IY - SEMBILAN

Jerry berpikir dia tidak akan melihat gadis itu berada disini lagi- mengingat apa yang terjadi malam itu diantara mereka tapi Cassie benar- benar ada di depannya- berdiri sambil membawa beberapa bahan makanan yang belum diolah dalam paperbag.

"Jangan salah sangka dulu. Tadi Tessa dan Elena- minggir-," Cassie mendorong tubuh Jerry agar dia bisa masuk dan berbalik untuk menatap Jerry yang masih terdiam. "Seperti kataku tadi, Tessa dan Elena mendadak mengajakku keluar membeli beberapa bahan makanan ketika mendadak mereka memberikanku ini." Dia memperlihatkan paperbag dalam dekapannya. "Tessa mengatakan kalau kemungkinan besar bahan makanan didalam apartemenmu sudah habis dan menyuruhku untuk datang," lalu mendadak suara Cassie berubah. "Kenapa sih kau tidak menyewa asisten rumah tangga saja?"

Jerry mengernyit heran. Untuk satu hal yang diketahuinya, ia tidak mengerti kenapa mendadak gadis didepannya ini mendadak mendatanginya padahal selama beberapa hari ini ia tahu dengan jelas kalau Cassie selalu berusaha menghindar darinya.

"Tidak ada gunanya menghindar. Toh, kau juga tidak ingin membatalkan pertunangan kita meskipun jujur aku tidak mengerti apa alasanmu melakukannya." Ucap Cassie menjawab apa yang ada dalam benak sang tunangan.

Jerry juga sebenarnya tidak tahu kenapa ia melakukannya. Dia tidak tahu kenapa ia masih menginginkan pertunangan ini padahal sudah jelas kalau mereka tidak akan menikah tapi ketika memikirkan kalau ia akan berpisah, ini membuat sesuatu dalam dirinya- entah dibagian mana- tumbuh sesuatu yang tak kasat mata.

"Kau sudah makan? Aku akan membuat makanan." Ujar Cassie kemudian, membuat Jerry melihat Cassie seakan gadis itu baru saja memuntahkan alien.

"Kau bisa masak?"

Cassie mendengus, berbalik untuk masuk lebih jauh menuju dapur ketika mendadak langkahnya terhenti. Kedua matanya membelalak tak percaya dengan pemandangan didepannya. Entah mengapa semakin Cassie melangkahkan kakinya, semakin ia melihat pemandangan seperti ibarat tornado baru saja menghancurkan tempat ini- semua pakaian dan segala macam barang berserakan diatas sofa dan lantai dan tunggu, apa itu... boxer? Celana dalam?

Cassie tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya mendapati pemandangan yang terpampang didepannya. Pria yang berdiri dibelakangnya bukanlah tipe orang yang sangat jorok tapi tidak juga sangat bersih. Apa apartemen ini baru saja di rampok? Atau dia sudah salah masuk...apartemen?

"Suasana hatiku sedang buruk beberapa hari belakangan ini," beritahu Jerry sambil berjalan melewati Cassie yang masih diam mematung. "Aku tidak ada waktu untuk membereskannya."

Cassie mengerjap beberapa kali dan Jerry cukup terkejut mendapati ekspresi yang ditunjukkan gadis itu tapi cukup bisa mengendalikan diri. Cassie tampak sangat lucu dengan wajahnya yang sekarang.

"Ini karena suasana hatimu yang buruk?" Akhirnya Cassie tidak tahan untuk tidak bertanya. Bagaimana mungkin suasana hati yang buruk bisa membuat tempat ini seperti kapal yang baru saja menabrak gunung es? Sangat amat berantakan dan... kotor. Kotor masih lebih baik tapi ini jauh lebih dari kata kotor dan Cassie tidak mengetahui kata apalagi yang pantas untuk menggambarkan tempat tinggal Jerry saat ini.

"Sudahlah," Jerry memotong ucapan tak terucap Cassie dan memandanginya penuh arti. "Bukankah kau ingin memasak? Silahkan. Kau sudah tahu letak dapur kan?"

Rasanya Cassie ingin segera memukul kepala Jerry saat ini dengan kubis ditangannya tapi diundurnya dulu, setidaknya perasaannya belum mencapai batas maksimal dan memutuskan untuk mendengus seraya berjalan menuju arah dapur diikuti oleh Jerry dibelakangnya.

Cassie tidak bisa berkonsentrasi dan hanya memandangi bahan makanan yang masih berada dalam paperbag diatas meja dapur ketika berbalik, mendapati Jerry yang bersandar disamping tempat cuci piring.

"Apa kau tidak ingin membersihkan apartemenmu?" Tanya Cassie sinis.

