LOVE MISSION - 6

Malam itu Jayce tidak bisa memejamkan matanya memikirkan permintaan aneh Kimberly. Cih, menciumnya? Apa dia sudah hilang akal?. Dibalikkannya tubuhnya dan hanya terbayang wajah tanpa ekspresi miliknya.

Dia sudah melihat beberapa foto Kimberly di internet dan hasilnya memang tidak ada wajahnya yang tersenyum. Untuk ukuran seorang model, wajahnya jauh lebih dari kata cantik seperti dia adalah perpaduan dewi dan malaikat. Rambutnya yang coklat keriting diujung serta bibir yang mungil tampak sangat pas seakan Tuhan memahatnya dengan hati- hati. Matanya yang besar dan tampak tajam sekaligus polos disaat yang bersamaan seperti memperlihatkan kalau dialah bintangnya. Secara keseluruhan dia sempurna.

Tunggu, sempurna? Gezzz, Jayce mengusap wajahnya kasar. Kenapa dia harus memikirkan gadis aneh itu? Sudah jelas dia diancam dan jika gadis itu menginginkan sebuah perang maka dia akan melawannya. Tanpa sadar Jayce menyunggingkan senyum devilnya. Dia tidak akan kalah pada gadis itu. Tidak akan!

***

London tidak bisa berkata apa- apa setelah mendengar penjelasan Jayce disebelahnya. Mereka baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhir dan sedang berjalan memasuki kantin.

"Wow." Hanya satu kata yang bisa mewakili perasaan London saat ini. Bagaimana tidak... seorang Kimberly Moss meminta...."wow. Kau beruntung sobat." Ujarnya seraya menyentuh pundak Jayce seakan mengatakan aku bangga padamu.

"Aku akan lebih senang jika kau menyebutnya sebagai kesialan." Balas Jayce mengendikkan bahunya, membuat tangan London terlepas dari pundaknya dan meraih nampan berisi makanannya dan membawanya ke meja sudut kantin.

London mengikuti Jayce dibelakang sambil membawa nampan miliknya juga dan mengambil tempat duduk didepan sahabatnya itu.

"Kau seharusnya bersyukur. Tidak banyak yang bisa mendekati gadis itu dan tahu- tahu tanpa kau inginkan dia datang dan memintamu untuk apa tadi? Menciumnya? Aku tidak akan menolak jika dia memintaku seperti yang dia lakukan padamu." Kata London yang langsung mendapatkan kernyitan dari Jayce.

"Kalau kau begitu menginginkannya, ambil saja." Ujar Jayce cuek seraya menyendok sup jagungnya dan memasukkan ke mulut.

"Benarkah?"

Jayce mengangguk.

"Kau tidak akan menyesal."

"Aku justru bersyukur kalau kau bisa melakukannya."

"Ah andai sa..." kalimat London terhenti diudara ketika melihat gadis yang mereka bicarakan sedang berjalan kearah mereka dan mengambil tempat duduk disamping Jayce.

"Apa yang kau lakukan disini?" Ujar Jayce kesal tanpa menoleh sama sekali.

"Melihatmu. Sepertinya kantinnya penuh ya?"

Jayce mengangkat kepalanya dan benar saja kantin penuh dengan orang- orang tapi bukan itu yang membuat Jayce kebingungan melainkan karena semua orang sedang menatap kearah meja mereka bahkan Jayce bisa melihat mulut London terbuka sepenuhnya. Masih dengan wajah bingung dialihkannya pandangannya kearah samping, tempat Kimberly duduk ketika dia terperangah.

Kimberly tampak anggun dengan dress motif polkadotnya berwarna pink sebatas paha. Rambutnya dikepang ke samping dengan sedikit sulur disisinya, membuatnya seperti boneka. Dibanding itu semua, gadis itu sama sekali tidak memakai riasan dan hanya mengoleskan lipgloss tipis dibibirnya. Membuatnya tampak berbeda dari yang biasanya.

"Kau tidak makan?" Pertanyaan Kimberly seketika membuyarkan lamunan Jayce dan kesal ketika melihat London masih menatap Kimberly dengan tatapan seperti ingin melahapnya saat itu juga. Secara sengaja dia menendang kaki London dari bawah meja membuat London mengaduh pelan.

"Kau tidak apa- apa?" Tanya Kimberly sedikit kebingungan dengan situasi didepannya.

Rasanya jiwa London ikut tertarik keluar mendengar pertanyaan Kimberly yang ditujukan padanya seorang dan tersenyum.

Jayce yang melihat kelakuan sahabatnya yang menurutnya sangat berlebihan seketika memutar matanya dan terkejut mendapati Kimberly yang menatap kearahnya sambil bertopang dagu.

"Kenapa kau kesini?" Jayce mengucapkannya dengan nada tidak suka, berharap Kimberly merasa sakit hati dan mungkin langsung pergi.

"Kau belum menjelaskan padaku mengenai kejadian kemarin."

"Kejadian..."

"Kau tiba- tiba pergi ketika kuminta untuk menciumku."

Entah siapa yang lebih dulu terkesiap tapi sepertinya hampir seisi kantin mendengar pembicaraan mereka dan saat ini menatap mereka seperti sedang menonton film.

"Sudah berapa banyak pria yang kau cium?" Jayce sengaja mengatakannya sedikit lebih keras daripada yang dia maksudkan agar supaya gadis itu merasa malu dan mungkin bisa berhenti menganggunya.

"Bagaimana denganmu?"

"Tidak adakah yang memberitahumu, pertanyaan tidak boleh dijawab dengan pertanyaan lain."

"Oh. Maafkan aku."

"Jadi?"

"Kalau kau menciumku, kau yang akan jadi yang pertama."

Jayce terperangah. Dia tidak pernah menduga akan mendapat jawaban seterus- terang seperti ini. Ditatapnya lekat wajah gadis itu mencoba mencari nada main- main dari wajah cantiknya tapi yang ada dia hanya mendapatkan wajah tanpa ekspresi miliknya.

"Kau harus membantuku." Kimberly berkata lirih sehingga tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka. "Pemotretannya akan dilakukan sebulan lagi dan aku tidak bisa melakukannya tanpa dirimu." Ujarnya seraya memegang lengan Jayce, memohon.

"Lepaskan. Kau membuat kita menjadi bahan tontonan." Ucap Jayce pelan melepaskan diri.

"Oh maaf. Jadi apa kau membantuku?"

"Kita tidak akan membicarakan hal itu disini?"

"Eh kenapa?"

"Apa kau tidak...."

"Apa kau tidak mau makan dulu, Kim?" Sela London sebelum melihat Jayce mengamuk. Sudah cukup mereka menjadi bahan tontonan saat ini dan melihat betapa gigihnya Kimberly bisa saja membuat Jayce malah kehilangan kendali dan tentu saja itu akan berdampak dengan statusnya yang ketua senat.

Sejenak Kimberly menatap London kembali ke Jayce lalu beralih kearah tangan Jayce yang sedang menyendok sup jagungnya.

"Kurasa tidak. Terima kasih." Balas Kimberly sopan.

"Kenapa? Apa makanan ini tidak sesuai dengan makanan yang dimakan oleh model sepertimu?" Tuntut Jayce menatap Kimberly sinis, mengindahkan tatapan penuh peringatan dari London.

"Bukan begitu."

"Jadi apa? Tidak sesuai dengan levelmu?"

Dihelanya napasnya dan mengernyit. "Aku alergi sup jagung."

"Eh apa? Alergi sup jagung?" Baik Jayce maupun London terngangga.

Kimberly mengangguk. "Itu membuat tubuhku seketika merah dan perih."

"Kalau begitu buktikan." Sahut Jayce memberi Kimberly tatapan menantang.

"Apa?"

"Jayce!"

"Kau mau aku menciummu kan? Lakukan apa yang kuminta."

"Jayce! Kau tidak bisa.."

"Jangan khawarir, dia pasti tidak akan berani melakukannya." Seringainya penuh kelicikan. Kuharap kau langsung pergi dan tidak kembali lagi.

"Tapi.."

"Kau janji?" Tanya Kimberly setelah beberapa saat.

"Eh?"

"Apa kau mau berjanji, jika aku memakannya kau akan melakukannya?"

"Well, jika kau bisa menghabiskan sup jagungku. Akan kupertimbangkan."

"Deal!" Dan tanpa menunggu waktu lama, Kimberly meraih mangkuk sup jagung milik Jayce dan memakannya. Mengindahkan tatapan tak percaya Jayce dan London.

***

Comments

  1. Anjirrr...(maaf gw ngumpat)...si Jayce jahat bgt 😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS