SHADOW - TIGA SATU

"Aku membencimu, Charlie!"

"Hei, ada apa?" Mendadak Ara muncul setelah mendengar teriakan Chloe pada saudara kembarnya.

"Charlie membuatku kesal." Teriak Chloe seraya menunjuk Charlie dengan telunjuknya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Chloe tapi kau tahu daddy tidak bisa."

Selama beberapa menit Ara terus memperhatikan pertengkaran sepasang anak kembar itu. Dia tidak mengerti apa yang membuat Chloe sangat marah. Dia memang tahu kalau Charlie jauh lebih bijak dan juga baik dalam menghadapi saudara kembarnya itu tapi melihat keadaan Chloe yang seperti sekarang ini membuatnya tidak habis.

"Bagaimana menurutmu, Ara?"

"Hah?" Ara terperanjat mendadak disodorkan pertanyaan. "Ba- bagaimana apanya?" Tanya Ara tidak ingin membuat Chloe semakin marah.

"Aku meminta Charlie untuk mengatakan pada daddy supaya menambah waktu liburnya agar bisa bersama kami lebih lama lagi."

Ara terdiam sementara matanya melihat kearah Charlie dan Chloe secara bergantian.

"Waktu libur daddy hanya sampai hari ini dan Chloe tidak ingin kalau daddy pergi lagi." Charlie mulai menjelaskan dan saat itu Ara baru mengerti apa yang membuat Chloe sangat marah. Chloe masih ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Nick.

Sembari tersenyum, Ara berjongkok agar bisa berhadapan dengan anak kembar itu.

"Apa yang kau rasakan, Chloe." Ara mulai berkata lembut. "Aku juga pernah merasakannya."

"Benarkah?" Chloe bertanya penuh semangat.

Ara mengangguk. "Ya. Ayahku seringkali meninggalkanku sendirian di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit." Ara pura- pura memperlihatkan wajah sedihnya. "Tapi apa yang bisa kulakukan? Maksudku itu sudah menjadi tugasnya untuk menyelamatkan orang."

"Tapi aku tidak mau kalau mommy selalu sendirian di rumah."

Oh! Chloe dan sifat sensitifnya. Ara berguman dalam hati dan menganggukkan kepalanya.

"Aku tahu tapi bukankah ibumu tidak pernah sendirian. Ada kalian berdua yang menjaganya. Oh, dan jangan lupakan Julie. Kau tahu meskipun dia masih kecil tapi jangan remehkan kekuatannya."

"Julie punya kekuatan?" Kali ini Charlie yang bertanya.

Ara langsung mengangguk. "Apa kalian pernah menonton The Incredibles? Bukankah sama seperti kalian, mereka juga punya bayi?"

"Julie tidak punya kekuatan." Ucap Chloe

"Oh dia punya." Balas Ara. "Bagaimana jika dia sedang membuang kotoran? Baunya itu... ugh, aku tidak akan mengatakannya." Ara berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah jijik yang ditampilkan si kembar. "Dan bagaimana kalau dia lapar dan meminta susu? Kalian pasti akan segera menutup telinga, iya kan?" Keduanya mengangguk. "Yap. Itulah kekuatan Julie."

"Tapi bagaimana kalau ada orang jahat yang mendatangi rumah kami?"

Untuk sesaat Ara menghela napasnya atas pertanyaan Chloe dan berkata. "Aku pernah mendengar Ethan dan Ian mengatakan ini, apa kau mau tahu apa itu?"

Charlie dan Chloe sama- sama mengangguk.

"Nick atau dalam hal ini adalah ayah kalian adalah agen terbaik dalam kesatuan. Tidak ada yang lebih baik daripada dirinya tapi dibandingkan itu semua ada satu rahasia yang perlu kau ketahui, kalian mau tahu apa itu?"

Charlie dan Chlo lagi- lagi mengangguk.

"Mendekatlah," kompak Charlie dan Chloe sama- sama mendekat kearah Ara. "Ini rahasia besar. Aku tidak bisa mengatakan pada sembarang orang."

"Kami bisa dipercaya." Sahut Charlie.

Ara tersenyum. "Aku tahu. Untuk itulah aku mempercayakan hidupku pada kalian. Jadi..." Ara sengaja memotong kalimatnya agar bisa membuat baik Charlie maupun Chloe semakin penasaran. "Nick memang kuat tapi Ana jauh lebih kuat."

"Mommy?" Keduanya saling menatap tidak percaya.

"Shhh jangan keras- keras. Aku mempertaruhkan hidupku pada kalian, ingat?"

"Tapi Mommy tidak pernah mengatakannya." Ucap Charlie dengan nada berbisik.

"Tentu saja tidak. Ini kan rahasia," Ana memperlihatkan wajah pura- pura cemberutnya. "Jadi yang ingin kukatakan adalah kalian beruntung memiliki orang tua seperti Nick dan Ana. Ayah kalian tidak mungkin meninggalkan kalian dalam jangka waktu yang lama demi pekerjaan jika tahu diluar sana ada penjahat yang akan menyakiti kalian dan lagi, dia juga mempercayakan Ana- ibu kalian karena dia tahu Ana akan mampu melindungi kalian."

"Tapi," Chloe masih tidak bisa mempercayai ucapan Ara padanya.

"Ibumu itu sangat tangguh dan kuat. Percaya padaku dan jika terjadi sesuatu pada kalian maka aku yang akan melindungi kalian tapi sebelum itu percayalah kalau baik Nick maupun Ana tidak akan memperbolehkan orang lain menyakiti kalian- anak- anaknya. Aku berani menjaminnya."

.
.

Hening bahkan tidak ada yang berani bernapas ketika dengan mudahnya Ara mengiris leher Ty dengan pisau yang tadinya berada di leher Emma dan tanpa sama sekali harus repot untuk menghapus darah yang tadi muncrat ke wajahnya.

"Jangan gegabah, S. Apa kau pikir kau bisa dengan mudahnya mengalahkan kami jika sendirian?" Cibir Ketua padanya.

Sejenak Ara menelengkan kepalanya. Sama sekali tidak tersenyum, hanya wajah dingin yang tampak dari wajahnya. Baik Ethan maupun Ian sama- sama mulai mengerti kenapa Ara bisa dikatakan sebagai gloria mortis. Wajah wanita itu benar- benar seperti malaikat yang siap mencabut nyawa orang- orang dan tadi, bagaimana ia melihat cara Ara mengiriskan pisaunya ke leher Ty sangat diluar dugaannya. Ara bahkan tidak berkedip ketika melakukannya.

Beberapa dari anggota organisasi mulai terlihat gusar melihat Sang Malaikat Kematian beraksi. Tidak ada yang bisa menerka apa yang ada dalam pikiran wanita itu sekarang.

"Jangan salah sangka," tanpa diduga Alex sudah menodongkan senjatanya ke kepala Ketua setelah sebelumnya melumpuhkan seseorang yang tadi berada paling dekat dengannya. "Dia tidak pernah sendiri."

Seketika Ketua tertawa. "Kalian benar- benar partner yang hebat. Harusnya aku sudah tahu kalau kalian akan berhianat."

"Semuanya tidak akan menjadi seperti ini jika kau tetap mengikuti persyaratan kita." Ucap Ara.

"Tidak ada syarat dalam organisasi, S. Pembunuh seperti dirimu tidak berhak mengajukan syarat."

"Oh benar juga," Ara berjalan lambat- lambat membuat semua anggota bersiaga. "Itulah sebabnya kau menyuruh orang untuk mengeksekusi ayahku."

"Pada kasus seperti ini, kalian berdua sama sekali tidak memiliki hubungan darah. "Ara menekan pisau yang sudah berlumuran darah itu di tangannya. "Dia telah mengecoh organisasi dengan memalsukan kematianmu yang berarti dia harus di hukum atas dasar penghianatan. Oh, dan jangan lupakan, yang membunuhnya adalah orang yang saat ini sedang menodongkan pistol kearahku, orang yang kau percayai."

Kedua mata Alex membelalak mengetahui fakta ini dan langsung melihat kearah Ara.

"Perintah adalah melenyapkan semua." Ara berguman pelan tapi masih bisa terdengar. "Jadi tidak seorang pun yang boleh hidup."

Dan Ara mulai melemparkan pisaunya kearah pria dibelakang Ethan. Ethan yang sebelumnya sempat melihat pergerakan mata Ara seketika menunduk tepat ketika pisau itu menancap tepat di tengah kepala penodongnya tadi.

Suara tembakan mulai terdengar riuh. Ian bahkan sudah berhasil merebut pistol dari tangan penodongnya dan langsung menembakkan ke dada anggota organisasi.

Ethan dan Nick sama- sama berkelahi dengan masing- masing lawannya. Untuk sesaat mereka semua sibuk dengan lawan mereka masing- masing ketika mendadak terdengar suara letusan senjata disusul dengan erangan disamping Ara.

Darah segar mulai mengucur keluar dari pinggang Alex dan itu didapatnya ketika berusaha melindungi Ara tadi.