Jerry mengendikkan bahunya, tampak sangat acuh. "Buat apa? Seperti katamu tadi, aku akan menyewa seorang asisten yang akan membersihkan tempat ini." Jawabnya.

Cassie mengerang. "Tapi setidaknya singkirkan dulu pakaian- pakaianmu yang berserakan diatas lantai dan bagaimana bisa celana dalammu berada di tempat ini? Apa kau memakai celana dalam sambil memasak?"

Sekuat tenaga Jerry menahan dirinya agar tidak tertawa dan justru menyamarkan pada batuk dan air di tangannya.

"Buat apa? Toh, kau pernah melihat apa yang ada dibaliknya. Kau juga sudah merasakannya jadi kenapa itu membuatmu menjadi...tunggu, apa sekarang kau malu hanya karena melihat apa yang menutupinya?"

Kedua bibir Cassie terbuka lebar, terlalu kaget dengan apa yang baru saja didengarnya meskipun tidak menutup kemungkinan kalau saat ini ia merasakan pipinya terasa panas. Oh Tuhan!

Sementara itu, Jerry tampak sangat puas melihat ekspresi Cassie. Dia benar- benar merasa terhibur dengan kehadiran gadis itu lagi- ini seperti suasana hatinya menjadi baik lagi.

...aku tahu kau menyukainya, hanya saja... belum menyadarinya.

Jerry tersentak mengingat perkataan Brandon tempo hari. Alisnya saling bertaut sementara pandangannya masih terfokus pada Cassie didepannya.

Tidak mungkin.

Sejak kapan?

Jerry tidak mengerti. Sejak kapan ia mulai memiliki perasaan pada gadis didepannya ini? Sejenak pandangannya meneliti Cassie, dress selutut yang selalu dikenakan oleh gadis itu dan rambut hasil salon. Lembut dan terjaga hingga membuatnya seperti barbie dalam kotak kaca.

"Tidak bisa. Kita akan membereskan ini." Ucap Cassie setelah berhasil mengendalikan dirinya.

"Kita?"

"Ya. Kita. Kau dan aku." Tekan Cassie tidak sabar.

Jerry terdiam. Entah kenapa dia menyukai Cassie yang melibatkan dirinya, tunggu... belum sempat ia melanjutkan pikirannya, mendadak ia seperti merasakan kalau udara di paru- parunya seperti terhisap keluar. Entah darimana Cassie mendapatkan karet gelang dan menggelung rambutnya, memperlihatkan lehernya yang tampak well, menggoda. Jerry memegang sisi tempat cuci piringnya, menahan diri agar tidak meraih gadis itu dan menciumnya. Jerry menggelengkan kepalanya berusaha untuk tetap fokus. Kenapa mendadak menjadi buas seperti ini padahal entah berapa banyak leher yang telah ia lihat, bahkan Lea juga tidak memberi dampak yang seperti ini padanya.

"Aku akan membersihkan tempatmu sementara kau, kumpulkan pakaian- pakaianmu dan masukkan kedalam mesin cuci." Kata Cassie lalu berbalik pergi meninggalkan Jerry yang masih terpaku melihat penampilan Cassie yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

.
.
.

"Aku tidak percaya akan melihatmu terlambat dari waktu yang dijanjikan."

Cassie menghela napas. Setelah membersihkan seluruh ruangan di apartemen Jerry yang seperti terkena tsunami tak berkesudahan ditambah Jerry selalu melihatnya dengan pandangan yang entah apa artinya. Beruntung Jerry sedikit bisa memasak jadi Cassie merasa sedikit terbantu.

Setelah berganti pakaian di rumahnya, Cassie segera melajukan mobilnya menuju kafe milik Josh- teman Elena. Elena sudah daritadi menunggunya disana dan sedikit bingung karena sepupu Brandon ini tampak sangat kelelahan.

"Maaf Elena, aku tadi berada di apartemen Jerry."

Serta merta Elena mengangkat kedua alisnya, bingung. "Bukankah kau sudah pergi sejak makan siang tadi?" Dia lalu memperhatikan jam di tangannya. Lewat dari jam 9 malam.

Cassie mengangguk. "Memang tapi kau harus melihat."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak mengerti ada apa dengan orang itu. Ini kali pertama aku melihat apartemennya yang seperti tertimpa bencana alam. Sangat berantakan," Keluh Cassie. "Dan dia juga sama sekali tidak banyak membantu. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia selalu saja memberiku tatapan seakan aku baru saja menumbuhkan taring. Aneh sekali."

Elena mengangguk meskipun tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan oleh Cassie.

"Bagaimana Brandon?"

"Oh, sebentar lagi dia datang." Jawab Elena tersenyum.

"Apa Claire menjaga si kembar dan Shane?"

"Yep. Dengan Mama dan Papa juga sih sebenarnya. Sepertinya mereka masih rindu dengan ketiga cucunya yang bandel itu."

Cassie terkekeh.

"Oh iya, Lea menghubungiku tadi. Katanya dia sudah berusaha menghubungimu tapi tidak ada jawaban jadi dia menghubungiku. Dia mengatakan kalau mungkin saja dia akan terlambat datang kemari. Audrey rewel dan Jullian juga tampaknya tidak ingin Lea terkena angin malam terlalu banyak."

Cassie mengangguk. "Kurasa dia tidak ingin Lea sakit. Kau tahu kan kalau saat ini Lea mengandung jadi kupikir wajar jika suami Lea bersikap seperti itu."

Elena ikut mengangguk. "Ya. Brandon juga bersikap seperti itu ketika aku hamil Shane," lalu tiba- tiba raut wajah Elena berubah. "Kau tampak sangat akrab dengan Lea. Kau bahkan mengajak Audrey dan Lea agar bisa bergabung dengan kita di taman hiburan dulu."

"Bukankah semakin banyak, semakin baik."

"Kau tahu bukan itu maksudku. Apa kau tidak apa- apa?"

Cassie mengangkat bahunya, tidak peduli. "Setiap orang punya masa lalu dan Lea juga sudah berkeluarga. Kau bisa membuat suami Lea cemburu dengan ucapanmu."

Elena terkekeh. "Kau benar. Aku pernah bertemu dengan Jullian ketika menemani acara perusahaan dulu. Kenapa semua pengusaha saling mengenal seperti itu? Brandon bahkan berbincang- bincang dengannya tapi harus kuakui Jullian memang terlihat sangat mencintai Lea begitupun sebaliknya."

Cassie tersenyum. "Hal yang sama berlaku untukmu dan Brandon, sayang." Ucap Cassie membuat Elena tersipu malu.

"Hai Case," mendadak seorang pria perpaduan Eropa dan Korea diantara mereka dan mencium masing- masing kening mereka. "Oops, jangan katakan pada Brandon kalau aku menciummu, Elena. Aku tidak mau Brandon cemburu meskipun aku menyukai melihat wajah menahan marahnya itu."

Elena tertawa. "Kau masih konyol, Josh."

Josh ikut tertawa lalu melihat Cassie. "Dan untukmu, Case sayang. Aku merindukan permainan gitarmu lagi meskipun," lalu Josh menunduk agar bisa berbisik di samping telinga Cassie yang sebenarnya percuma. Kafe ini penuh dengan suara musik dan Cassie ragu kalau ada yang bisa mendengarnya. "Permainan pianomu juga tidak kalah bagus, kau seperti malaikat dengan dentingan pianomu di rumah sakit tempo hari."

Cassie tertawa. "Biar kutebak, kiriman boneka dengan tulisan My Angel itu darimu, kan?"

"Oh, aku ketahuan ya?" Josh tampak pura- pura seraya menggaruk tengkuknya.

"Kau sangat tidak berbakat menjadi pengagum rahasia, kau tahu itu." Cibir Cassie tapi justru membuat Josh dan Elena tertawa.

"Sangat tidak romantis. Kapan- kapan bawa tunanganmu kemari? Aku ingin memintamu darinya."

"Kenapa?" Tanya Cassie bingung.

"Karena telah menganggurkanmu terlalu lama." Josh menjawab sekenanya yang dibalas dengan cibiran dari gadis itu.

"Apa kau mau menemaniku diatas panggung? Sudah lama kita beradu permainan gitar?" Tanya Josh kemudian.

"Elena?" Cassie berpaling kearah Elena yang menggeleng.

"Sebentar lagi Brandon tiba."

"Oh sayang sekali padahal aku juga ingin melihat penampilanmu."

Elena tertawa. "Bawakan kami sesuatu yang enerjik, Case."

Baik Cassie maupun Josh tertawa.

"Ya. Dan kami akan membuat semua orang terpukau dengan penampilan kami." Imbuh Josh penuh percaya diri.

Cassie berdiri dari duduknya, memperbaiki ikatan rambutnya yang sengaja digelung lalu memperbaiki kacamatanya. Secara keseluruhan penampilan Cassie sangat jauh berbeda. Saat ini gadis itu hanya menggenakan blus longgar dan hotpants serta sneakers yang menutupi kakinya.

"Aku akan segera kembali." Kata Cassie seraya berjalan mengikuti Josh yang sudah lebih dulu tiba dan menyodorkan sebuah gitar kepadanya.

"Siap bersenang- senang, Case?"

"Tentu saja." Cassie tersenyum sumringah dan dia mulai dengan tembang milik Paramore- still into you.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS