LOVE MISSION - 13

"That expression right now is great."

Klik.

Klik.

Klik.

"A little more smile!"

Klik.

"Nice!"

Klik.

"Beauty...good ... good!"

Klik.

"Ok. Change outfits and we'll begin the next cuts."

"Goodbye! Thank you!."

Semua tampak senang dengan pemotretan kali ini terutama ini kali pertama mereka melihat sisi lain dari seorang Kimberly Moss yang tanpa diduga berjalan dengan sangat menyenangkan. Mereka hampir tak mempercayai penglihatan mereka ketika untuk pertama kalinya mereke melihat seorang Kimberly Moss tersenyum. Senyum yang menurut mereka bak malaikat.

Disisi lain Sophie dan beberapa orang yang telah menjadi sponsor mengangguk sangat senang pada pemotretan kali ini. Sudah sangat jelas kalau berapa banyak keuntungan yang akan dihasilkan di musim semi kali ini apalagi dengan adanya topik seperti ini. Kimberly berada di sampul depan saja sudah membawa keuntungan apalagi jika ditambah untuk pertama kalinya semua orang pada akhirnya melihat gadis itu tersenyum. Sesuatu yang selalu membuat orang bertanya- tanya.

Untuk urusan sponsor, Kimberly menyerahkan semuanya pada Sophie dan cepat- cepat membereskan barang- barangnya. Akhirnya setelah nyaris tiga minggu berada di Jepang, dia akan kembali. Dia sudah tidak sabar untuk kembali ke New York dan menemui orang yang paling berjasa membantunya. Seminggu dia berada di Jepang membuatnya kepikiran mengenai sikap Jayce ketika berada di kebun binatang. Dia cukup yakin kalau dia melihat cowok itu pergi ketika dia sedang berbicara dengan Ray tapi ketika dia akan memanggil, Jayce sudah berjalan semakin menjauh. Itulah sebabnya dia mengendap- ngendap pergi, tanpa sepengetahuan Sophie agar bisa menemui Jayce lalu kembali lagi ke Jepang agar bisa melanjutkan pemotretannya.

Kimberly menunggu Sophie selesai berbicara dengan para sponsor di lobi hotel ketika kemudian Sophie muncul beberapa menit kemudian dengan kening berkerut.

"Mau kemana?" Tanyanya.

"Bukankah pemotretannya sudah berakhir untuk sesi ini dan akan dilanjutkan tiga minggu lagi di Milan?"

"Dan?"

"Ayo kita pulang."

"Kau tidak mau jalan- jalan dulu?"

"Nope." Kimberly menggelengkan kepalanya. "Aku sudah cukup mengelilingi tempat ini."

"Kau yakin?"

"Sangat yakin. Ayo!"

"Baiklah. Baiklah. Biar kubereskan barang- barangku dulu."

"Sudah kubereskan. Kita tinggal berangkat ke bandara."

Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Akhirnya mereka berdua tiba di New York. Ray sudah berada di bandara untuk menjemput mereka dan langsung memeluk tubuh Kimberly ketika melihat gadis itu keluar, mengindahkan erangan kesakitan dari Sophie yang tidak terima adiknya lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya.

"Dia jauh lebih berharga dibandingkan dirimu, sister. Dia adalah aset." Ungkap Ray yang semakin membuat Sophie harus memutar matanya jengah.

Siapapun yang melihatnya pasti sudah bisa menebak kalau adiknya itu menyukai Kimberly tapi sayangnya Kimberly sama sekali tidak menyadarinya dan justru menyukai orang lain. Sophie tidak bisa membayangkan akibat yang akan ditimbulkan jika saja waktu itu dia membiarkan baik Ray maupun Jayce berkelahi karena sudah jelas kalau Jayce juga menaruh perhatian pada sosok gadis didepannya meskipun dia masih belum menyadarinya. Hal yang sama juga berlaku pada Kimberly, dia masih menganggap kalau Jayce hanya sekedar ada agar bisa membantunya. Sophie mengingat pembicaraan mereka beberapa malam yang lalu.

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Bukankah sebaiknya kau meninggalkan laki- laki itu?"

"Laki- laki itu? Maksudmu, Jayce?"

Sophie mengangguk. "Ya. Kau sudah hampir 80 persen menyelesaikan misimu. Tidak ada lagi yang kau perlukan dari dirinya."

"Haruskah?" Sejenak Kimberly tampak berpikir. "Tapi aku tidak mau." Jawabnya langsung. "Kau bilang hampir 80 persen, aku tidak akan meninggalkannya hingga mencapai 100 persen."

Sophie mengerang frustrasi. Entah bagaimana caranya ia harus menjelaskan semua ini pada gadis didepannya. Dia tidak ingin gadis ini tersakiti dan dalam hati merutuk idenya dulu. Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan konsekuensinya dulu.

"Baiklah. Lakukan apa yang kau suka tapi ketika kau merasa sakit, katakan padaku."

Dan hal terakhir yang ditunjukkan gadis itu adalah ekspresi kebingungan diwajahnya.

"Soph... hey Soph, kau melamun?" Ray melambai- lambaikan tangannya ke depan wajah Sophie yang melamun.

"Eh iya?"

"Kau tampak lelah. Apa kau ingin langsung istirahat?"

"Ya. Kurasa aku memang lelah. Eh, kemana Kimberly?" Sophie celingukan mencari keberadaan gadis itu di kursi penumpang dibelakangnya.

"Aku baru saja selesai turun dari apartemennya. Apa kau tidak sadar kalau daritadi kita sudah berada di depan apartemen Kim?" Tanya Ray dengan kening yang saling bertaut.

"Oh. Kurasa tadi aku melamun"

Ray tertawa menimpali. "Terlihat jelas di wajahmu jadi apa pemotretannya berlangsung baik?" Tanya Ray seraya kembali menyalakan mobilnya.

"Sangat baik bahkan bisa dibilang sukses. Para sponsor sangat menikmati pemotretan itu."

Ray mengangguk. "Sepertinya sebentar lagi Kimberly akan menjadi hot topic."

"Ya. Kau tidak akan menyangka bagaimana orang- orang disana terkesima ketika melihat Kimberly tersenyum."

"Aku sudah melihatnya."

"Eh?"

"Aku melihat pemotretan itu dan sejujurnya aku juga sempat dibuat takjub."

Sejenak Sophie melihat Ray yang sedang fokus menyetir hingga akhirnya dia memutuskan sesuatu.

"Kuharap kau bisa membantuku. Aku ingin kau..."

***

Kimberly kembali memasuki ruang perkuliahan masih dengan wajah datarnya. Untuk kali ini dia masih belum terbiasa menyunggingkan senyumnya pada orang lain. Seakan mantra senyum yang diberikan oleh Jayce selama ini telah habis seiring berakhirnya pemotretan kemarin dan Kimberly berniat untuk melakulan pengisian ulang.

Kimberly baru saja kembali dari perpustakaan mencari bahan referensi tugasnya ketika dilihatnya kampus kali ini terlihat lebih ramai daripada yang biasanya. Berniat untuk menemui Jayce sepulangnya dari perpustakaan, tanpa sengaja matanya menangkap sosok London yang berjalan berseberangan arah darinya.

"Hai London." Sapa Kimberly datar.

London yang memang berjalan sambil memperhatikan macbooknya hampir saja terjungkal dan mengira kalau makhluk halus baru saja menghampirinya saking datarnya nada bicara Kimberly.

"Astaga! Kau mengagetkanku." Seru London kaget.

"Oh. Maaf." Ujarnya menunduk dan membuat London merasa bersalah.

"Ada apa kau menemuiku?"

Kembali Kimberly mendongakkan kepalanya dan menatap London dengan ekspresi bingung diwajahnya.

"Aku tidak menemuimu. Kebetulan arah jalan kita berseberangan dan aku menyapamu."

London melonggo. Dia tahu kalau gadis ini polos bahkan lebih polos lagi tapi tidak bisakah dia sedikit berbasa- basi? Dan jawabannya adalah tidak. Tanpa sadar London, menghela napasnya.

"Apa kau kelelahan?" Mendadak Kimberly bertanya.

"Apa?"

"Kau tampak tidak memperhatikan jalan ketika aku melihatmu dan kau juga membawa- bawa ini." Jawabnya seraya menunjuk macbook yang masih menyala ditangan London. "Kau terlihat seperti orang aneh."

Lagi- lagi London melonggo. Tadinya dia ingin membesar- besarkan dirinya dihadapan supermodel ini tapi sebelum itu terjadi sang supermodel itu sendiri yang lebih dulu menjatuhkannya.

Setelah menarik napas panjang agar bisa menetralisir perasaannya yang naik turun akibat supermodel ini, London mulai bertanya. "Aku jarang melihatmu. Apa kau melakukan pemotretan?"

"Ya." Angguknya disusul London yang memintanya untuk jalan bersama. Tidak enak rasanya jika mereka berbicara di tengah jalan seperti ini.

"Jadi penampilanmu tempo hari karena kau menjalani pemotretan?" Tanyanya seraya mematikan macbooknya dan memasukkan kedalam tas.

"Waktu itu aku melarikan diri."

London baru saja akan mengangguk ketika dia terdiam, mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.

Melarikan diri dan seseksi itu? Harus berapa banyak pelarian yang harus Kimberly lakukan agar bisa melihat dia yang begitu lagi?

Dia cowok normal dan setiap cowok suka memandangi cewek seksi sekalipun dia pacar sahabatmu sendiri dan siapa sih yang bisa menampik pesona yang diberikan gadis ini? Bahkan sahabatnya yang terkenal senang menampik perasaan gadis manapun tanpa sadar telah jatuh dalam pesona seorang Kimberly Moss.

"Kau melarikan diri dari siapa dan untuk apa?"

"Menemui Jayce. Oh iya, apa kau melihatnya? Aku juga ingin...." kalimat Kimberly berhenti diudara melihat pemandangan didepannya.

"Oh shit!" Guman London pelan tapi masih bisa didengar oleh Kimberly disampingnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS