BTY - TUJUH BELAS
"Bagaimana bisa tiba- tiba kau sakit?"
Untuk sesaat Jerry menatap wanita di depannya, semakin mengernyit ketika Lea sibuk mondar- mandir sambil membawa baskom.
"Sebenarnya kenapa kau disini?"
Seketika Lea berhenti dari aktivititas yang dilakukannya dan memandangi pria diatas tempat tidur dengan tajam.
"Apa kau tidak lihat? Aku merawatmu."
"Tidak perlu." Jerry membalas, seraya menaruh kepalanya diatas bantas- tidak memperdulikan pelototan membara yang dihujamkan sahabatnya padanya. "Tidak ada yang bisa kau lakukan disini. Sebaiknya kau pergi. Aku ingin istirahat." Katanya menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga ke dada.
"Kau bercanda ya?" Lea menyahut tidak percaya. "Kau mengusirku?"
Jerry menghela napas. Bahkan bernapas pun rasanya terasa sulit baginya. Semalam dia terkena demam dan suhu tubuhnya semakin meningkat ketika Lea menghubunginya dan mengetahui kalau dia sedang sakit.
"Tidak begitu, Lea." Ujar Jerry dengan napas yang pendek. "Ini hanya demam biasa. Jika kau biarkan aku tidur selama beberapa jam, aku pasti akan sembuh total."
"Tapi..."
"Audrey dan Austin membutuhkan kehadiran ibu mereka." Sela Jerry cepat. "Dan Jullian pasti tidak setuju ketika kau mengatakan padanya akan merawatku."
"Jullian akan mengerti."
Jerry menyunggingkan senyumnya pelan. "Pria memiliki cara lain untuk menyembunyikan kecemburuannya pada orang yang dicintainya."
"Tapi bukan berarti Jullian masih cemburu padamu."
"Memang tidak," Jerry membalas seraya mengangkat sebelah tangannya untuk memijit dahinya terasa pening. "Tapi bukan berarti dia tidak merasakan perasaan itu."
Untuk sesaat Lea terdiam kemudian berkata. "Kalian para pria memang tidak pernah dewasa."
Jerry tertawa, hanya sekadarnya lalu kembali berujar. "Sungguh Lea. Jika kau meninggalkanku sekarang. Aku akan cepat kembali normal."
"Aku berharap Cassie berada disini. Kau membutuhkannya." Tepat setelah Lea menggumankan kalimatnya, bel pintu apartemen Jerry berbunyi.
"Apa kau memberitahu Elena atau siapapun sebelum kesini?" Tanya Jerry. Dia tidak mau Elena atau Claire datang dan merecokinya sama seperti yang tadi dilakukan oleh Lea.
Dengan tegas dia menggeleng. "Aku bahkan tidak sempat menghubungi siapapun setelah aku mendengar suaramu yang lemah tadi."
Jerry menghembuskan napasnya. "Mungkin itu hanya petugas keamanan yang berpatroli." Katanya lagi.
"Apa petugas keamanan disini selalu berpatroli?" Lea bertanya dengan kening yang saling bertaut.
"Entahlah."
"Sebaiknya kuperiksa."
Jerry tidak ingin menahan Lea melakukannya jadi dia membiarkannya saja dan hendak memejamkan mata ketika mendengar suara lembut yang dikenalnya menyahut dengan suara Lea.
"Untunglah kau kesini, Case. Dia benar- benar keras kepala jika sedang sakit." Ujar Lea dan Jerry melihat Anna dengan balutan dress putih selutut, rambutnya diikat ekor kuda hingga menampilkan lehernya yang jenjang.
"Hai." Anna berkata.
"Hai. Apa yang kau lakukan disini?" Jerry hendak bangun dari tidurnya ketika wanita itu menahannya.
"Jangan bangun. Kudengar dari Lea kau sakit."
Jerry menolehkan pandangannya dan menatap Lea dengan tajam. Lea tersenyum tanpa sama sekali menunjukkan wajah menyesal.
"Hanya demam biasa." Katanya kembali menatap wajah didepannya. "Kau terlihat berbeda."
Kedua pipi Anna tersipu. "Tadi aku mengantar beberapa buket pengantin di beberapa hotel, dan sulit sekali masuk dan menyerahkan buket itu ke pengantin wanita jika kau tidak berpakaian yang sepantasnya. Jadi ya, aku memilih pakaian ini. Apa kelihatan aneh?"
Jerry tersenyum. Cassandra yang dikenalnya tidak pernah terlihat aneh dengan apapun yang dikenakannya dan ini bukanlah model pertama yang selalu dikenakan oleh wanita itu jadi mana mungkin dia tidak menyadarinya.
"Tidak. Kau sangat cantik." Jerry tersenyum lembut sembari menggengam tangan Anna. "Selalu cantik."
Tapi bukan itu yang langsung membuatnya tersentak melainkan apa yang dikatakan oleh Lea tadi benar adanya. Suhu tubuh Jerry memang sangat tinggi.
"Apa kau sudah minum obat?"
Jerry mengangguk. "Ya."
"Kalau begitu kau harus tidur untuk memulikan kesehatanmu."
"Apa kau akan pergi?"
Dia ingin mengatakan jika dia harus berangkat bekerja. Tapi itu dua jam lagi. Alih- alih menganggukkan kepalanya, dia menggeleng. "Jika kau menginginkanku disini maka..."
"Aku selalu menginginkanmu, sayang." Potong Jerry.
Anna tersenyum. "Kalau begitu aku akan tinggal." Ucapnya terdengar riang hingga Jerry ikut tersenyum.
Lea mengatakan akan pulang lebih dulu karena sudah ada Anna yang menjaga Jerry. Anna tidak mengerti apa yang saat ini dirasakannya. Hubungan Jerry dan Lea sangat dekat, bahkan Lea lebih mementingkan Jerry dibandingkan keluarganya. Apa ada yang terlewatkan olehnya? Tapi Lea terlihat sangat mencintai suaminya dan Jerry? Entahlah. Dia masih belum bisa mengingat apapun tentang kebersamaan mereka dulu. Patricia bahkan terlihat lebih protective akhir- akhir ini dan semua itu membuat Anna ikut merasa stres sekaligus kebingungan.
Jerry sudah tertidur hampir satu jam yang lalu karena obat yang dikomsumsinya.
Sambil mengusir kebosanan yang melingkupi dirinya, Anna memutuskan untuk mengelilingi setiap ruangan dan semakin terpesona akan detail- detailnya, seakan setiap tempat memiliki cerita tersendiri.
Anna berlama- lama menatap beberapa bingkai foto yang berjejeran di atas perapian. Bingkai- bingkai itu menampilkan berbagai macam ekspresi dan semuanya menampilkan sosok yang mirip dengannya.
Jika pada awalnya Anna tidak percaya jika Jerry adalah suaminya, maka foto- foto memperlihatkan segalanya, membuatnya mulai ragu. Ada foto dengan latar belakang pantai, berdua didalam kamar, menghadap jendela dengan Jerry memeluknya dari belakang. Foto itu berlatar hitam putih dan serta merta kedua pipi Anna memerah. Hanya sebuah selimut yang menutupi tubuh mereka sementara bahunya yang telanjang terlihat.
Anna memutuskan untuk tidak berpikir lebih jauh dan mengedarkan pandangan ke tempat lain ketika matanya tertuju pada piano berwarna hitam.
Seperti magnet, dia melangkahkan kakinya kesana dan berjalan mengitari piano itu sementara jari- jarinya menyentuh setiap sudut dari piano itu.
Dia berhenti tepat di bagian tuts- tutsnya dan mendesah ketika jari- jarinya ikut menyentuh bagian itu.
Ting...
Suara tuts yang dihasilkan oleh piano itu berdentang di kesunyian seluruh ruangan.
Ting...
Sekali lagi ia menyentuhnya dan tanpa sadar ia tersenyum. Betapa hatinya tergerak untuk menyentuhnya sekali lagi ketika sudut matanya menangkap sebuah pergerakan dan menyadari kalau Jerry sedang bersandar di sudut dinding dengan tangan terlipat di dada dan sedang melihatnya.
Anna terlonjak, kaget dan tanpa sengaja melangkah mundur menjauhi piano itu hingga menyenggol sebuah vas dan jatuh hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Oh tidak!" Anna memekik terlalu kaget dengan apa yang baru saja dilakukannya ketika Jerry telah berada didepannya.
"Kau tidak apa- apa?" Tanya pria itu sarat kekhawatiran, sementara matanya mulai menyelusuri setiap inci tubuh wanita yang tergelatak duduk dihadapannya.
"Aku minta maaf, Jerry."
"Jangan pikirkan tentang guci sialan itu. Kau tidak apa- apa?"
Anna mengangguk. "Ya, tidak yang luka."
"Kau yakin?"
Sekali lagi Anna mengangguk, menyakinkan. Jerry membantu Anna berdiri dan membawa Anna agar duduk di kursi di dekat piano. Setelah itu ia mengambil sebuah sapu dan tempat sampah dan membersihkan pecahan- pecahan itu.
Anna sungguh merasa tidak enak dan menyesal, hingga kemudian dia ikut berdiri dan membantu Jerry membereskan kekacauan yang ditimbulkannya.
Setelah beberapa menit, mereka berdua kembali duduk. Tubuh Jerry penuh dengan peluh karena masih kurang sehat. Hal itu semakin membuat Anna merasa bersalah.
"Maafkan aku." Ucap Anna lagi.
Jerry tidak suka Anna terus- terusan mengatakan itu. Wanita itu dulunya tidak selemah ini. Wanita yang dinikahinya dulu tidak akan merasa sangat bersalah jika memecahkan sebuah vas kecil yang hanya berharga beberapa ratus dollar.
"Jangan khawatir." Jerry menyentuh pipi Anna dengan lembut, berusaha agar wanita itu tidak mempermasalahkan kejadian tadi. "Sudah lama aku mencari cara untuk memecahkan benda itu tapi tidak menemukannya, dan kehadiranmu disini membantuku mewujudkannya." Ucapnya sembari tersenyum. Anna hendak memprotes tetapi kembali Jerry memotongnya. "Apa kau ingin memainkannya?" Jerry menunjuk piano yang tadi diperhatikan oleh wanita itu, membuat Anna mengernyit bingung. "Ayo. Sudah lama aku tidak pernah memainkannya."
Kedua kening Anna semakin berkerut ketika Jerry mendudukkannya di atas kursi sementara pria itu duduk disampingnya.
"Kita main bersama." Sahut Jerry.
"Aku tidak bisa." Sahut Anna sebelum Jerry menempatkan jari- jarinya diantara tuts- tuts itu.
Jerry membalikkan tubuhku dan menatap wajah itu. "Kau adalah seorang pianis yang sangat berbakat. Kau mungkin tidak mengingat semuanya tapi hatimu tahu."
Dia benar.
"Biarkan instingmu yang mengambil alih, sayang."
"Tapi..."
"Apa kau percaya padaku?"
Sejenak Anna terdiam lalu mengangguk. "Aku percaya padamu." Jawabnya kemudian.
"Bagus. Hanya itu yang perlu kuketahui. Lagipula kau tidak jalan sendirian. Ada aku disampingmu. Kita akan menghadapinya bersama."
Jerry memulai nada pertama dan meminta Anna untuk melihatnya terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian, alunan lembut dari Melody of the Night no.5 mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan dan dimainkan oleh mereka berdua.
Beberapa tahun sebelumnya...
Jerry mengeram marah menelusuri koridor di Institute. Howard Culton- sang ayah mengultimatum agar dia segera mengambil alih dalam pengelolahan Institute. Dan hal itu sangat bertentangan dengan jiwanya yang tidak ingin berada dibelakang meja dan memperhatikan semua para siswa yang belajar.
"Membosankan." Gerutu Jerry seraya mengacak- acak rambutnya, membuatnya semakin berantakan.
Dia memilih untuk melewati koridor- koridor sempit dan jarang dilalui karena tahu gadis- gadis yang belajar di Institute yang dimiliki oleh ayahnya akan memberinya tatapan memuja dan jika beruntung sebuah ciuman akan langsung mendarat di bibirnya saat itu juga.
Langkahnya semakin cepat ketika melihat tembok yang menghubungkannya ke dunia luar. Ia sengaja tidak memarkir mobilnya di parkiran Institute karena sudah menduga apa yang akan terjadi. Ayahnya tidak hanya sekedar ingin beramah- tamah seperti layaknya ayah dan anak tapi ada sesuatu dibalik itu semua. Meskipun Howard Culton juga menanyakan kabarnya selayaknya ayah pada anak laki- lakinya.
Beberapa langkah lagi dan dia akan terbebas ketika telinganya menangkap suara denting piano.
Melody of the night?
Jerry tahu melodi itu. Biar bagaimanapun dia juga berbakat dalam hal memainkan piano meskipun dia lebih dominan ke permainan gitar.
Jerry seakan melupakan misinya yang ingin melarikan diri dan justru berbalik arah menuju ke sumber suara.
Awalnya Jerry ragu. Ruang piano di sudut hampir tidak pernah digunakan, bahkan Jerry tidak yakin masih ada piano yang berfungsi disana.
Dengan langkah pelan, namun pasti. Dia menjejakkan kakinya satu demi satu. Berharap yang didengarnya bukan suara piano yang bisa bermain sendiri melainkan ada seseorang yang memainkannya.
Napasnya terhenti. Bukan karena mengharapkan sesosok hantu di siang bolong. Melainkan dia melihat wajah seorang gadis muda- jauh lebih muda darinya sedang memainkan benda besar itu.
Wajahnya menyiratkan dia begitu menghayati setiap alunan yang dihasilkannya, sementara matanya tertutup. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis muda itu tapi yang jelas dia ikut terhanyut. Lantunan itu seakan memanggilnya. Memantrainya dan ketika kedua mata gadis itu terbuka. Jerry tahu, dia sudah terperangkap dalam sihirnya.
Anna harus mengerjap hingga beberapa kali ketika sadar dia telah berhasil menarikan jari- jarinya diatas tuts- tuts itu dan menoleh ketika mendapati Jerry justru melihatnya dengan ekspresi tersiksa juga sedih.
"Ini..." Anna tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa ketika Jerry kembali memotong ucapannya dan menyelipkan beberapa helai rambut dari pipi wanita itu.
"Aku tahu. Menakjubkan, bukan? Dan kau mengikuti instingmu."
Kedua bibir Anna tergagap. Ini jauh dari apa yang tadi diucapkan oleh Jerry. Anna merasa jiwanya terhanyut ketika memainkan bait demi bait. Tanpa sadar membuat dirinya harus menggigit bibirnya kuat- kuat.
Kenapa rasanya aku ingin menangis?
Jerry yang seperti mengetahui apa yang baru saja dipikirkan oleh wanitanya, membawa bibirnya hingga bersentuhan dengan bibir merah muda itu. Saat itulah air mata Anna menetes, membuat Jerry semakin merengkuh pemilik tubuh itu serta menekannya hingga tidak ada jarak diantara mereka.
"Jerry..." Suara Anna terdengar lirih dan ingin.
"Aku mencintaimu, Cassandra Ann Swan. Dulu dan sekarang."
***

Comments
Post a Comment