BTY - DUA PULUH DELAPAN
“sangat mengangumkan, Annabelle.” Seru Peter senang, “entah apa yang sudah kau lakukan hingga bisa mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu yang sangat singkat.” Katanya sembari matanya tidak lepas dari wanita yang sedang berdiri dihadapannya. Seakan seperti ada sikap angkuh yang muncul entah darimana.
Wanita itu tersenyum, senyum yang menyiratkan bahwa itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukannya, meskipun di satu sisi dia juga harus berusaha menahan getaran yang menjalar melalui kedua tangannya disamping tubuhnya.
“Tidak peduli apa yang sudah kulakukan, yang jelas aku sudah melunasi semua hutang yang dulu kumilki beserta bunganya.”
Peter tertawa. Tawa yang nyaris meluruhkan tekad kuat yang dimiliki oleh Anna, atau dalam hal ini Cassandra Ann Swan. Setelah semua ingatannya kembali. Anna atau Cassie, jelas bukan orang yang mudah ditindas dan tentu saja dia juga menolak untuk ditindas oleh siapapun.
Tapi saat ini, ada hal- hal yang harus diselesaikannya terlebih dahulu- terlepas dari apakah ingatannya telah kembali atau belum dan cukup jelas juga dia belum ingin memberitahukan tentang ingatannya yang sudah kembali kepada siapapun- termasuk pada Jerry.
"Bagaimana rasanya, sayang?"
Sesaat kedua kening Cassie mengernyit, tapi masih memperlihatkan sikap tenang. "Bagaimana rasanya apa?"
Lagi- lagi Peter tertawa. "Oh jangan berpura- pura tidak tahu- oh! Jangan berusaha menyangkalnya." Kedua kening Cassie semakin berkerut. "Tentu saja sangat menyakitkan melihatmu seperti ini tapi, aku juga tidak bisa menampik kalau pria itu juga memiliki banyak uang yang mungkin bisa membiayaimu." Peter mengatakannya seraya matanya tidak lepas dari tatapan yang sangat jelas menilai ke tubuh wanita itu. "- aku tentunya tahu terkadang wanita bisa sangat menuntut jika dihadapkan pada kekayaan yang sangat melimpah. Aku tidak akan menyalahkannya."
Tunggu. "Aku apa?"
"Pria itu. Kutebak dia yang memberimu uang sebanyak ini." Lagi- lagi pandangan menilai disertai hasrat terpendam terlihat jelas di kedua mata Peter, membuat Cassie berusaha menahan aliran darah yang merinding sekaligus ingin menendang selangkangan pria yang mungkin bisa dikatakan sebagai ayahnya- bahkan ayahnya pun tidak terlihat setua itu jika menilik dari segala sisi. "Pria muda itu tidak akan pernah memuaskanmu, sayang." Kalimat itu kembali terlontar dari bibir yang dihisapi tembakau. "Dan aku jelas lebih berpengalaman dalam memuaskan seorang wanita."
Untuk sesaat, Cassie mengedikkan bahunya, berusaha memperlihatkan sikap acuh tak acuh pada pria itu. "Well, harus kuakui kau mungkin benar," dia berkata pelan. "Tapi aku sudah cukup puas dengan apa yang sudah kumiliki jadi yah, harus kukatakan aku berterima kasih padamu karena itu," lalu dia tersenyum. Tidak sulit melakukannya karena dulunya dia sudah mempelajari tekniknya dan kebersamaannya dengan Matt dulu telah mengajarkan banyak hal untuknya. "Pria muda yang kau katakan itu memiliki banyak stamina untuk dibuktikan dan mempelajari hal- hal baru setiap hari darinya, yang kau tahu dengan pasti bahwa aku sama sekali memiliki pengetahuan yang sangat minim dalam hal berkencan dengan pria kaya, seperti menaiki roller coaster. Deg- degan dan bahagia disaat yang bersamaan." Memikirkan apa yang dulu sudah diperbuatnya bersama pria itu, seketika membuat hawa mendadak terasa panas dan dia merasakan kedua pipinya juga terasa terbakar.
Tidak ada yang bersuara. Hingga Cassie merasa mungkin saja dia telah terlalu jauh memprovokasi Peter tapi dia juga harus melakukannya. Jika dia akan...
Lalu Peter tertawa, tawa yang menandakan perasaan suka cita, membuat Cassie seketika mengerjap.
"Jika tahu kau adalah wanita yang sangat menggairahkan seperti ini, harusnya sudah dari dulu aku menculikmu dan menjadikanmu salah satu dari sekian pelacurku," jantung Cassie seketika berdetak keras. "Ketegasan dan keterus- teranganmu dalam caramu berbicara membuatmu terlihat berbeda. Apa yang sudah kau lakukan pada wanita gemetar dan ketakutan yang berdiri dua hari yang lalu disini?"
"Well, kurasa wanita itu tahu apa yang harus dilakukannya," Cassie menjawab dengan dingin tanpa sama sekali embel- embel. "Wanita itu sudah terlahir kembali menjadi sosok yang baru, yang tangguh dan menolak untuk diintimidasi."
Kedua mata Peter menatap wanita dihadapannya dengan lekat. Ya, wanita itu berubah dan perubahan itu seakan menunjukkan jika yang dikatakannya bukanlah sekedar hisapan jempol belaka.
Peter bertanya- tanya. Dimana dia pernah melihat wanita itu. Wanita yang sedang berdiri dihadapannya tampak tidak asing.
Wanita itu memiliki sikap dan keangkuhan yang luar biasa ketika mendatanginya untuk meminjam uang. Oh! Jangan lupakan tekad yang terpancar dari kedua mata wanita itu. Jujur, Peter pernah mengatakan kepada dirinya sendiri, sungguh sayang jika wanita itu akan berakhir menjadi pelacur seperti kebanyakan wanita yang rela mendatanginya kemudian menawarkan tubuh sebagai bayaran atas ketidakmampuan mereka sendiri.
"Siapa kau?"
Pertanyaan itu seketika terlontar dari bibir Peter dan melihat jika wanita itu terlonjak kaget. Peter tidak bodoh untuk tidak menyadari arti dari tatapan sedetik barusan.
"Dan apa pedulimu?" Balas wanita itu tegas.
"Harus kuakui ini kali pertama aku menemui wanita seperti dirimu. Percaya diri dan penuh.... Pendirian."
Cassie terdiam selama beberapa detik lalu tersenyum. "Kuharap utangku sudah terlunasi semua dengan ini," dia melirik uang yang berada diatas meja, berusaha terlihat tidak peduli. Merelakan yang satu demi yang lainnya. Itulah yang dikatakannya ketika memutuskan menjual cincin pernikahannya kemarin. Cincin yang memang sejak awal ingin dijualnya demi menghidupi kehidupan sehari- harinya. Dan setelah mengetahui harga yang sebenarnya, ia merasa beruntung tidak menjualnya kala itu. "Au revoir, Mr. Callaghan."
Kalimat itu seketika mengingatkan Peter akan sesuatu yang pernah terjadi bertahun- tahun yang lalu, yang sedikit membekas.
Kala itu Peter berjalan- jalan di tengah kota, ketika di suatu sudut di pinggir jalan dilihatnya banyak kerumunan orang. Peter melangkah ketika dilihatnya seorang gadis yang terlihat sangat muda sedang memainkan melodi dari biolanya pada dua orang anak yang terlihat sangat kumuh. Jelas sekali Peter mengetahui dengan sangat jelas kalau kedua anak itu adalah pengemis yang sering meminta- minta.
Tapi satu sosok. Sosok gadis dalam petikan biolanya itu justru telah menjadikan magnet tersendiri dari orang- orang disekitarnya tapi herannya tidak ada yang mengeluarkan kamera atau mengabadikan hal itu, mengingat betapa mudahnya teknologi saat ini.
Dalam hati Peter merasa kagum dengan jiwa gadis yang dilihatnya. Sangat muda dan jelas sekali tidak memperdulikan pakaian yang dikenakan. Peter tahu pakaian itu jelas berharga sangat mahal tapi diperlakukan seperti tidak berarti apa- apa. Dia memang terkenal kejam tapi dia juga memilih siapa yang akan diperlakukannya dengan kejam. Kehilangan istri dan anak karena persaingan tentunya mengajarkan banyak hal.
Lalu gadis itu berdiri, setelah mengumpulkan uang yang diterimanya dari orang- orang. Peter masih memperhatikan ketika si gadis menghampiri kedua anak itu dan tersenyum ketika menyerahkan uang itu kepada mereka.
"Katakan pada dokter yang merawat ibumu bahwa kalian sudah mendapatkan banyak uang." Katanya dengan bahasa Prancis yang sangat fasih. "Serahkan semuanya dan aku yakin ibumu akan kembali sehat."
Salah satu dari kedua anak itu menatap gadis itu dengan mata yang berbinar- binar. "Terima kasih." Ucapnya.
Si gadis balas tersenyum. "Aku harus kembali. Au revoir." Lalu dia berbalik dan langsung berhadapan dengan Peter.
Kedua kening gadis itu mengernyit dan sontak membelalak ketika dilihatnya ponsel yang berada di tangan kanannya.
"Oh, tidak. Kuharap anda tidak mengingkari kesepakatan kita tadi, sir."
Peter terdiam, bingung. "Kesepakatan? Kesepakatan apa?" Gadis muda ini sangat berani dan tidak tahu sopan santun.
Gadis itu memutar kedua bola matanya. "Tidak ada kamera. Tidak ada video. Dan hanya menikmati permainan tadi. Tahukah anda, sir akan sangat tidak enak jika kedua anak tadi dijadikan sebagai bahan komersil atas apa yang kulakukan."
Oh gadis muda ini ternyata juga sangat memuji diri sendiri. Pikir Peter. "Kuharap anda bersedia menghapus apapun yang tadi kau lakukan."
Tidak ada seorang pun yang pernah melakukan atau menyuruhnya seperti yang dilakukan oleh gadis muda ini. Hanya anaknya- anak berusia lima tahun yang berani melakukan hal- hal seperti perintah layaknya seorang putri sebelum kecelakaan merenggut putri kesayangannya itu beserta istrinya. Dan jelas, gadis muda ini tidak lagi berumur lima tahun. Mungkin lima belas? enam belas? Yang jelas masih belia jika diliat dari wajahnya yang sangat muda.
"Katakan padaku, Miss...?"
"Swan. Cassandra Swan," jawab gadis itu.
"Ya. Miss Swan. Kenapa aku harus melakukannya?"
Jelas dari tatapan gadis muda itu, dia tidak mempercayainya. "Karana itu tidak sopan. Anda tahu? Kesepakatan berarti kesepakatan dan itu harus ditepati."
Peter tersenyum, berandai- andai. Apakah jika putrinya masih hidup maka akan bersikap seperti yang dilakukan oleh gadis muda ini?
"Itukah sebabnya tidak ada yang memegang ponselnya sejak tadi? Karena kesepakatan?"
"Tentu saja. Akan sangat menyusahkan jika hal ini tersiar ke segala pelosok jika anda mengerti maksudku."
Tidak. Sama sekali tidak mengerti. Ujar Peter dalam hati. Tapi dari cara gadis muda didepannya ini mengatakan, jelas sekali kepolosan masih sangat melekat dari dalam dirinya.
"Apa kau orang terkenal?" Peter sebenarnya hanya sekedar mengucapkannya tapi alih- alih melihat penolakan, gadis muda itu malah mengerang dan itu membuat Peter mengernyit.
"Aku benci harus mengatakannya, pak tua."
Pak tua? Kernyitan Peter semakin dalam. Usia diatas 30 tahun tidaklah setua itu hingga bisa dikatakan sebagai pak tua. Apa sekarang sudah tumbuh uban di rambutnya?
"Tapi dikenal oleh orang sangat menyusahkan." Lanjut gadis muda itu. "Au revoir. Oh iya, ngomong- ngomong aku suka sekali mengucapkan kalimat itu. Apakah menurut anda aku cukup bagus?"
Peter terkekeh melihat tingkah polos gadis itu. "Ya. Aku juga menyukainya, Miss Swan."
Gadis itu tersenyum. "Kalau begitu, Au revoir."
"Au revoir."
Ingatan tentang itu seketika mengingatkan tentang kejadian yang telah terjadi bertahun- tahun yang lalu. Peter tidak tahu gadis itu, begitu pun dengan gadis itu tidak tahu siapa dirinya. Tapi jelas sekali dengan semangat yang dimiliki oleh gadis itu, jelas dia tidak akan mudah ditundukkan.
Tapi sekarang.
Setelah kembali melihat gadis itu dan bertemu dengannya dalam situasi yang bisa tidak dikatakan normal. Hal itu justru membuatnya semakin bertanya- tanya. Jika mereka adalah orang yang sama, kenapa ada perbedaan ketika pertama kali ia bertemu dan setelahnya? Dan sekarang kembali berbeda?
Peter akan mencari tahu.
***

Comments
Post a Comment