Sudah cukup!

Ara langsung mengambil pistol terdekat yang bisa diraihnya dan langsung menembak pria yang tadi menembak Alex. Ara seperti tidak melihat siapa yang ditembaknya. Satu- satunya yang ia rasakan adalah kemarahan yang saat ini memenuhi jiwanya. Ia bahkan tidak sadar ketika entah berapa kali ia telah menembakkan pelurunya ke kepala pria yang tadi telah menembak Alex ketika mendadak seseorang menghentikannya.

Ara sempat melayangkan tinjunya ketika disaat yang bersamaan Ethan menangkisnya.

"Sudah selesai."

Ara terdiam kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh tempatnya berada. Semuanya terlihat kacau dengan darah dan... mayat. Emma bahkan tidak datang menghampirinya dan hanya melihatnya dengan perasaan takut. Ah, pasti keadaannya pun tidak lebih baik dari yang terjadi. Pikir Ara dalam hatinya.

Ketika pandangannya mulai beralih mencari sosok yang sekarang... tidak ada. Mata Ara beralih mencari keberadaan Alex ketika sedetik kemudian ia mendengar suara mobil yang baru saja pergi.

Kedua mata Ara membelalak. Ketua masih hidup- entah bagaimana caranya hingga ia bisa meloloskan diri dan membawa Alex pergi.

"Aku harus pergi." Kata Ara seraya berdiri dari tempatnya, menolak melihat wajah pria yang sudah dibunuhnya dengan sadis.

"Tidak peduli apapun, Ethan. Kau harus tetap melindungi permata kecilku. Aku tahu dià menyimpan kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya. Kalau kau memang mencintainya, lindungi dia, jangan biarkan dia jatuh ke dalam masa lalunya. Kau harus melepaskan itu darinya."

Itulah kalimat terakhir yang diucàpkan Roy Hunt padanya. Menjaga permata kecilnya agar tidak terluka lagi.

Ethan mau saja menahan Ara agar berada disisinya tapi setelah melihat tekad yang terlihat jelas di kedua mata Ara membuatnya harus merelakan Ara untuk pergi. Entah hubungan apa yang terjalin diantara Ara dan Alex tapi Ethan tahu kalau hubungan itu pastilah sangat spesial. Belum lagi, ia pernah mendengar dari Ian kalau sudah sejak lama mereka selalu dipasangkan.

"Turunlah Ethan." Ara berkata ketika dilihatnya Ethan juga berada di mobil yang sama dengannya. "Kau tidak harus melakukan ini."

"Kita akan bicarakan hal ini setelah kasus ini selesai." Balas Ethan seraya menutup pintu mobil samping kemudi.

Tidak ada pilihan lain baginya, Ara harus cepat- cepat mengejar mobil yang telah membawa Alex pergi. Didalam mobil yang melaju kencang, Ethan baru menyadari kalau selama ini ia tidak mengenal Ara dengan baik, layaknya kekasih.

Ia terlalu asyik dengan kehidupannya hingga tidak menyadari kalau wanita disampingnya ini memendam sesuatu yang sangat gelap.

"Ethan?" Mereka telah sampai di sebuah gudang tua yang tampak sangat sepi tapi siapa pun bisa melihat bahwa ada bahaya yang sedang menghampirinya.

"Hapus darah di wajahmu dulu, Sugar." Ethan berkata lembut.

Kalau bukan berada dalam situasi mencekam seperti ini, Ara mungkin akan langsung tertawa terbahak- bahak melihat kekhawatiran yang terlalu berlebihan di wajah Ethan saat ini.

"Aku baik- baik saja."

Tidak ada balasan.

"Ethan?"

Ethan telah menarik sapu tangannya dan mengusap pemilik wajah itu- membersihkan darah yang menempel dan menutupi wajah cantik Ara. Sengaja berlama- lama di bibir Ara, membuat Ara tersenyum dan menempelkan bibirnya ke bibir Ethan yang langsung disambut.

"Aku akan baik- baik saja." Katanya setelah melepaskan Ethan melepaskan pagutannya.

"Aku mencintaimu, Aurora."

Ara tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Ethan Blackstone."

Tidak lama kemudian mereka berpencar setelah sebelumnya Ethan memberikan pistolnya pada Ara. Beruntung Ara tadi menggunakan mobilnya karena di bagian dashboard mobilnya, Ethan juga menyimpan dua buah senjata dan satu alat pendeteksi yang langsung aktif mengarah ke ponsel Nick atau Ian dan jika beruntung langsung mengarah ke markas FBI.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS