SHADOW - EPILOG
Satu tahun kemudian.
"Aku pasti akan merindukanmu, Ethan." Kata Emma seraya mengantar kakak satu- satunya itu ke bandara dan memeluknya.
"Aku hanya seminggu berada disana, Em." Balas Ethan jengah untuk yang keberapa kali dalam minggu ini.
Sejak kejadian itu, Emma seakan takut jika harus berjauhan dengan kakak satu- satunya itu. Dia selalu merasa khawatir dan acap kali ia khawatir maka Ethan harus segera meninggalkan pekerjaannya hanya agar bisa menenangkan Emma.
Kasus itu juga ditutup dengan sendirinya mengingat tidak adanya saksi yang bisa di introgasi, Ethan juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia tahu adalah baik Ara maupun Alex telah menghabisi sebagian besar dari anggota organisasi.
"Bagaimana?" Ian dan Nick tiba tiga puluh menit kemudian beserta para agen dan polisi lainnya ketika mendapati Ethan mengalami luka tembakan dibagian paha.
"Mereka masih berada didalam." Jawab Ethan sambil meringgis. Dia tidak sempat menghindar ketika satu diantara dua anggota organisasi yang berada dibelakangnya melepaskan timah panas itu kearahnya, membuatnya seketika duduk karena kesakitan. Beruntung Nick datang tepat waktu dan langsung menembak sebelum anggota organisasi itu menembak tepat ke tengkorak kepalanya.
Ian memberikan kode kepada yang lainnya agar ikut mengikutinya masuk ketika Ethan juga bersikeras untuk mengikuti.
Dan hal selanjutnya yang terjadi hingga mereka sulit mempercayai penglihatan mereka adalah Ara sedang berada di tengah ruangan, berkelahi sambil menghindari pisau yang tertuju kearahnya. Tidak ada yang memperdulikan mayat- mayat penuh darah di lantai dengan bekas tusukan di leher, tangan, ketiak dan paha bagian dalam- semua itu jika disaksikan dengan mata secara langsung membuat ngeri dan tidak percaya. Apakah gadis itu yang melakukannya seorang diri?
Sementara itu Alex terlihat seperti sudah tidak berdaya lagi. Ada banyak luka di tubuh pria itu hingga hanya bisa melihat Ara bertarung seorang diri.
Dan kemudian hal yang tak disangka oleh mereka semua adalah Ara memang terlihat tersudut. Punggungnya telah menyentuh tembok sementara pisau mulai berjarak beberapa senti dari matanya dan hanya ditahan oleh sebelah tangannya sementara tangan yang satu menahan tangan penyerang agar tidak semakin menancapkan pisau itu kearahnya.
Gadis itu mencoba bertahan ketika tanpa diduga Ara justru menggigit tangan penyerangnya kuat- kuat dan sekarang malah berganti dengan pria itu yang sekarang bersandar di tembok tempat Ara tadi.
Gigitan Ara semakin kuat, membuat pisau bergerigi tajam itu sekarang malah turun dan mengarah ke jantungnya. Ara menendang tulang kering penyerangnya hingga terjatuh dan saat itulah Ara membalikkan mata pisaunya ke jantung penyerangnya- menancapnya, menekannya kuat- kuat hingga memutarnya. Bola mata penyerangnya itu melihatnya dengan tatapan terkejut sekaligus horor ketika bersamaan dengan keluarnya darah dari mulutnya dan diam tak bergerak.
Ara baru saja berbalik ketika sebuah timah panas justru menembus perutnya. Tanpa memperdulikan rasa sakit yang dirasakannya, Ara berlari menuju satu- satunya orang yang sejak tadi ingin dihabisanya dan langsung memeluknya. Tidak ada yang tahu jika disaat yang bersamaan, Ara juga mengambil sebuah jarum yang memang diselipkan di dalam jam tangannya dan seperti mencium, Ara menancapkan jarum itu tepat di belakang leher Ketua dan terjatuh.
Baik Ethan dan Nick tidak menyia- nyiakan kesempatan ini dan berlari kearah Ara. Ara sudah tidak berdaya lagi tapi Ketua masih sanggup untuk duduk dan tersenyum.
Semua polisi sudah mengerubungi mereka dan bahkan mengarahkan pistol masing- masing kearah Ketua.
Nick baru saja akan menarik paksa ketua ketika dalam keheningan, didengar Ara mulai menghitung mundur. Ethan dan Ian juga sama- sama saling menautkan alis mereka masing- masing ketika dengan mata terpejam, Ara mulai menghitung.
"Lima... empat... tiga... dua... satu." Dan seiring hembusan napas yang dikeluarkan Ara, dari arah samping Nick terdengar suara terkesiap dari orang- orang dan menoleh ketika dilihatnya dari kedua mata, telinga, hidung kemudian disusul suara seperti tersedak parah- darah segar mulai keluar dan hal selanjutnya Ketua terjatuh dengan mata yang melotot kaget dan tak tertutup lagi.
Hening selama beberapa saat dan saat itulah Ara juga tidak bergerak.
Hasil otopsi menyatakan bahwa tidak ada yang salah pada tubuh Ketua terdapat sebuah bintik kecil. Tidak ada yang tahu kalau itu adalah jarum yang secara diam- diam ditusukkan oleh Ara dimana jarum itu berfungsi untuk menghentikan peredaran dari otak dan berkumpul disana. Itu adalah rahasia Ara yang hanya diketahui oleh Alex. Alasan ia bisa dengan mudah membunuh tanpa dengan menggunakan senjata. Angel Kiss- atau yang disebut ciuman sang malaikat.
Alex dan Ara sama- sama dirawat dalam ruangan khusus yang dijaga ketika hal yang tak terduga kemudian terjadi. Baik tubuh Ara maupun tubuh Alex sama- sama menghilang padahal saat itu Ara dalam keadaan koma dan Alex yang sedang dalam perawatan intensif. Tidak seorangpun yang mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi. Kamera pengawas juga tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan disekitarnya tapi yang terjadi malah tubuh buronan internasional itu menghilang seperti sudah di sulap.
Atas pertimbangan banyak pihak, kasus itu diputuskan untuk ditutup setelah enam bulan. Tidak seorangpun yang bisa dimintai pertanggungjawaban dan apapun rumor yang beredar dikalangan polisi tentang bagaimana seorang gadis bisa menghabisi banyak orang yang ukuran tubuhnya jauh tiga kali lipat darinya, membuat beberapa pihak tidak mempercayainya meskipun itu S- orang yang terkenal sekalipun.
"Pastikan setelah kau sampai disana, kau langsung menghubungiku." Lanjut Emma, tidak memperdulikan raut wajah yang ditampilkan Ethan padanya.
"Aku akan baik- baik saja, Em."
"Tapi tidak denganku, aku masih merasa sangat takut jika kau pergi jauh."
Setelah menghembuskan napasnya, Ethan meraih tubuh adiknya dan memeluknya. "Aku akan menghubungi sesampainya aku disana." Jawabnya pada akhirnya.
"Aku pasti akan merindukanmu seminggu ini."
Ethan terkekeh, melepaskan pelukannya. "Aku meragukannya. Kau lebih sering bermain bersama Julie jika aku ada."
"Itu karena aku merindukan Ar..." ucapan Emma berhenti di udara. "Maafkan aku, Ethan." Kata Emma lirih. Dia tahu kalau sama sepertinya, Ethan juga merindukan Ara tapi kakaknya itu lebih sering tidak memperlihatkannya. Dia juga masih belum mengerti kenapa Ara harus meninggalkan kakak laki- lakinya itu.
"Aku harus pergi."
Emma mengangguk pasrah dan melepaskan Ethan setelah mendengar informasi yang menyatakan pesawat dengan tujuan Nederland akan segera berangkat.
"Jaga adikku, Ann."
Yang dimintai hanya bisa mengangguk. "Pastikan kau memakai sesuatu yang hangat disana. Kudengar disana sangat dingin...."
Sama dengan Emma, Ana juga selalu terlihat memperhatikannya, seakan dia adalah seorang ibu- yang sayangnya Ana memang seorang ibu- yang tidak rela jika anaknya pergi jauh lagipula Ethan bukan anaknya dan juga pria kecil yang baru akan meninggalkan negara.
"Ann, cukup!" Ethan segera menghentikan ocehan yang diberikan oleh Ana sebelum wanita itu memulai kalimat panjang dan berpaling pada Nick dan Ian yang sepertinya lebih memilih untuk tidak tertawa. "Aku bukan anak kecil lagi, Ann. Aku sudah sering bepergian keluar negeri dan kau tahu itu, aku juga sering bepergian bersama suamimu dan juga Ian." Sergahnya. "Dan Nick, bisakah kau menghentikan Ana seakan aku juga salah satu dari anak kalian? Demi Tuhan, aku hanya akan berada disana selama seminggu dan dalam rangka melihat dan mengamati perkembangan disana."
Nick tertawa. "Maaf sobat, kau tahu sendiri bagaimana Ana selama setahun ini. Aku tidak bisa mengekang keinginannya yang satu itu."
Ethan memutar matanya jengah. "Sebaiknya aku pergi." Balasnya menghentikan pembicaraan yang menguras tenaganya saat ini.
.
.
Seorang gadis sedang terlihat mengayuh sepedanya dengan santai dan gembira. Didepannya terdapat setangkai bunga tulip dan mawar putih ikon negara tersebut, pemberian kakek si penjual bunga. Gadis itu tersenyum sambil sesekali menyapa para pemilik kafe yang memanggilnya untuk singgah.
"Aku akan singgah setelah memberikan ini pada Alex." Sahutnya seraya memperlihatkan isi keranjangnya dan sebuah paper bag.
Tidak lama kemudian dia juga telah sampai dan memarkir sepedanya di samping kanan kafe.
"Hai Ken, "sapa si gadis pada pria yang pertama dilihatnya.
"Ara! Darimana saja kau?! Alex sejak tadi mencarimu." Seru Kenny padanya.
"Cih, aku baru pergi sebentar dan dia sudah begitu merindukanku." Omel Ara yang justru membuat Kenny tertawa.
Ya. Kenny lah yang menyelundupkan tubuh Ara dan Alex di rumah sakit.
Sehari sebelum kejadian itu terjadi. Alex memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya pada pria itu. Entah kenapa Alex merasa ia bisa mempercayai Kenny. Kenny yang memang dulunya adalah seorang penyelundup narkoba, menghubungi beberapa orang yang bisa dipercayainya. Dan dengan beberapa ribu dollar yang dipindah tangankan akhirnya Alex dan Ara berhasil dikeluarkan dari rumah sakit tanpa kecurigaan.
Kenny pernah diberitahu oleh Alex kalau Nederlands adalah negara kesukaan Ara dan jika suatu hari ia ingin memulai hidup baru maka Nederlands adalah negera yang akan menjadi tujuannya, tentunya dengan Ara yang berada didalamnya.
"Aku akan menemuinya." Sahut Ara.
Kenny mengangguk ketika mendadak ia mengernyit. "Jadi dia sudah melamarmu, heh?" Goda Kenny ketika melihat bunga dan paper bag di tangannya.
"Dasar konyol!" Balas Ara, semakin membuat Kenny tertawa.
Tidak ingin berlama- lama dengan Kenny yang sering menggodanya, Ara berjalan menuju bagian dalam kafe dan menemukan pria yang di carinya sedang mencoba membuat menu baru.
"Kau terlambat Aurora Angela Hunt."
Ara tersenyum. "Hai juga, Lex. Senang bertemu denganmu juga."
Alex mendongak dari menunya menatap Ara. "Darimana saja kau?! Kau sudah pergi lebih dari," Alex menoleh untuk melihat jam di dinding lalu kembali menatap Ara. "Dua jam."
"Maaf. Ini. Aku sudah membelikan apa yang kau minta." Katanya seraya menaruh paperbag itu didepan Alex. Alex memajukan sedikit wajahnya agar bisa melihat isinya dan segera saja aroma keju segar tercium di indra penciuamannya.
"Kau tidak ingin mengatakan terima kasih padaku?" Tanya Ara pura- pura menampilkan wajah terkejutnya ketika melihat Alex menempatkan paperbag yang tadi dibawanya ke meja lain.
Sejenak Alex mengerling. "Ucapan terima kasihku sudah habis dua jam yang lalu."
"Wahhhh kejam sekali." Cibir Ara dan diam- diam Alex tersenyum.
"Aku akan meminta Kenny membayarku saja."
Ara baru saja akan melangkah ketika mendengar suara Alex yang menghentikannya.
"Aku ingin kau mengantarkan macaroons ini pada Lola." Katanya.
Serta merta kening Ara saling bertaut. Lola adalah pacar Alex dan dia bekerja di keduataan saat ini.
"Kenapa aku?" Tanyanya heran.
"Karena aku sibuk. Kenny juga sibuk dengan pelanggan di luar. Hanya kaulah yang tidak sibuk disini."
"Aku sibuk."
Alex mengangkat alisnya.
"Oh, baiklah! Mana macaroons itu." Seru Ara tidak sabar, membuat Alex segera menyunggingkan senyumnya.
Memang benar kalau hanya dirinyalah yang tidak sibuk di kafe. Ara terlalu asyik menikmati pemandangan dan budaya yang dihadirkan di negara ini hingga selalu asyik berpetualang. Seringkali bersama Lola atau sendiri, tergantung dari kesibukan masing- masing.
Alex akhirnya menyadari kalau perasaan yang dirasakannya pada Ara bukanlah perasaan yang selama ini ia pikirkan. Perasaannya saat ini lebih tepat seperti seorang kakak yang ingin melindungi adiknya dan ia baru menyadari hal itu ketika bertemu Lola- gadis Itali yang sangat menawan.
Lagipula Alex juga menyadari kalau Ara masih mencintai pria FBI- Ethan Blackstone itu. Ia sering mendapati Ara memandangi foto kebersamaan dirinya dengan pria itu di layar ponsel Ara.
Setelah menceritakan tentang masalah Ara pada Lola. Tanpa diduga Lola mengenal beberapa Agen internasional dan salah satunya adalah Ethan jadi setelah mendiskusikan rencananya, maka mereka akan membuat Ara bertemu dengan Ethan dengan tidak sengaja.
Selama dua jam, Ara dan Lola sama- sama membicarakan tentang kegiatan akhir pekan mereka dan sama- sama menunggu dengan tidak dengan tidak sabar ketika mendadak Lola harus kembali bekerja.
Setelah saling melepas pelukan, bersama- sama mereka berpisah. Ara baru saja keluar dari lift dan melangkah ketika mendadak kepalanya menabrak sesuatu- atau lebih tepatnya tubuh seseorang. Tadi dia begitu bersemangat memikirkan rencana liburannya hingga tidak melihat kedepan.
Dia mendongak untuk menyampaikan permohonan maafnya ketika mendadak matanya melotot menyadari siapa yang ditabraknya. Tubuhnya mendadak beku dan kakinya seakan berubah menjadi ubur- ubur.
"Breath, Sugar." Seperti efek magis. Suara itu memberikan pengaruh yang cukup besar padanya bahkan setelah sekian lama.
"Ethan." Hanya itu yang bisa dikeluarkannya. Jantungnya masih berdetak sangat cepat saat ini seperti ia baru saja mengelilingi lapangan bola. "Ethan, apa yang...?" Tapi sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Ethan sudah menciumnya. Tidak ada hasrat atau gairah dalam ciuman itu. Hanya perasaan rindu yang tersalurkan setelah sekian lama dan juga kelegaan karena pada akhirny mereka bertemu.
Ethan yang pertama kali melepaskan ciumannya. Ethan menempelkan keningnya ke kening Ara, tidak ingin melepaskan dirinya dan berkata. "Kau berutang pernikahan padaku, Aurora Angela Hunt."
Dan saat itulah Ara tersenyum dan mengikuti naluri dan rasa rindunya pada pria itu. Ia juga mencium bibir Ethan, mengacuhkan tatapan orang- orang disekitarnya.
T A M A T
Comments
Post a Comment