BTY - DUA PULUH



Jerry terpaksa harus mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya ketika dengan canggung Anna membalas pelukan Monica dan Wilson Swan, orang tua kandung wanita itu.
Jerry tidak sadar bahkan sama sekali tidak menduga kalau sedetik setelah orang tuanya mengetahui kalau Anna masih hidup, dengan cepat kedua orang tuanya- tepatnya ibunya menghubungi ibu Anna, Monica. Dan saat ini Monica menangis bahkan tersedu- sedu ketika mendaratkan pelukan penuh kelegaan beserta kegembiraan mengetahui putri satu- satunya tidak seperti yang selama ini dia kira.
Jerry tahu. Sama halnya dengan dirinya, baik Monica maupun Wilson juga sangat berduka. Apalagi ketika itu tidak seorang pun diantara mereka yang tahu kalau Anna sedang hamil. Wanita itu berhasil menyembunyikan semuanya tanpa jejak dan menyatakan kalau dia ingin memberi kejutan. Tapi bukannya kejutan yang mengembirakan. Semua orang dipaksa melihat kejutan mengerikan dimana dia di tembak di hari pernikahannya sendiri dan tubuhnya di dorong dari jembatan oleh pria yang pernah menjadi kekasihnya.
"Syukurlah... Syukurlah kau masih hidup, sayang." Monica mengelus wajah putrinya dengan lembut. "Tuhan memberkatimu, Cassandra. Sungguh. Tuhan sangat memberkatimu."
Jerry memperhatikan sedetik yang lalu wajah Anna mengernyit lalu mengubahnya menjadi senyum simpul. Wanita itu memang pernah mengatakan kalau dia masih belum terbiasa dengan nama panggilannya yang dulu. Sesuatu yang menurut Jerry konyol karena dia ingin orang memanggilnya dengan sebutan Anna.
Jerry masih belum bisa memaafkan Patricia, karena berkat dia hingga istrinya hampir saja meninggal di depan matanya. Lagi.
Memikirkan kejadian kemarin membuat otaknya mendidih lagi, ditambah dengan sikap Betrice yang berusaha menyembunyikan semuanya dari Anna. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari Anna? Kenapa mereka tidak ingin Anna mengingat semuanya? Mereka bahkan bukan keluarga Anna yang sebenarnya. Jadi kenapa mereka harus repot- repot?
"Kembalilah ke New York, sayang." Ujar Monica meminta. "Kami akan mencari dokter terbaik yang akan menyembuhkan dirimu."
Anna terenyak. Tidak mampu berkata- kata.
"Kurasa itu bukan ide yang bagus, Monica." Mendadak Jerry ikut berbicara. Dan entah dia sadar atau tidak. Mendadak ruangan menjadi hening. Semuanya seakan menunggu. Bahkan Elena yang biasanya menengahi ikut diam di sisi suaminya dan Claire. "Saat ini London adalah tempat terbaik untuknya." Lanjut Jerry seraya melangkahkan kaki kearah Anna dan mengenggam sebelah tangan Anna sesampainya ia disamping wanita itu.
"Apa maksudnya itu?" Ujar Monica tajam.
Suasana semakin mencekam di sekeliling mereka. Semua orang tahu- tidak termasuk Anna. Monica dan Jerry nyaris tidak pernah bertegur sapa. Semua ini karena Monica masih menyalahkan Jerry atas apa yang telah terjadi, bahkan ditambah dengan ia menghamili putrinya sebelum hari pernikahan membuat wanita paruh baya itu semakin marah.
"Maafkan aku, Monica tapi selama Cassie belum mengingat semuanya maka akan lebih baik jika dia masih tetap disini." Sebenarnya bukan itu alasan yang sebenarnya. Jerry tahu sifat wanitanya itu. Jelas Anna tidak akan meninggalkan negara yang diyakininya sebagai rumahnya selama ini apalagi ditambah dengan keyakinannya kalau dia memiliki keluarga lain selain Monica dan Wilson Swan. Anna mungkin akan kaget dan mungkin bisa syok jika mendapati paparazzi berada di depan rumahnya sementara dia sendiri belum ingat kehidupannya yang dulu.
"Omong kosong!" Sergah Monica kasar. "Apa kau tidak mendengarkan kalau aku akan membawa dokter pintar manapun untuk mengembalikan ingatan putriku."
Disela- sela genggamannya, Jerry bisa merasakan tubuh Anna yang tiba- tiba menegang. Jerry tidak tahu apa yang akan dilakukan Anna yang dulu jika dihadapkan pada situasi ini. Apakah wanita itu akan memberontak? Ataukah apakah wanita itu akan diam seperti yang dilakukannya sekarang? Sulit memutuskan.
"Tentu saja kau bisa melakukannya, Monica." Monica mendelik padanya sebagai balasan dan Jerry semakin mengeratkan genggaman tangannya. Berusaha mengirimkan pada wanita disampingnya itu kalau mereka bisa menghadapinya. "Kita semua juga bisa melakukannya," Jerry sengaja mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berakhir kearah Brandon yang kemudian dibalas oleh pria itu dengan anggukan kecil. "Tapi pikirkan apa yang akan dihadapi oleh Cassie kelak. Orang- orang akan berkumpul untuk bisa menanyainya dan bagaimana dia bisa bertahan hidup selama ini." Sadar atau tidak sadar, Anna menegang. "Jelas itu akan membawa dampak yang berbeda."
"Aku bisa menyewa beberapa pengawal untuk menjaganya."
Untuk sesaat Jerry mendesah. Dulu ketika ia dan Anna masih bertunangan, Monica lebih mempercayakan mengenai kehidupan Anna di tangannya. Entah bagaimana dua tahun belakangan ini semuanya berubah dan Jerry tidak tahan untuk tidak memperlihatkan statusnya.
"Apa kau belum sadar kalau saat ini Cassie masih berstatus sebagai istriku?" Jerry jelas tidak ingin bersikap kasar tapi situasi ini memaksanya untuk melakukan itu. Bisa dilihat kalau kedua mata Monica seketika membelalak karena perkataan Jerry barusan lalu kemudian beralih pada sang suami di sampingnya. Wilson tidak mengatakan apa- apa dan itu sudah cukup membuat Jerry mendapatkan sedikit dukungan. Dia menghargai Wilson dan menganggapnya sebagai ayah kedua selain Howard, ayahnya. Pria memiliki pandangan tersendiri jika menyangkut wanitanya.
"Apa kau sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Jerry barusan?" Suara tajam Monica tertuju pada suaminya.
"Monica," Tessa ikut bersuara tapi kemudian dihentikan oleh suaminya.
Selama beberapa detik, Wilson menghela napas panjang. Bergantian memandangi wajah istri dan putrinya lalu kembali menghela napas.
Kedua mata Monica membelalak. "Jangan katakan!"
"Sayang."
"Jangan coba- coba, Wilson! Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku? Apa kau tidak bisa sedikit saja memahami apa yang selama ini kurasakan? Kupikir... Kupikir kau tahu segalanya. Aku menunjukkannya," air mata Monica kembali hingga jatuh ke pipi. "Kenapa tidak ada yang bisa memahami apa yang kurasakan? Putriku dikatakan meninggal di hari pernikahannya dan coba lihat, tidak seorangpun yang mendukungku untuk mengobati putriku sendiri." Air mata Monica semakin deras.
Hingga kemudian Jerry merasakan genggaman tangannya yang dilepas.
"Aku mengerti, Mom." Sahut Anna mendekati Monica lalu membawa kedua tangannya agar bisa bersentuhan. "Dan aku akan ikut denganmu."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS