BTY - DUA PULUH SATU
Cover made by greyanakim@gmail.com
*
"Ayolah, jangan murung lagi, okey?" Anna menampilkan senyum terbaiknya ketika mereka telah tiba didepan toko buku, tempat Anna bekerja.
Tidak ada balasan atau senyum seperti biasa. Jerry masih kesal karena tadi wanita itu tidak membiarkannya berbicara barang sepatah kata pun dan hanya menyuruhnya diam. Jerry tidak ingin Anna merasa terbebani akibat pertemuannya yang tiba- tiba dengan kedua orang tua kandung asli wanita itu tadi dan masih tidak percaya dengan apa yang tadi dikatakannya.
"Apa kau masih ingin marah denganku?" Kedua bibir Anna mengerucut, lucu. Jika Jerry ingin marah maka kemarahannya tidak akan berlangsung lama karena wanita didepannya ini begitu mudah melelehkan api amarah yang tadi dirasakannya. "Baiklah." Anna mengangkat kedua tangannya, salah mengartikan tatapan yang diberikan Jerry padanya. "Aku minta maaf karena memaksamu untuk tidak berbicara tadi, tapi jika tadi kau berbicara. Aku yakin yang ingin kau katakan adalah ketidaksetujuanmu."
"Kau tahu itu."
Anna mendesah, "itulah sebabnya aku melarangmu. Sudah cukup yang kau pikirkan selama ini."
"Dan kau merasa kau tidak?"
Anna tahu kalau Jerry sangat keras kepala. Entah kenapa dia sudah bisa merasakannya bahkan setelah pertemuan pertama mereka dulu didepan kantor polisi. Dan bahkan dirinya pun masih belum bisa mempercayai kehidupannya yang menurutnya sangat berbeda dengan apa yang selama ini diketahuinya. Dia dan Jerry dulunya menikah dan karena suatu sebab sehingga dia terpaksa berpisah dengan suaminya itu kemudian dipertemukan lagi setelah dua tahun. Ini seperti dalam film- film. Pikir Anna, dan dia sebagai pemeran utamanya.
"Dengar," sela Anna tidak bermaksud untuk menentang. "Dari yang tadi kulihat, kau dan ibuku-" Anna mencoba mengucapkannya semudah mungkin tapi Jerry tahu kalau wanita didepannya masih syok dengan pertemuan yang tiba- tadi. Dilihatnya Anna meneguk ludah sebelum melanjutkan. "-kau dan ibuku masing- masing siap melakukan gencatan senjata hanya karena diriku."
Tanpa diduga, Jerry melangkah satu langkah hingga tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. "Kau lebih dari sekedar hanya untukku." Katanya seraya merapikan rambut di kening wanitanya. "Kau segalanya bagiku."
Senyum Anna seketika terukir mendengar pengakuan Jerry barusan. "Dan aku senang karena kau menganggapku demikian."
Gerakan Jerry terhenti dan dia memberi Anna pandangan sakit hati. "Aku tidak bermaksud menghiburmu."
Anna terkekeh lalu membawa kedua lengannya melingkari leher Jerry. "Aku tahu." Katanya sembari menghirup aroma maskulin pria itu. "Mungkin itulah yang membuatku semakin jatuh cinta padamu."
"Mungkin?" Jerry mendelik tapi menaruh kedua tangannya di sekeliling pinggang wanita itu. "Karena aku jelas tidak akan mengatakan mungkin untuk perasaanku padamu."
Anna tertawa. "Aku mencintaimu, Mr. Culton."
"Aku jauh lebih mencintaimu, sayang." Jerry menciumi pangkal hidung Anna lalu terakhir berlama- lama dibibir manis itu. "Aku tidak mau memikirkan hal lain apapun."
"Aku mengatakannya hanya untuk meredakan ketegangan."
"Tapi?"
"Kau sudah mendengarku. Aku tidak bisa langsung begitu saja pergi sementara ada Betrice dan Patricia yang selama ini kuanggap sebagai keluargaku."
"Aku tahu." Ujar Jerry setelah beberapa saat terdiam. "Apa Patricia masih menahanmu?"
"Aku bukan tahanan."
"Ya. Melihat kau masih disini, dalam dekapanku. Aku rasa amarah Patricia tidak cukup kuat untuk melakukannya."
"Jangan konyol," Anna melepaskan diri. "Patricia tidak tahu kita bertemu."
"Ah, jadi ini semacam backstreet?" Jerry mengangguk dramatis. "Tidak pernah terlintas dalam benakku sedikitpun kalau aku akan melakukan hubungan seperti ini dengan istriku sendiri."
Anna tertawa. "Semuanya terjadi secara mendadak." Katanya mencoba menghibur, "tadinya kupikir aku adalah wanita yang bebas dan tada..! Tiba- tiba seorang pria yang sangat tampan dan tentunya luar biasa kaya mendadak mengatakan kalau aku adalah istrinya yang dulu hilang. Aku pasti akan berpikir kalau ini semua hanya mimpi jika tidak menyadari betapa panjangnya mimpi ini berlanjut."
Tidak ada balasan.
"Percayakan padaku." Rengkuh Anna salah mengartikan sikap diam Jerry. "Aku akan baik- baik saja."
Tidak. Kau tidak akan baik- baik saja jika ingatanmu kembali nanti. Ucap Jerry dalam hati.
"Aku mencintaimu, sayang." Sahut Jerry sebelum melepaskan pelukannya.
Anna tersenyum. "Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Dua jam setelah perpisahannya dengan Jerry tadi. Patricia muncul dengan wajah penuh amarah dan menatap Anna dengan tajam.
"Kau membohongiku." Sergah Patricia dengan wajah merah padam menahan amarah. "Kau bilang kau tidak lagi bertemu dengannya,"
"Patricia?" Anna berderap melangkahkan kakinya dan hendak menyentuh adiknya itu, yang langsung ditepis kasar.
"Kau berbohong."
"Tidak seperti itu. Mari kita bicara."
"Tidak akan! Kau berbohong padaku."
"Patricia, kumohon." Anna mulai memijit pelipisnya yang mulai terasa sakit.
"Kau berjanji padaku kalau kau tidak akan meninggalkanku." Patricia mulai menangis. Untung saja hanya ada beberapa orang yang berada didalam toko tapi meskipun begitu, mereka terang- terangan menatap kearah dirinya dan Patricia. "Apa setelah ini kau akan mencampakkan aku?"
"Astaga tidak." Anna terkesiap karena mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja aku tidak akan mencampakkanmu. Kau adikku satu- satunya. Tidak mungkin aku melakukan itu padamu."
"Tapi kau menyukainya. Kau bahkan rela berbohong demi dirinya."
Bisakah keadaan lebih buruk lagi?
"Aku minta maaf." Ucap Anna memelas. "Kumohon maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Ah, masa bodoh." Dan tanpa sengaja Patricia mendorong tubuh Anna hingga kepalanya membentur sudut lemari, membuatnya meringgis kesakitan.
Rasanya kepala Anna seperti ingin terbelah menjadi dua bagian, membuat matanya berair karena rasa nyeri yang dirasakannya.
Detik berikutnya, dia merasakan perutnya bergejolak dan pandangannya menjadi kabur lalu kegelapan mengambil alih semuanya, mengindahkan teriakan panik Patricia dan orang- orang disekelilingnya.
***

Comments
Post a Comment