IY - DUA PULUH DUA
"Apa yang kau lakukan, Matt?"
"Maksudmu?"
"Maksudku pekerjaanmu. Apa pekerjaanmu?"
Tiba- tiba Matt menyunggingkan senyumnya. "Kau ingin tahu, baby."
"Kau bisa menolaknya jika kau mau."
"Aku tidak mungkin menolak semua yang kau minta. Aku mengedarkan obat."
"Maksudmu seperti bekerja di rumah sakit?"
Matt menggeleng lalu tertawa geli. Apapun yang ditunjukkan oleh gadis yang baru dikenalnya ini sangat menggemaskan dan juga sangat cantik di matanya.
"Aku..." Matt mulai berkata lambat- lambat. "Mengedarkan obat pada orang- orang yang spesial, baby."
"Maksudmu?"
"Ekstasi dan teman- temannya. Itulah bisnis yang kugeluti."
.
.
"Cassie, apa yang kau lakukan didalam sana?" Claire mengetuk pintu kamar gantinya dengan tidak sabar dan mendapatkan senyuman paling merekah ketika pada akhirnya wanita yang baru saja menikah itu akhirnya membuka pintu. "Kau ini lama sekali. Kami sudah menunggu di luar sejak tadi," lalu Claire terdiam menatap pakaian ganti yang dikenakan oleh sepupunya itu. Berwarna putih dengan beberapa ikatan di pinggangnya yang berwarna merah muda. Hari ini, Jerry berencana akan langsung membawa Cassie menuju Roma dan berbulan madu selama sepuluh hari jadi setelah Jerry mengucapkan janjinya, Cassie kembali ke ruangan khusus dimana dia bisa mengenakan pakaian yang lebih santai. "Kau sangat cantik, Case."
"Aku tahu." Cassie tertawa lalu melirik ke belakangnya. "Aku mencintaimu, Jeremiah Culton." Dan mengedipkan sebelah matanya.
"Apa yang kau bicarakan? Jerry berada di luar bersama yang lainnya." Claire berkata bingung seraya mengangkat kepalanya lebih tinggi agar bisa mencari tahu tapi Cassie hanya tertawa dan langsung menutup pintu dibelakangnya membuat Claire memberenggut jengkel.
"Dasar sepupu gila! Ayo kita keluar."
Cassie tersenyum dan berjalan menuju tempat suaminya saat ini berada.
Cassandra Ann Swan. Aku berjanji dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Aku berjanji akan terus membuatmu bahagia sebagai pria dan juga sebagai temanmu. Aku akan mencintaimu seperti aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi dengan seluruh hidupku. Maukah kau menerima cincin ini sebagai simbol bahwa kau telah sepenuhnya menjadi milikku dan juga istriku?
"Kau tahu, aku sedikit merasa sedih karena tidak bisa melihatmu beberapa hari ke depan." Mendadak Claire berujar, membuat Cassie terpaksa berhenti dan menatap sepupunya itu dengan kening yang mengernyit.
"Aku sakit hati kau tidak bahagia dengan pernikahanku, Miss Hill." Katanya pura- pura.
Mau tidak mau Claire memutar matanya. "Jangan konyol. Kau sudah menjalani hubungan ini sejak lama. Mana mungkin aku tidak senang ketika pada akhirnya kau menemukan kebahagian."
"Itu lebih baik," candanya. "Aku akan sering- sering menelponmu."
"Aku meragukannya. Mengingat dua hari sebelum pernikahan kalian, kau justru malah mengajak Jerry ke pantai dan menghabiskan waktu satu hari satu malam disana. Sebenarnya apa yang kalian lakukan?"
Cassie terkikik geli. "Ini dan itu." Jawabnya.
"Dan kau masih membutuhkan waktu untuk menikmati kebersamaan kalian?"
"Waktu itu kami kan belum menikah jadi sedikit bersenang- senang tidak akan membuatku kelelahan."
"Kelelahan?" Claire mengernyit curiga tapi Cassie hanya membalas dengan mengangkat bahunya dan tersenyum.
Setibanya mereka disana, tampak orang- orang sedang membuat jalan. Leo, Leah dan Audrey bahkan masing- masing memegang setangkai mawar putih dan memberikannya ke Cassie yang diterimanya dengan tawa bahagia dan membungkuk untuk mencium ketiga malaikat kecil itu lalu tiba- tiba ia mendengar petikan sebuah gitar dan terdiam ketika matanya menangkap sosok yang duduk tidak jauh darinya. Beautiful Bird- lagu milik Passenger mengalun lembut dari sela gitar yang dimainkan oleh Jerry, membuat Cassie seakan berada di awan apalagi ketika Jerry sama sekali tidak menghentikan tatapannya pada Cassie.
Cassie merasa dia berada di alam mimpi hingga tak menyadari kalau Jerry telah selesai memainkan lagunya. Ia melihat Jerry berdiri dari duduknya dan hendak berjalan kearahnya ketika Cassie merasa tubuhnya ditabrak oleh seseorang dari depan dan berpaling ketika melihat siapa yang baru saja menabraknya- dengan sengaja.
"Matt?"
"Hai baby." Senyuman Matt sarat akan makna dan Cassie merasa sesuatu yang hangat baru saja keluar dari dalam tubuhnya dan menunduk.
Pisau dan... darah?
Cassie menelan ludah lalu kembali menatap Matt. Tidak ada seorangpun yang menyadari apa yang baru saja terjadi karena Cassie berdiri ditengah dan tidak ada yang berada di dekatnya.
"Kau akan kehilangan banyak darah jika aku menarik pisau itu keluar dan coba pikir, apa yang akan terjadi dengan makhluk kecil yang sedang bertumbuh didalam sana." Matt membisikinya dengan sangat pelan.
Cassie tahu. Sangat tahu tentang itu jadi yang perlu dia lakukan sekarang adalah agar bisa tenang dan mengingat latihan pernapasan yang pernah diajarkan Chandra.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" Tanya Cassie dengan suara yang tercekat.
"Karena jika kau tidak menjadi milikku maka tidak ada yang boleh memilikimu lagipula," Matt sengaja menunduk ke tempat yang di tusuk oleh Matt. "Aku agak kecewa padamu. Kau bilang kau tidak akan melakukannya sebelum menikah."
Cassie terbatuk, tiba- tiba merasa sesak lalu matanya menangkap pandangan Jerry yang sedang melihatnya dengan wajah yang kaku. Cassie tersenyum dan menggeleng- mengisyaratkan kalau dia bisa mengatasinya.
"Mommy, baju Case berwarna merah, seperti peri merah." Audrey yang pertama kali berbicara. Selain karena anak itu berdiri tidak jauh dari Cassie dan lebih pendek dari orang- orang disekitarnya sehingga bisa berteriak memberitahu ibunya- Lea.
"Sialan!" Matt hendak melayangkan pukulannya pada Audrey ketika Cassie menahan tangannya dan saat itulah, ketika Matt sedikit bergerak. semua orang bisa melihat pisau yang menancap di tubuh Cassie dan terkesiap.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" Jerry berteriak marah tapi secepat kilat Matt meraih pistol yang ditaruh dibagian belakangnya dan menodongkannya ke kepala Cassie.
"Jika kau berani melangkah maka bukan tidak mungkin peluru ini akan ikut menancap di otak istrimu, Cul-ton." Ancam Matt.
"Sial!"
Tidak ada yang berani melangkah bahkan ketika Cassie dipaksa untuk masuk kedalam mobil dan disusul oleh Matt setelahnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
"Kau tidak akan mendapatkan apa- apa, Matt." Ujar Cassie tersenggal disela ia menahan agar pisau itu tidak bergeser. Kedua tangannya sudah berlumuran darahnya sendiri tapi dia berusaha untuk tetap fokus.
"Aku tidak mungkin melakukan ini tanpa persiapan sebelumnya."
Cassie menggeleng. "Tapi ini salah. Kau akan masuk penjara. Lagi."
Suara ban terdengar berdecit keras ketika Matt menekan rem kuat- kuat. Cassie berusaha menahan sakit ketika merasakan mata pisau itu semakin masuk kedalam tubuhnya.
"Jadi kau sudah tahu kalau begitu?" Matt bertanya enteng ketika Matt kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Aku... aku yang sebenarnya melaporkanmu."
"Apa?"
Tepat disaat itu, mobilnya menabrak sebuah mobil yang entah bagaimana bisa muncul. Matt tidak terlalu memperhatikannya dan mendesis marah ketika menyadari polisi telah berada tidak jauh dari mobilnya.
"Kau tahu, kau selalu hebat dalam mengalihkan duniaku," katanya sambil tersenyum. "Aku bahkan tidak sadar kalau sejak tadi kita dibuntuti."
"Kalau begitu ada yang salah dengan matamu atau... pendengaranmu." Ejek Cassie dan plak. Cassie seperti merasakan darah segar baru saja keluar dari sela bibirnya.
"Ayo keluar." Matt kembali menyodorkan pistolnya ke kepala Cassie dan menyeret wanita itu keluar.
Entah ini merupakan sebuah kebetulan atau tidak tapi Cassie pernah berpikir bagaimana rasanya jika ia berada di tempat ini. Dia tidak pernah bisa menghentikan laju kendaraannya jika melewati tempat ini dan hal itu sebenarnya juga dilarang.
"Sudah kubilang, tidak ada yang bisa kau lakukan, Matt. Semuanya sudah berakhir." Cassie berkata lelah. Seluruh tubuhnya sakit, terlebih lagi lengannya yang sejak tadi digenggam sangat erat oleh Matt. Jantungnya memompa dua kali, tidak. Empat kali daripada yang seharusnya dan tidak bisa dipungkiri dia juga gemetar.
"Akhirnya wajah aslimu terlihat juga," cemooh Matt. "Dibandingkan poker face yang kau miliki. Aku lebih menyukai wajahmu yang sekarang. Ketakutan, ketidakberdayaan dan lemah."
"Aku sudah menikah Matt, tidak ada yang..."
"Tidak... tidak... kau milikku, Case. Kau tidak boleh menjadi milik siapapun." Matt menggelengkan kepalanya keras- keras dan semakin menodongkan pistol itu ke kepala Cassie.
Meskipun pandangan Cassie sudah kabur tapi dia masih bisa melihat wajah penuh kekhawatiran Jerry. Di sebelahnya Brandon berusaha menenangkan Elena yang menangis dan Claire. Oh, sepupunya itu bahkan baru tadi mengatakan ketidaksukaannya pada rencana bulan madunya dan Cassie melihatnya menangis hingga sesengukan. Lea? Cassie mengedarkan pandangannya mencari wanita berambut merah itu. Lea juga menangis tapi bisa dilihat kalau dia juga gemetar. Apa ada yang membuatnya trauma?
Dan kemana orang tuanya? Oh. Dia baru ingat kalau Monica langsung pingsan ketika melihat tubuhnya tertancap pisau. Cassie tersenyum membayangkan betapa syok ibunya saat itu. Sangat jarang orang yang bisa membuat ibunya kaget kecuali ketika Jerry dengan terang- terangan meminta izin untuk menikah dengan dirinya tapi kala itu Monica langsung tersenyum penuh bahagia, tidak lantas pingsan. Mungkin saat itu Jerry bukan sepenuhnya menantu idaman yang diimpikan oleh ibunya.
Suara polisi yang memerintahkan Matt agar melepaskan Cassie terdengar mantap tapi bagi Cassie, itu seperti semacam nyanyian tidur. Oh. Hari bahkan sudah mau menjelang malam. Pantas saja ia lelah. Kegiatan hari ini memang membuatnya lelah apalagi dia juga sedang...atau tadinya.
"Matt, kurasa kau sudah berhasil." Kata Cassie lirih dan Matt segera melihat kebawah- diantara kedua paha Cassie dan tersenyum ketika melihat darah segar turun dari sela paha itu.
"Kalau begitu, ini sudah tidak diperlukan." Dan tanpa peringatan. Matt menarik pisau yang menancap di perut Cassie, membuat wanita itu berteriak sangat keras dan menyakitkan hingga terpaksa ia jatuh berlutut ke tanah.
Dor...
Suara letusan pistol seketika terdengar di udara. Entah siapa yang menembak tapi Cassie merasa kalau Matt berdiri sempoyongan, menangkap lengannya lagi.
"Jika aku mati," Matt memaksa Cassie untuk berdiri. "Kau juga harus mati." Dan untuk terakhir kalinya Cassie melihat wajah terbelalak Jerry sebelum ia dilempar ke bawah disusul suara letusan senjata yang bertubi- tubi dan air dingin yang seketika menyelimuti tubuh Cassie.
.
END
Comments
Post a Comment