BTY - SEMBILAN BELAS



"Hai," katanya sembari menyunggingkan senyum lebar menenangkan ketika pria itu memasuki ruang di bagian rumah sakit dan menghela napas beberapa saat kemudian ketika tidak mendapat balasan yang serupa dari pria itu. "Tidak ada luka serius, kau tahu." Kembali Anna melanjutkan tapi bahkan untuk melihatnya pun dia tidak mau. Anna ragu kalau sejak tadi Jerry bernapas karena pria itu sama sekali seperti mayat hidup dihadapannya.
Ya. Anna berhari selamat meskipun sempat terserempet sedikit tapi dia sepenuhnya tidak memiliki luka yang berarti selain luka lecet dan memar yang ada di siku dan lututnya, tapi meskipun begitu Jerry seakan seperti baru saja kehilangan rohnya ketika kejadian itu terjadi.
Tessa menangis sesenggukan ketika membawa Anna ke rumah sakit untuk diobati sehingga Howard terpaksa membawa istrinya untuk beristirahat di hotel tempat mereka menginap, setelah sebelumnya mengatakan kepada Anna kalau mereka ingin bertemu lagi.
Patricia? Gadis kembali berlari setelah sebelumnya melihat Anna dalam keadaan baik- baik saja dan selamat. Anna hanya berharap semoga adiknya itu tidak melakukan hal yang nekat dan lebih memilih untuk pulang- kembali ke rumah Betrice.
Nanti akan kuhubungi Betrice untuk menanyakannya. Kata Anna dalam hatinya. Tapi sebelum itu masih ada satu hal yang perlu dia urus dan itu menyangkut pria yang berdiri hanya beberapa langkah darinya tapi seakan takut untuk menyentuhnya.
Anna membiarkan suster yang merawatnya menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu tapi matanya tidak lepas dari memperhatikan Jerry. Jerry tidak mengatakan apa- apa seperti layaknya batu. Tubuhnya kaku serta wajahnya terlihat pucat.
"Selesai." Ujar suster dengan kisaran usia tiga puluhan itu padanya, tersenyum. "Jangan biarkan lukamu terkena air, sayang." Suster itu mengatakannya dengan senyum ramah padanya dan dibalas oleh Anna dengan senyum yang sama.
"Terima kasih."
Suster itu mengangguk dan berbalik ketika melihat Jerry, tersenyum kembali seraya berbisik pada Anna dengan suara yang masih bisa didengar. "Pria jaman sekarang memang mudah sekali panik,"katanya lagi. "Entah apa yang akan terjadi jika dia melihatmu melahirkan, sayang. Dia mungkin akan seputih kapas ketika itu terjadi meskipun sekarang dia sudah melakukannya."
Anna mengatup bibirnya kuat- kuat mendengar pernyataan suster paruh baya itu, dia ingin membalas tapi tidak mau jika Jerry semakin menderita. Bahkan dengan wajah Jerry yang sekarang, pria itu seperti sebentar lagi akan pingsan- hanya menunggu waktu saja.
Anna memutuskan sudah tidak ada lagi yang harus dilakukannya di ranjang rumah sakit dan ingin turun ketika dia kehilangan keseimbangan- beruntung Jerry dengan sigap menangkapnya- bersamaan dengan lukanya yang tanpa sadar di sentuh oleh Jerry dan mengernyit.
"Tetaplah disini. Aku akan menyuruh seseorang untuk membawamu ke kamar."
"Kamar?" Anna mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Kamar apa?"
"Kau akan tinggal di rumah sakit ini selama beberapa hari."
Anna merasa bibirnya mendadak terbuka dan matanya membelalak lebar. Hanya luka kecil dan dia harus menginap di rumah sakit? Apa dia sudah gila?
"Kumohon jangan membantah kali ini."
"Tentu saja aku akan membantah." Anna sama sekali tidak habis pikir. Luka di tubuhnya hanya beberapa luka kecil yang tidak membutuhkan perawatan intensif dari dokter atau rumah sakit. Luka ini akan sembuh hanya dalam beberapa hari tapi sudah jelas Jerry menganggapnya lukanya serius- seakan dia baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan atau bisa saja operasi. "Dengar," sesaat Anna menghembuskan napasnya. Berusaha untuk mencari kalimat yang bagus agar pria yang dicintainya ini bisa mengerti dengan apa yang dia maksudkan. "Aku baik- baik saja."
"Kau tidak akan tahu jika belum menjalani perawatan yang menyeluruh."
Kali ini Anna merasa kalau rahangnya baru saja jatuh ke lantai. Perawatan menyeluruh? Apa itu semacan CT-Scan dan sebagainya? Astaga!
"Apa kau sedang bergurau?" Tanyanya lambat- lambat sementara matanya menatap mata Jerry.
"Apa sekarang aku seperti sedang bergurau?" Jerry balas menatapnya seakan itu adalah kalimat terbodoh yang didengarnya sepanjang hidupnya. "Jawabannya tidak." Jawabnya seraya sebelah tangannya menyentuh pipi Anna, mengusapnya di sana seakan berdoa kalau ini hanya bukan khayalannya saja dan memang bukan mengingat hangat tubuh wanita itu dalam dekapannya. "Kau tidak mengerti apa yang saat ini kurasakan." Gumamnya pelan dengan mata sendu. "Ini seperti sebagian nyawaku ditarik paksa dari tubuhku. Kesakitan dan kehampaan, entah yang mana harus kujelaskan lebih dulu."
Anna tadi ingin mengelak tapi mendengar kalimat pria itu barusan, membuatnya seketika terenyak. Anna bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari pria itu dan tidak mengerti kenapa dia ingin menangis. Apa sebenarnya yang terjadi?
Mengikuti nalurinya, Anna semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jerry, mengalungkan kedua lengannya dengan hati- hati di belakang tubuh pria itu. "Aku baik- baik saja." Katanya pelan sementara telinganya didekatkan di jantung Jerry dan mendengar detakannya. "Aku bersamamu. Disini dan nyata." Tambahnya lagi.
Anna merasakan tubuh Jerry bergetar sebelum Jerry mencium puncak kepalanya. "Ya. Dan aku berterima kasih pada Tuhan karena masih memilikimu."
.
.
Jerry bungkam seribu bahasa dan Anna mengerti kenapa bisa begitu.
Jerry bersikeras agar Anna tinggal bersamanya (setelah Anna menolak mentah- mentah untuk tinggal di rumah sakit) tapi Anna juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Patricia di rumah Betrice. Lagipula masih banyak harus dibicarakan pada gadis itu.
Anna bisa merasakan kemarahan yang mengendap dari pria itu ketika ia mengatakan akan kembali ke tempat tinggal Betrice tapi mengenai alasannya dia masih belum mengerti. Patricia memang salah karena tidak melihat mobil yang melaju kencang kearahnya yang membuat dirinya terpaksa harus melompat untuk menyelamatkan adiknya itu. Alih- alih Patricia yang tertabrak, Anna yang terpaksa harus menerima benturannya karena disaat yang bersamaan dia berhasil menarik Patricia agar menjauh tapi karena kurangnya keseimbangan dan sigapnya dia sehingga justru dia yang tertabrak. Keberuntungan berpihak karena si pengemudi dengan cepat mengerem mobilnya sehingga Anna hanya mengalami luka kecil dan bukannya mengalami patah tulang dan sebagainya.
Betrice sudah menunggu di depan pintu ketika Anna dan Jerry tiba. Dari wajah yang diperlihatkan oleh wanita itu, jelas kalau dia sudah mendengar apa yang terjadi dan tidak heran ketika Betrice langsung bergegas untuk memeriksa keadaannya setelah dia keluar dari mobil.
"Oh astaga! Kau membuatku takut." Pekik Betrice gusar. "Apa kau terluka sangat parah?"
Anna menggeleng sembari tersenyum. "Aku baik- baik saja, Betrice." Tepat setelah itu Anna mendengar pintu yang di tutup paksa dibelakangnya dan mengernyit ketika Jerry berjalan kearahnya dan menaruh tangannya di pinggang Anna, menghadap Betrice yang seketika tampak gugup.
"Mr. Culton." Lirih Betrice
"Betrice." Balas Jerry datar. "Apa Patricia sudah pulang?"
Kernyitan di dahi Anna semakin dalam, tanpa sadar menyikut perut Jerry. Jerry hanya melihatnya sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya kearah Betrice.
"Ya. Tapi dia langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi setelahnya."
"Oh syukurlah." Anna cepat- cepat mengeluarkan suaranya sehingga mendapatkan tatapan tidak suka dari pria itu. "Nanti akan kutemui dia." Anna bisa merasakan eratnya dekapan Jerry di pinggangnya tapi memilih untuk mengacuhkan.
Suatu hari Jerry akan mengerti.
Tidak ada yang bersuara diantara mereka hingga Anna terpaksa kembali bersuara.
"Pulanglah Jerry dan beristirahat." Sahutnya menatap pria disampingnya yang masih terlihat tampan seperti biasa.
"Aku akan mengantarmu kedalam."
"Tidak apa- apa. Betrice akan merawatku." Tapi ketika pria itu tidak membalas, Anna membalikkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh Jerry dan berjinjit hingga bibirnya bertemu dengan bibir Jerry. "Aku mencintaimu, Culton." Ucapnya tepat di bibir Jerry.
Jerry meraih pinggang Anna, menahan bobot tubuh wanita itu dan memperdalam ciumannya- berhati- hati agar tidak menyentuh luka di tubuh Anna. "Aku juga mencintaimu, baby."
Anna masih ingin merasakan bibir itu lagi. Baginya dia tidak akan pernah puas jika bersama Jerry meskipun pria itu kadang bersikap menjengkelkan dengan sikap protektifnya tapi Anna merasa nyaman setiap kali bersama pria itu.
"Aku tahu." Katanya sembari menyunggingkan senyumnya yang mau tidak mau membuat Jerry ikut tersenyum.
"Hubungi aku kalau kau merasa tidak enak badan."
Anna mengangguk dan langsung mendapatkan kecupan di dahi lalu ke puncak hidungnya, kedua pipinya dan terakhir berlama- lama di bibirnya. "Aku serius ketika kukatakan aku berterima kasih pada Tuhan karena dirimu."
Anna lebih dulu masuk ke dalam rumah dibantu oleh Betrice, tidak memperhatikan kalau Jerry tidak melepaskan pandangannya sekalipun dari Anna dan mengepalkan kedua tangannya ketika melihat pintu itu menutup di depannya.
Betrice membantu Anna mengganti bajunya dengan pakaian yang nyaman lalu membantu Anna membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Anna merasa tubuhnya sudah sangat lelah dan obat penghilang rasa sakitnya sudah mulai memudar. Sebenarnya sudah sejak tadi dia merasa kesakitan tapi menolak untuk memperlihatkannya terutama pada Jerry. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Jerry. Dia membutuhkan sedikit pengalih perhatian yang ternyata berhasil karena Jerry sepenuhnya mengalihkan perhatiannya dengan ciumannya meskipun setelahnya rasa sakit itu muncul lagi.
"Istirahatnya, Anna sayang."
"Terima kasih Betrice." Ya, dia memang membutuhkan istirahat yang cukup. Pekerjaan dan mengurus Patricia membutuhkan energi yang cukup keras. "Apa dia sudah makan?" Anna tidak bisa begitu saja melupakan kewajibannya mengurus adiknya itu meskipun dia juga merasakan kemarahan atas sikap ceroboh Patricia tadi tapi dia juga tidak bisa membohongi kata hatinya yang mengatakan kalau dia bersyukur Patricia tidak terluka sedikitpun.
"Aku tidak tahu, Ann tapi akan kusuruh dia makan nantinya. Istirahatlah."
Anna tersenyum. "Terima kasih lagi, Betrice."
Anna merasa semakin lama kelopak matanya semakin berat ketika kembali mendengar suara rendah Betrice.
"Kulihat hubunganmu dengan Mr. Culton semakin dekat."
"Ya." Masih dengan memejamkan mata, Anna menjawab. "Aku mencintainya, Betrice. Begitupun dengan dirinya."
Hening. Anna mengira Betrice sudah keluar dari kamarnya ketika kembali mendengar suara lirih Betrice, sangat pelan hingga Anna tidak yakin jika dia mendengarnya dengan baik kalimat itu yang kemudian digantikan dengan kegelapan yang lain.
"Anna, kuharap kau..."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS