BTY - EMPAT
The cover by greyanakim@gmail.com
*
Ini aneh. Pikir Anna
Betrice begitu terkejut hingga membuat wanita itu histeris dengan banyaknya biaya ganti yang harus mereka keluarkan akibat perbuatan Patricia dan tidak ada pilihan lain bagi Anna selain membicarakan tentang masalah itu diluar dari toko bunga Betrice.
Tapi...
Meskipun begitu dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Pria itu duduk dihadapannya. Mengamatinya seakan ada sebuah noda di wajahnya dan harus diakuinya, hal itu membuatnya gugup.
"Kau, eh anda..."
"Panggil saja aku Jerry." Potong pria itu seakan mengetahui kegugupan yang dirasakan oleh wanita dihadapannya. "Dan mungkin aku bisa memanggilmu dengan Anna. Bisakah?" Jerry menambahkan dengan tidak pasti. Dia tidak ingin melepaskan wanita dihadapannya dengan cepat. Tidak setelah ia mulai merasakan angin kencang kembali berhembus didekatnya setelah sekian lama. Tidak ketika ia mengira jiwanya telah mati dan tidak ketika ia mengira ia sudah tidak mampu bernapas lagi.
Anna terdiam mencerna semuanya seakan menatap Jerry dengan seksama kemudian tersenyum. "Tentu saja." Katanya
Mereka berdua mulai memesan masing- masing minuman sementara lagu Me too milik Meghan Trainor mulai mengalun di penjuru kafe.
"Biar aku saja," Anna lebih dulu memberi uangnya kepada si kasir tepat sebelum Jerry memberikan kartunya. "Aku... aku ingin meneraktirmu sebagai permintaan maaf tapi tentunya jika kau tidak keberatan." Tambahnya cepat- cepat karena Jerry sama sekali terdiam, hanya menatapnya.
"Aku tidak terbiasa di traktir oleh seorang wanita."
Oh! Anna terdiam di tempatnya. Dia sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan pria itu tapi melihat wajah suram yang ditunjukkan oleh Jerry membuat Anna merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu kita bayar sendiri- sendiri." Cetus Anna lagi tapi lagi- lagi Jerry hanya menatapnya.
"Begini saja," Jerry tampak menimbang perkataannya. "Aku yang akan membayar makanan apapun yang kau pesan. Bagaimana?"
Sebenarnya Anna tidak ingin memakan apapun. Dia memesan minuman agar tangannya sibuk dengan hal lain. Dia gugup, tentu saja, memikirkan biaya yang harus ditanggungnya akibat perbuatan adiknya. 5000 pound. Bukanlah jumlah yang kecil untuk orang seperti dirinya bahkan jika dia harus bekerja siang dan malam tanpa henti, tidak cukup mampu membayar bahkan selama setahun. Apa yang harus dilakukannya?
"Kau lebih banyak memerlukan waktu untuk berpikir dibandingkan aku." Suara Jerry seketika kembali menyadarkannya.
"Tidak. Aku tidak memikirkan apa- apa." Kata Anna tapi ketika melihat kening Jerry yang terangkat seketika membuat Anna tertawa. "Sungguh Jerr, aku tidak memikirkan apa- apa."
"Baguslah. Jadi apa yang ingin kau pesan?" Jerry mengalihkan tatapannya menghadap ke menu dihadapannya.
Anna mendekat lebih dekat hingga tanpa sadar lengannya bersentuhan dengan kulit Jerry, yang entah kenapa membuat Jerry menegang dan sedikit menjauh. Untuk sesaat Anna membelalak tapi cepat- cepat ia mengalihkan tatapannya ke buku menu dan memesan.
Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela dan keduanya mendadak menjadi pendiam. Jerry tahu dia telah bersikap tidak sopan karena telah membuat kaget wanita itu dengan sikapnya tadi tapi dia sangat terkejut ketika kulit Anna menyentuhnya seakan sentuhan itulah yang sangat dia inginkan dan rindukan.
Entah berapa lama mereka berdiam diri seperti itu hingga kemudian Anna yang lebih dulu membuka pembicaraan.
"Maaf."
Jerry mengangkat sebelah alisnya. "Untuk?" Jerry tahu alasan dibalik kata maaf yang baru saja dilontarkan oleh Anna padanya tapi dia bertekad untuk membuat percakapan diantara berlangsung lama.
"Maaf karena tidak sengaja menyentuhmu tadi."
Jerry terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan jawaban lugas langsung dari wanita itu.
"Aku yang seharusnya meminta maaf," akhirnya Jerry memutuskan untuk ikut berterus- terang. "Aku hanya kaget. Itu saja."
Anna tersenyum. "Ya. Adikku hampir saja membunuhmu. Kupikir kau mungkin takut aku juga akan membunuhmu." Katanya bercanda tapi Jerry hanya terdiam. "Oh! Maafkan aku. Apa aku membuatmu tersinggung?" Anna benar- benar tidak mengerti ada apa dengan dirinya.
Jerry balas tersenyum tapi Anna tahu senyum itu hanya sekedar diperlihatkan untuk sopan santun. "Kurasa kau benar."
"Eh? Membuatmu tersinggung?"
"Adikmu yang hampir membunuhku."
Tanpa sadar Anna mengerjap lalu beberapa saat kemudian menarik napas panjang sambil memainkan sedotan di gelasnya. "Patricia adalah orang yang sangat menggebu- gebu. Dia sudah lama ingin belajar naik mobil tapi aku tidak pernah punya waktu mengajarinya. Kurasa dia begitu muak hingga memutuskan cara nekat seperti kemarin. Aku minta maaf."
"Tapi biarkan begitu, aku melihat kau sangat menyayanginya."
Anna mendongak dan langsung melihat pemilik mata itu. "Tentu saja. Hanya dialah yang kumiliki di dunia ini."
"Orang tuamu?"
"Meninggal satu setengah tahun yang lalu."
"Dan hanya kalian berdua?"
"Ya. Betrice adalah pemilik tempat biasa aku membawakan bunga atau pesanan. Biasanya aku juga menitipkan Patricia disana."
"Jadi kau tidak bekerja disana?"
"Tidak. Aku memiliki pekerjaan lain tapi biasanya aku ikut membantu." Lalu dia terdiam. "Kenapa aku menceritakan ini padamu?"
Jerry mengangkat bahunya seraya mengangkat cangkir Americano-nya. "Mungkin dengan begitu kau merasa jauh lebih tenang."
Anna terdiam lalu tersenyum. "Kurasa kau benar." Katanya menirukan ucapan Jerry tadi. "Tapi sebenarnya bukan hanya itu. Kupikir aku mungkin bisa sedikit menunda biaya pergantian atas mobilmu. Betrice sempat mengatakan padaku kalau biaya pergantian mobilmu 5000 pound. Aku bisa saja memberikan uangmu segera dan kita berdua akan merasa tenang tapi jujur aku tidak memiliki uang sebanyak itu."
"Apa kau pikir aku datang karena ingin menagihnya?"
Anna mengernyit. "Bukankah itu maksud kedatanganmu?"
"Tidak."
"Tidak?"
"Ya. Tidak."
"Jadi untuk apa kau..."
"Aku punya alasanku tersendiri."
Lagi- lagi Anna terdiam. Dia tidak mengerti dan sebuah pemikiran mendadak terbersit dalam ingatannya ketika melihat Patricia yang berseri- seri.
"Tidak." Anna mengatakannya dengan nada tegas. "Jika kau bermaksud untuk mengambil adikku. Aku jelas tidak akan memberikannya."
Jerry mengernyit tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Kau bermaksud untuk mengambil adikku agar bisa melunasi utang itu kan? Tapi maafkan aku. Aku tetap tidak akan menyerahkan sekalipun aku akan bekerja hingga tulangku remuk tapi akan kupastikan padamu, sir kalau aku akan melunasinya. Sungguh. Jadi kau tidak perlu repot- repot mengurusi adikku."
Kerutan di kening Jerry semakin dalam tapi kemudian dia mulai tertawa terbahak- bahak dan astaga! Sudah lama sekali Jerry tidak pernah tertawa seperti yang dilakukannya hari ini.
"Apa sekarang aku terlihat seperti orang yang akan membawa pergi gadis muda hanya karena menginginkan uang?" Tanya Jerry disela ia mengendalikan tawanya.
Anna terdiam, meneliti kemudian menggeleng. Siapapun yang melihat penampilan pria itu sudah pasti akan mengatakan tidak. Pria itu jelas seperti berasal dari keluarga baik- baik tapi bukankah penampilan bisa menipu?
"Dengarkan aku, Annabelle." Seketika Anna mengernyit ketika Jerry justru menyebut nama panjangnya. Dalam hati merutuki kemampuan Patricia yang sangat menjengkelkan ketika menyebut namanya di toko bunga tadi. Patricia selalu saja melupakan betapa Anna membenci nama itu karena nama itu mengingatkan pada sebuah boneka horor yang pernah diputar di bioskop dan sepertinya Jerry menyadari ketidaksukaan itu sekarang. "Kau tidak menyukai aku memanggilmu Annabelle?"
Anna mengangguk. "Nama itu mengingatkanku pada boneka mengerikan di sebuah film horor." Gumam Anna pelan.
"Dan kau ketakutan karena itu?" Ada nada geli yang terdengar jelas dalam suaranya.
Anna terdiam sementara matanya terus menatap Jerry. "Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang suatu hari akan memberatkan diriku kelak."
"Sangat bijaksana." Jerry menganggukkan kepalanya. "Kembali ke persoalan adikmu tadi. Jika aku berniat membawa pergi adikmu karena masalah uang, sudah jelas aku lebih memilih kakaknya. Kau lihat? Kau jauh lebih dewasa dan bisa dikatakan mungkin memiliki pengalaman dibandingkan dengan adikmu, Patricia. Aku mungkin tidak akan mau menyia- nyiakan kesempatan."
"Menyia- nyiakan kesempatan maksudmu?"
"Tapi tidak," potong Jerry seakan Anna tidak mengatakan apapun tadi. "Aku sudah memiliki kekayaan melimpah dan tidak berniat menambahnya dengan cara yang kotor."
Dasar sombong. Kata Anna dalam hati.
"Apa kau tidak pernah mendengar Culton Institute?"
Anna mengerjap.
"Pusatnya berada di New York dan selain itu aku juga memiliki kafe yang cukup berkembang disana. Belum lagi dengan beberapa aset dan saham yang kumiliki jadi menurutmu bagian mana lagi yang bisa membuatku kekurangan?"
Anna tahu kalau saat ini mulutnya terbuka lebar dan pastinya itu terlihat konyol tapi sungguh. Ini...
"Apa-," Anna berdehem sekali. "apa kau selalu bersikap sombong seperti ini?"
Jerry tersenyum. "Biasanya tidak tapi kadang aku mengatakan untuk menjelaskan maksudku."
"Dan maksudmu adalah?"
"Aku datang agar bisa bertemu denganmu, Annabelle."
***

Comments
Post a Comment