BTY - SEBELAS
Anna tahu jika percuma saja ia bicara sekarang. Pria itu nyaris tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak pembicaraan mereka beberapa menit yang lalu.
"Kau tahu itu sama sekali tidak akan mengubah keputusanku, Jerr."
Jerry sama sekali tidak membalas- lebih memilih untuk memperhatikan Anna memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Patricia sudah lebih dulu kabur meninggalkan Anna dan Jerry, beralasan kalau dia ingin menunggu kedatangan Betrice di lobi rumah sakit.
"Aku sudah merasa baikan." Sekali lagi Anna bersuara. Rasanya menyesakkan melihat pria itu hanya berdiri diam sambil menatapnya.
Anna tahu hubungan mereka masih belum berada di tahap pacaran. Jerry tidak pernah mengatakan kalau dia mencintai Anna. Satu- satunya yang bisa Anna perhatikan adalah Jerry sangat perhatian padanya. Lagipula alasan apalagi yang dibutuhkan jika seorang pria menaruh perhatian yang sangat besar pada seorang wanita jika bukan karena ia menaruh minat pada si wanita. Minat hanyalah kata yang bisa Anna pikirkan tentang hubungannya dengan Jerry saat ini dan terlalu takut jika dia menyalah artikan sikap Jerry padanya. Bisa saja Jerry hanya perhatian sebagai teman. Pikir Anna.
"Dan siapa yang mengatakan hal itu?" Jerry mulai bersuara tapi nadanya sangat tajam hingga tidak mungkin Anna tidak menyadari kalau Jerry masih belum menerima keputusannya. "Karena setahuku dokter Frans tidak mengatakan kalau dia membolehkanmu untuk pulang hari ini, begitupun beberapa hari ke depan."
"Memang tidak. Akulah yang ingin pulang tapi siapapun tahu kalau akulah yang merasakannya dan aku merasa tidak lagi membutuhkan perawatan di rumah sakit ini, di dalam kamar yang super mewah ini." Cetus Anna mengeluarkan emosinya.
"Bukan kau yang memutuskan hal itu."
"Dan bukan kau juga yang bisa memutuskannya." Balas Anna membuat rahang Jerry kembali mengeras. Anna bukannya tidak menyadari hal itu tapi jika dia tidak bertahan sekarang, maka bukan tidak mungkin jika dia bisa melaluinya kelak.
Sejenak Jerry menarik napasnya kemudian menghembuskannya dengan pelan. "Jika tahu kau akan bersikap seperti ini. Aku tidak akan meninggalkanmu tadi."
Deg! Anna bisa merasakan kegetiran dalam suara itu barusan. Seraya mengibaskan tangan kanannya, dia kembali berujar. "Kau juga memiliki kehidupan yang perlu kau urusi, Jerr. Tidak selamanya untukku."
"Kau bahkan tidak tahu apa yang kau katakan."
"Tidak peduli dengan apa yang kukatakan tapi tidak seharusnya kau menjadikan aku sebagai prioritas."
"Tentu saja aku akan menjadikanmu prioritasku. Tidak setelah aku tahu kalau kau masih hidup. Berada di depan mataku, berbicara denganku karena kaulah yang kuinginkan juga kurindukan. Kau istriku dan sudah menjadi milikku selama ini." Kata Jerry dalam hati.
"Jika biaya rumah sakit yang kau pikirkan, kau tidak perlu memikirkannya. Aku yang membayar semuanya."
Itu salah satunya. Aku tidak mungkin membiarkanmu membayar semua perawatanku tanpa memberikan balasan setimpal padamu. Ucap Anna dalam hati.
"Aku tidak mengatakan itu."
"Tapi kau memikirkannya, iyakan?"
Untuk sesaat Anna mengerang. "Aku memang memikirkannya tapi itu tidak berarti kau bisa dengan mudahnya membayar semua biayanya."
"Sudah kubilang kau tidak perlu memikirkannya."
"Oh benarkah?" Akhirnya Anna tidak tahan untuk bersikap sinis. "Kulihat kau memiliki banyak uang hingga tidak masalah jika ingin menghambur- hamburkannya tapi jujur saja aku tidak menginginkan kedermawaanmu, Mr. Culton."
"Aku tidak..."
"Dan jika kau ingin berderma, kumohon untuk tidak melakukannya padaku. Aku masih mampu melakukan berbagai macam pekerjaan."
Tidak ada yang bersuara diantara mereka selama beberapa saat hingga kembali Jerry menghembuskan napasnya.
"Itukah yang kau pikirkan tentangku selama ini?" Suaranya terdengar sedih di telinga Anna. "Kau mengira aku melakukan ini karena kasihan padamu?"
Oh Tuhan. Anna berharap bisa memutar waktu saat itu juga. Mendengar suara Jerry yang sarat seperti mendengar kematian membuat Anna merutuki kebodohannya saat itu juga. Harusnya dia tidak langsung memuntahkan kemarahannya pada pria di depannya.
Keinginan untuk menyentuh Jerry dan menenangkannya begitu kuat berada dalam dirinya. Sembari mengikuti nalurinya, Anna melangkahkan kakinya dan berhenti hanya beberapa senti dari tubuh Jerry.
Sontak saja aroma maskulin yang berasal dari tubuh Jerry menyentuh indra penciumannya dan tanpa sadar itu membuat Anna tersenyum.
"Kau mengikuti perkataanku." Ucapnya pelan, masih dengan senyum di wajahnya. "Wangi sabun dan aftershave menyeruak keluar dari tubuhmu. Kau terlihat semakin tampan."
Jerry tidak tahan lagi. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak berjalan dan memeluk tubuh mungil didepannya. Hanya berjauhan dengan Anna selama beberapa jam, membuat tubuhnya membutuhkan pelepasan. Baginya saat ini Anna lebih mirip opium, jika dia tidak menyentuhnya maka dia akan mati rasa, dan aroma tubuh yang dikuarkan oleh wanita itu bisa meredam endorfin dalam tubuhnya. Tapi setelah mendengar suara pelan disertai senyuman yang diberikan oleh Anna tadi, membuatnya kehilangan akal sehat dan langsung membawa wanita itu dalam pelukannya.
"Aku minta maaf." Anna mengatakannya dengan pelan seraya membalas pelukan Jerry. "Aku tidak bermaksud untuk menyakiti niatmu. Aku tahu kau orang yang sangat baik dan peduli pada semua orang dan aku tidak bisa begitu saja mengambil keuntungan dari semua itu."
Jerry melepas rangkulannya lalu menatap tepat kedalam mata wanita itu. "Baru tadi aku mendengar kau meminta maaf dan kau sudah menyakitiku lagi." Ungkapnya.
Kedua mata Anna seketika berkedip hingga beberapa kali, "A-aku tidak..."
"Aku tahu." Jerry kembali membawa Anna dalam dekapannya. "Tapi apapun akan kulakukan jika itu menyangkut dirimu."
"Oh!" Jerry sepertinya menyadari kalau Anna masih tidak mempercayai ucapannya jadi tidak ada cara lain selain mengutarakan maksudnya dengan jelas.
"Ya." Jerry berkata dengan tegas sementara kedua matanya menatap mata Anna dengan lembut. "Apapun akan kulakukan jika itu menyangkut dirimu. Apapun."
"Kenapa?" Cicit Anna pelan. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat seiring dengan tatapan Jerry yang dilayangkan padanya.
"Karena kau milikku. Sudah menjadi milikku dan aku tidak akan melepaskanmu demi alasan apapun."
Dan tanpa menunggu respon dari Anna, Jerry langsung melayangkan bibirnya ke bibir Anna. Sekalipun awalnya Anna terkejut tapi pada akhirnya dia mengalungkan kedua lengannya di sekeliling leher Jerry dan mulai membuka mulutnya agar Jerry bisa memperdalam ciumannya.
"Aku milikmu, Jeremiah Culton."
***

Comments
Post a Comment