LOVE MISSION - 38

Jayce merasa seakan hidupnya terus berputar tanpa henti. Segalanya berakhir tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya dan yang paling parahnya ia begitu merindukan Kimberly.

Entah berapa lama ia tidak pernah melihat wajah itu lagi. Semenjak amarah beserta tangisan yang dikeluarkan oleh Kimberly padanya waktu itu membuat segalanya menjadi lebih rumit. Jayce tidak ingin berbicara lewat telepon, dia ingin mengungkapkan semuanya secara langsung tapi sialnya ketika ia ingin mengatakan hal itu, Barbara mendadak sakit. Penyakit tua yang diderita oleh Barbara membuatnya tidak bisa lagi mengurus perusahaan dan dengan terpaksa, Jayce harus mengurus semuanya seorang diri. Setidaknya ia cukup beruntung ada London yang sesekali membantunya tapi London tidak bisa terlalu diharapkan jika akan bertemu klien penting lainnya. Kebanyakan dari mereka secara tegas ingin bertemu secara langsung dengan cucu pewaris sah perusahaan bahkan beberapa diantaranya secara terang- terangan menjodohkan Jayce dengan putri mereka. Dan hal itulah yang membuat Jayce semakin ingin mempublikasikan hubungan antara dirinya dan Kimberly ke orang banyak meskipun alasan satu- satunya dan paling penting karena tidak ingin...

"Mr. Caldwell?"

Jayce tersentak dari lamunan dirinya sejenak dan berpaling ketika menemukan pria paruh baya, Byrne- asisten yang ditunjuk oleh Barbara sedang menatapnya penasaran.

Jayce sebenarnya tidak menginginkan seorang asisten, lagipula jika London sedang tidak sibuk maka Jayce lebih memilih London agar bisa menemaninya seperti hari ini. Untuk sesaat ia menolehkan kepalanya pada London yang terlihat sedang memberi kode pada pramugari- pramugari yang kebetulan sedang lewat.

Beberapa pramugari itu memang membalas kedipan mata London beserta lambaiannya tapi beberapa diantaranya- yang lain, memberi Jayce pandangan menggoda.

Untuk sesaat Jayce membayangkan Kimberly dan tanpa sadar menyunggingkan senyumnya. Apa yang akan dipikirkan oleh gadisnya jika melihat wanita- wanita itu justru menggodanya? Pada Rhea saja, gadisnya menunjukkan kecemburuan yang sangat jelas. Apakah jika mengetahui hal ini dia akan sangat marah?. Jayce mengharapkan Kimberly akan marah dan dengan itu dia bisa meluapkan rasa rindunya dengan mencium dan merasakan bibir itu lagi. Hanya memikirkannya membuat Jayce ingin cepat- cepat menyelesaikan pertemuan sialannya itu yang memang berada di Belanda secepatnya. Dia harus menyelesaikan semua masalah perusahaan ini kemudian mempublikasikan hubungan mereka pada orang banyak.

"Kita pasti akan ketinggalan pesawat jika kau terus- terusan mencari cara agar bisa berada di salah satu toilet bandara ini dengan suara yang mendesah bersama salah satu dari pirang itu." Komentar Jayce membuat London menolehkan kepalanya dan mencibir.

"Aku tidak memiliki pelampiasan seperti yang kau miliki, kau tahu?"

"Pelampiasan?" Kedua kening Jayce saling bertaut.

"Kau memiliki istri yang sangat cantik, yang bahkan siapapun tidak akan pernah menduganya mengingat banyaknya lamaran yang terang- terangan ditujukan padamu selama beberapa hari belakangan ini. Lagipula aku ini adalah pria bebas. Selama aku mendengar kesediaan mereka, aku pun akan dengan senang hati menerima bentuk, hm apa yang bisa kusebut sebagai... bentuk pemujaan."

Jayce berusaha untuk tidak mendengus yang sebenarnya tidak perlu. Dengusan Jayce pada London membuat London membalasnya dengan cibiran.

"Aku yakin kau juga memuja tubuh Kimberly, iya kan? Kau pasti juga merindukannya melihat betapa seringnya kau marah beberapa hari ini." Ledeknya.

"Aku memang marah," sergah Jayce. "Tapi bukan karena itu tapi karena lamanya aku harus menyelesaikan ini. Aku bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk bisa bertemu dengannya."

"Oh! Kuharap Kimberly tidak segera pergi meninggalkanmu karena terlalu lamanya ia menunggu."

Jayce rasanya ingin segera melayangkan tinjunya ke perut sahabatnya itu tapi menahannya, setidaknya tidak banyak saksi yang akan melihat jika ia menghajar London nanti.

"Aku rasa seorang presiden baru saja berada di bandara ini." Celutuk London dan Jayce baru menyadari sekelilingnya. Hampir di seluruh tempat penuh dengan orang- orang dan sebagian besar adalah pria dan juga paparazzi.

"Kalau begitu kita harus pergi dari sini secepatnya. Aku tidak mau jika paparazzi itu malah menghalangi langkah kita."

London dan Byrne sama- sama mengangguk kemudian mengikuti Jayce yang telah lebih dulu jalan ketika mendadak ia berhenti karena menabrak sesuatu... tidak, tepatnya seseorang. Seorang gadis. Gadis itu mengaduh karena kesakitan.

"Maaf. Aku kau tidak..." nyaris saja kedua mata Jayce keluar melihat wajah orang yang ditabraknya. "Kimberly, apa yang...?"

"Lepaskan tanganmu darinya, Caldwell!" Suara dingin dan penuh penekanan itu membuatnya terpaksa berpaling dari wajah gadisnya dan mengernyit ketika melihat Ray yang tidak senang. Sedetik kemudian, tubuh Kimberly tertarik- menjauh darinya dan melihat Ray yang menempatkan sebelah tangannya pada pinggang Kimberly.

What the...!

"Apa yang sebenarnya kau lakukan disini, Rios?" Sama halnya dengan Ray, Jayce juga mengeluarkan suara dingin dan penuh intimidasi pada sosok pria dihadapannya.

"Seperti yang kau lihat, kami akan pergi."

Kerutan dikening Jayce semakin dalam dan kemudian perasaan bergelora ketika pertama kali melihat Kimberly tadi seketika berubah menjadi amarah. Gadis itu sama sekali tidak melihatnya dan justru memalingkan wajahnya kearah lain.

"Kami?" Ulang Jayce.

"Ya. Kami berniat pergi."

"Untuk berapa lama?"

"Belum dipastikan."

"Dan apa maksud dari kalimat belum dipastikan itu?"

Seperti mendengar alarm berbahaya, Kimberly memalingkan wajahnya dan menatap wajah Jayce. Tidak ada yang berubah dari wajah itu- masih sangat tampan seperti yang diingatnya meskipun ada gurat kelelahan yang terlihat jelas di wajah itu.

Pasti dia lelah karena hubungan ini. Pikir Kimberly sedih.

"Bukan urusanmu untuk mengetahui itu, Caldwell."

Jayce terdiam kemudian matanya beralih pada Kimberly yang juga sedang menatapnya. Ada kesan kesedihan di mata gadis itu yang bisa di tangkap oleh Jayce kemudian kembali menatap Ray dihadapannya.

"Jadi," Jayce berkata lambat. "Yang ingin kau katakan adalah kau ingin membawa kabur istriku?"

Dan semuanya menjadi tidak terkendali seiring dengan suara terkesiap orang- orang disekeliling termasuk dari Kimberly sendiri.

Sekarang Jayce mengerti. Keramaian yang terjadi di bandara saat ini bukanlah karena adanya presiden seperti yang tadi dikatakan oleh London tapi keramaian ini terjadi karena hadirnya Kimberly Moss disini dengan seorang pria yang akan membawanya pergi.

Jayce tidak peduli lagi dengan sorotan lampu blitz yang disorotkan padanya dan juga pada Kimberly secara bergantian. Dia tidak peduli dengan banyaknya security yang terpaksa dihadirkan oleh bandara guna menghindarkan dirinya dari para paparazzi yang sedang mencari berita. Sudah jelas kalau ini akan menjadi topik terpanas besok pagi, bahkan mungkin media online sudah bersiap- siap menuliskan sebuah cerita yang mungkin akan ditambahi dengan sesuatu yang dramatis.

"Kimberly Moss adalah istriku dan aku tidak akan membiarkan pria lain membawanya pergi apalagi... menyentuhnya." Dan sekejap itu pula tubuh Kimberly berpindah tempat dari Ray kedalam dekapan Jayce.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS