki yang berusaha untuk mendekatinya. Sebagian besar menjadikan Kimberly bahan taruhan karena menyangka Kimberly sudah tidur dengannya. Entah siapa yang pertama kali menggosipkan hal itu tentang dirinya tapi siapapun itu, Jayce akan mencari tahu.
"Kamarmu bagus" komentar Kimberly dan baik Jayce maupun London sama- sama menghela napas karena ketidaktahuan gadis itu.
London bukannya memiliki perasaan khusus pada Kimberly tapi melihat bagaimana polosnya gadis itu membuat London yang tidak memiliki adik perempuan justru menganggap kalau gadis itu adalah adiknya. Lagipula melihat bagaimana sahabatnya itu belum memutuskan apa- apa tentang perasaannya membuat London sedikit kesal juga padahal sudah jelas kalau Jayce mulai menyukai sang supermodel.
"Aku akan menyiapkan cemilan". Ujar London kemudian.
Jayce mengangguk ketika kembali dia ingat kalau ini rumahnya dan London bukanlah ibunya. Kenapa London justru bersikap seakan dia adalah ibu dari Jayce dan hanya mengantarkan seseorang untuk masuk ke kamarnya kemudian meninggalkannya?
"Kau seharusnya tidak masuk ke kamar pria secara sembarangan seperti ini". Komentar Jayce seraya berdiri untuk menaruh gamenya di atas meja di samping Kimberly.
"Kenapa?"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu sementara kau berada di kamar seorang pria?"
"Oh"
Jayce lantas berbalik karena mendengar jawaban singkat dari gadis itu.
"Oh?"
Mendadak Kimberly tertawa. "Kau pria dan tidak ada yang terjadi padaku".
"Jadi kau mau mengujiku ya?" Tanpa peringatan Jayce membawa tubuh Kimberly ke atas tempat tidurnya. Menahannya agar tidak bisa kabur dengan dirinya yang berada di atas Kimberly. "Kau masih belum waspada?"
Kimberly terdiam menatap mata Jayce dan tersenyum.
"Kau sudah baikan?"
"Hah?"
"Kau seperti menghindariku sejak pemotretan kita. Apa aku membuat kesalahan padamu?" Kimberly memperlihatkan raut wajah sedihnya, membuat Jayce harus menghela napasnya.
"Maafkan aku. Kurasa aku tidak menyadari hal itu". Dan cup. Jayce mencium kening Kimberly dengan lembut hingga membuat kedua mata gadis itu membelalak.
"Kau menciumku?" Ada nada senang ketika Kimberly mengucapkannya. "Lakukan lagi, Jayce."
Mau tidak mau Jayce tersenyum melihat kepolosan gadis dibawahnya.
"Aku mau saja melakukannya tapi tidak ditempat yang tadi. Aku mau melakukannya di..."
"JAYCE! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Mendadak Rhea muncul dengan wajah merah padam menahan amarah ketika dibelakang Rhea muncul London dengan wajah penuh kekhawatiran.
***
Comments
Post a Comment