IY - SATU
"Tunggu... apa Mom?" Jerry nyaris tidak dapat mempercayai apa yang baru saja keluar dari bibir wanita yang paling disayanginya itu. "Tunangan?"
Ibunya, Tessa Culton memandangi putra satu- satunya dengan wajah lembut. Dia dan suaminya telah bertekad untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada putranya itu dan tahu seperti apa sikap yang akan ditunjukkan padanya.
"Mom dan Dad pasti bercanda, iyakan?" Jerry kembali mempertanyakan sikap kedua orang tuanya. Tidak mungkin di usianya yang menginjak hampir usia 25 tahun ini, dia harus mendengar kalimat kalau dia sudah di tunangkan oleh seorang gadis dari negeri antah- berantah yang sepanjang masa ingatannya- itupun kalau dia masih punya ingatan tentang itu yang hanya pernah dilihatnya satu kali- itu lagi ketika gadis itu masih belum bertumbuh alias masih setinggi pohon tomat.
"Kami sudah memutuskan kalau kau harus bertunangan dan menikah dengannya." Putus Tessa saat itu juga dan berlalu meninggalkan Jerry yang terperangah beserta Howard Culton yang hanya bisa menatap putranya penuh arti.
"Jangan khawatir, nak. Dia sangat cantik dan dikenal di seluruh penjuru negeri." Ujar Howard menepuk pundak Jerry pelan lalu berlalu pergi meninggalkan dirinya.
.
.
.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah lebih dari empat tahun sejak kejadian itu. Jerry masih bersikeras untuk tidak menikahi gadis itu meskipun pertunangan telah dilaksanakan. Jerry beralasan kalau gadis yang menjadi tunangannya kala itu masih sangat muda. 18 tahun! Jerry merasa tidak nyaman dan akan menganggap dirinya fedofil jika harus menikahi gadis yang dianggapnya masih dibawah umur itu tapi sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan sebenarnya. Jerry tidak menyukai gadis itu dan sudah jelas gadis itu juga tidak menyukainya. Jadi kenapa harus berkubang atas nama pernikahan jika kedua belah pihak tidak menginginkannya? Jadi yang bisa Jerry lakukan adalah hanya mengulur waktu hingga tiba saatnya dia membatalkan pertunangan dirinya.
Meskipun gadis yang menjadi tunangannya itu terbilang cukup cantik. Kata cantik sebenarnya tidak cukup bisa mewakili dirinya karena faktanya, gadis itu bahkan dijuluki sebagai goddess atau fairy karena kemahirannya dalam memainkan tuts- tuts diatas piano. Harus Jerry akui kalau dia agak terkesan tapi gadis itu bukanlah merupakan tipe idealnya. Gadis itu lebih terlihat sangat manja, selalu bergantung dan sering bersenang- senang. Sangat tidak mungkin untuk bersanding dengan dirinya yang bebas, yang senang bertualang hanya untuk mendengar atau memainkan berbagai macam alat musik.
Jerry terus- menerus mendesah pelan, mengeluarkan rasa frustrasinya setiap kali dia harus berjalan mengitari seluruh hall dengan gadis itu berada disampingnya, yang terus saja menyunggingkan senyumnya pada setiap orang yang dijumpainya dan mengerang jengkel, kalau saja Jullian tidak membuatnya marah tadi sore. Sudah tentu dia akan bermain dengan si kecil Audrey- anak Lea.
Audrey sangat menyukai Jerry dan mungkin karena itulah Jullian sering melampiaskan kejengkelannya pada dirinya, karena merasa cemburu melihat anaknya sendiri- Audrey yang lebih sering bermain dengannya lagipula bukan salahnya kalau Audrey bahkan jauh lebih menyukai dirinya dibandingkan ayahnya sendiri, yang lebih sering membuatnya merasa tidak nyaman lagipula anak mana yang akan merasa senang jika ayahnya sendiri lebih sering menusuk- nusuk pipinya bahkan jika itu dengan menggunakan jari telunjuk.
Dalam hati, Jerry juga merasa lega karena Lea telah mendapatkan kebahagiannya. Dia bisa melihat bagaimana mata Lea memperlihatkan itu semua dan lebih sering tersenyum dibandingkan ketika mereka bersama dulu.
Jullian Anderson, sosok yang telah berhasil merebut hati Lea bahkan sejak pertemuan pertama mereka dulu bahkan setelah dia datang.
Ya. Jerry mengenal Jullian bahkan sebelum pria itu memperkenalkan dirinya di Prancis dulu. Mereka memang tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya tapi Jerry langsung mengenalnya. Sama seperti nama besar keluarganya-keluarganya- Culton Music Institute, pusat pengajaran musik terbesar di New York. Anderson Inc juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam hal bisnis. Semua orang- orang dalam dunia bisnis mengenali keluarga Anderson apalagi jika Jackie Anderson membuat keputusan, keputusannya sangat mutlak, tidak bisa diganggu gugat.
Tapi bukan itu yang membuat Jerry seakan tidak menyukai Jullian. Bisa dikatakan Jullian tipe pria baik dan bertanggung jawab dan baik Jullian maupun Jerry bisa menjalin pertemanan yang sangat baik, mengingat keduanya memiliki sikap egois dan tidak mudah mengalah satu sama lain.
Jerry tidak menyukai Jullian karena masa lalu dan masa lalu itu berhubungan dengan Lea. Ya, semua ini karena Lea. Jerry tidak menyukai Jullian karena pria itu pernah mengingkari janjinya pada Lea ketika gadis itu masih kecil. Darimana Jerry tahu, karena setiap kali Jullian muda ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin Jackie Anderson maka setiap kali itu pula Jerry harus menahan geram karena kebanyakan suster akan segera pergi untuk melihat pewaris tunggal Anderson Inc apalagi kala itu gosipnya Mrs. Anderson sangat protective pada putra semata wayangnya. Dia juga pernah tidak sengaja lewat ditaman dan melihat Jullian berada disana.
Pertemuannya dengan Lea kala itu adalah ketika Jerry baru saja kembali dari apotik di rumah sakit, tempat ibunya dirawat ketika mendapati seorang gadis kecil menangis ditaman rumah sakit dengan rambut palsu di tangannya dan menyebutkan kata pembohong dalam tangisnya. Jerry yang mengira kalau gadis itu terluka hingga rambutnya rontok seketika terdiam ketika menyadari kalau rambut gadis kecil itu berwarna merah.
Awalnya tidak mudah mendekati gadis kecil itu. Apalagi dia sering memakai rambut palsu agar bisa menutupi rambut aslinya hingga Jerry kesal dan menyembunyikan rambut palsu miliknya hingga hampir saja membuat dia kehilangan nyawa. Pasalnya gadis itu hampir saja melemparnya dengan batu bata karena dia menolak untuk memberitahukan dimana dia menyembunyikan rambut palsu milik si gadis.
Jerry menolak karena gadis itu menolak untuk memberitahukan namanya dan dengan terpaksa mengatakan kalau namanya Lea setengah jam kemudian tapi Jerry tidak pernah menyangka kalau setengah jam itu adalah hari dimana dia bertemu dengannya karena setelahnya Lea mendadak menghilang tanpa jejak. Beberapa tahun kemudian dia terkejut ketika bertemu dengan gadis itu lagi, tepatnya ketika Lea berusia 16 tahun. Jerry tahu dari warna rambut yang dimilikinya, belum lagi dia memperkenalkan dirinya dengan nama yang sama seperti dulu, pada pertemuan pertama mereka.
"Kenapa kau datang?"
Seketika lamunan tentang masa lalunya mendadak buyar seiring telinganya yang mendengar nada tak bersahabat disampingnya.
"Apa perlu penjelasan lain?" Balas Jerry tidak kalah datar. Akhirnya setelah berpura- pura ramah pada orang- orang disekelilingnya akhirnya gadis itu menampakkan wajah aslinya. "Kurasa tadi kau bersenang- senang selama disana." Lanjut Jerry yang serta merta membuat gadis itu memutar kedua bola matanya.
"Harus ada yang menjadi orang warasnya diantara kita. Dan karena akulah yang paling waras diantara kita berdua, maka kuputuskan untuk mengambil tanggung jawab ini."
Jerry mengangkat sebelah alisnya, "benarkah?" Membuat gadis itu ikut mengangkat kedua alisnya. "Aku justru berpikir kalau obatmu habis tadi karena terlalu banyak tertawa dan tersenyum."
Tidak ada senyum diantara mereka, yang ada hanya saling menatap sengit lalu mendadak gadis itu tersenyum.
"Ah ya, kurasa kau benar juga jadi kenapa kau tetap menginginkan pertunangan ini? Bukankah seharusnya kau menolaknya?"
Jerry terdiam lalu tertawa, "ralat, aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini. Ini seperti aku yang menjadi pengasuh dibandingkan tunangan."
Tidak ada jawaban dan Jerry mengira kalau kalimatnya barusan sudah keterlaluan ketika kembali mendengar nada datar dari lawan bicaranya.
"Kau tahu, kau punya satu jerawat di pipi ketika kau berbicara tadi." Ada nada geli ketika dia mengatakan itu, lalu berbalik ketika dia berhenti. "Oh ya, tidak usah mengantarku. Aku akan pulang dengan kedua orang tuaku, sampai nanti Jeremiah si jerawat." Lalu dia pergi meninggalkan sambil melambaikan sebelah tangannya dari belakang.
Sialan! Jerry segera meraih gelas berisi champagne yang baru saja dibawa oleh pelayan dan memperhatikan wajahnya lewat gelas tadi. Memang ada jerawat tapi hanya berupa bintik kecil, itupun tidak terlalu terlihat.
Jerry menengadahkan wajahnya untuk mencari sosok tadi ketika melihatnya sedang tertawa sambil meleletkan lidahnya, mengejek lalu mengangkat sebelah tinju kearahnya.
Gadis itu!
Dan Jerry bertekad untuk membalasnya suatu saat nanti.
***
Comments
Post a Comment