LOVE MISSION - 28
Kecelakaan yang sengaja dibuatnya tidak berarti apa- apa baginya. Yang terpenting adalah sosok yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Jayce, kau tidak apa- apa?" Seru London setelah berhasil membebaskan Jayce dari kerumunan orang yang saat ini mengelilingi baik itu Jayce maupun rival yang ditabraknya, Anthony.
"Aku tidak apa- apa. Panggil ambulans. Anthony mungkin terluka parah karena tabrakan tadi" suruh Jayce pada beberapa orang yang masih mengerubunginya. "Aku tidak apa- apa" kali ini Jayce terpaksa menekankan maksudnya dan membuka paksa helm yang menutupi kepalanya dengan paksa ketika mendengar suara tercekat beberapa orang yang berada tidak jauh darinya. Dia tidak perlu mencari tahu apa yang terjadi karena bau amis di keningnya sudah menjelaskan itu semua.
"Kau juga perlu dokter. Ayo! Aku akan mengantarmu." Serunya seraya hendak menarik tangan Jayce ketika langsung ditampik oleh pria itu.
"Sudah kubilang aku baik- baik saja." Jayce tidak mengerti kenapa Kimberly hanya terdiam menatapnya. Apa dia masih syok dengan kejadian tadi?
Jayce melangkahkan kakinya hendak mendekati sosok gadis yang hampir membuatnya jantungan karena kehadirannya yang tiba- tiba tadi di lintasan. Untung saja ketika motor yang dikendarai Anthony masih bisa terkejar karena jelas terlihat kalau Anthony sama sekali tidak memperhatikan jalanan didepannya- dan Jayce terpaksa menabrakkan dirinya agar bisa menghindarkan sosok gadis yang mengambil seluruh kehidupannya itu dari hal buruk yang bisa saja terjadi padanya tadi.
Ketika kedua keningnya sama- sama saling bertaut, melihat Kimberly yang pelan- pelan melangkah mundur tiap kali dia melangkahkan kakinya kearah gadis itu.
Apa dia terluka?
Jayce memperhatikan seluruh tubuh Kimberly, berharap tidak menemukan satu pun luka pada tubuh itu dan bernapas lega karena dugaannya salah.
"Sa...yang...?"
Sekuat tenaga Jayce menahan dirinya agar tidak langsung menghempaskan tubuh yang mendadak muncul itu ke tanah karena telah berani menyentuh dan merengkuh tubuh miliknya ketika menyadari satu hal yang sempat membuatnya bingung.
Tatapan itu.... tatapan yang diperlihatkan oleh gadisnya bukanlah tatapan kaget atau apalah itu tapi lebih kepada ketakutan hingga nyaris kosong. Seperti seluruh jiwa Kimberly dihisap oleh Dementor.
"Apa yang...?"
"Stay away from her, Caldwell!" Tekan Ray berbahaya, memotong ucapannya sebelum meluncur keluar dari bibirnya.
Mata itu tidak menatapnya dan untuk pertama kalinya Jayce merasa sangat sakit. Kimberly tidak mengatakan apa- apa dan justru memegang ujung baju yang dikenakan oleh Ray dengan erat.
"Aku akan mengantarmu" ujar Ray seraya memapah Kimberly pergi dari tempat itu.
Jayce tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Dia syok. Kimberlynya tidak terlihat seperti Kimberly yang dikenalnya. Ini seperti ada tembok tak kasat mata yang menghalangi dirinya agar tidak mendekat dan dia sangat membenci hal itu.
Dia baru akan mengejar Ray dan Kimberly ketika lengannya ditahan oleh London.
"Kita perlu mengobati lukamu dulu"
"Persetan dengan luka ini, London! Aku tidak peduli" sergah Jayce hendak melepaskan diri ketika tangannya tak kunjung dilepas. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
"Apa kau gila?! Kau menakutinya! Apa kau tidak menyadari penampilanmu sekarang?! Kau kacau sobat dan kau sudah melihat ekspresi wajahnya tadi. Kau akan membuatnya histeris jika melihat keadaanmu saat ini"
Jayce terdiam berusaha menyerap setiap kata dalam otaknya ketika akhirnya dia menghela napas, mengalah.
"Kau benar" ucapnya lemah
Untuk sesaat London menghela napas lega. "Apa kau tahu, kau tampak sangat berbeda jika itu menyangkut tentang dirinya. Kau seperti rela menerjang neraka hanya untuk menyelamatkan dirinya. Ini bukan dirimu yang biasanya"
.
.
.
London berusaha untuk tidak mengertakkan giginya tapi tidak cukup berhasil. Saat ini mereka berdua sedang berada didepan apartemen Kimberly, menunggu sosok yang dikenalnya itu muncul tapi setelah dua jam mereka menunggu, tidak ada tanda- tanda kalau Kimberly akan muncul.
London juga sudah merasa lelah, bukan karena fisik tapi lebih karena lelah menghadapi kekeras kepalaan Jayce menyangkut gadis itu. Bagaimana tidak, Jayce menolak untuk pergi ke rumah sakit dan memilih untuk membeli obat antiseptik dan perban di apotik dekat dari apartemen Kimberly. Jadilah kening Jayce hanya diperban seadanya oleh London yang berusaha mati- matian agar tidak sekalian menghancurkan otak sahabatnya itu.
"Pulanglah lebih dulu. Aku akan menunggunya di depan pintu apartemennya"
"Apa?"
"Oh dan jangan biarkan Grandmere atau Rhea tahu tentang ini. Pastikan saja kau mengatakan apa saja tapi jangan biarkan mereka tahu tentang aku maupun Kimberly"
"Apa? Tapi..."
"Aku mengandalkanmu, sobat" lalu Jayce keluar dari mobil yang membawanya dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas, tempat tinggal Kimberly Moss.
Dua puluh menit Jayce menunggu. Waktu telah menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit ketika matanya menangkap sosok yang sudah ditunggunya. Untung saja tempat yang dipilihnya sedikit terlindung dari cahaya jadi tidak seorangpun akan menyadari kehadirannya.
"Terima kasih, Ray" ucap suara lirih itu.
"Kau baik- baik saja? Kenapa kau memilih pulang? Apa kamarku tidak nyaman untukmu?"
Kimberly menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja aku ingin sendiri"
Ray mengelus rambut Kimberly lembut dan mencium puncak kepala itu.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu sore ini. Kau memiliki jadwal pemotretan bukan?"
"Ya" jawabnya mengangguk.
"Baiklah" lalu sekali lagi Ray mengecup puncak kepala Kimberly dan berbalik untuk pergi.
Jayce berusaha menahan perasaan ingin menonjok wajah seseorang tadi ketika alam bawah sadarnya memperingati dirinya dengan tegas. Dia lalu memperhatikan Kimberly yang menekan password apartemennya hingga terdengar suara bip ketika Jayce memutuskan untuk memperlihatkan dirinya.
"Aku menunggumu," ucap Jayce. "Sejak tadi"
"Jay....ce... apa yang kau...?" Kalimat Kimberly terhenti ketika tubuhnya langsung direngkuh. "Jayce?"
"Aku mengkhawatirkanmu" dia tidak pernah merasakan perasaan ini pada siapapun dan melihat Kimberly tidak menghindarinya seperti tadi membuat perasaannya lega teramat sangat.
"Maafkan aku" ucap Kimberly lirih, menenggelamkan wajahnya ke tubuh pria yang menjadi favoritnya. Dia menolak menginap di apartemen Ray karena disana tidak ada bau prianya. Dia ingin tidur karena aroma tubuh Jayce mungkin saja menempel di bantal miliknya.
Dengan pelan Kimberly melepaskan dirinya, masih dengan kedua tangannya yang berada dipinggang Jayce. Kedua matanya menelusuri lekuk wajah Jayce dan tersenyum sedih ketika melihat luka di kening pria itu.
"Apa itu sakit?" Dia ingin menyentuh luka itu tapi justru berakhir dengan tangannya yang dibawa oleh Jayce dan mengecup jari- jarinya.
"Aku tidak apa- apa"
"Aku melihatmu... berdarah tadi" dengan susah payah Kimberly mengatakan kalimat itu dan hampir saja menangis ketika Jayce memutuskan untuk mengambil alih.
"Aku akan menciummu jika kau berani menangis" ancam Jayce terdengar sungguh- sungguh tapi sebenarnya itu hanya sebagai kedok agar gadisnya tidak mengeluarkan air mata yang mana sangat dibencinya ketika yang terjadi malah sebaliknya. Kimberly justru berjinjit dan mengecup bibir Jayce, membuat Jayce terpaku selama beberapa detik.
"Aku menyukai caramu yang menciumku" ucap Kimberly langsung. "Rasanya menyenangkan" lanjutnya dengan senyum yang terukir di wajahnya. "Apa kau akan menginap malam ini? Aku ingin tidur denganmu"
Kedua mata Jayce mengerjap ketika senyum menggoda tampak di wajahnya.
"Tapi aku tidak hanya menginginkan tidur"
Eh?
"Apa kau tertarik melegalkan pernikahan kita?"
Tidak ada jawaban dari Kimberly ketika kedua matanya berkedip beberapa kali dan Jayce hampir saja tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Kedua pipi Kimberly merah dan dia tampak malu- malu. Sangat menggemaskan.
"Ya"
Dan Jayce tidak tahan lagi untuk tidak mencium bibir merah muda itu terlalu lama dan membawa tubuh mereka masuk kedalam apartemen yang sudah terbuka, masih dengan bibir yang masih bertaut.
.
.
Klik....
.
.
Klik....
.
.
Klik....
***
Comments
Post a Comment