BTY - DUA PULUH ENAM




"Katakan padaku, Annabelle," suara itu terdengar lambat dan berbahaya. Seperti setiap kata yang terucap dari bibirnya mengandung ancaman dan sejujurnya memang itu yang terjadi. "Sampai sejauh mana kau ingin berlari dan melewatkan perjanjian kita?"

"P- P- Peter?"

Pria paruh baya, yang bisa dikatakan nyaris seperti ayah untuk Annabelle mendadak tertawa puas. Sementara kedua matanya tidak lepas menatap buruan yang sedang ketakutan dihadapannya.

Peter Collaghan adalah pria yang tidak bisa dikatakan sebagai orang yang mudah. Bisnis yang digelutinya bukanlah bisnis yang kebanyakan orang miliki dan salah satunya adalah mengedarkan obat- obatan terlarang, tapi selain itu dia juga terkenal sebagai lintah darat yang sangat kejam.

Anna jelas tidak berpikir dengan jelas ketika memutuskan untuk meminjam uang pada pria itu. Satu- satunya yang dipikirkannya kala itu adalah bagaimana caranya hingga bisa mendapatkan uang dengan cepat untuk biaya rumah sakit dan tanpa memikirkan konsekuensinya.

Tapi ketika ia sadar, sudah tidak ada jalan kembali. Satu- satunya yang harus dilakukannya untuk melunasi utangnya kala itu adalah agar dia mau menjadi wanita simpanan si lintah darat dan tentu saja jika rekan bisnis Peter menginginkannya, maka Anna harus melakukannya.

"Aku sudah menunggu, sayang." Peter kembali bersuara. Dihadapannya berdiri wanita cantik dan meskipun Anna terlihat biasa dengan kaos dan jeans usang yang dikenakannya, tapi bukan berarti itu tidak menghentikan pikiran- pikiran tentang si pemilik tubuh itu. Hanya perlu sedikit polesan dan semuanya akan sempurna. Itulah yang dipikirkan oleh Peter ketika melihat Anna untuk pertama kalinya.

Lagipula siapa yang tidak akan tergoda dengan wajah cantik milik Anna. Mata yang tampak bersinar ketika tertawa atau tersenyum, yah Peter tidak mungkin tidak melepaskan asetnya begitu saja diluar sana tapi ada sedikit kebanggan tersendiri ketika kedua mata itu menatapnya dengan takut. Dan bukankah sudah seharusnya ia merasa seperti itu? Wanita itu telah membuatnya kecewa.

"Katakan, Annabelle," Peter bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja dengan berbagai macam minuman diatasnya. Sekilas Anna melirik, mencoba menjaga jarak. Siapa tahu mendadak Peter berubah haluan dan menerjangnya. Biar bagaimana pun hanya ada dirinya di sarang miliki Peter. Oh tentu saja dia harus datang. Orang- orang suruhan Peter mendadak datang dan melihat Betrice yang ketakutan membuat Anna terpaksa mengambil jalan nekat. "Katakan Annabelle," sekali lagi suara itu terdengar lebih menakutkan dari yang pertama, membuatnya gemetar. "Kau berjanji akan melunasi hutangmu hingga akhir bulan ini," sejenak Peter menyesap minumannya, kedua matanya tidak lepas dari buruan yang sedang gemetaran didepannya. "- tapi yang kudengar," Peter kembali menyesap minumannya. "Bukan sesuatu yang ingin kudengar darimu." Anna meneguk ludahnya.
.
"M-maafkan aku." Ucap Anna gemetar.

Peter tertawa. "Maaf? Hm, bukan jawaban yang ingin kudengar." Kembali ia menyesap minumannya. "Tidakkah kau ingat kalau kau memiliki perjanjian denganku sebelum- "jeda sejenak dan Anna semakin menelan ludahnya sendiri. Sadar atau tidak, rasanya Anna sebentar lagi akan muntah. "- kau melarikan diri."

"A- aku tidak bermaksud m- m- melakukannya."

"Oh ya?"

"Aku akan melunasinya."

"Dengan apa? Tentunya kau sadar perjanjian kita tidak hanya seputar mengenai masalah uang."

"T- t- tapi kau bilang..."

"Aku bilang jika kau bisa melunasinya tepat waktu dan ini lebih dari tepat waktu, sayang."

Anna memejamkan kedua matanya. Ya. Dia sudah menyadari hal itu dan akan semakin sulit baginya untuk melunasi hutangnya mengingat jumlah uang yang dimilikinya belum mencapai setengah dari utangnya, belum lagi bunga yang tentunya diberikan oleh Peter.

"Tentunya kau sadar apa yang harus kau lakukan jika tidak bisa melunasinya, sayang."

Apa yang harus kulakukan? Batin Anna menjerit gemetar.

"Aku mohon. Bisakah aku mendapatkan sedikit waktu lagi?" Pinta Anna.

"Dan apa yang akan kau lakukan jika tidak bisa mendapatkan uang itu?"

"Akan kulakukan apa saja." Kata Anna langsung. Tidak ada jalan lain. Yang dia perlukan hanya mendapatkan sedikit waktu dan mungkin segera mengemasi barang- barangnya beserta barang- barang Patricia dan Beatrice sesegera mungkin. Menjauh sebelum ditemukan lagi.

"Baiklah." Ucap Peter, membuat Anna menghela napas lega ketika mendadak jantungnya seperti baru saja dikeluarkan dari rongganya saat Peter kembali melanjutkan kalimatnya. "Kuberi waktu dua hari dan jika tidak, kau harus menyerahkan tubuhmu."

"D- dua hari? Bagaimana aku?"

Peter menyunggingkan senyumnya yang nyaris seperti menggoda. "Kau tentunya sangat tahu apa yang paling kuinginkan." 

Dan Anna tahu apa yang dimaksud.

**
Anna berjalan tak tentu arah sekembalinya ia dari tempat tinggal Peter. Pikirannya kalut memikirkan kemungkinan jalan apa yang harus diambilnya. 
Tentunya Peter tidak akan mudah dibohongi kali ini. Bagaimana nasib Betrice? Apa yang harus dilakukannya?

Memikirkannya semakin membuat kepalanya terasa pening hingga terpaksa ia memuntahkan seluruh isi perutnya ke pinggir jalan.

"Astaga, Case." Suara itu. Suara yang tak lagi asing di telinganya meskipun sudah lama ia tidak mendengarnya. Lagipula siapa lagi yang akan memanggilnya seperti itu jika dari orang- orang yang mengatakan mengenal dirinya. "Oh Tuhan! Kau kelihatan pucat. Apa kita perlu memanggil ambulans?"

Itu adalah hal terakhir yang diinginkannya saat ini.

"Case, kau bisa mendengarku?"

"Apa kita perlu menghubungi Jerry?"

Suara kedua seketika membuatnya tersadar. "Aku baik- baik saja, Lea. Elena." Ujarnya seraya mengangkat wajahnya dan melihat Elena menyodorkan sebotol air kearahnya. "Senang melihat kalian berdua." Ucapnya lagi setelah menerima air itu dari tangan Elena.

Baik Elena maupun Lea sama- sama saling bertukar pandang lalu kembali mengarahkan pandangannya kearah wanita dihadapan mereka.

"Kau tampak..."

"Mengerikan?" Anna memotong ucapan Lea. "Ya. Aku tahu." Anna menyunggingkan senyumnya.

"Apa kau sakit? Dimana? Kita perlu ke rumah sakit. Demi Tuhan! Kau nyaris seputih kapas."

"Aku baik- baik saja, Elena."

"Tapi..."

"Kau yakin?" Kali ini Lea yang bertanya setelah terlebih dahulu melihat kearah Elena.

"Ya." Anna menjawab. Kepala dan perutnya tidak semengerikan tadi meskipun mungkin dua butir aspirin bisa membantu meredakan dan mungkin istirahat selama beberapa jam sebelum mengambil keputusan.

"Kau mau pulang kan? Biar kuantar." Sahut Elena kemudian.

"Tidak perlu, Elena."

Sejenak Elena mengarahkan delikannya tepat kearah Anna. "Nalurimu pasti tahu dengan jelas kalau sia- sia saja kau mendebatnya."

Anna jelas ingin membalasnya tapi sakit kepalanya nyaris tak tertahankan. Jadi tidak ada pilihan lain selain menerima kalimat Elena.

*
Untuk sesaat. Kesunyian itu terasa mencekam.

Pandangannya menjadi buram tapi semua terdengar berisik. Teriakan. Pekikan dan... Isak tangis?

Kedua matanya mengerjap. Mencoba menfokuskan penglihatan dihadapannya tapi hanya berupa bayangan samar yang semakin lama semakin kabur.

Lalu... Lalu ia merasa tergelincir.

Semakin merosot kedalam.

Kedua tangannya berusaha menggapai tapi sekuat apapun ia berusaha seakan kegelapan itu menghisapnya tanpa ampun.

Terlalu cepat. Pikirnya kalut.

Jangan khawatir. Aku ada disini.

Siapa itu? Apa yang dibicarakannya?

Lihatlah kebawah.

Entah kenapa nalurinya mengatakan ada yang tidak beres dan tubuhnya terasa jauh lebih bebas dari yang bisa dirasakannya sekaligus ada yang aneh.

Dia mengarahkannya dan justru mendapati sesuatu yang... Darah?

Untuk sementara dia mengerjap. Tidak hanya di perutnya tapi ada banyak, termasuk disela kakinya. Apa yang terjadi?

Ia seakan tergelincir menembus waktu, seolah- olah ia terjatuh menembus dimensi. Masa lalu dan masa kini. Membuatnya mual.

Lalu bagaikan diterjunkan dari ketinggian 10.000 kaki. Ia merasakan sentakan yang tiba- tiba lalu jatuh menembus langit yang terbentang luas, jatuh. Jatuh melewati gunung dan pepohonan yang seakan tanpa henti.

Dan tubrukan itu terjadi. Seakan ia menghantam sesuatu yang sangat keras hingga rasanya sangat menyakitkan.

Hal terakhir yang terjadi kemudian adalah dia terbangun disertai teriakan yang menyayat hati.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS