IY - EMPAT

"Aku tidak yakin kalau tadi itu ide bagus"

"Oh ayolah, Jerr. Tidak separah itu kok"

"Tentu saja parah. Kau menyuruhku untuk mengatakan pada Jullian agar bisa mengijinkanmu untuk bermain lagi di tempat itu. Ayolah Lea, bahkan sebelum aku mengatakan apa- apa, Jullian pasti tidak akan mau"

"Itulah aku menyuruhmu," kekeh Lea diseberang. "Karena jika aku yang memintanya, pasti akan langsung ditolak"

"Begitupun denganku. Dengarkan aku, angel. Apa yang dilakukan Jullian itu sepenuhnya karena dia takut terjadi sesuatu padamu. Kemarin kau hampir saja terjatuh karena tidak melihat lantai yang licin"

"Hei bukan salahku kalau lantainya licin," omel Lea diseberang. "Lagipula kita tidak sedang membicarakan masa lalu, okey? Yang saat ini kita bahas adalah apakah kau akan mengatakan pada Jullian atau tidak?"

Untuk sesaat, Jerry mengerang tidak suka. "Kau benar- benar makhluk paling menjengkelkan yang pernah kukenal"

"Tapi kau menyayangiku," kelakar Lea. "Jadi aku tidak terlalu memusingkan hal itu"

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa memilih untuk menjadi sahabatmu"

"Aku tahu. Kau menyayangi dan mencintaiku. So simple"

Jerry pura- pura menghela napasnya dan tersenyum ketika mendengar suara tawa Lea diseberang.

"Kurasa kau memang benar, aku memang menyayangîmu sebagai sahabat yang baik"

Sekali lagi Lea tertawa. "Baiklah my guardian angel, aku tunggu kabar selanjutnya. Aku menyayangimu, Jerr"

"Aku menyayangimu, angel"

Klik.

Selain dia memegang kekuasaan di Instute, Jerry juga membuka sebuah kafe kecil lengkap dengan live music-nya agar memungkinkan bagi dirinya untuk tidak merasa bosan dengan segala kesibukan di Institute, juga agar dia bisa menyalurkan hobinya dalam bermain musik dan tidak terlalu terpaku dengan segala aturan dari ibunya yang tercinta.

Untuk sesaat Jerry memandangi kafe baru miliknya dengan puas. Kafe lain yang berada di Prancis telah dipegang kembali oleh sesama rekannya ketika dia memutuskan untuk membuka kafe yang baru di New York semenjak kejadian yang menimpa Lea dulu. Selain itu, kedua orang tuanya juga sering memintanya untuk terus tinggal dan menetap di tempat yang sama dengannya.

Baru beberapa menit Jerry mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan ketika matanya menangkap sosok tidak asing yang duduk tidak jauh di hadapannya. Sosok yang tidak lain adalah tunangannya itu sedang bertopang dagu seraya menyunggingkan senyum kearahnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Jerry tidak bermaksud untuk mengatakannya dengan suara keras dan hampir saja menyesalinya ketika yang dilihatnya Cassie justru mencebik mengejeknya yang justru mungkin terlihat lucu diluar dari sikapnya yang menyebalkan selama ini.

Jerry masih merasa sakit hati karena perlakuan Cassie di rumahnya tempo hari, dimana gadis itu justru bersikap cuek layaknya tidak saling mengenal ketika Jerry diminta oleh ibunya, Tessa agar membawa calon menantunya ke rumah tapi justru beralasan bahwa dia memiliki janji lain yang harus ditepatinya dan menolak untuk memberi tahu.

"Jangan pedulikan aku. Lanjutkan saja percakapan kalian" katanya masih dengan senyum yang sama.

"Jangan bertele- tele, okey? Apa yang kau lakukan disini?"

"Ugh, entah mengapa aku merasa sedikit sakit disini. Apa kau tahu?" Cassie bertanya pura- pura tidak tahu seraya menunjuk letak jantungnya berada. "Bagaimana mungkin kau memperlakukan tunanganmu seperti ini?"

Jerry terdiam sementara kedua matanya memicing curiga ketika kembali Cassie berkata.

"Baiklah... baiklah. Aku menyerah." Lalu Cassie berdiri dari tempatnya duduk seraya mengusap dress berwarna biru selututnya bak putri kerajaan. "Ibumu menyuruh ibuku yang kemudian ibuku yang baik hati,"lalu dia berhenti agar bisa mengangkat kedua tangannya dan membuat tanda kutip pada masing- masing jarinya, "menyuruhku untuk datang hanya untuk menanyakan, apa kau baik- baik saja?"

Ada jeda yang tercipta diantara mereka, membuat mulut Jerry terbuka lebar mendengar kalimat Cassie yang berbelit- belit dan sangat panjang tadi.

"Kau datang hanya untuk mengatakan kalimat itu?" Tanya Jerry berusaha memastikan pendengarannya barusan. Tidak biasanya gadis itu mendatanginya hanya untuk mengatakan hal itu padanya. Yang biasanya terjadi adalah Tessa akan langsung menghubunginya jika ingin mengatakan sesuatu padanya dan apa katanya tadi? Ibunya menanyakan tentang kabarnya? Apa ibunya baru saja meminum sesuatu yang dicampur ke dalam minumannya?

Untuk sesaat Jerry melihat kalau kedua mata dengan bulu mata yang lentik untuk mengerjap lalu beralih dengan mencebikkan bibirnya.

"Tidak juga. Hanya untuk memastikan kau masih bernapas atau tidak"

"Mau kemana?" Tahan Jerry ketika melihat Cassie berbalik untuk meninggalkannya.

"Aku sudah menyampaikan pesan kepadamu lagipula," Cassie sengaja mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe yang mulai didatangi oleh orang- orang dan mengernyit, memperlihatkan sikap tidak suka. "Ini bukanlah tempat yang harus didatangi oleh orang sepertiku" jelasnya mengindahkan tatapan marah dari Jerry.

"Memang dipikirnya ini tempat seperti apa?" Batin Jerry hendak menyuarakan protesnya ketika pundaknya di tepuk dari belakang, memperlihatkan seorang laki- laki yang tidak lain adalah pekerjanya.

Untuk sesaat laki- laki memperhatikan Cassie dari ujung rambut hingga ujung kaki dan bersiul pelan ketika berhenti ketika mendapatkan tatapan garang dari Cassie lalu menatap Jerry yang seakan tidak mempersoalkan kelakuan pekerjanya.

"Ada apa, Frans?" Tanya Jerry tidak memperdulikan tatapan tidak suka Cassie yang ditujukan padanya. Jerry bahkan tidak mengerti kenapa menjadi salahnya jika pria lain justru bersiul kearah gadis itu. Toh, bukan dia yang menyuruh memakai pakaian mini tersebut.

Dan apa katanya tadi? Bukan tempat yang harus didatangi oleh orang sepertinya? Cih, apa dipikirnya kafe miliknya adalah kafe abal- abal dengan penari striptease didalamnya? Apa dia pikir dia adalah Sophia the First? Seorang putri? Cih. Itulah sebabnya dia tidak menyukai gadis yang menjadi tunangannya itu. Selain karena dia masih sangat kekanak- kanakan, dia juga menganggap seakan dunialah yang berputar di sekitarnya.

Untuk sesaat Jerry kembali menoleh kearah Cassie dan menyeringai seakan mengejek. "Bukankah kau sudah mau pergi? Pergilah!" Usirnya ketika melihat wajah terkejut gadis itu tapi langsung berubah menjadi ekpresi acuh.

Dia mengendikkan bahunya. "Baiklah. Jangan menghubungiku"

"Tidak akan" balas Jerry tanpa memperhatikan kalau langkah Cassie tadi berhenti setelah ia mengucapkan kata itu lalu berbalik menghadap Frans.

"Siapa dia?" Samar- samar Cassie mendengar suara Frans yang menanyai tentang dirinya.

"Bukan siapa- siapa" balas Jerry cuek. "Jadi apa yang kau butuhkan, Frans?"

.
.

"Kutebak seperti biasa tidak berhasil"

Cassie baru saja menaruh pantatnya di kursi samping kemudi ketika sosok disampingnya menimpali.

"Aku justru akan terkena serangan jantung jika ini berhasil" balas Cassie seraya membuka laci dashboard mobil milik wanita disampingnya dan mengeluarkan karet rambut dari dalamnya.

"Pasti kalian bertengkar lagi" desahnya sambil menyalakan mobilnya, meninggalkan tempat itu. "Jadi apa topik kali ini?"

"Aku mendengarnya berbicara dengan wanita itu"

"Dan kau membiarkannya?"

"Memang apa yang harus kulakukan? Mereka memiliki hubungan"

"Sekarang tidak lagi. Kau sendiri yang mengatakan kalau wanita itu telah bersuami dan sementara mengandung anak kedua"

"Tapi itu tidak menampik kalau dia masih memiliki perasaan padanya, bukan?"

"Hentikan Cassandra Swan! Kau terlalu merendahkan dirimu sendiri. Apa kau lupa siapa kau yang sebenarnya? Kau adalah Cassandra Ann Swan. Seorang pianis terkenal yang digilai oleh siapapun"

Untuk sesaat Cassie tertawa. "Kalimat penghiburan yang manis, Claire"

"Terima kasih sudah cukup. Jadi apa yang akan kau lakukan hari ini?"

"Antarkan saja aku ke rumah Elena. Aku berjanji pada Leah dan Leo juga dirinya hari ini"

Claire menggelengkan kepalanya, merasa pusing. "Kau menyukainya dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa bisa begitu"

Cassie tertawa. "Have you ever heard that love is blind, Claire?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS