IY - SEMBILAN BELAS
--- aku marah karena mencintaimu, Cassandra.
Entah kenapa rasanya Cassie ingin tertawa terbahak- bahak saat ini. Jerry cemburu atau itulah yang saat ini ada dalam pikirannya, lagipula pembuktian apa lagi yang diperlukannya. Cassie ingat saat dimana Jerry untuk pertama kalinya menyatakan kepemilikan atas dirinya dihadapan Josh di kafenya dulu. Apa saat itu Jerry sudah memiliki perasaan yang khusus padanya? Telah menerimanya sebagai tunangan? Pemikiran itu mendadak membuat Cassie merasa senang.
Diam- diam Cassie melirik pria yang sedang mengemudi disampingnya. Jerry tidak mengatakan apa- apa setelah itu dan bersikeras untuk mengantar dirinya kembali ke rumah. Mereka berada dalam keheningan dan Cassie berpikir bukan langkah yang bijak jika dia menyuarakan pikirannya saat ini. Jerry masih terlihat marah tapi ada yang sedikit berbeda dari pembawaan Jerry yang baru disadarinya saat ini.
Semakin tampan?
Tidak.
Cassie menggeleng, menolak pemikirannya barusan. Pria itu sudah dari dulu tampan dan mempesona- membuatnya merasakan perasaan berdebar ketika pertama kali melihatnya.
Cassie terus memperhatikan tapi mencoba agar tidak ketahuan. Ya. Jerry semakin dewasa dan terlihat lebih bertanggung jawab dari yang sebelumnya. Mengurus kafe dan Institute pada waktu yang bersamaan tentunya membuat Jerry sibuk tapi pria itu sama sekali tidak pernah menunjukkan raut wajah lelahnya pada Cassie dan justru selalu menghabiskan waktu bersamanya seakan jika mereka tidak bersama maka hari mereka tidak akan lengkap.
Tak terasa mereka telah sampai di halaman rumah Cassie. Cassie bahkan tidak menyadari kapan Jerry turun dari mobil dan justru malah membukakan pintu agar dia bisa keluar.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Cassie katakan. Dia masih butuh waktu mencari pembendaharaan kata untuk menyikapi situasi ini.
"Kita akan menikah dua minggu lagi." Jerry berkata ketika mengikuti Cassie ke dapur untuk mencari minum.
Cassie tidak menjawab tapi juga tidak menunjukkan sikap bahwa dia setuju. Sebaliknya dia malah membuka pintu kulkas, mengeluarkan air, menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya saat itu juga. Tidak jauh darinya, Jerry bersedekap, menunggu jawaban. Biar bagaimanapun dia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya pada wanita itu meskipun ada perasaan kalau dia sudah melakukannya.
"Kapan kau memutuskannya?" Akhirnya Cassie bertanya setelah meneguk habis air di gelasnya. Dia tergoda untuk sedikit melakukan permainan pada prianya. Oh prianya! Terdengar aneh sekaligus mengelikan baginya tapi dia mencoba untuk tidak menampilkan senyumnya. Lagipula siapa suruh dia melamar dirinya sambil berteriak marah? Seumur hidup, Cassie sama sekali tidak pernah melihat seseorang melamar seorang wanita dengan berteriak marah yang mengatakan dia mencintaimu dan harus menikah dengannya. Bah!
Dan dari itu semua, bagaimana mungkin tidak ada cincin atau... bunga. Setidaknya setangkai mawar putih kesukaannya tidak akan membuat Jerry bangkrut seketika. Benarkan?
"Tadi."
Cassie ingin tertawa. Pasti pria itu sangat menginginkan dirinya menjadi miliknya... sama seperti dirinya yang juga menginginkan Jerry.
Cassie berjalan keluar dari dapur menuju kamarnya yang tanpa di duga oleh Cassie, Jerry ikut mengikutinya.
Sudahlah. Tidak ada gunanya melarangnya saat ini. Pikir Cassie lagipula dia juga tidak ingin Jerry pergi.
Cassie tidak melarang tapi tidak juga mempersilahkan pria itu masuk kedalam kamarnya. Sejauh ini dia hanya membiarkan Jerry dalam pikirannya sendiri tapi Jerry juga tahu diri. Yang pria itu lakukan hanya bersandar di depan pintu kamar Cassie sambil terus menatap Cassie mondar- mandir menyimpan barang- barangnya ketika mendadak sebelah alisnya terangkat ketika Cassie membuka sweater yang dikenakan wanita itu, menampilkan dress dengan tali tipis di bahunya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau harus melakukan itu, Jerr."
Kening Jerry semakin terangkat apalagi Cassie sekarang malah menutup jarak diantara mereka dan memeluk pria itu.
"Apa maksudmu?"
Sikap Cassie yang mendadak berubah seketika membuatnya kebingungan. Dia tidak bisa memikirkan apapun dan ikut mendekap wanita itu agar semakin rapat dengannya. Kemarahan yang tadinya ia rasakan mendadak berubah menjadi kerinduan yang mendalam apalagi Cassie sekarang sedang menciumi sepanjang rahang Jerry. Sama halnya dengan Jerry, Cassie juga sangat merindukan pria tukang paksa ini tapi juga sangat dicintainya. Dia merindukan rasa bibir dan tangan besar Jerry di seluruh tubuhnya. Entah apa yang membuatnya semakin bertambah merindukan hal itu tapi satu hal yang pasti dia menginginkan Jerry saat ini.
"Kau mendadak memutuskan untuk menikah denganku seakan aku akan menghilang secara tiba- tiba."
Jerry tersentak. Sedikit menjauhkan wajahnya dari Cassie dan menatap kedua mata itu.
"Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu. Apa perlu penjelasan lain?"
Cassie tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Jerr dan oh, aku juga menginginkanmu sebesar kau yang menginginkan... atau mungkin lebih," Cassie sengaja mengedipkan sebelah matanya. "Tapi itu tidak berarti kita akan menikah secepat itu. Dua minggu. Dua minggu bukanlah waktu yang lama untuk mengurus semuanya." Cassie tetap harus berpikir secara logis. Dia membutuhkan waktu untuk melakukan pengepasan gaun pengantin yang pastinya akan memakan waktu yang lama, belum lagi sesuatu yang lainnya.
Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Cassie, Jerry menunduk untuk mengecup hidung kemudian bibir Cassie.
"Aku yang akan mengurus semuanya," Cassie terbelalak membuat Jerry semakin menyunggingkan senyumnya. "Yang kau lakukan hanya datang dan mengatakan kalau kau bersedia menikah denganku. Setelah itu kau resmi menjadi milikku sepenuhnya."
Cassie menggeleng. "Aku juga punya kehidupan sosial."
"Aku tidak melarangmu untuk berhenti menjalani kehidupan sosialmu, sayang. Aku hanya menginginkanmu menjadi milikku sepenuhnya. Tidak bertemu pria lain selain aku, tidak juga pria yang baru saja kau temui."
Cassie mengernyit. Merasa tidak suka dengan pengusulan ini. "Hal itu masih bisa diperdebatkan."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku," Cassie berkata lambat- lambat. "Hubunganku dengan Matt sudah berakhir sejak lama dan tidak ada gunanya kau cemburu padanya."
Seketika tubuh Jerry menegang. "Tentu saja aku cemburu. Tidak. Aku marah. Apa kau tidak lihat? Dia hampir saja menciummu! Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak berada disana. Aku hampir saja membunuhnya."
Cassie bergidik tapi mencoba menyamarkannya dengan membuatnya terlihat seperti lelucon.
"Well, meskipun aku menyukai pria tampan dan juga berani yang rela mengorbankan hidupnya untukku tapi sejujurnya aku tidak ingin kau di penjara. Bisa saja selama di penjara kau menjadi tidak terurus."
Jerry mengernyit. "Kau pasti melihatnya seakan aku sedang bercanda, iya kan?"
Cassie mengangguk. "Yep."
Jerry tersenyum. "Apa itu berarti kau akan berhenti mencintaiku?"
Cassie ikut tersenyum. "Aku selalu mencintaimu, Jeremiah Culton."
"Begitu pun denganku." Balasnya seraya mengecup bibir Cassie lagi.
"Tapi biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Matt terlebih dahulu."
"Tidak." Jerry memberikan penekanan dalam suaranya tapi Cassie sudah bisa mengantisipasinya. Mungkin jika Jerry mengatakan hal ini beberapa bulan yang lalu- sebelum pria itu mengatakan kata cinta padanya, sudah pasti Cassie akan menolak tapi Cassie memaklumi kecemburuan Jerry saat ini meskipun sedikit terdengar konyol di telinganya.
"Aku tidak pernah melarangmu menemui Lea."
"Apa?"
Sebenarnya Cassie juga bersikap konyol. Bagaimana mungkin beberapa hari yang lalu dia merasa cemburu pada Lea padahal Lea sudah bersuami tapi sulit rasanya mengindahkan ingatan jika tunanganmu pernah berhubungan dengan seorang wanita cantik seperti Lea dan sekarang berteman akrab, tidak hanya dirinya tapi hampir seluruh kenalannya.
"Aku tahu kalian pernah menjalin sebuah hubungan." Kata Cassie
"Hal itu tidak sama."
"Begitupun denganku, Jerr." Balas Cassie. "Kalian pernah tinggal bersama ketika kau tahu, kita sudah bertunangan tapi aku tidak mengatakan apapun saat itu kemudian aku bertemu Matt dan Matt mengisi kekosongan itu. Intinya adalah aku ingin hubunganku dengan Matt berjalan baik- baik saja. Sama seperti kau dan Lea."
"Aku dan Lea saat ini sahabat. Pria itu- Matt adalah kasus yang berbeda. Dia masih mencintaimu."
"Aku tahu."
"Kau tahu?" Jerry membelalak tidak percaya. "Tapi kau masih memberikan harapan padanya?"
"Tidak memberikan harapan. Hanya saja dia kesepian."
"Kesepian bukanlah jawaban yang tepat untuk kita diskusikan saat ini. " Putusnya. "Dan berapa lama tepatnya kalian menjalin hubungan?"
"Well, mungkin kurang dari dua bulan."
Jerry semakin terbelalak. "Dan kau seakan sudah mengenalnya sejak lama?"
"Tidak seperti itu."
"Kita tidak akan membicarakan ini lagi."
"Apa? Tidak!"
"Tidak? Kenapa? Sebentar lagi kau menjadi istriku dan aku tidak ingin ada pria lain yang mendekatimu."
"Matt tidak seperti itu."
"Oh, dari tatapannya padamu. Aku bisa menilai pria seperti apa dia."
"Astaga Jerr! Apa kau tidak bisa tidak menjadi sebrengsek ini?"
"Apa?"
Entah sejak kapan mereka tidak lagi berpelukan dan saling menatap tajam.
"Ya. Kau juga egois."
Jerry terdiam selama beberapa saat kemudian menghembuskan napasnya dan berkata. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan."
"Ya. Aku tahu apa yang kulakukan dan..." Cassie menghembuskan napasnya. "Aku tidak akan menikah denganmu."
***
Comments
Post a Comment