LOVE MISSION - 12
"Kalau begitu cium aku."
Cium?
Apa mereka berciuman?
Arghhh, Sial!
Jayce memain- mainkan pulpen ditangannya dengan cepat sambil matanya tetap memperhatikan salah satu temannya berbicara. Bayangan tentang kalimat Kimberly tempo hari masih membekas dalam ingatannya dan terlebih lagi ketika Ray justru mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Dia merutuk kenapa waktu itu dia tidak langsung menarik Kimberly pergi padahal dia sudah berlarian kesana- kemari hanya untuk mengejar gadis itu tapi ketika menemukannya, dia justru pergi seperti seorang pengecut.
Sial. Rutuknya frustrasi.
Disisi lain, ini kali pertama London melihat Jayce bersikap seperti ini. Baginya Jayce saat ini seperti lahar tak terlihat yang siap untuk dimuntahkan kapanpun. Dia juga tidak pernah melihat Kimberly seminggu belakangan ini yang memunculkan dugaan London kalau sikap Jayce disebabkan oleh gadis itu. Pasalnya sehari sebelum Jayce berubah aneh seperti sekarang ini, Jayce mengatakan akan mengajak gadis itu ke kebun binatang yang sempat membuat London nyaris tidak mempercayai telinganya. Setahunya, sahabatnya itu bukanlah tipe orang yang akan bersedia meluangkan waktunya hanya untuk seorang perempuan kecuali dia.
"Apa semua sudah kau urus?" Tanya Jayce membuyarkan lamunan London dan langsung mendapatkan sorotan tajam dari Jayce. "Apa kau tidak mendengarku?"
"Eh maaf." Inilah Jayce dalam suasana beruang grizzly yang hibernasi. Disekelilingnya, London memperhatikan kalau tidak seorangpun yang berani membantah. Sudah jelas tidak seorang pun yang mau mencari masalah dengan beruang satu ini.
"Aku mengatakan bagaimana dengan kandidat lainnya?"
Oh tentu saja. Dalam hati dia berguman. "Sudah diurus." Jawab London yang kemudian dibalas anggukan singkat oleh Jayce.
Satu hal yang membuat kagum London dalam diri Jayce adalah dia sangat bertanggung jawab meskipun tidak jarang orang lebih memilih untuk tidak berdekatan dengan Jayce sebelum keadaan normal tapi faktanya keadaan normal itu sedang tidak menentu alias belum bisa dipastikan kapan akan kembali mengingat selama beberapa hari ini, Jayce seperti memasang wajah dinginnya di seantero kampus.
Mungkin bagi orang lain, sikap Jayce saat ini dikarenakan stres mengurusi pergantian ketua senat yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Ya, masa jabatan Jayce sebentar lagi berakhir yang berarti dia tidak akan memegang kepemimpinan di kampus ini lagi. Jayce memutuskan untuk tidak mengambil bagian lagi dan fokus pada tugas akhirnya lalu kemudian pada bisnis otomotif yang selama setahun ini dia jalani.
"Baiklah. Kurasa kita selesai sampai disini. Besok akan kita lihat apa yang menjadi kekurangannya." Ucap Jayce singkat. Segera saja suara kursi- kursi ditarik mulai berbunyi dan pintu yang dibuka.
Hanya ada beberapa orang yang berada di ruang khusus senat ketika London bertanya, mengindahkan Jayce yang sedang asyik memperhatikan layar macbooknya.
"Jadi apa yang terjadi?"
"Apa yang kau bicarakan?" Balas Jayce mengarahkan jari- jarinya ke kursor.
"Well, kau seperti siap membunuh orang." Jawab London tanpa memperdulikan dua orang yang saat ini sedang melihat mereka penasaran.
Sekilas Jayce mengalihkan pandangannya dari macbooknya ke London kemudian kembali lagi ke macbook.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Balasnya kembali menggerakkan tangannya kearah kursor.
Sejenak London terdiam. Dia harus mengubah strategi.
"Oh dimana Kimberly? Aku tidak pernah melihatnya." Ujar London yang langsung membuat tangan Jayce berhenti bergerak.
Kena kau! Aku tahu ada yang terjadi diantara kalian. London tersenyum penuh kemenangan. Sudah jelas kalau sahabatnya ini mulai tertarik dengan gadis itu.
"Tidak tahu." Jawab Jayce datar kembali mengarahkan tangannya ke kursor.
"Benarkah? Beberapa hari ini aku menghubunginya tapi sama sekali tidak ada jawaban." Guman London pelan, sengaja tapi itu langsung membuat Jayce berbalik.
"Kapan kau menghubunginya? Dan bagaimana kau bisa tahu nomornya?"
Dengan susah payah London berusaha untuk tidak tersenyum.
"Hmm aku meminta nomornya dulu."
"Dan kau sering menghubunginya?"
"Tidak selalu tapi ya, bisa dibilang dia cukup ramah untuk bisa menjawab telponku tapi...."
"Tapi apa?"
"Selama seminggu ini aku tidak bisa menghubunginya. Nomornya selalu saja mati. Apa kau tahu kenapa?
Jayce mendengus. "Mana aku tahu." Jawabnya dan segera mematikan macbooknya.
"Mau kemana?" London bertanya bingung karena mendadak Jayce berdiri dari duduknya dan menenteng tasnya di pundak sebelah kirinya.
"Pulang. Malam ini jadi?"
London mengangguk. "Kau yakin?"
"Ya. Persiapkan saja apa yang kubutuhkan."
"Baiklah. Kalau memang itu yang kau inginkan."
Jayce baru saja akan membuka pintu mobilnya ketika mendadak seseorang dengan topi meraih lengannya.
"Apa yang...?" Kalimatnya berhenti ketika menyadari siapa yang baru saja mencegatnya.
"Ayo masuk. Aku tidak mau dilihat orang lain disini." Bisik Kimberly seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah yang sebenarnya percuma. Hanya ada London disekitar mereka dan kaget ketika melihat penampilan Kimberly yang seperti ini. Hootpants dan hoodie serta sneakers yang membalut kakinya. Rambutnya yang panjang dan keriting gantung dibiarkan tergerai dan serta topi yang menutupi kepala dan wajahnya. Secara keseluruhan, penampilan Kimberly saat ini sangat berbeda dengan penampilan Kimberly yang biasanya. Yang ini jauh lebih seksi juga... tomboy.
Jayce juga sama terperangahnya dengan London. Ini pertama kalinya dia melihat penampilan Kimberly yang seperti ini dan seperti hujan yang turun di musim kemarau. Seperti itu pula perasaannya saat ini.
"Kau tidak mau masuk ke mobil. Ayo ce.." mendadak Kimberly membalikkan badanku menghadap mobil Jayce ketika sudut matanya menangkap pergerakan mobil yang baru saja memasuki parkiran.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jayca datar tapi juga penasaran.
Kembali Kimberly berbalik ketika dia sudah merasa kalau mobil yang tadi itu sudah jauh.
"Aku tidak mau terlihat." Jawab Kimberly.
Sejenak Jayce mengangkat sebelah alisnya sambil memperhatikan Kimberly dari ujung kepala ke ujung kaki lalu berbalik ke London yang nyengir.
"Jelas sekali baik aku maupun London bisa melihat tubuhmu yang sebesar ini." Ujar Jayce sinis.
"Ah, benar juga." Ucap Kimberly hendak melepas topinya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau bilang aku masih bisa terlihat. Aku ingin melepas topi ini."
"Sudahlah. Pakai saja. Aku tidak mau menghadapi para fansmu saat ini."
"Eh?"
"Kau mau masukkan?" Jayce membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih. Ayo London. Kau juga ingin pergi dengan Jayce kan?"
London yang masih belum pulih dari kekagetannya hanya mengangguk dan mengikuti Kimberly ke kursi belakang mobil ketika Jayce menghentikannya.
"Kenapa?" Tanya London bingung.
Jayce mendengus. "Aku bukan sopir. Kimberly duduk di depan." Perintah Jayce yang langsung diikuti oleh Kimberly, mengindahkan dengusan London dibelakang.
"Kenapa kau pergi?" Kimberly menatap Jayce yang mengemudi disampingnya.
"Hah?"
"Padahal aku kembali." Ujarnya sedih.
Jayce sama sekali tidak menjawab hingga mereka tiba di sisi pantai.
"Dengar, " Jayce membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan Kimberly. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau mainkan sekarang tapi kurasa kau harus menghentikannya."
Kimberly terdiam.
"Kau... marah?"
"Apa?"
"Kau marah."
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena aku pergi."
"Dengar, aku juga tidak ped..."
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau akan marah."
"Tidak ada hubungannya denganku."
"Tentu saja ada. Aku menyukaimu, Jayce."
***
Comments
Post a Comment