IY - DUA PULUH

Terlambat.

Cassie bahkan tidak tahu kenapa dia mengucapkannya. Selama ini impiannya adalah menikah dengan pria yang dicintainya dan pria itu sedang berdiri dihadapannya, diam seakan Jerry terbuat dari pahatan.

"Je...rry," Cassie tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini dan Jerry juga sama sekali tidak membantunya. Pria itu hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya ketika dilihatnya pria itu menghela napas pendek.

"Baiklah," ujar Jerry setelah beberapa menit yang menyiksa. "Aku akan pergi."

Cassie mengerjap dan mendadak semua itu membuatnya merasa ingin menangis. Seakan mengetahui apa yang ada dalam benak tunangannya, Jerry melangkah menuju Cassie dan mengecup puncak kepala Cassie lembut.

"Kau lelah karena perjalanan jauh. Aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat." Sekali lagi Jerry mengecup pemilik kening itu, kali ini lebih lama dari yang sebelumnya dan melangkah pergi menjauh dari sisi Cassie yang hanya bisa terdiam.

Tiga hari kemudian keadaan mereka tidaklah membaik, tapi tidak juga bisa dikatakan buruk. Jerry lebih sering menyibukkan dirinya dalam aktivitas Institute dan kafe yang dikelolahnya. Cassie juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah mengeluarkan sebuah bom dan meledakkannya- dan apapun itu membuatnya semakin nelangsa.

Saat ini Cassie berada di dalam kafe milik Josh- duduk sembari menaruh dagunya diatas meja sementara kedua tangannya disejajarkan dengan wajahnya. Selain itu Still falling for you milik Ellie Goulding mengalun lembut di sekeliling kafe.

Josh. Entah yang keberapa kalinya mendatangi tempatnya- hanya untuk melihat kalau Cassie tidak tidur tapi kedua mata Cassie hanya memandang ke sisi jendela- menatap lampu- lampu jalan yang dua jam lalu sudah dinyalakan.

"Kau tahu," Cassie terpaksa menengadah setelah mendengar suara yang sudah sangat dihapalnya dan mengernyit ketika Claire dan Elena mengambil tempat duduk dihadapannya. "Sekarang aku mengerti kenapa Josh mengatakan kau butuh bantuan. Kau tampak mengerikan dalam artian membuat pelanggan disini menatap dirimu takut." Ujar Claire.

Cassie mendengus, kembali menatap ke jalan.

"Case, ada apa?" Kali ini Elena bertanya lembut.

"Biar kutebak," kembali Claire memulai. "Kalian bertengkar. Kau dan Jerry."

Cassie terdiam lalu menghembuskan napas. "Aku mengacaukannya." Katanya lirih.

Claire tertawa. "Ya. Kami sudah menduganya. Kau kadang sering melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya."

"Claire." Elena mengingatkan tapi ada nada geli dalam suaranya ketika mengatakan kalimat selanjutnya. "Kau kacau untuk sesuatu yang kau perbuat sendiri, iyakan?" Katanya yang membuat Claire menyenggol pundak Elena dan tertawa.

"Itu sih sama saja." Katanya. "Tapi aku menyukai kalimatmu barusan. Good job, ipar." Lalu keduanya tertawa bersama.

Cassie memperhatikan kedua orang dihadapannya lebih seksama. Entah bagaimana mereka bisa seakrab ini mengingat apa yang terjadi di masa lalu- jauh sebelum Cassie mengenal Elena tapi Cassie tahu kalau dulunya Claire sangat tidak menyukai Elena tapi ya, semua orang bisa berubah.

"Tapi pria itu yang lebih dulu memulai." Cassie mengangkat wajahnya, menatap dua pasang mata itu. "Dia melarangku bertemu Matt."

Entah apa yang terjadi tapi mendadak tawa yang tadi terdengar seketika menjadi hening. Elena dan Claire bahkan saling bertukar pandang dengan bingung.

"Case, aku tidak mengerti." Elena menelengkan kepalanya, menatap Cassie.

"Dan apa maksudmu Jerry melarangmu bertemu Matt. Kalian bertemu lagi?" Tanya Claire.

Cassie mengangguk. "Ya. Setelah kepulanganku dari Melbourne. Kami bertemu dan Jerry memergoki kami."

"Memergoki kalian?" Claire terperanjat hingga matanya membesar.

"Tidak memergoki secara khusus tapi ya, aku dan Matt sedang "berbicara"," Cassie sengaja membuat tanda kutip dengan kedua tangannya. "Ketika Jerry datang dan marah."

"Marah?"

"Aku tidak tahu. Dia mengatakan marah karena dia mencintaiku."

"Kurasa dia benar," imbuh Elena. "Brandon mengatakan padaku kalau Jerry sudah menyukaimu. Hanya saja waktu itu Jerry masih belum menyadarinya."

"Intinya adalah," Cassie menolak untuk mendengarkan kalimat Elena barusan. "Aku tidak mengerti kenapa dia harus semarah itu. Aku bahkan tidak pernah semarah itu ketika dia akrab dengan Lea."

Baik Elena maupun Claire sama- sama terdiam dan menatap Cassie seakan dia baru saja menumbuhkan belalai di hidungnya ketika Elena berkata.

"Kau cemburu."

Itu bukanlah pertanyaan tapi pernyataan yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban.

"Tapi astaga, mana bisa kau cemburu pada Lea? Maksudku Lea sudah memiliki Jullian dan terlihat jelas kalau Lea sangat mencintai suaminya. Mereka bahkan sedang menanti anak kedua mereka." Sahut Claire tidak mengerti cara berpikir sepupunya saat ini.

"Aku tahu," tanpa sadar Cassie mengacak rambutnya. "Hanya saja akhir- akhir ini aku mudah terpancing untuk marah- marah."

"Itukah sebabnya kau melampiaskan semuanya pada Jerry?" Tanya Claire lagi. "Pria malang. Pasti dia merasa kecewa."

Serta merta Cassie mendelik. "Jangan membuatku semakin merasa bersalah, okey?"

"Aku tidak membuatmu merasa bersalah. Aku hanya sedang berusaha memikirkan apa yang dipikirkan Jerry waktu itu. Tidak heran sikap kalian terlihat aneh."

"Aneh?"

"Ya. Aneh. Kau ingat ketika kita bertemu Jerry di rumah Brandon. Meskipun Jerry mencium keningmu tapi jelas sekali dia melakukannya seakan kau akan lari saat itu juga."

"Aku tidak lari."

"Kau memang tidak lari, sepupu bodoh! Tapi sikapmu mendadak seperti akan diberi ciuman kematian olehnya. Kau diam seakan tubuhmu membeku."

Cassie ingat kejadian itu. Dia hanya tidak menyangka akan bertemu Jerry saat itu. Meskipun Jerry langsung menuju ruang kerja Brandon setelah mencium keningnya tapi tetap saja sikap Jerry setelah apa yang terjadi diantara mereka sama sekali membuat Cassie tidak tahu harus berkata apa. Jerry tidak menghubunginya dan juga tidak menemuinya dan Cassie terlalu takut menghadapi pria itu.

"Mau dengar saranku?" Mendadak Elena berbicara, membuat Cassie terpaksa menoleh padanya. "Menurutku kau harus menemuinya dan meminta maaf padanya." Katanya.

"Benar juga. Temui dia, Case." Claire menambahkan. Kali ini dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

"Tapi..."

"Jangan berpikir yang macam- macam. Jerry tidak mungkin lama- lama marah denganmu. Dia terlalu menyukaimu. Apa kau tahu itu?"

"Entahlah."

"Dibilang jangan berpikir macam- macam." Kata Claire kesal.

Cassie tertawa sembari mengangkat kedua tangannya. "Aku beruntung memiliki keluarga seperti kalian. Aku menyayangi kalian." Katanya seraya bangkit dan memeluk Claire dan Elena bersamaan.

"Sebaiknya kau juga membeli bahan makanan. Kadang pria perlu dibujuk dengan makanan." Imbuh Elena membuat Cassie mengangguk dan melepaskan pelukannya.

"Okey. Apa menurutmu dia ada di apartemennya?" Cassie bertanya ragu pada mereka berdua.

Elena mengangguk. "Brandon mengatakan kalau Jerry pulang agak lebih cepat hari ini. Katanya banyak yang harus dia urus beberapa hari ke depan."

Cassie mengangguk dan tersenyum lalu beranjak dari tempatnya duduk ketika kembali berbalik menghadap Claire dan Elena.

"Ah, aku hampir lupa. Apa Brandon juga sudah tahu kalau dalam waktu dekat ini aku dan Jerry akan menikah?" Lalu Cassie tertawa ketika melihat wajah terperanggah Claire dan Elena.

"Entah ini hanya perasaanku atau tidak tapi aku seperti melihat wajah Cassie seperti bersinar." Ujar Claire seraya menatap ke jalanan tempat Cassie baru saja pergi.

"Kurasa itu karena dia sebentar lagi akan menikah. Kau tahu kalau dia sangat menyukai Jerry." Balas Elena meskipun apa yang tadi dikatakan oleh Claire ada benarnya juga, seakan Cassie...

"Ya. Kau benar." Claire menyetujui. "Apa kedua keluarga itu sudah tahu mengenai rencana mereka?"

"Melihat bagaimana sepupumu itu mengatakannya tadi, kutebak belum ada satupun yang tahu tentang ini."

"Kalau begitu mereka pasti akan sangat terkejut."

"Atau sangat bahagia." Tambah Elena. "Kau tahu sendiri bagaimana berharapnya mereka dengan pertunangan mereka dan pernikahan mereka adalah satu- satunya yang diinginkan oleh kedua belah pihak."

"Kau benar." Dan keduanya sama- sama tersenyum penuh kebahagian.

.
.

Cassie menatap pintu dihadapannya. Hujan baru saja turun dengan deras setibanya ia di depan apartemen dan merasa beruntung ketika sekuriti yang menjaga melihatnya dan membantunya membawa barang- barang hasil penjelajahannya di supermarket tadi dan membantunya hingga ia masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju sang Tunangan.

Cassie sudah menunggu selama satu menit penuh dan sudah menekan bel tapi pintu itu tak kunjung terbuka.

"Apa dia pergi?"

Cassie baru saja menggumamkan kalimatnya ketika pintu dihadapannya terbuka, menampilkan Jerry dalam balutan baju mandi berwarna putih. Rambutnya masih basah- menunjukkan kalau pria itu baru saja selesai mandi.

Crap!

Cassie membelalak dan keinginan untuk ikut mandi...sialan! Apa yang baru saja dipikirkannya? Cassie berusaha mencoba mengalihkan tatapannya kearah lain tapi entah kenapa matanya selalu bisa menemukan sosok Jerry.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Cassie mengigit bibirny tanpa sadar, merasa kalau pria itu masih marah dengannya.

"Aku membawa bahan makanan kesini," ujar Cassie riang seraya mengangkat tinggi- tinggi kantongan di tangannya. "Apa kau sudah makan? Aku akan membuatkanmu sesuatu."

Bagaimana kalau dia sudah makan?

Mendadak pemikiran itu muncul. Menolak diusir, Cassie mendorong tubuh Jerry agar dia bisa masuk kedalam apartemen milik pria itu dan melangkah menuju dapur. Dibelakangnya Jerry mengikuti.

"Apa yang kau lakukan malam- malam begini, Cassandra?" Kali ini Jerry mengatakannya dengan nada suara lelah.

"Ini belum terlalu malam. Ini baru pukul," Cassie mengangkat sebelah tangannya dan melihat jam tangannya ketika ia meringgis. "Oh, setengah sepuluh. Tapi tidak masalah. Aku akan memasakkan sesuatu yang lebih sederhana untukmu." Katanya kembali riang seraya membuka kantongan yang tadi dibawanya dan mulai memilah.

Jerry terus memperhatikan kelakuan wanita itu didapurnya yang sering kali menggigit bibirnya karena gugup hingga lima belas kemudian dia tidak tahan lagi dan berjalan untuk merengkuh tunangannya itu dan menciumnya dengan menggebu- gebu, mengeluarkan seluruh perasaannya melalui ciumannya.

"Jerry?" Cassie terengah- engah ketika menyebutkan namanya.

"Ya?"

"Aku mencintaimu." Dan tanpa menunggu balasan dari Jerry, Cassie mendekatkan bibirnya ke bibir Jerry yang langsung disambut pria itu.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS