LOVE MISSION - 26
Tidak henti- hentinya Jayce menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan melihat sosok yang tertidur lelap disampingnya. Dia tidak pernah menyangka kalau gadis itu akan benar- benar tertidur dalam artian benar- benar tidur, dengan mata tertutup tanpa memperdulikan Jayce yang saat ini merasa sangat tersiksa menahan hasratnya lalu kemudian menghela napas dan tersenyum kembali memandangi wajah gadis itu.
Gadisnya, sang model cantik, Kimberly Moss juga istrinya, meskipun mereka belum pernah sama sekali melakukan layaknya pasangan suami- istri tapi Jayce merasa sangat bersyukur karena dia tahu kalau Kimberly hanya miliknya seorang.
Ingatannya kembali tertuju pada kejadian di depan kafe tadi. Betapa dia tidak pernah menyangka betapa besar pengaruh sang gadis pada dirinya. Jayce ingin mendekati, merangkul dan mengecup bibir itu lagi, meluapkan perasaan rindunya ketika disaat yang bersamaan matanya menangkap sosok Sophie. Sophie memberinya tatapan memperingatkan agar tidak melakukan hal nekat di depan umum. Dia mengerti kalau Sophie hanya berusaha untuk melindungi imej modelnya dengan kata lain Kimberly Moss.
Dia ingin memberi senyum penuh semangat pada sang gadis karena dengan sabar meladeni permintaan foto para penggemarnya ketika tiba- tiba ia merasakan kalau lengannya dirangkul oleh Rhea yang saat itu justru malah memberinya senyum tulus dan tanpa sadar dia juga ikut tersenyum.
Jayce tidak ingin menganggu Kimberly dengan para fansnya dan lebih memilih untuk berlalu tanpa memandang gadis itu tapi hatinya tersentak ketika yang didapatinya justru gadis itu tidak lagi menyunggingkan senyumnya dan berlalu tanpa menoleh lagi dan saat itu pula Jayce menyadari kalau ada yang salah dengan gadisnya dan memutuskan untuk meninggalkan Rhea menyusul Kimberly.
Alasan kenapa dia tidak bisa menghubungi Kimberly adalah karena London dengan sengaja menjatuhkan ponselnya kedalam air tepat setelah dia meminjamnya dan beralasan kalau dia harus fokus dengan tugas dan tanggung jawabnya saat ini.
Ya. Alasan yang selama beberapa hari ini membuatnya nyaris tidak bisa menghubungi Kimberly, alasan yang mengatasnamakan sebuah tanggung jawab dari Barbara Caldwell.
Waktu itu Jayce baru saja melakukan treadmill di rumahnya ketika mendapati Barbara sedang duduk tidak jauh dari tempatnya, sedang memandangnya.
"Apa yang grandmere lakukan disini?" Tanya Jayce heran seraya menyeka peluh di dahinya. Dia melirik jam di tangannya dan mengernyit heran. Masih ada satu jam baginya untuk datang ke kantor bahkan London juga belum menampakkan batang hidungnya.
"Menjemputmu. Kau akan ke kantor, bukan?"
Kerutan di kening Jayce semakin dalam. "Apa grandmere lupa? Aku biasanya pergi bersama London."
"Biarkan hari ini dia berangkat sendiri. Apa kau tidak sadar kalau seluruh karyawan perusahaan justru menaruh curiga dengan kedekatan hubungan kalian berdua?"
Jayce mengernyit lalu tiba- tiba ia tertawa. "Astaga grandmere! Aku tidak menyangka kalau grandmere akan menganggap hubungan kami sedalam itu. Berapa banyak cicit yang grandmere inginkan dari hubungan kami?" Gurau Jayce yang justru membuatnya mendapat pukulan keras dari Barbara tapi itu semakin membuat Jayce tertawa. "Baiklah. Apa yang grandmere ingin bicarakan?" Tanya Jayce langsung, yang langsung membuat kedua alis Barbara terangkat. "Grandmere tidak mungkin mau repot- repot datang kemari, mengatakan ingin menjemputku kalau bukan ingin berbicara padaku. Jadi apa yang ingin grandmere bicarakan?"
Seketika senyum yang tadinya tidak ada mendadak berkembang dibibir Barbara. Inilah yang dia harapkan dari cucunya. Sikap tegas tanpa takut apa yang ada dihadapannya.
"Grandmere lihat hubunganmu dengan model itu jauh lebih dekat dari kata 'seseorang yang kau kenal'." Jayce tidak menjawab. "Apa kau menyukai model itu?" Tanya Barbara kemudian.
"Apa itu penting buat grandmere?"
"Tergantung dari jawaban apa yang kau berikan, nak"
Kernyitan dikening Jayce semakin terlihat. "Apa yang grandmere inginkan?"
"Melihat sejauh mana pengaruh model itu padamu."
"Dan jika kujawab sangat berpengaruh. Apa yang akan grandmere lakukan?"
"Memintamu untuk tidak berhubungan lagi dengannya."
Jayce terdiam. "Apa ini semacam ancaman?"
Barbara tertawa. "Tidak ada yang diancam disini cucuku sayang. Grandmere hanya mencoba bernegosiasi denganmu."
"Negosiasi?"
"Ya. Anggap saja kita melakukan bisnis."
"Dan jika aku tidak setuju?"
"Maka akan kubuat kau kehilangannya."
Jayce terdiam, menahan amarah yang tiba- tiba bergejolak dalam dirinya. "Kupikir grandmere menyukainya?"
"Grandmere memang menyukainya, nak tapi bukan berarti grandmere akan merestuimu menjalin hubungan dengan model tidak jelas itu."
"Tidak jelas?" Jayce seakan tidak bisa mempercayai pendengarannya. Bukankah kemarin grandmerenya sangat ramah pada Kimberly? Kenapa sekarang keadaan justru berbalik?
"Grandmere berpendapat kalau Rhea jauh lebih cocok denganmu daripada model itu. Setidaknya kita tahu darimana Rhea berasal."
Jayce menutup kedua matanya. Apa yang harus dilakukannya? Dari caranya berbicara tadi, Jayce menilai kalau Barbara tidak main- main dengan ucapannya.
Dengan perlahan, Jayce menghembuskan napasnya. "Namanya Kimberly dan grandmere tahu seberapa penting arti Kimberly untukku jadi langsung saja, apa yang grandmere inginkan?"
Barbara tersenyum. "Tanggung jawab. Mulai sekarang ambil semua tanggung jawab di perusahaan dan akan kita lihat seberapa penting arti Kimberly untukmu tapi kau tidak boleh berhenti ditengah jalan dan sementara itu berjalan, aku akan membiarkan Rhea menjadi asistenmu. Setidaknya anak itu bisa dipercaya."
"Percaya padaku, sayang dan kita pasti akan bisa menyakinkan orang- orang disekitar kita." Gumam Jayce seraya mengecup kening Kimberly yang sedang terlelap dalam dekapannya.
.
.
.
"Sialan Jayce! Darimana saja kau kemarin?" Sergah London keesokan paginya.
"Ada apa?" Tanya Jayce seraya mengeluarkan kemejanya yang sudah rapi dari dalam lemari.
Kimberly memiliki kuliah pagi dan Jayce hanya bisa mengantar gadis itu sampai didepan kampus. Selain karena Jayce sudah tidak memiliki kepentingan lagi didalam sana (wisudanya baru akan dilakukan dua minggu lagi) juga dia tidak mau dengan kehadirannya justru akan semakin membuat heboh. Kejadian di masa lalu dengan Kimberly cukup banyak mengundang perhatian khalayak ramai termasuk para staf di kampusnya. Tidak henti- hentinya dulu dicegat kemanapun dia berada jadi setelah mengantar Kimberly, dia langsung kembali ke rumahnya untuk berganti pakaian.
"Kau meninggalkan klien pentingmu dan juga Rhea di sebuah kafe. Rhea bahkan datang menemuiku dan memarahiku karena mengira aku menyembunyikanmu." Jawab London bersungut- sungut.
Jayce tertawa. "Jangan khawatir akan aku urus nanti."
"Memang kau kemana? Aku kemari tapi kau tidak ada."
"Aku menginap di apartemen Kimberly."
Segera saja London bersiul pelan. "Jadi pada akhirnya kau tidak tahan juga?"
Jayce terkekeh. "Sulit rasanya menahan diri jika bersamanya."
"Wow jadi kalian sudah..."
"Ya. Tidak ada yang terjadi."
"Wow eh tunggu... tidak ada... apa maksudmu tidak ada yang terjadi?"
Jayce semakin terkekeh. "Tentu saja tidak ada yang terjadi karena Kimberly langsung tertidur."
Butuh beberapa saat bagi London untuk mencerna semuanya ketika terdengar gelak tawa darinya.
"Astaga, pasti dia tidak mengerti maksudmu semalam."
"Dia jauh lebih polos dari yang kubayangkan." Ucap Jayce suram yang semakin membuat London tertawa terbahak- bahak.
"Oh iya, apa malam ini akan ada pertandingan? Sudah lama aku tidak berada di trek." Ujar Jayce seraya merapikan bajunya.
"Kau yakin?" Tanya London merasa tidak yakin. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang berusaha mencari pelampiasan dari rasa stres yang dirasakannya.
"Ya. Beritahukan saja semuanya dan katakan taruhannya dua kali lipat dari biasanya." Jayce menjawab dan pergi meninggalkan London yang masih terdiam ditempatnya. Kali ini perasaannya mengatakan firasat buruk akan segera terjadi.
***
Comments
Post a Comment